
"Ayo kita pergi darisini!" kata Felix tidak ingin melihat perkelahian yang akan segera terjadi di depan mereka.
"Berarti memang ada perjanjian diantara mereka ...." kata Tan.
"Sudah jelas ada! mereka saling menyembunyikan tempat masing-masing ...." kata Tom.
"Aku sama sekali sudah tidak peduli! andaikan aku punya kekuatan, akan aku hancurkan kedua perkumpulan ini!" kata Teo.
"Haha ... Teo sudah besar rupanya!" kata Cain tertawa dan mengacak-acak rambut Teo.
Mereka berlari sedikit menjauh darisana dan mulai kembali ke Mundclariss tapi langsung terjatuh karena dataran di Bemfapirav berbeda dengan yang di Mundclariss saat ini.
"Heh?! kita ada dimana?" tanya Teo.
"Untung saja sedang musim dingin jadi kolam renang ini di kosongkan ... coba bayangkan kalau langsung sampai dan kita langsung tenggelam ...." kata Cain.
"Sssssst!" Felix heran melihat mereka sesantai itu sedangkan sedang ada di kolam renang rumah seseorang.
Tan mulai menaiki anak tangga untuk naik ke atas, "Sudah lewat 1 setengah jam! ayo cepat pulang!"
"Apa sebaiknya kita pulang ke panti saja? pasti saat ini di Rumah Bu Sissy banyak aura Felix yang tertinggal ...." kata Tom.
"Apa tidak apa-apa meninggalkan Bu Sissy sendirian di rumah?" tanya Teo.
"Ibu sedang tidak ada di rumah!" kata Felix.
"Kalau ke panti apa tidak apa-apa? bisa-bisa kita ikut membahayakan yang ada di panti!" kata Cain.
"Siapa itu?!" teriak seseorang dari dalam rumah.
Mereka langsung cepat-cepat memanjat pagar rumah dan keluar dari rumah itu. Dengan mengandalkan keberuntungan berharap tidak ada sistem alarm keamanan di rumah itu, kalau memanjat pagar rumah. Karena mereka tidak bisa lagi kembali ke Bemfapirav dan melewatkan banyak waktu lagi.
"Jadi kita harus kemana bermalam?" tanya Teo sudah mulai merasa tidak nyaman dengan angin malam yang dingin.
"Kalau mau tempat hangat, ya di Istana Leaure tapi kita tidak akan cukup tidur kalau di Mundebris ...." jawab Cain memberi solusi.
"Harusnya malam ini aku latihan dengan Banks ...." kata Tan murung.
"Kita ke klinik Dokter Mari saja! disana terpasang banyak perisai ...." kata Felix.
"Kalau soal itu, lebih baik kita kembali saja ke Rumah Bu Sissy! nanti aku buatkan perisai dan berjaga juga untuk kalian ...." kata Cain masih enggan menerima bantuan Dokter Mari.
Felix hanya bisa mendengus sambil menahan tawa, "Baiklah ... ayo kita pulang!"
***
Mereka mengambil jalan memutar untuk pulang dan Felix terus memakai idibaltenya untuk menyembunyikan auranya. Sedangkan aura Leaure Cain memang tidak bisa dilihat jadi tidak masalah baginya dan aura Alvaudennya juga belum muncul, baru tanda di dahi saja. Begitupun Tan, Teo dan Tom hanya memiliki aura manusia biasa jadi tidak akan membuat mereka mencolok di Mundclariss.
"Kau jadi seperti hantu saja ...." kata Teo mengejek Felix.
Cain menitipkan tasnya untuk masuk duluan karena dia ingin keliling rumah membuat perisai dulu.
"Hampir saja kita jadi tunawisma, tidak tahu harus tinggal dimana ...." kata Teo senang bisa membaringkan dirinya di sofa yang empuk dan hangat.
"Aku mau masak mie instant! kalian mau?" tanya Tan karena ingin cepat-cepat ke Bemfapirav.
"Tidak usah buru-buru, Banks juga belum datang!" kata Felix.
"Jangan membohongiku Felix!" kata Tan.
Felix hanya langsung memaksa dirinya batuk dan naik ke lantai atas.
"Banks bilang akan menunggu mulai dari tenggelamnya matahari ... dia pikir mau membohongi siapa!" kata Tan sebal, "Mengkhawatirkan boleh saja tapi itu bisa membuat Banks menunggu lama ...." sambung Tan.
Setelah memasang perisai, Cain terus berjaga di teras rumah lantai tiga. Teo dan Tom walau merasa bersalah tapi tetap memaksakan tidur. Harus ada setidaknya diantara mereka yang cukup tidur untuk melakukan aktivitas. Tan berlatih dengan Banks, yang sudah menyiapkan banyak perlindungan untuk Tan sebelum datang. Felix mengawasi dari jauh Tan berlatih, bagaimanapun juga Bemfapirav adalah dunia yang berbahaya.
"Felix ... Felix ... kau mendengarku?" suara Cain masuk ke telinga Felix yang hampir jatuh tertidur bersandar di pohon.
