UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.252 - Kristal Air Mata Bahagia



"Jika aku diam saja tanpa melakukan apapun akan membuatku menjadi bosan dan bisa saja akan mengikuti langkah seseorang ... kau yakin tidak akan menyesal dengan itu?!" kata Zeki menyeringai.


"Haha ... kau bisa melakukannya sebanyak yang kau mau!" kata Felix tertawa dengan ancaman candaan Zeki itu.


"Dulu aku fokus dengan tujuanku yaitu menjadi Amantasia tapi setelah bertemu Iriana, Efrain dan Dave ... semuanya berubah! dan saat ini pun sudah berubah lagi ...." kata Zeki.


"Kau tidak akan bisa melakukannya!" kata Felix sudah mengetahui apa maksud Zeki.


"Bisa jadi tidak akan ada yang bisa melakukannya selain aku ...." kata Zeki.


"Kau mau mendapatkan nama sebagai seseorang yang membunuh sahabat sendiri ... akan lebih baik jika aku yang melakukannya! aku punya alasan kuat kenapa harus melakukannya dan tidak akan mendapat hukuman atau rasa bersalah setelahnya ...." kata Felix.


"Coba bayangkan bagaimana Cain jika menjadi Efrain? apa kau akan membiarkan orang lain yang membunuhnya?" kata Zeki membuat Felix terdiam, "Sepertinya tidak kan? kau pasti lebih memilih melakukannya sendiri!" sambungnya.


"Bukannya kau mengira aku tidak bisa mengalahkannya kan?" kata Felix mencoba bercanda.


"Itu salah satunya!" kata Zeki menerima candaan Felix itu.


Libur musim dingin mulai berakhir, tapi di Mundebris barulah satu hari berlalu. Tan, Teo dan Tom sudah keluar dari Mundebris karena harus mengecek sejauh mana perjalanan mereka dari kota Pippa. Tan hanya bisa berjalan disekitar bandara tidak punya pilihan lain selain harus kembali cepat karena perlu melakukan perjalanan dengan pesawat lagi untuk kembali. Begitupun Tom yang juga masih berada di sekitar bandara juga tapi setidaknya dia puas karena bisa selesai melakukan kontrak dengan Pohon Pangeran Tidur. Teo cukup lumayan jauh berjalan dibanding Tan dan Tom. Tapi hasilnya tidak sebanding dengan lelahnya dia berjalan jauh itu. Hanya terhitung 2 tanaman yang berhasil melakukan kontrak dengannya.


Felix juga kembali menunggu kedatangan mereka bertiga di bandara. Teo lebih duluan datang dan langsung tidur di atas pangkuan Felix yang sedang duduk di kursi tunggu di luar bandara. Tan dan Tom juga datang tidak lama setelah Teo.


Tan, Teo dan Tom sudah seperti mayat hidup yang berjalan. Mata merah, bengkak, kantung mata hitam, wajah pucat, rambut acak-acakan, urat-urat di tangan dan kaki terlihat hampir keluar dari kulit karena terlalu berlebihan menggunakan otot.


"Makanan kalian banyak yang kembali ...." kata Felix melihat isi tas mereka yang dihamburkan keluar.


"Aku hanya makan sekali karena terlalu sibuk!" kata Teo.


"Aku bahkan hampir tidak makan karena terlalu sibuk ...." kata Tan.


"Aku bahkan tidak menyentuh makanan yang kubawa karena ada Tascattus yang membawakanku makanan ...." kata Tom.


"Kalian sudah bekerja keras, aku akan menghentikan waktu sebentar untuk kalian beristirahat ...." kata Felix.


"Berapa lama?" tanya Teo penuh harap.


"1 jam! gunakan sebaik mungkin!" jawab Felix.


"Itu sudah sangat cukup!" kata Teo.


"Aku tidak peduli! yang aku pedulikan hanya perkataan Felix yang mengatakan akan memberi kita kesempatan bisa tidur sebentar ...." kata Teo.


"Aku bahkan tidak heran lagi ... pasti Felix memiliki kekuatan untuk melakukan itu! memangnya ada yang perlu dipertanyakan lagi?!" kata Tom sudah langsung membaringkan dirinya di lantai.


Tan menatap Felix menunggu jawaban, "Kau pasti dari daerah Ruleorum kan?" kata Tan merasa bersalah karena mengetahui apa yang akan dilakukan Felix untuk menghentikan waktu.


