
Para Iblis mengubah ukuran mereka semua menjadi kecil agar bisa menghindar dengan mudah dari serangan panah. Semua Pasukan Efrain berjuang mati-matian menghi dan menangkis anak panah itu.
Anak panah berlian yang sangat keras dan lajunya juga yang sangat cepat sulit untuk dihentikan dan dihancurkan. Bahkan anak panah itu menghancurkan dan menembus senjata milik Iblis. Memang mereka punya banyak senjata yang tak terhingga, karena semua Quiris mengoleksi senjata yang banyak untuk persiapan seperti saat sekarang ini. Tapi untuk benar-benar menghentikan anak panah itu harus dengan menggunakan Isvintria.
Tontonan pertunjukan bagaimana macam-macam penggunaan dan manipulasi Isvintria begitu mengesankan dilihat. Pertama kalinya bagi Felix melihat pertarungan besar-besaran menggunakan Isvintria.
Sementara Pasukan Felix yang masih dalam posisi sedang duduk berlutut dengan satu kaki karena anak panah masih belum berhenti juga melesat dari segala arah menuju Pasukan Efrain. Mereka tentunya tidak akan dilukai oleh anak panah itu. Tapi saat ini sedang melancarkan anak panah itu melesat tanpa gangguan dan memastikan tidak menghambat serangan Cairo itu.
Hingga setelah Pasukan Felix melihat anak panah mulai berakhir dan berkurang yang datang. Akhirnya mereka berinisiatif menjadikan itu sebagai serangan bermakna. Menggunakan serangan terakhir itu sebaik mungkin dengan ikut menggabungkan serangan Isvintria pada anak panah terakhir.
Pasukan Efrain tidak menerima itu dengan pasrah, melainkan memang masih sedang menghalau serangan yang masih sedang berlangsung dan juga mempersiapkan untuk serangan yang akan datang itu.
Bunyi desiran sebagai tanda bertemunya dua gabungan Isvintria. Tidak sengaja digabungkan, tapi bersatu saat bertemu menuju arah yang sama. Viviandem yang terkenal akan kurang akurnya mereka tapi mengagumkan bagaimana kekuatan mereka bisa bersatu dengan baik seperti itu.
Awalnya hanya gelombang panas yang dirasakan, baru kemudian ledakan besar meluluhlantakkan daerah disana. Bahkan tidak sampai disana saja, terus saja menjalar jauh. Dimana Anaevivindote dan Plaevivindote mengungsi, yang mengira tempatnya sudah aman. Tapi ternyata masih harus kembali melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa mereka. Karena tidak ada yang selamat jika terkena dampak dari ledakan itu.
"Aku akan mati ... aku akan mati ...." teriak Anaevivindote yang masih terus berjuang untuk lari tapi dia sendiri meragukan kecepatannya berlari sekarang.
"Tidak ... kita akan mati!" Plaevivindote yang menumpang di bahu Anaevivindote karena sudah tidak sanggup untuk lari mengira akan aman karena Anaevivindote yang dijadikan sebagai tumpangan itu sangatlah cepat berlari lebih dari dirinya tapi ternyata ledakan itu lebih cepat lagi.
Ekor Anaevivindote itu sudah mulai terbakar kemudian ledakan berhenti atau lebih tepatnya seperti terhisap mundur kembali. Secepatnya api yang ada di ekor Anaevivindote itu dipadamkan, "Hahh ... kita selamat!" seru mereka berdua.
Quiris tahu bagaimana cara melindungi diri mereka masing-masing. Cain sendiri memiliki ide menarik dan akan lebih bagus jika semua Leaure membantunya. Tapi ternyata tidak ada Leaure yang menyetujui ide Cain itu. Hanya Felix yang setuju untuk ikut melakukan ide Cain itu.
Felix dan Cain masing-masing membuka Gerbang Leaure menuju Penjara Neraka, "Penjara Neraka tahan akan serangan sebesar apapun itu." kata Cain.
Akhirnya ditemukan kekurangan dari cara bertarung Quiris. Mereka tidak memikirkan soal keselamatan diri sendiri apalagi keselamatan sekitar. Hanya langsung menyerang saja saat ada kesempatan tanpa memikirkan akibatnya kemudian.
Bukan hanya akan menghabisi Efrain dan Pasukannya saja tapi Pasukannya juga akan mengalami hal yang sama. Ditambah lagi makhluk Mundebris lainnya yang tidak tahu melindungi diri sendiri adalah korban sesungguhnya dari serangan ini. Maka Cain berinisiatif untuk menghentikan tindakan bunuh diri massal itu.
