
"Menakutkan juga mendengarnya, tapi ya sudahlah ... baca saja!" kata Penonton pasrah saja.
"Baiklah, kalian yang minta ya!" kata Tan mulai menatap suratnya. Sebenarnya Tan sudah hafal isi suratnya hanya saja setelah akan dibaca di depan umum begitu, Tan jadi lupa dan sulit membaca tulisannya sendiri. Butuh keberanian untuk menulis surat itu, tapi lebih membutuhkan banyak keberanian lagi untuk membacanya.
"Sepertinya kembar saja tidak membuat pikiran sama. Buktinya Teo menulis surat kebanyakan tentang dirinya sendiri. Sedangkan Tom lebih ke pengalaman belajarnya. Sementara aku sendiri berbeda lagi ... aku bukannya akan menceritakan bagaimana kenanganku saat sekolah di Gallagher dan bagaimana sulitnya belajar di Gallagher." Tan mulai memberanikan dirinya dengan menelan ludah dan menarik napas dalam menyiapkan diri.
"Kembar saja tidak sama apalagi kalian ya?! pasti semua surat kalian berbeda-beda. Bapak jadi tidak sabar mendengarnya!" kata Pak Egan memberi jeda untuk Tan yang terlihat tegang untuk membaca suratnya.
"Kalau ada yang sama berarti nyontek pak!" kata Penonton.
"Tidak ada istilah nyontek di Gallagher!" kata Pak Egan entah bagaimana terlihat bangga sendiri mengatakan itu.
"Gallagher, sekolah swasta elit yang terkenal nomor satu di Yardley yang bahkan mengalahkan sekolah negeri. Awalnya hanya dibuka untuk sekolah dasar tapi lama kelamaan sudah dibuka untuk tingkat SMP dan SMA. Kenapa?! sudah membosankan kan?! tapi apa boleh buat, aku tidak akan berhenti!" kata Tan tertawa melihat ekspresi penonton yang seperti sedang mendengar pelajaran karena Tan juga menjelaskan seperti guru.
"Sekolah umum yang katanya pertama kali dibangun di Yardley bahkan jauh sebelum peperangan. Tapi tidak ada catatan yang membenarkan soal itu. Gallagher hanya tercatat ada setelah peperangan selesai." wajah penonton yang kebosanan tidak membuat Tan berhenti.
"Memang ini sudah berulang kali kita dengarkan dan baca di buku sejarah tapi kita semua percaya kalau itu hanyalah karangan semata. Semua sekolah hancur saat peperangan dan Gallagher baru dibangun setelah itu. Tapi bagaimana jika itu tidak benar. Sebelumnya, aku sudah mencari informasi soal Gallagher dan aku mendapatkan informasi kalau sekolah ini ada jauh sebelum peperangan berlangsung. Dibangun dan dikelola oleh seseorang yang ingin agar ada tempat untuk belajar dan ada tempat untuk yang memiliki pengetahuan agar bisa dibagikan dengan orang lain yakni seorang guru." perkataan Tan disela oleh penonton.
"Darimana sumbernya?!"
"Apa iya benar akurat?!"
"Dari buku mana?!"
"Sekolah kita tidak menyediakan informasi seperti itu. Aku sudah mencari disemua buku yang ada di perpusatakaan."
Sulit untuk Tan menjelaskan pada penonton yang cerdas-cerdas dalam mempertanyakan sumber informasi.
"Gallagher yang mempunyai makna pertolongan dari orang asing. Nama yang cocok untuk sebuah sekolah, karena semua yang menjadi guru adalah orang asing memangnya. Bukan orangtua atau keluarga tapi orang asing yang bersedia menolong kita mendapat pengetahuan. Tapi sebenarnya nama Gallagher berasal dari dua kata, Galla dan Agher. Kedua orang ini adalah pendiri sekolah kita." Tan berhenti sejenak karena suara penonton sangat berisik.
"Pendapat pribadi tidaklah bisa ditolak, kita negara yang demokrasi ... ayolah! kita dengarkan dulu Tan!" kata Pak Egan tidak menuntut seperti penonton yang mengatakan Tan sedang mengatakan omong kosong.
