
"Em?!" barisan kumbang sedang membawa batu permata safir dari dalam danau untuk dibawa masuk ke dalam istana.
"Tuan Muda Caelvita baru!" sapa para kumbang yang kemudian terlihat seperti pemimpin menyuruh yang lain untuk kembali bekerja sementara dirinya tinggal.
"Ah, maaf! aku hampir menginjak kalian ya ...." kata Felix mulai memperhatikan kakinya, "Kalian sedang apa?" tanya Felix.
"Sedang mengumpulkan batu permata safir, kalau tidak diambil maka danau akan penuh dengan permata safir yang tidak berhenti muncul." jawab Pemimpin kumbang.
"Jadi permata safir berasal dari dasar bawah danau ini ya?" tanya Felix.
"Iya Tuan Muda!" sahut Pemimpin kumbang itu.
"Apa aku boleh meminta satu permata?" Felix menyesali dirinya sendiri telah meminta, "Bagaimana kalau dia menolak haha ... tentu saja tidak boleh, batu permata yang sangat berharga tidak mungkin diberikan secara cuma-cuma ...." kata Felix dalam hati.
Belum selesai Felix menyesali permintaannya, "Boleh! mau ambil 100 juta permata juga tidak apa-apa!" kata Pemimpin kumbang.
"Eh?!" Felix tercengang.
"Munculnya batu permata juga karena kehadiran Caelvita ... kalau hanya meminta satu permata saja sih tidak ada apa-apanya ...." kata pemimpin kumbang mulai tertawa.
"Kalau begitu aku ambil satu ya!" Felix mulai mengambil satu permata dari seorang kumbang yang baru saja muncul dari dalam air, "Setelah ini kalian membawanya kemana? dan diapakan? apa hanya disimpan? kalau hanya disimpan pasti seluruh istana akan penuh dengan permata dong ...."
"Ikuti saya Tuan Muda!" kata Pemimpin kumbang.
"Kalau boleh tahu ruangan tempat penyimpanan pusaka ada dimana?" rasa penasaran Felix sebenarnya ada di tempat lain hanya saja ingin berbasa-basi supaya niatnya untuk memasuki tempat pusaka tidak terlalu mencolok.
"Penyimpanan pusaka? dinding istana ... semuanya ... berisi pusaka!" kata Pemimpin kumbang mulai mengubah ukurannya menjadi besar saat sedang berjalan.
"Hahh?!" Felix menghentikan langkahnya mulai memandangi dan memegang permukaan dinding istana yang dingin seperti es itu.
Walau sebenarnya Felix sudah merasa tidak nyaman karena sedang terburu-buru tapi kumbang itu terlihat bersemangat sekali memimpin jalan. Felix ingin segera menanyakan tentang Pusaka Papan Permainan Tukar Kematian tapi tidak enak jadi hanya bisa pasrah mengikuti langkah santai pemimpin kumbang padahal kakinya serasa ingin berlari cepat-cepat, "Tidak mungkin juga aku harus memeriksa seluruh dinding istana, sama saja dengan membuang-buang waktu ... sekarangpun sedang membuang-buang waktu!" Felix memukul kepalanya.
"Ada apa Tuan Muda?" tanya Pemimpin kumbang yang tadinya hanya berukuran kecil hampir diinjak Felix tapi sekarang malah lebih besar dari Felix.
"Tidak, tidak apa-apa!" sahut Felix membenarkan rambut hijaunya.
Pemimpin kumbang itu mulai menggeser sebuah pintu yang terbuat dari batu, "Apa perlu aku bantu?" tanya Felix melihat pintu batu itu terlihat sangat besar dan pastinya berat untuk dipindahkan, "Atau tidak usah, ya?" Felix mulai tertawa karena pemimpin kumbang itu dengan mudahnya mendorong pintu itu, "Menyesal aku menawarkan bantuan ...." kata Felix dalam hati.
Ruangan yang dimasuki Felix sangat luas seperti dipenuhi dengan rak arsip lemari yang memenuhi dinding dan menjulang sampai ke langit. Batu permata safir yang dibawa para kumbang itu setelah dibawa masuk ke ruangan itu langsung terbang ke arah rak secara tidak beraturan dan acak. Felix penasaran ingin memeriksa apa isi rak itu, "Ini nama seseorang dan sebuah buku ...." kata Felix.
"Batu permata safir terus menerus masuk ke dalam buku seseorang yang masih hidup dan akan berhenti ketika seseorang itu sudah meninggal." kata Pemimpin kumbang.