Suara teriakan terdengar kemudian menghilang setelah semua ledakan itu terhisap masuk ke dalam gerbang.
"Toh, mereka semua juga sedang dalam masa hukuman ...." kata Goldwin yang lega tapi juga merasa bersalah dengan orang-orang yang ada di penjara neraka saat ini menerima ledakan.
"Tidak ... ruang kantorku pasti terbakar habis sekarang." suara keluhan dari seorang Iblis yang sempat bisa didengar oleh Felix menandakan iblis itu benar-benar sedang dalam keadaan depresi sehingga pikirannya bisa didengar oleh Felix.
"Ternyata, mau bagaimanapun dia yang sebagai Leaure tidaklah bisa disangkal." kata salah satu Viviandem Leaure melihat bagaimana Cain berinisiatif melindungi, bukan hanya Pasukan Felix tapi juga Pasukan Efrain.
"Walau terkesan kejam, tapi dia tahu bagaimana memilih siapa yang harus diprioritaskan. Hal yang sulit untuk seorang Leaure lakukan sebenarnya. Karena kita terkesan ingin menyelamatkan semuanya sekaligus tanpa mengorbankan siapapun." kata Penasehat Raja Leaure.
"Dia sepertinya bukan sekedar Setengah Leaure saja ...." kata Raja Leaure dalam hati mengetahui siapa yang memiliki prinsip yang sama dengan Cain.
Dokter Mari menyimak dengan baik percakapan Leaure tentang Cain. Bagaimana Leaure memandang Cain menjadi prioritasnya saat ini. Karena Dokter Mari tahu betul betapa sulitnya hidup sebagai seorang Setengah Leaure. Kalau dipandang sebelah mata oleh sesama Leaure, selamanya akan terus dipandang hina.
"Aku baru saja menghancurkan tempat kerjamu!" kata Cain dengan ceria mengusili Efrain dan Iblis lainnya, "Ayo, maju! SERANG!" teriak Cain begitu bersemangat.
"Hahh ...." Felix menghela napas kesal harus meladeni Cain yang seperti itu. Tubuhnya yang masih belum stabil itu harus menerima serangan tepat ditengah-tengah dimana iblis ada disekeliling.
Felix, Cain dan Cairo terlihat saling mendekat dan membelakangi untuk melindungi titik buta masing-masing. Pasukan Felix juga bersiap untuk datang membantu tapi sudah berkurang karena ada yang terluka, ada yang masih belum melepas perisai pelindung dan ada juga yang sudah tidak bisa kembali lagi kesana karena batas membuka gerbangnya sudah mencapai batas.
Semua mata Quiris bersinar terang, kali ini bukan lagi menggunakan senjata. Senjata mereka semua dihilangkan dan memunculkan batu permata dari khas kerajaan masing-masing.
Batu permata mereka terlihat berubah bentuk menjadi senjata atau membantu dalam penguatan Isvintria mereka. Kembali Felix takjub untuk pertama kalinya lagi baginya melihat pertarungan menggunakan kekuatan inti dari Mundebris yakni batu permata. Tapi sayangnya, kekuatan batu permata itu melemah. Senjata menjadi tidak sempurna dan tidak membantu menguatkan Isvintria.
Felix kecewa tidak bisa melihat pertarungan menggunakan batu permata, tapi itu terjadi karena dirinya juga. Tidak mengetahui kalau dirinya saat ini adalah inti dan unsur penting di Mundebris. Jika terjadi sesuatu dengan dirinya, maka itu akan berpengaruh juga pada seluruh yang berkaitan dengan Mundebris. Felix terjatuh merasakan sakit didadanya membuatnya kesulitan dalam bernapas dan pusing hebat.
"Felix ...." Cain menghampiri.
Kembali Quiris memunculkan senjata mereka untuk dipakai bertarung. Tapi secara tiba-tiba semua senjata direbut oleh seseorang. Karena kebingungan, mereka hanya bisa memunculkan kembali senjata lainnya tapi direbut kembali.
Itu adalah Cairo, menarik semua senjata yang ada disana dan mengumpulkannya mengelilingi Efrain saat ini. Akhirnya ada yang memilih untuk bertarung dengan tanpa senjata. Ada juga yang sengaja terus memunculkan senjatanya untuk menambah senjata yang akan menyerang Efrain.
Aluias memang tidak membuat semua senjata tapi memiliki akses tidak langsung pada semua senjata Mundebris. Makanya jika memiliki pedang Quiris lain, Aluias tidak akan ditolak oleh senjata itu. Ditambah lagi dengan menggunakan kekuatan Sang Penghukum, Cairo bisa menggunakan kekuatan unik itu lebih baik.
...-BERSAMBUNG-...