UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.545 - UNLUCKY : Perang Besar Pertama Caelvita-119 Part 28



"Kalau aku terkesan tidak peduli ... itu mungkin hanya penilaian dari apa yang kau lihat dan dengar saja." kata Ratu Sanguiber.


"Penampilan luar memang lebih mendeskripsikan seseorang lebih baik dari apapun itu." kata Cain tetap mencoba menjaga dirinya tenang. Walau kakinya sudah gatal untuk cepat-cepat pergi darisana. Ucapannya juga sudah tidak dipilah dulu, hanya menyesuaikan saja dengan apa yang dikatakan Ratu Sanguiber.


"Aku percaya pada Felix ... bukan hanya karena aku yang melahirkannya. Tapi bagaimanapun, aku ini Quiris Mundebris yang percaya akan takdir. Aku tahu takdir apa yang akan menunggu Felix, mungkin aku tidak akan bersamanya saat itu terjadi. Tapi kau ... pasti ada disana saat itu datang. Jadi, apapun yang terjadi ... mau dia menjadi Crudeliattum yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tetaplah bersamanya! Percaya dia. Karena aku yakin, perubahan yang terjadi pada Felix tidak terjadi begitu saja tanpa alasan. Pasti ada alasan dibalik itu ...." kata Ratu Sanguiber.


"Padahal tadi kudengar kalau Yang Mulia mau membunuhnya ...." kata Cain kini mulai agak santai.


"Itu aku katakan pada Raja Aluias. Aku hanya ingin melihat reaksinya bagaimana." kata Ratu Sanguiber.


"Mana mungkin ayah Felix akan membunuh Felix ...." kata Cain yang bahkan tidak habis pikir mengucapkan kalimat yang tidak masuk akal itu.


"Dia adalah Raja Aluias. Mau itu dia ayah Felix atau bukan, dia adalah Raja di Kerajaan Aluias. Dan Aluias bertugas untuk membasmi kejahatan. Crudeliattum ... adalah salah satunya yang harus dimusnahkan dari dunia ini." kata Ratu Sanguiber.


"Raja Aluias tidak akan melakukan hal itu. Walaupun itu terjadi, aku akan berdiri paling depan melawannya kalau perlu." kata Cain.


"Bukan hanya Raja Aluias, tapi ayahmu juga ... menurutmu kau benar bisa melawan ayahmu sendiri?! Raja Aluias sudah jelas punya tugas dan tanggung jawab untuk menjaga dunia dari kejahatan. Tapi, kau lupa ... ayahmu tidak berbeda jauh juga." kata Ratu Sanguiber.


"Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya ... apa yang Ratu khawatirkan, tidak akan terjadi. Felix lebih berarti bagiku dibanding siapapun di dunia ini." kata Cain.


"Kau tidak pernah bertemu saja dengannya. Hanya dalam sehari, perasaanmu akan tumbuh cepat menyayanginya. Ayahmu adalah Viviandem yang sangat baik. Tidak mungkin memang akan membunuhmu kalau melawan tapi dia sangat lebih dari mampu untuk membunuh Felix. Jadi ...." kata Ratu Sanguiber tidak selesai.


"Lucu sekali rasanya bagaimana musuh saling memuji ...." kata Cain menyela.


"Sanguiber dan Aluias memang sudah menjadi musuh dari sejak dulu kala. Sama saja dengan Mundclariss, polisi dan jaksa tidak pernah akur. Sama dengan kami begitu juga ... bahkan pasti saat Viviandem bangkit tidak akan ada yang percaya kalau kami berdua ini orangtua Felix." kata Ratu Sanguiber.


"Saat Viviandem bangkit, Sanguiber dan Aluias pasti akan kembali berperang lagi." kata Cain.


"Itu sudah jelas! bahkan saat Caelvita-118 meninggal, kami masih dalam keadaan sedang berperang. Semuanya menghilang tepat di depan mataku. Hanya tinggal aku berdua dengan Raja Aluias yang masih hidup. Sampai saat itu, aku bahkan tidak sadar kalau sedang mengandung Felix." kata Ratu Sanguiber.


"Aku tidak terlalu peduli dengan perseteruan politik di Mundebris. Karena hal yang lebih besar akan datang, aku lebih mempersiapkan diri untuk itu dibanding hal lainnya." kata Cain.


"Kelihatannya tidak begitu ...." kata Ratu sanguiber melirik tajam, "Lalu, kenapa kau membantai Perkumpulan Setengah Sanguiber?! bukankah itu kau lakukan untuk meringankan beban pikiran Felix?! kedepannya akan lebih banyak masalah lagi ... aku tidak yakin kau bisa hanya duduk diam melihat Felix tertekan dengan masalah Mundebris."


"Ow, em ... Goldwin! lihat! darah terlapisi es. Sudah tidak terlalu berbau kan?!" Cain mengalihkan pembicaraan.


Goldwin perlahan keluar dari lubang, melihat bagaimana Verlin kembali memanggil pasukan neraka bersama Felix.