Felix langsung berlari kesana kemari tidak berhenti, "Tuan Muda mencari nama seseorang?" tanya Pemimpin kumbang yang sudah tahu, siapapun yang masuk ke ruangan itu langsung melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Felix saat ini. Tapi bagaimanapun kerasnya Felix mencari, ruangan itu tidak ada habisnya dan sangat luas untuk mencari tiga nama.
"Walau bisa ditemukan, buku takdir seseorang tidak bisa dibuka dan diubah Tuan Muda ... apalagi jika mereka adalah manusia biasa."
"Aku tahu itu ...." Felix mulai menenangkan dirinya, "Tapi aku hanya ingin melihat dimana tempatnya, apa tidak bisa?" Felix dengan suara memohon.
"Kenapa disimpan dalam satu rak begini?" Felix merasa Tiga Kembar diperlakukan tidak adil, "Hanya karena mereka kembar, bukan berarti mereka tidak berhak memiliki masing-masing tempat kan?"
"Walau kembar hal seperti ini jarang terjadi juga Tuan Muda, sepertinya mereka terikat oleh takdir yang menjadikan mereka untuk selalu bersama sampai mati sekalipun ...."
Felix segera ingin menarik buku itu untuk dipisahkan tapi pintu lemari langsung tertutup. Felix memukul pintu lemari itu untuk dipecahkan tapi malah berbalik melukai tangannya.
"Yang ingin bermain-main dengan takdir pasti akan terluka Tuan Muda! senjata apapun itu tidak akan bisa membuka pintu ini ...."
Felix melirik rak buku yang lainnya, "Kenapa isi buku mereka tipis sekali tidak seperti yang lainnya?"
"Sepertinya takdir mereka memang hanya sampai lembaran itu ... Tuan Muda mungkin sudah tahu mereka tidaklah berumur panjang!"
"Kau akan menyesali memberi mereka buku tipis begini ... mereka akan berumur panjang dan kau akan kesusahan menambah lembaran bukunya!" kata Felix.
"Bukan saya yang memberi Tuan Muda tapi memang sudah seperti itu dari awal. Sejak lahir buku mereka sudah seperti itu ...."
Kemudian Felix menyebutkan satu nama lagi dalam hatinya dan terbukalah lagi satu pintu lemari.
"Kenapa ada begitu banyak buku di dalamnya ... apa Kiana memiliki saudara kembar?" kata Felix ingin mengambil buku yang ada di dalam tapi tangannya hampir dijepit oleh pintu lemari yang menutup cepat.
"Itu kehidupan dari masa lampaunya, buku yang paling kanan adalah kehidupannya yang sekarang ...."
"Berarti Kiana sudah berkali-kali bereinkarnasi? tapi Teo, Tan dan Tom hanya memiliki masing-masing satu buku?" tanya Felix.
"Yang tadi itu mereka baru terlahir sekarang ...." walau ragu Pemimpin kumbang itu tetap mengatakan yang sebenarnya, ia tidak bisa berbohong soal takdir seseorang.
"Mereka baru bisa terlahir sekarang dan harus menjalani kehidupan yang singkat? tidak adil!!!" kata Felix.
"Biasanya memang yang baru pertama kali dilahirkan di dunia ini akan mengalami nasib tragis dan tidak berumur panjang ...."
Felix memperhatikan buku kehidupan Kiana sebelumnya, "Kenapa foto yang tertempel di buku tidak seperti yang di kanan sekarang ini? hanya yang dikanan yang ada foto Kiana, yang lainnya hanya gambar bunga ...."
"Kehidupan sebelumnya dia selalu terlahir menjadi bunga, baru sekarang bisa terlahir sebagai manusia ...."
"Akhirnya dia bisa terlahir menjadi manusia tapi malah harus mendapat nasib begini ... Kiana ...." kata Felix dalam hati sambil menahan air matanya, "Tapi bukunya terlihat lebih tebal dari mereka bertiga tadi ...." Felix mulai memperhatikan dengan teliti.
"Dengan ketebalan buku seperti itu biasanya akan berumur setidaknya 70 tahun atau lebih ...."
Wajah Felix berubah cerah mendengar itu, "Apa saya salah bicara Tuan Muda?" tanya Pemimpin kumbang tidak nyaman dengan perubahan suasana hati Felix yang tiba-tiba.
"Sebenarnya dia adalah salah satu Pemain Permainan Tukar Kematian, makanya aku kesini untuk mencari cara menyelamatkannya tapi sepertinya tidak ada yang perlu aku khawatirkan ...." kata Felix dengan senyuman cerah dan seperti bebannya terangkat, pundaknya mulai terasa ringan.
"Dia salah satu pemain ya?" tanya Pemimpin kumbang itu dengan wajah murung.
...-BERSAMBUNG-...