
Terakhir kali menggunakan masker matahari buatan Banks sangat menyulitkan. Tapi kali ini sudah mulai lebih baik daripada saat itu. Tan, Teo dan Tom sudah kelihatan mulai terbiasa.
"Aku mengagumi diriku sendiri, tidak lagi sesak napas seperti terakhir kali." kata Teo yang masih berada di atas batu tapi perlahan batu itu tenggelam dan air menghilang digantikan oleh lumpur. Teo berbalik memeriksa, "Kukira permen karet ...." Teo menyipitkan matanya, "Sepertinya dia tidaklah terlalu kreatif." Teo mengeluhkan bagaimana iblis mencipatakan sesuatu yang biasa-biasa saja dan mudah ditebak. Teo kembali membaringkan dirinya diatas batu tidak terlalu peduli kalau sedang terhisap turun oleh lumpur, "Aku hanya perlu bepikir disaat-saat terakhir." kata Teo santai menggunakan lengannya sebagai bantal.
Jaringan Alvauden tidak bisa digunakan selama berada di dalam dunia pikiran itu, "Baru kali ini aku sangat merindukan Jaringan Alvauden yang berisik itu, pasti tidak akan terlalu menyeramkan kalau mendengar mereka berbicara atau bertengkar ...." kata Tan masih menyusuri hutan.
Dunia pikiran sebelumnya ibaratkan latihan, kali ini ujian sesungguhnya. Latihan bagaimana memakai masker matahari. Membiasakan diri untuk menghemat tenaga dan oksigen agar bisa bertahan. Ternyata berguna juga untuk sekarang. Walau tetap saja rasanya sulit tapi tidak lagi sesulit pertama kali.
"Bagaimana jadinya kalau tidak pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Langsung ujian tanpa latihan ... tapi aku masih tidak setuju kalau yang terakhir kali itu adalah latihan. Aku hampir saja mati rasanya ...." kata Tom yang membuat kolam renang dengan pikirannya sehingga pasir yang menenggelamkannya turun ke dasar kolam renang semua, "Pasir memiliki kemampuan yang rendah untuk dapat mengikat air." Tom naik ke atas permukaan dengan wajah begitu bahagia karena mengingat pelajaran fisikanya.
Tan masih terus menelusuri hutan yang sepertinya tidak ada ujungnya. Tan tahu betul kalau hutan itu bukanlah hutan yang nyata. Hanya saja tinggal berdiam diri di hutan yang gelap menunggu diserang adalah hal yang tidak bisa dilakukannya. Tan terlihat seperti hanya berjalan cepat dan terburu-buru seakan sedang ketakutan. Tapi sebenarnya dia tidak takut berada di hutan gelap itu. Hanya saja sedang berusaha untuk membuat sesuatu dengan pikirannya tapi tidak berhasil.
Dikiranya kalau berjalan akan menemukan ide atau otaknya bisa bekerja cepat. Tapi tidak ada yang terjadi, semua yang dipikirkannya tidak ada yang terjadi. Tan berhenti melangkah dan mulai menenangkan diri. Tapi sama saja tidak ada yang terjadi.
"Kenapa aku tidak bisa melakukan sesuatu?!" Tan frustasi karena ingin mencoba melakukan sesuatu atau sekedar latihan membuat sesuatu dengan pikirannya sebelum musuh datang. Sehingga sudah tahu bagaimana melawan kalau lawan menyerang. Tapi tidak ada yang terjadi, padahal diantara mereka bertiga Tan lah yang paling cepat bisa melakukan sesuatu dengan pikiran saat di dunia pikiran sebelumnya, "Apa hanya perasaanku saja atau ...." Tan merasa ada yang mulai mendekat.
Tapi itu bukan iblis melainkan semua pohon datang mendekat mengepung Tan, "Rasanya aku harus melakukan ini secara manual." Tan membuat Tellopper memutar untuk memotong pohon yang berusaha menghimpitnya. Akan tetapi merasa bersalah setelahnya. Karena melihat potongan pohon dimana-mana, "Mereka bukanlah pohon asli ... mereka hanya seperti properti dan saat ini aku sedang ada di panggung pertunjukan dimana iblis sedang menonton. Akan aku buat dia tidak menikmati pertunjukan yang dia buat sendiri." Tan sudah kembali tenang.
