
Untung saja keesokan harinya mereka libur tapi karena lama di Mundebris, hari libur mereka berlalu begitu saja tanpa mereka bisa nikmati.
"Kita hanya bisa menghirup udara hari libur di menit terakhir!" kata Teo menarik napas panjang dan melihat sudah pukul 23.59.
Tan dan Tom sibuk memeriksa handphone melihat berita kebakaran kemarin. Sekitar 70% yang berhasil diselamatkan bukanlah hal yang patut dibanggakan. Terlebih lagi mereka hampir ikut menjadi korban juga.
"Pertama, kejadian di Bank Yardley untuk menghilangkan lapisan pertahanan kita ... itu untuk bisa melukai kita hari ini!" kata Tom tercengang dengan ide Efrain untuk mencelakai mereka.
"Efrain terlalu tahu banyak tentang kita ... sedangkan kita hanya tahu kalau dia dari kaum iblis dan mantan Alvauden." kata Tan menyesalkan kurangnya informasi terkait Efrain.
"Walau kita tahu, kita juga tidak bisa membela diri! memangnya kita bisa apa?!" kata Teo pesimis.
"Setidaknya kita bisa tahu apa yang akan dilakukannya! bukannya membunuh, tapi hanya bisa melukai kita ... bukankah itu sebuah perbedaan yang sangat besar!" kata Tom.
Felix dan Cain hanya diam mendengar Tiga Kembar berbicara. Baik itu Felix maupun Cain tidak berani menanyakan apakah mereka baik-baik saja. Bagaimanapun juga mereka baru saja melihat kejadian mengerikan. Tan, Teo dan Tom, pasti ini merupakan yang pertama kalinya melihat seseorang yang meninggal akibat kebakaran.
"Mereka hanya mencoba menyembunyikannya! berusaha terlihat tegar ...." kata Cain yang berjalan di samping Felix melihat Tan, Teo dan Tom yang berjalan jauh di depan membawa makanan.
"Tentu saja ... mustahil mereka biasa-biasa saja melihat yang seperti itu!" kata Felix.
"Aku terlalu mengkhawatirkan mereka ... jadi lupa kalau kau memiliki trauma dengan api, kau tidak apa-apa kan?" kata Cain berbicara terus terang.
"Walau aku tidak baik-baik saja, apa yang bisa kita lakukan?! tidak ada ... hal seperti ini akan terus terjadi di masa depan, lagipula sejak rambutku mulai berubah menjadi hijau, aku sudah tidak pernah baik-baik saja ...." kata Felix.
"Ada aku! jika merasa tidak baik-baik saja ... selama ada yang mendampingi satu orang saja pasti kau bisa bertahan!" kata Cain sudah pasrah dengan Felix yang mengemban tanggung jawab dan selamanya tidak ada akan pernah berada di zona nyaman lagi.
"Aku berterimakasih kau mengatakan itu ... tapi jangan katakan lagi! aku seperti ingin muntah mendengarnya ...." kata Felix membuat Cain tertawa.
Mereka langsung membuka makanan yang mereka beli di jalan kecuali Cain, "Apa tidak apa, kita tidak memberi kabar di panti? dan hanya langsung ke Rumah Bu Sissy ...." kata Tan.
"Aku sudah mengabari Dokter Mari untuk ke panti memberi kabar bahwa dia bertemu kita di rumah ini!" kata Felix hanya membaringkan dirinya karena tidak bisa ikut makan.
Cain baru bergabung untuk makan ketika selesai memperkuat kembali perisai yang pernah dibuatnya di luar rumah.
"Aku tidak tahu kau sudah memikirkannya sampai kesitu ...." kata Teo.
"Memikirkan apa?" tanya Cain.
Tidak ada yang menjawab karena tahu hubungan Cain dan Dokter Mari sedang tidak baik.
Banks datang setelah Felix tertidur lelap di sofa. Banks berhati-hati memberikan obat pada Felix karena takut membangunkan Felix yang akhir-akhir ini tidak bisa tidur nyenyak dan tidur untuk waktu yang lama karena Veneormi.
Cain, Tan, Teo dan Tom mengeluarkan senjata mereka di halaman Rumah Daisy dan berlatih ringan. Terutama Tom yang baru membiasakan dirinya dengan berat Sesemax. Banks yang melihat pemandangan itu tidak bisa berhenti memasang senyum.
