
Balduino dengan santainya mulai pergi disaat Felix masih menunggu jawaban. Felix ingin mengejar Balduino tapi tidak ingin membuat yang lainnya ikut curiga.
"Kenapa ekspresimu seperti itu?!" tanya Tom yang melihat Felix dengan ekspresi mematung.
"Aku lapar ...." sahut Felix mulai membuka pembungkus roti dan memaksa diri makan.
"Felix!" tegur Teo.
"Em?!" Felix menoleh.
"Dikunyah!" Teo mengatupkan mulut Felix untuk mengunyah karena daritadi hanya diam saja setelah memasukkan roti ke dalam mulutnya.
"Selain Alvauden atau aku memang sengaja memberi izin. Seseorang yang bisa mendengar, berbicara lewat pikiran dengan Caelvita hanyalah yang benar-benar sudah meneguhkan hati untuk membantu dan rela mengorbankan nyawa untuk Caelvita ... itu menandakan Balduino memang benar baik!" kata Felix dalam hati.
"Ada apa? kau begini tidak mungkin tanpa alasan ...." kata Cain.
"Tadi aku hanya terbawa suasana saja!" kata Felix.
"Padahal bukan itu yang kumaksud ...." kata Cain dalam hati yang menginginkan penjelasan ekspresi Felix setelah Balduino pergi barusan.
"Jadi sekarang kau sudah merasa lega? tapi bukankah kau keterlaluan melampiaskan stresmu pada Dea ...." kata Tan.
"Salahnya juga selalu saja ikut campur dan memperburuk keadaan!" kata Felix tidak merasa bersalah sama sekali.
"Tapi, Dea itu memang unik ya! bagaimana bisa dia dengan polosnya mengatakan itu ...." kata Tom tidak habis pikir.
"Dia itu seperti masih seumuran Kiana! tidak ... tidak! malahan Kiana lebih dewasa darinya ...." kata Teo.
***
Berita tentang ditemukannya banyak mayat yang darahnya seperti terkuras habis menandakan mereka itu adalah korban dari Perkumpulan Setengah Sanguiber. Felix masih tidak bisa maju melawan perkumpulan itu karena masih tidak memiliki kekuatan dan pasukan yang cukup untuk membantu. Skala untuk mengalahkan perkumpulan itu haruslah dengan skala besar yakni setidaknya ada Optimebris tapi yang menjadi kendala saat ini kebanyakan iblis berpihak pada Efrain dan memang sepertinya mereka membuat perjanjian untuk bekerjasama, Iblis tidak akan menyerang Setengah Sanguiber dan Setengah Sanguiber bisa dengan bebas melakukan apa yang ingin mereka lakukan.
"Bahkan, jika Viviandem bangkit ... aku masih tidak bisa menyelesaikan masalah Setengah Sanguiber! aku kalah sebelum bertarung ...." kata Felix dalam hati sambil melihat keempat sahabatnya kini latihan bertarung memakai senjata masing-masing dan bersamaan menyerang Banks. Bahkan Banks yang hebat gugur saat menghentikan Perkumpulan Setengah Sanguiber di era Iriana.
"Iriana?" Felix memanggil.
"Iya ...." sahut Iriana.
"Apa aku bisa juga menyelesaikan masalah Setengah Sanguiber? manusia tidak akan habis menjadi korbannya kan? sampai aku bisa melakukan sesuatu ...." tanya Felix sambil tertawa.
"Semua masalahmu saat ini karenaku ... Efrain begitu juga karenaku ... tapi aku percaya kau bisa menyelesaikan semuanya, tidak ... kau pasti bisa menyelesaikannya!" jawab Iriana.
Felix merasakan ada yang keluar dari hidungnya, "Darah?" segera Felix menyekanya dengan sapu tangan sebelum dilihat yang lainnya, "Sepertinya Veneormi sudah mulai merusak tubuhku lagi ...."
"Perjalanan menjadi Caelvita memang berat, Felix ... tapi dengan kehadiran Alvauden, semuanya bisa dengan mudah dilewati ... karena aku begitu dulunya! kupikir aku tidak akan bisa bertahan tapi ternyata aku bisa juga ... Efrain sama seperti Cain saat ini! jika terjadi sesuatu denganmu, Cain pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Efrain saat ini ... bukan karena Pedang Orogla tapi karena Pemimpin Alvauden itu adalah sahabat yang paling dekat dengan kita!" kata Iriana mencoba menyemangati Felix melakukan tugas sekaligus membuat Felix mempunyai semangat hidup agar Cain tidak berubah menjadi Efrain selanjutnya.