"Aku tidak sengaja menemukannya! sungguh! kau tidak perlu memikirkan bagaimana aku mendapatkannya ...." kata Felix.


"Seharusnya kau menyimpannya untuk hal yang lebih penting!" kata Tan.


"Apa yang lebih penting dari membuat kalian, maksudku ... Alvauden beristirahat ...." kata Felix.


"Baiklah ... akan kami gunakan sebaik mungkin!" kata Tan juga sudah naik ke kasur. Sedangkan Teo dan Tom sudah tidur daritadi.


Felix mengeluarkan sebuah kristal berwarna putih dari saku celananya. Kristal yang dipungut oleh Felix di dekat ujung seberang Sungai Ruleorum saat tiba-tiba bertemu Cain. Kristal yang tercipta oleh air mata bahagia Zewhit yang jatuh ke sungai saat berjalan di atas jembatan. Kristal air mata bahagia itu bisa digunakan untuk menghentikan waktu jika dibakar bersamaan dengan darah Caelvita. Tan mengetahui hal itu setelah membaca buku 'Segalanya Tentang Jembatan Ruleorum'.


Felix menaruh Kristal air mata bahagia itu di dalam mangkuk stainless steel kemudian mengiris tangannya sendiri, meneteslah darah Felix yang sudah muncul sedikit warna hijau diantara darah merah manusianya. Setelah itu Felix memasukkan korek api ke dalam mangkuk itu dan terbakarlah kristal dan darah yang langsung menjadi abu, kemudian terbang naik ke udara, selang beberapa detik kemudian abu berwarnakan putih, merah dan hijau itu berhenti menyebar atau lebih tepatnya berhenti bergerak.


Semua jam berhenti berdetak, semua manusia atau semua yang hidup di dunia ini termasuk Zewhit sekalipun berhenti seketika. Kecuali Felix yang tidak terpengaruh oleh hentian waktu itu. Felix menyentuh Tan, Teo dan Tom agar ikut menikmati waktu yang terhenti itu. Suara dengkuran Teo juga langsung terdengar tersambung lagi setelah tadinya berhenti sebentar. Percuma jika waktu dihentikan saat mereka tidur karena efek tidur yang dirasakan akan terhenti juga. Jadi mereka tidak boleh ikut dalam hentian waktu itu agar bisa beristirahat.


Ditempat lain dimana Cain berada, "Waktu berhenti?" Tidak ada makhluk hidup disekitar Cain yang bisa membuktikan bahwa waktu memang sedang berhenti tapi Cain bisa merasakan waktu berhenti, "Pasti tadi Felix memungut batu kristal di pinggir sungai!" kata Cain yang juga tidak terkena efek hentian waktu.


"Tapi aku lupa bertanya ... dua hari yang dimaksudkan itu apa waktu Mundclariss atau waktu Mundebris?" kata Cain yang tidak mempercayai kalau Felix bisa menemukannya tapi dari lubuk hatinya yang paling dalam tetap berharap kalau Felix memang bisa menemukannya.


"Sudah satu hari berlalu waktu Mundebris ... ya tentu saja pasti waktu Mundebris kan maksudnya ...." kata Cain terus berbicara sendiri.


Cain keluar dari ruangan gelap yang ditempatinya dan melihat bulan sabit di langit yang selalu malam itu, "Padahal dulunya aku suka sekali melihat bulan sabit ... sekarang tidak lagi ... karena itu tandanya, Felix sedang tidak ada di dunia yang sama denganku!"


"Aku juga tidak bisa kembali menemui mereka dengan keadaan menyedihkan seperti ini ... bukannya hanya akan membuat reputasiku hancur tapi bisa menyeret Felix juga ikut serta ... lebih baik namaku tersebar sebagai seorang yang kejam daripada menjadi Alvauden yang lemah begini ... itu bisa membuat Felix semakin direndahkan oleh Efrain." kata Cain.


Angin berhembus mengenai rambut pendek Cain yang hampir dengan jelas kulit kepalanya terlihat. Angin yang berhembus itu menandakan waktu sudah kembali berjalan.


Disisi lain Tan, Teo dan Tom sudah bangun bersiap untuk kembali bersekolah. Disaat teman-teman yang lainnya terlihat segar setelah liburan, mereka bertiga sudah bersyukur bisa sempat diberi tambahan waktu tidur berkat Felix. Walau jelas saja itu tidaklah cukup.


...-BERSAMBUNG-...