UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.164 - Fakta



Selama ini Felix memang mengkhawatirkan Daisy yang mendapat mimpi buatan dari Ted tapi Felix juga percaya kalau mimpi itu tidak akan mempengaruhi Daisy yang punya prinsip teguh pada pendiriannya. Dengan kejadian yang sudah terjadi sekarang saja, Felix masih berharap ini hanyalah kesalahpahaman dan Daisy tidak pernah berubah setelah mendapat mimpi buatan itu.


Cain dan Tiga Kembar sudah datang dari panti membawakan baju ganti untuk Felix dan juga membawa kebutuhan untuk Daisy.


"Bagaimana? apa ibu sudah pernah bangun?" tanya Teo.


"Belum ... kata dokter, dosis obat bius yang diminum ibu sangat tinggi!" jawab Felix meraih pakaian ganti yang sudah dibawakan untuknya.


"Polisi juga ada diluar menjaga dan akan aneh jika anak SD seperti kita menjaga ibu disini ...." kata Cain.


"Benar juga, lebih baik kita pergunakan waktu saat ini untuk mengetahui isi dari surat misi yang diberikan pada para pemain!" kata Tom.


"Bagaimana dengan Dallas, kita harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya!" kata Teo.


"Aku sudah menyuruh Banks untuk mengamati apa yang terjadi dengan Dallas, setelah Banks tahu penyebabnya ... barulah kita akan bertindak ...." kata Felix.


Cain terus menatap Felix dengan tatapan curiga, "Kau pikir aku sudah tahu penyebabnya dan menyembunyikannya?!" kata Felix.


"Kau kan akhir-akhir ini menjadi orang yang seperti itu!" kata Cain.


"Kalian juga pasti memikirkan yang sama denganku ... Dallas menjadi seperti itu pastilah ulah dari anak buah Efrain yang ada di Mundebris. Mulai Magdalene, Gina dan sekarang Dallas ... tapi berbeda dengan Magdalene dan Gina, Dallas tidak diculik tapi tetap dibiarkan berkeliaran bebas ...." kata Felix ingin mengutarakan bahwa apa yang diketahuinya sama saja dengan mereka.


"Mungkin karena kita yang berhasil membawa Gina kembali jadi Dallas tidak diculik dan akhirnya menggunakan metode lain ...." kata Cain.


"Jangan khawatir, tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan Banks. Dallas pasti akan pulih kembali ...." kata Felix.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" kata Tan.


"Bagaimanapun juga metode yang akan kita manfaatkan adalah menggunakan Bemfapirav untuk bisa diam-diam masuk ke dalam rumah para pemain tentunya dengan bantuan garis pelindung Cain ...." kata Felix menegaskan kata Bemfapirav pada Teo dan Tom.


"Aku masih belum berani ke Bemfapirav!" kata Teo.


"Kau pikir aku berani?!" kata Tom.


"Aku tidak bisa memastikan kalau kalian tidak akan bertemu dengan Zewhit ... jadi ingat! jangan penasaran! jangan mengajak bicara Zewhit! jangan menatap mata Zewhit apalagi Zewhit cangkang! kalian bisa bermimpi buruk dan Zewhit itu akan terus mengikuti kalian selama 40 hari!" kata Felix memperingatkan.


"Aku sudah tahu! kau tidak tahu saja aku sudah membaca banyak buku tentang Zewhit!" kata Tan.


"Hari ini, hari kamis! menandakan bahwa misi baru saja datang ... pasti surat misi itu belum dihancurkan ... pasti belum kan?" kata Tom agak khawatir.


"Tapi darimana kau tahu tentang surat pemberitahuan yang dibagikan dengan para pemain?" tanya Cain pada Felix.


"Iriana yang memberitahuku! Efrain pernah cerita pada Iriana saat menjalankan permainan tukar kematian dan mengatakan sangat bersyukur kalau Franklin tidak pernah terpikirkan untuk membagikan surat pemberitahuan pada masing-masing pemain. Jika ia, maka Efrain akan sangat kesulitan pastinya pada saat itu ... tapi itu hanya firasat Iriana saja, setelah mendengar informasi dari Teo yang mengatakan ada surat yang datang pada para pemain akhirnya aku diam-diam mengikuti beberapa keluarga pemain yang pergi ke pasar Nora dan membaca pikiran mereka. Ternyata benar yang ditakutkan Iriana ...." jawab Felix.


"Ooooow begitu ....." sahut Cain dan Tiga Kembar setelah mendengar penjelasan Felix yang ternyata sangat sederhana padahal selama ini mengira Felix tahu karena sesuatu yang spesial.


"Kalau bertemu akan kutendang tumitnya si Efrain itu!" kata Teo sebal.