"Tuan Muda terus mengubah-ubah kekuatannya begitu cepat. Kalau begini dia bisa pingsan dalam waktu dekat." kata Goldwin.


"Aku tidak mempercayaimu! daritadi kau bilang masa depan terus melenceng dari apa yang kau lihat." kata Goldwin menunduk untuk membawa paksa Cain naik diatasnya.


"Percayalah! Kau lupa aku ini siapa?!" Cain masih terus mengobrol sambil menunggangi Goldwin meninggalkan Ratu Sanguiber, "Hahh ... kupikir aku akan mati tadi." Cain menghela napas setelah merasa sudah cukup jauh dari Ratu Sanguiber berada.


"Ratu tidaklah seburuk itu, malah mungkin ... dia adalah Sanguiber paling baik yang pernah ada." kata Goldwin menggoyangkan surainya untuk menghilangkan tanah yang menempel, "Dia sering membawakanku makanan setiap berkunjung ke istana."


"Kau ini mudah sekali ditipu. Hanya dengan memancingmu dengan makanan rasanya kau bisa saja membunuhku kalau disuruh." kata Cain.


"Em ... tergantung, makanan apa dulu." kata Goldwin yang diluar dugaan membuat Cain tercengang. Karena Cain masih diam, Goldwin tertawa keras dan mulai berlari maju menyundul lawan Verlin.


"Ow, thankyou ...." kata Verlin langsung duduk santai setelah lega lawannya terlempar jauh.


"Thankyou juga sudah membuat es ini dan membuat cuaca menjadi sangat dingin. Jadi, aroma darah tidak terlalu tercium lagi." kata Goldwin.


"Aku melakukannya memang untukmu ...." kata Verlin tersenyum.


"Hahh?! jangan bercanda!" kata Cain turun dari Goldwin, menatap sarkastik Verlin yang tentu saja tidak akan melakukan itu hanya untuk Goldwin semata.


"Tenang saja, aku tahu betul soal itu!" kata Goldwin lewat pikiran pada Cain, "Apa maksudmu ... kita sangat diperlukan dalam pertarungan ini, sudah sewajarnya Verlin melakukan itu." kata Goldwin berkebalikan dengan apa yang ada dalam hatinya untuk mengambil hati Verlin.


"Ck ... ck ...." Cain menatap dengan hina bagaimana keduanya saling menipu satu sama lain dengan terang-terangan begitu. Sudah jelas kalau mereka tahu apa yang dikatakan masing-masing hanyalah ibarat permen karet. Manis memang, tapi hanya sebentar dan hanya dimulut saja. Yang tinggal hanyalah pahit setelahnya, karena tahu kalau yang dikatakan tidak ada ketulusan didalamnya.


Tapi Cain kembali mengintrospeksi dirinya setelah melihat Felix. Apa yang dilakukannya selama ini lebih buruk dari itu. Setidaknya Goldwin dan Verlin saling memuji dengan ucapan walau itu tidak tulus. Tapi Cain sendiri sudah mengatakan hal buruk pada Felix.


"Bagaimana kerpibadian Felix, aku juga bertanggung jawab soal itu. Jadi, apapun yang terjadi ... aku harus tahan dan sabar dengan sikap buruknya. Karena Aku mungkin yang paling berperan penting sebagai pengubah kepribadian Felix menjadi buruk." kata Cain dalam hati.


Bukan sekedar keluarga yang menjadi dasar untuk pembangunan kepribadian seseorang. Tapi juga orang-orang disekitar yang tumbuh bersama dari sejak kecil. Sahabat dari kecil lebih berperan penting untuk membentuk kepribadian seseorang. Walau kita memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibanding diluar. Tapi dirumah, kebanyakan kita hanya kembali saat sudah puas bermain diluar sehingga saat pulang hanya langsung istirahat dan tidur saja. Sehingga siapa teman bermain lebih berperan penting daripada orangtua.


Sedangkan, Cain yang bukan hanya seorang sahabat tapi juga keluarga dalam satu atap. Merasa bersalah dan merasa tidak yakin apa benar Felix berada di lingkungan yang baik untuk tumbuh besar dan membangun kepribadian.


Karena itu, berhati-hatilah dengan apa yang dilakukan pada orang lain dan apa yang akan diucapkan. Jangan sampai melukai! karena kita tidak tahu bagaimana luka itu akan mengubah seseorang. Karena kita adalah salah satu seorang yang menjadi penentu, bagaimana kepribadian seseorang terbentuk.


Jangan salahkan satu orang saja saat bertemu seseorang yang memiliki sikap dan perkataan yang buruk. Karena itu bukan kesalahan sendiri, melainkan banyak orang yang berperan penting hingga seseorang itu menjadi seperti itu.


"Crudeliattum, bukan hanya seseorang yang memang terlahir seperti itu. Tapi siapapun bisa menjadi Crudeliattum kalau berada dilingkungan buruk dan dikelilingi orang-orang yang buruk." kata Cain dalam hati.


...-BERSAMBUNG-...