"Berarti kau juga dulunya mendapat masalah dari Alvauden sebelumnya?" tanya Felix.
"Tentu saja! itu sudah menjadi masalah yang umum untuk Caelvita ... Efrain pernah menghadapi ribuan pasukan sendirian saat aku masih belum bisa mengangkat pedang untuk melindungi diriku sendiri!" kata Iriana tertawa.
"Kau terlalu merendahkan dirimu! kau tidak tahu sehebat apa dirimu sebenarnya ...." kata Iriana.
"Tidak ada yang bisa mengenal dirinya sendiri! maka dari itu Dokter Psikiater tidak pernah bangkrut ...." kata Felix mengundang tawa.
Felix masih belum mempunyai solusi untuk mengatasi Perkumpulan Setengah Sanguiber dan banyaknya guru baru di sekolah yang merupakan Setengah Sanguiber juga selalu membuat khawatir. Terlebih lagi tempat perkumpulan mereka ada di sisi lain sekolah di Bemfapirav, bisa dengan mudah mengambil salah satu murid tanpa harus melewati kesulitan.
Disaat yang lainnya sudah mulai istirahat karena akan kembali ke Mundclariss karena sudah mulai pagi, Tom masih olahraga.
"Kau tidak lelah?" tanya Teo.
"Senjataku mengharuskan untuk memiliki stamina yang besar!" jawab Tom yang masih melakukan push-up.
"Tidak heran memang ... aku sudah kelelahan padahal baru mengangkat Sesemax satu menit." kata Tan.
Bahkan saat yang lainnya hanya berjalan biasa ke halte bus, Tom sudah bolak balik dari Rumah Daisy dan halte bus dua kali saat yang lainnya baru sampai. Tom mengganti bajunya dengan seragam sekolah di dalam bus karena baju yang dipakainya sudah dipenuhi keringat.
"Sangat aneh melihat anak usia 11 tahun memiliki otot ...." kata Teo menekan lengan Tom.
"Motto kita adalah 'Setidaknya bisa melindungi diri sendiri kalau belum bisa melindungi Felix' kita harus selalu mencamkan itu selalu!" kata Tom.
"Masa depan tidak akan berubah meski mereka sudah sangat kuat kan?" tanya Cain lewat pikiran.
Felix membelakangi Cain karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang sudah ada jawabannya itu. Kenyataan bahwa mereka manusia, tentu saja takdirnya tidak bisa dirubah meski melatih mereka menjadi kuat sekalipun.
Sampai di sekolah, semuanya terlihat canggung jika bertemu Felix. Antara takut karena dekat dengan Balduino atau takut karena pernyataan Felix kemarin. Cain dan Tiga Kembar masih mencurigai Balduino. Mata mereka tidak berhenti terus mengawasi, bahkan kalau diluar jangkauan untuk diawasi mereka akan membagi diri untuk mencari dan mengawasi kembali. Felix tidak bisa memberitahu bahwa Balduino bisa jadi akan berperan besar membantu mereka di masa depan.
Sebelum pulang sekolah, Cain ingin memasang ulang perisai perlindungan di sekolah karena katanya sudah mulai melemah. Sementara Cain memasang pelindung, Felix dan Tiga Kembar berjalan mengelilingi sekolah menggunakan garis pelindung untuk sekedar berpatroli. Terlihat guru baru yang merupakan Setengah Sanguiber sengaja lembur dibanding guru lainnya agar bisa langsung masuk Bemfapirav.
"Mau makan malam lagi dia!" kata Teo yang melihat mereka perlahan menghilang.
"Sampai kapan kita hanya menonton mereka melakukan kejahatan ...." kata Tom yang muncul dari belakang.
"Felix masih belum mengatakan apa-apa ...." kata Teo.
"Ada masalah dengan pemain!" kata Cain lewat pikiran pada Felix kemudian Felix menyampaikannya pada Tiga Kembar. Teo dan Tom yang masih mendengarkan saling tatap kemudian mulai berlari.
"Ada masalah apa?" tanya Tan yang paling belakang datang.
"Pemain yang kita tukar kematiannya hari ini berubah! Haera sudah menjemput roh pemain yang meninggal itu ...." jawab Cain.
"Bagaimana bisa? apa ada yang melakukan pembunuhan lagi?" tanya Teo.
"Tidak! dia berhasil mencabut tanaman bunga Flortem, lawan tukar kematiannya ...." jawab Cain.
...-BERSAMBUNG-...