"Ada apa?" tanya Felix mencoba mengembalikan kesadarannya.
Felix berlari ke arah Tan dan Banks berada, "Apa yang kau lakukan disini, Felix?" tanya Tan dengan napas terengah-engah.
"Banks, jaga Tan! aku akan kembali!" kata Felix.
"Baik, Yang Mulia!" kata Banks cepat tanggap.
"Kau daritadi ada disini?" tanya Tan.
"Aku pergi ...." Felix mulai kembali ke Mundclariss tepat di ruang tamu.
"Kau sudah datang!" kata Cain menuruni tangga.
"Perisaimu sepertinya berhasil!" kata Felix melihat para iblis tidak bisa masuk ke dalam pagar rumah, "Teo dan Tom?"
"Mereka tidur!" kata Cain, "Apa ... kita keluar menghadapi mereka?" tanya Cain merasa ragu.
Felix duduk di sofa untuk berpikir, "Atau kita diam saja?" tanya Cain lagi.
"Kalau kita keluar, dengan begitu akan memberi kepastian bahwa kita tinggal disini ... Bu Sissy bisa dalam bahaya! tapi jika kita tidak keluar, pasti Efrain akan menggunakan cara lain untuk bisa menyerang kita ...." jawab Felix.
"Pemain dan keluarga pemain!" kata Cain mengerti maksud Felix.
"Bagaimanapun juga kita tidak bisa melawan manusia ...." kata Felix.
"Tapi jika kita keluar, apa semuanya akan baik-baik saja? maksudku walau kita kalah atau berhasil mengalahkan mereka tetap akan berakibat buruk!" kata Cain.
"Sepertinya pilihan apapun itu kita tetap kalah ... ayo kita keluar melawan mereka!" kata Felix memaksakan tersenyum.
"Aku akan terus disampingmu!" kata Cain memunculkan pedang Orogla.
Dengan keteguhan hati mereka berdua berjalan keluar dan membuka pagar sudah bersiap untuk bertarung. Tapi bukannya langsung terdengar bunyi metal yang saling bergesekan karena serangan dadakan dari para iblis malah iblis kini tergeletak tidak bernyawa.
"Siapa yang melakukan ini? Banks kah?" tanya Cain.
"Tidak, Banks sedang ada di Bemfapirav melatih sekaligus melindungi Tan ...." jawab Felix.
"Yang melakukan ini bukan Quiris biasa! mengalahkan puluhan iblis sekaligus seperti ini, bukanlah kemampuan yang dimiliki sembarang Quiris ...." kata Cain mengingat bagaimana dia merasakan belum lama para iblis berusaha menerobos perisai yang dibuatnya tapi secepat kilat juga semuanya langsung dikalahkan.
"Tapi siapa? siapa yang menyelamatkan kita?" tanya Felix.
Matahari mulai terbit dan jasad para iblis tadi langsung menjadi debu terkena sinar matahari. Tan dan Banks juga sudah kembali dan ikut menyaksikan kejadian itu.
"Apa yang terjadi disini?" tanya Tan menutup hidungnya karena bau dari jasad iblis yang menyengat.
"Yang Mulia melawan mereka semua?" tanya Banks.
"Aku tidak sehebat itu Banks ...." sahut Felix tertawa.
Perlahan debu dari jasad iblis itu mulai terbang terbawa angin dan menghilang. Teo dan Tom yang baru bangun mencari keberadaan Felix, Cain dan Tan keluar rumah juga tapi melewatkan melihat apa yang terjadi.
"Siapapun yang menyelamatkan kita malam ini ... kita harus bersyukur ... kita benar terselamatkan!" kata Cain mengehela napas lega.
"Sepertinya kita tidak sendirian ... kita tidak berjuang sendirian!" kata Felix.
Entah siapa yang menyelamatkan mereka malam itu masih menjadi misteri. Tapi itu tidak membuat mereka merasa aman karena ada seseorang yang berada di pihak mereka. Karena bahaya seperti ini akan terus terjadi. Tidak selamanya mereka harus selalu mengharapkan bantuan, harus mereka sendirilah yang menjadi kuat dan bisa mengalahkan musuh tanpa bantuan siapapun.
...-BERSAMBUNG-...
Selamat Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 🇮🇩
Karena di negara kita yang merdeka ini, kita bisa melakukan apapun dengan bebas. Tanpa negeri yang merdeka, mana mungkin saya bisa menulis karya ini tanpa harus takut akan suara tembakan dari luar ... begitupun pembaca yang bisa bebas membaca dimanapun dengan nyaman.
Setiap langkah yang kita ambil ... sejauh mata memandang ... tidak ada lagi penjajah. Sebuah negara yang bebas dengan banyak gedung tinggi menjulang sebagai tanda bahwa para pahlawan telah meninggalkan negeri yang merdeka.
Mari kita kirimkan doa untuk para pahlawan kita yang telah berjasa dan rela berkorban demi kita, generasi masa depan bangsa. Kini giliran kita untuk menjaga bangsa kita dan memajukan Indonesia dengan masing-masing kemampuan yang kita miliki.
#76thIndonesiaMerdeka