"Mereka lebih dari yang aku bayangkan ...." kata Zeki berada di tengah-tengah antara Tan dan Tom, "Tidak selamanya menggunakan pikiran untuk menang di dunia pikiran. Kadang hanya menggunakan kekuatan saja pun cukup." Zeki melihat Tan yang hanya menggunakan senjata saja, "Dan ... dia kelihatan cukup baik melawan menggunakan pikiran. Memang harus begitu ... karena senjatanya yang berat itu tidak akan terlalu berguna di dunia pikiran. Sesemax hanya cocok untuk pertempuran langsung dengan musuh. Bukan untuk melawan musuh yang tidak terlihat." Zeki hanya terus mengawasi karena tak kunjung mendapat serangan.
"Aku tahu ... mereka tidaklah seburuk itu." kata Zeki tersenyum padahal tadinya terus memojokkan dan menghina mereka.
"Begitukah?! kau benar-benar sudah merelakan gelarmu untuk mereka?!" tanya Efrain yang tiba-tiba datang.
"Setidaknya ... mereka lebih baik darimu. Saat pertama kali kau menjalankan tugas sebagai Alvauden kau hanya diam gemetaran karena tidak mau melukai siapapun. Mereka ketakutan, tapi tetap kelihatan ingin membantu ... kelihatan memaksa diri berjuang untuk lepas dari ketakutan mereka." kata Zeki.
"Jadi, kau bisa membayangkan bagaimana mereka nanti ... mereka akan menjadi diriku suatu saat nanti kalau Felix mati. Lebih buruk lagi dariku ...." kata Efrain.
Zeki akhirnya setelah sekian lama menunggu dari awal masuk dunia pikiran baru berdiri karena kedatangan Efrain, "Terimakasih sudah menerima undanganku ... kukira kau tidak akan datang dan hanya menyiksaku di dunia pikiran ini."
"Aku hanya ingin berhadapan langsung denganmu dan sudah kuduga kalau kau akan menggunakan dunia pikiran. Hanya tidak menduga saja kalau kau akan menggunakannya begini ... tidak ada yang lebih menyakitkan dari mati tanpa tercatat di dunia manapun. Meninggal di dalam dunia pikiran akan membuat semua kehidupan yang dijalani menghilang begitu saja termasuk kenangan orang lain tentang kita atau lebih buruknya membuat seseorang gila karena mengingat sesuatu sedangkan orang lain tidak mengingatnya. Kau melakukan ini untuk membunuh mereka dan membuat semuanya lupa kalau mereka pernah hidup. Sehingga Iriana ... tetap menjadi Caelvita. Begitukan rencanamu?!" kata Zeki.
"Kau pikir aku tidak bisa membunuhmu?! terakhir kali itu ... aku hanya memberimu kesempatan! belum terlambat, untuk kau bergabung denganku ...." kata Efrain.
"Saat itu kau sangat lebih dari mampu untuk membunuhku Efrain, makanya aku mengundangmu kemari. Disini ... di lapangan yang luas ini, kita bebas bertarung sepuasnya tanpa gangguan dan menggangu orang lain." kata Zeki.
"Iriana masih bisa hidup ...." kata Efrain.
"Dan ... setelah kau membunuhku, aku ingin kau menguburkan Iriana juga. Sudah terlalu lama kau menyimpan tubuh Iriana, Efrain." kata Zeki.
"Aku tidak akan menguburkannya! tidak, selama aku masih hidup! dia masih bisa hidup." kata Efrain begitu emosi.
"Dia masih bisa hidup?! tapi tidak bisa dikatakan hidup sekarang ...." kata Zeki.
Efrain kelihatan sudah melebihi batas kesabarannya menahan emosi dan mulai berlari dengan cepat menyerang Zeki. Hanya saja Zeki terus diam tidak bergerak untuk melawan ataupun untuk melindungi diri juga tidak.
Pedang Efrain sudah berada diatas kepala Zeki, "Lakukan! bunuh aku! dengan begitu, kau akan lupa denganku juga ...." kata Zeki tanpa berkedip dan merasa tanpa takut sedikitpun sedang berada dihadapan dengan Efrain, Raja Neraka atau Pemimpin Kaum Iblis itu.
"Kau pikir aku akan mundur?! kau salah!" kata Efrain masih dengan posisi yang sama.
"Lalu, apa yang menahanmu?! kalau kau tidak mundur ataupun maju ... itu tandanya kau masih ragu! kau sendiri masih belum terlambat untuk mundur ...." kata Zeki.
"Dasar licik!" teriak Efrain saat Zeki ternyata menusuk jantungnya.
"Kau masih saja tetap bodoh, Efrain. Meski sudah jahat sekalipun ...." kata Zeki dengan pedangnya yang masih menancap di dada Efrain.
...-BERSAMBUNG-...