"Galla adalah seseorang yang berasal dari keluarga yang terpandang dan kaya raya. Sedangkan Agher dari keluarga yang kurang dalam hal ekonomi tapi dihormati. Keduanya bukanlah saudara sedarah tapi persahabatan mereka sangatlah erat karena mempunya prinsip dan mimpi yang sama yakni memajukan pendidikan. Saat itu hanya anak orang kaya yang bisa bersekolah, perempuan juga dilarang belajar saat itu. Tapi Galla dan Agher ingin membuat perubahan, membuka sekolah untuk semuanya tanpa pandang harta atau gender. Bagi mereka berdua, semua berhak belajar dan mendapatkan pendidikan yang setara dengan yang lainnya. Begitulah bagaimana sejarah sekolah kita dimulai ... tapi bagaimana sekarang?! apakah tujuan dari Galla dan Agher sebagai pendiri sekolah tetap tersampaikan dan dijadikan pedoman?!" akhirnya anak-anak tahu kemana arah tujuan isi surat Tan itu.
"Sekolah kita menerima murid tanpa pandang finansial dan gender!" kata Penonton membela.
"Sayangnya, sekolah kita sekarang membuat ujian untuk bisa masuk bersekolah di Gallagher. Bertentangan dengan yang pendiri sekolah inginkan itu atau siapalah yang kau maksud itu walau tidak jelas ... tapi kini tidak lagi menerima semua murid dengan pengetahuan dari nol tapi harus dengan ujian. Seseorang yang memang sudah mempunyai dasar kuat saja yang bisa diterima." kata Penonton lain terdengar mulai terbujuk walau masih belum jelas.
"Terkadang juga ada yang bisa masuk karena menggunakan koneksi." fakta lain semakin dikeluarkan secara terang-terangan.
Tan membiarkan para penonton untuk berdiskusi. Sementara guru yang mendengar itu tidak terlalu terganggu. Walau dengan topik sensitif yang dimulai oleh Tan. Tapi itu bisa membangun pemikiran kritis pada anak-anak menurut mereka. Lagipula saat ini sedang acara perkemahan untuk hiburan dan liburan. Terserah murid mau bagaimana menikmati dan menghabiskan waktu. Pak Egan juga hanya terus tersenyum.
"Bagaimana?! yang aku katakan terdengar omong kosong kan?! tapi lama kelamaan kalian mulai terbujuk juga ... karena begitulah manusia, hanya ingin mempercayai apa yang ingin dipercayai. Bahkan setelah disediakan sebuah bahan untuk dijadikan pedoman tapi terkadang kita mengganggap itu salah karena tidak sesuai dengan apa yang kita ingin percayai. Ucapanku terdengar seperti sebuah kebohongan tapi kalian mulai percaya juga ... sekolah kita sudah berkembang pesat dan menjadi sekolah nomor satu. Padahal dulunya Gallagher dipandang sebelah mata oleh orang-orang karena membuat sistem baru yang asing dan tidak sesuai dengan zaman saat itu. Sekolah yang dulunya selalu berpindah-pindah karena tidak disetujui oleh pemerintah kini menjadi sekolah terbaik di negara kita dan memiliki gedung dan fasilitas sekolah terbaik bahkan di mata dunia. Sekolah yang dulunya hanya untuk mendapatkan pengetahuan untuk setara dengan anak-anak lain kini berubah menjadi perlombaan lari tiada henti. Bukan lagi hanya sekedar belajar tapi terus berambisi untuk menjadi nomor satu. Bukan hanya di Gallagher tapi di sekolah lainnya pun begitu, bukannya aku sedang mengatakan hanya Gallagher yang begini tapi semua sekolah nyatanya kini seperti itu. Aku mengatakan ini hanya untuk mengingatkan kalian ... sekolah bukanlah perlombaan untuk mendapatkan label siapa yang paling banyak tahu. Tapi sekolah adalah tempat untuk belajar hal baru." akhir kata dari Tan yang dihadiahi tepuk tangan dari semua murid dan juga guru-guru.
"Apa yang kau lakukan?! baru saja mengungkap sejarah sekolah kita yang hanya tercatat di Mundebris. Kau sudah gila?!" kata Tom lewat Jaringan Alvauden tetap memasang senyuman karena sedang berada dipanggung. Bukannya mengkhawatirkan Tan akan dapat masalah setelah suratnya yang menentang sistem pendidikan. Tapi karena menghubungkannya dengan cerita yang sebenarnya.
"Apa?! jadi yang diceritakan Tan benar adanya?! bukan hanya perumpamaan dan omong kosong belaka ...." kata Teo.
"Lagipula ... tidak akan ada yang percaya juga. Pasti hanya berpikir kalau aku mengarang cerita untuk tujuan utama menyempurnakan apa yang ingin aku utarakan." kata Tan.
"Galla dan Agher, keduanya adalah Alvauden Setengah Viviandem. Yang dikatakan Tan memang berasal dari cerita nyata." kata Felix.
...-BERSAMBUNG-...