"Apa yang membuatmu begitu bahagia?" tanya Felix.
Felix mulai duduk dan melihat apa yang dilihat Banks, "Ah ... mereka!"
"Mereka terlihat tidak berguna, tidak punya kekuatan, tidak bisa diandalkan sama sekali tapi suatu saat mereka akan menjadi ksatria paling berani dan ditakuti!" kata Banks.
"Apa iya mereka bisa begitu nantinya?" tanya Felix ragu karena melihat pemandangan di hadapannya. Mereka tidak lebih hanya seperti sedang bermain senjata mainan.
"Jangan khawatir Yang Mulia! mungkin saat ini Yang Mulia mengkhawatirkan mereka dan merasa harus melindungi mereka tapi sebenarnya nanti merekalah yang akan mengkahwatirkan dan melindungi Yang Mulia ... karena begitulah tugas Alvauden!" jawab Banks, "Merupakan hal yang wajar bagi semua Caelvita baru karena Alvauden mereka masih belum mempunyai kekuatan terutama bagi Yang Mulia yang mendapat Alvauden manusia dan Setengah Viviandem ...." sambung Banks.
"Iriana beruntung memiliki Efrain yang memang sudah kuat dari awal ...." kata Cain melihat Felix yang sedang memandangi dari dalam rumah.
"Pasti Efrain bisa melindungi Iriana saat masih menjadi Caelvita baru, tidak seperti Felix yang harus tidak beruntung memiliki kita yang malah harus dilindungi ...." kata Teo melambai dengan ceria bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya.
"Apa tidak seharusnya kita bersembunyi saja di Istana Leaure sampai permainan ini berakhir?" tanya Tom.
"Itu adalah ide yang bagus tapi Felix tidak akan menyetujui ...." kata Cain.
"Kupikir aku dan Felix sepemikiran tapi terkadang ada hal yang saling bertolak belakang juga ...." kata Tom.
Langsung sampai di hari keenam tanpa harus mengkhawatirkan apa yang akan terjadi karena berada di Istana Leaure, "Setidaknya kita bisa lega selama satu hari ...." kata Teo.
"Satu jam!" kata Tom.
"Iya, waktu Mundebris ... tapi hitungan waktu Mundclariss kan tetap berlalu sehari!" kata Teo.
"Kita masih harus melewati 22 hari, lega karena terbebas sehari bukanlah hal yang bisa dirayakan!" kata Tan.
"Hahh ... aku memang tidak cocok dengan kalian!" keluh Teo.
Sebenarnya mereka tidak bisa tidur malam itu, tidak heran karena baru saja mengalami kejadian mengerikan. Terutama Tan, Teo dan Tom yang akhirnya tidak bisa berbohong bahwa sedang tidak baik-baik saja. Beberapa kali mereka terbangun karena mimpi buruk yang berulang-ulang. Felix dan Cain berpura-pura tidak tahu, ingin menghibur tapi mereka sendiri juga perlu dihibur.
Felix dan Cain tidak yakin bisa ikut terhibur disaat memaksakan diri menghibur orang lain. Tidak yakin bisa ikut menyembuhkan diri disaat berusaha menyembuhkan orang lain. Makanya mereka berdua hanya bisa menonton penderitaan sahabatnya. Tapi ternyata hal itu membuat penderitaan Felix dan Cain berlipat ganda juga melihat Tan, Teo dan Tom menderita.
Pagi harinya, Tiga Kembar bangun dengan lingkaran hitam di bawah mata. Agak aneh bagi seorang anak usia 11 tahun memiliki lingkaran hitam tapi benar-benar muncul lingkaran hitam yang jelas menandakan bahwa mereka menderita tidak bisa tidur nyenyak tadi malam.
"Aaaaaa segarnya!" seru Teo.
Cain hampir saja tertawa mendengar Teo berbohong tapi Felix langsung menyenggolnya.
"Mereka tidak lelah apa?!" kata Tom membuka tirai, sudah mulai terbiasa melihat iblis yang terus datang mencoba menghancurkan perisai.
Tidak ada lagi zona nyaman bagi mereka, bahkan untuk pergi ke sekolah saja harus terus bersiaga karena tidak tahu darimana musuh akan menyerang.
...-BERSAMBUNG-...