"Kau belum saja bertemu dengannya!" kata Felix tertawa.


"Kalau bertemu lagi, dia sudah berjanji akan membunuhku!" kata Cain.


"Wah! benar-benar sangat menyebalkan Efrain itu!" kata Tom.


"Menggunakan pedang saja kami tidak tahu ...." kata Tan tertawa kecil, "Bagaiaman kami bisa melindungi diri?!"


"Aku yang akan melindungi kalian!" kata Felix dan Cain bersamaan.


"Jangan meremehkan kami! begini-begini juga kami sudah melakukan kontrak dengan banyak tanaman dan hewan ajaib di Mundebris ...." kata Teo.


"Tentu saja, kau pikir racun yang sangat menyakitkan itu tidak ada gunanya?!" kata Tom.


"Bagaimana keadaan kalian? apa masih sakit?" tanya Felix.


"Hanya sesekali terasa ada seperti sengatan listrik tapi itu tidaklah lama dan sudah bisa ditahan!" jawab Tan.


"Seharusnya kau memberitahu kami sedang melakukan apa dan membawa salah satu dari kami menemanimu!" kata Cain teringat penjelasan Felix yang sudah lewat.


"Kau masih saja marah karena itu?!" tanya Felix tertawa, "Aku tidak bisa berpikir jernih karena sibuk bolak-balik Istana Ruleorum dan panti. Ditambah lagi aku harus mencari keberadaan sarang kelabang dan tidak sempat memberitahu hanya langsung menyelidiki sendiri keluarga pemain karena setelah itu harus kembali lagi ke Istana Ruleorum mengurus sesuatu ...." kata Felix.


"Bukannya tidak memberitahu tapi Felix hanya terlalu dipusingkan banyak pekerjaan sehingga tidak sempat memberitahu kami ... lihat Goldwin! kau benar-benar sangat-sangat salah!" kata Cain dalam hati sambil tersenyum, "Jadi sekarang kau sudah bisa dengan tenang memberitahu kami, apa urusanmu sudah selesai?" tanya Cain.


"Ya, Kiana sudah aman sekarang!" sahut Felix, "Aku baru bisa dengan tenang mengobrol dengan kalian seperti ini setelah memastikan Kiana sudah terlindungi ... maaf jika terkesan misterius dan menyembunyikan sesuatu ...."


"Kami sebenarnya mengira kau menyembunyikan sesuatu dari kami tapi setelah kau meyakinkan kami lagi waktu itu ... kau hanya ingin memastikan lagi apa kami benar bisa memantapkan hati dan menjalani permainan ini dengan benar kan?!" kata Tan.


"Baik aku maupun kalian ... kita tidak bisa lari lagi dari takdir! aku yang seorang Caelvita dan kalian yang seorang Alvauden ... jika aku terus menyangkal itu untuk melindungi kehidupan normal kalian ... sedangkan kini ada 50 nyawa yang akan menghilang karena hal yang tidak normal. Bukankah itu terlalu egois?! mungkin menyelamatkan Kiana memang adalah keegoisanku tapi 49 nyawa lainnya setidaknya kita haruslah adil walau sekarang tinggal 48 ...." kata Felix.


"Kalau begitu ayo kita jalankan permainan ini!" kata Teo.


"Jangan terlalu bersemangat!" kata Cain menyipitkan matanya.


Sampai dilingkungan salah satu pemain, mereka memeriksa dahulu monitor untuk mengecek bagaimana keadaan di luar rumah.


"Jadi cara masuk Bemfapirav dengan menutup mata dan merapalkan ...." kata Teo yang langsung menghilang.


"Dia sudah masuk Bemfapirav?" tanya Tom.


"Hah ... dasar!" Felix segera menyusulnya.


"Felix!" teriak Teo ketakutan sendirian di Bemfapirav.


"Jangan berteriak! itu bisa menarik perhatian Zewhit ...." kata Felix.


"Kau datang Felix? syukurlah ...." kata Teo langsung memeluk Felix.


"Sudah kubilang jangan bersemangat sekali!" kata Cain diikuti Tan dan Tom yang juga masuk Bemfapirav.


"Aku tidak menyangka kita juga bisa melakukan hal ini? maksudku bukankah memasuki Bemfapirav dengan cara ini hanya Caelvita yang bisa?" tanya Tom.


"Alvauden juga bisa menggunakan cara itu! makanya Goldwin mengajariku cara itu karena tahu aku ini Alvauden ...." kata Cain mulai membuat garis pelindung untuk Tiga Kembar dan juga dirinya sendiri. Sedangkan Felix menggunakan Idibaltenya.


"Arah sana sekitar 50 meter!" kata Tom memimpin jalan.


...-BERSAMBUNG-...