UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.337 - Pertukaran



FT3 dan Cairo kembali menginjakkan kaki di Desa Quinlan. Sebelum berangkat dan pada saat di perjalanan mereka semua seperti tidak punya tenaga untuk mengangkat kaki karena terlalu lelah. Tapi saat sampai di desa, tubuh mereka serasa ringan, bahkan seperti bisa terbang. Melihat warga desa membuat mereka bersemangat lagi.


Saat baru sampai mereka langsung mengecek semua target yang telah dibagi-bagi masing-masing untuk mereka awasi. Semuanya masih aman, bahkan efek dari garam Ruleorum masih terlihat melengket dan juga garis pelindung dengan garam di rumah para calon yang kemungkinan menjadi target masih utuh tanpa terputus karena disembunyikan dibalik tanaman atau dikubur dibawah tanah tapi tetap saling tersambung.


Tak lama kemudian setelah mereka bertukar kabar kalau semua target yang diawasi baik-baik saja, teriakan dari dalam hutan terdengar.


Semua warga yang mendengar itu berbondong-bondong ke asal suara teriakan itu. Bahkan ada yang yang masih memiliki sabun di wajah dan shampo di rambutnya juga tidak mau ketinggalan.


Rupanya sudah ada yang menemukan mayat yang terkubur dekat pohon yang dibuat tumbang oleh Felix. Diantara kerumunan warga itu datanglah dua orang yang memaksa untuk maju di bagian baris paling depan. Setelah sampai, salah satu dari dua orang itu pingsan dan satunya menangis sejadi-jadinya.


Kedua kakak perempuan yang menjadi korban itu tidak menyangka kalau adik perempuannya yang telah lama hilang dengan kaus yang sama saat hilang kini ditemukan dengan kaus yang sama juga tapi dengan kondisi mengenaskan.


Ada yang mulai memanggil polisi, Desa Quinlan menjadi ramai karena polisi, jaksa dan wartawan. Garis polisi akan dipasang tapi penjaga hutan meminta untuk hanya di lokasi kejadian saja karena di dalam hutan sedang ada penggalian sumur. Mendengar itu Teo tidak berhenti menyenggol Tan dan Tom.


"Berhenti, tidak!" Tom merasa risih.


"Bisa saja bukan di tempat yang kita inginkan." kata Tan.


Teo merasa tidak adil, jadi ingin membuktikannya sendiri dengan masuk ke dalam hutan.


"Apa ada hubungannya dengan anak muda yang akhir-akhir ini datang ke desa? apa dia yang melakukan ini?!" tanya salah satu Warga desa mencurigai Cairo.


"Tidak, tidak mungkin ... anak baik itu bukan pelakunya. Lagipula kalau memang dia kenapa dia menampakkan dirinya." Seseorang membela Cairo membuat Cairo yang telah meminum ramuan tidak kelihatan juga merasa lega karena ada yang membelanya.


Felix sudah menduga kalau hal ini akan terjadi, munculnya korban ini akan memunculkan kecurigaan juga pada Cairo jadi sebaiknya untuk Cairo tidak kelihatan dulu atau hanya akan membuat kacau suasana jika bertemu dengan keluarga korban yang sedang tidak berpikiran jernih. Terlebih lagi jika dimintai keterangan oleh polisi, akan semakin runyam. Cairo yang berpura-pura menjadi wartawan itu bisa ketahuan berbohong dan kecurigaan semakin tertuju padanya. Felix tidak ingin polisi menjadikan Cairo sebagai kambing hitam untuk menutupi sebuah kasus.


Teo sampai di dalam hutan yang sedang ada penggalian sumur tepat berada di tempat yang diinginkan membuat Teo berteriak kegirangan.


"Benarkah?" tanya Tom mulai berlari menuju tempat Teo berada.


"Benar." kata Tan saat sampai.


"Jadi jangan marahi dia kalau sering mengambil garam di dapur, buktinya jadi berguna begini. Kaleng yang berisi garam itu hampir mencair semua." kata salah satu orang yang menggali sumur.


"Tapi itu bukan aku, aku tidak pernah mengambil garam lagi. Terus aku mainnya disana, bukan disini." kata Anak lima tahun itu.


"Tidak apa-apa, ibu tidak sedang memarahimu kok."


"Lihat, kan! mau sejujur apapun itu jika omongan usia anak lima tahun tidak akan ada yang percaya." kata Teo.


"Jadi kita tinggal menunggu juga disini ditemukan." kata Tan.


"Dengan adanya dua yang ditemukan secara tidak sengaja begini akan membuat polisi mencari secara menyeluruh dan akhirnya juga akan menemukan yang ada di pinggir sungai itu." kata Tom.


"Bagaimana ya yang disana?" tanya Teo penasaran apa kedua idenya semua berhasil.


Tapi sampai disana keadaan masih sama, belum ada perubahan. Teo merasa kecewa tapi dihibur oleh Tan, "Mungkin sudah ada yang melihat pohon pinus itu tapi butuh waktu untuk memindahkan batu yang ada disana dan harus tanpa ketahuan jadi mungkin malam ini baru ada yang datang memindahkan."


"Kalaupun tidak ada yang memindahkan batu-batu itu, kita tetap punya harapan dengan pencarian polisi ...." kata Cairo.


Sementara itu mereka menunggu di pinggir sungai kecuali Felix yang tidak bisa tinggal duduk diam sehingga entah sedang kemana.


"Jadi bagaimana cara iblis itu membunuh korban?" tanya Cairo.


"Lucy! namanya Lucy." kata Tan.


"Ya, maksudku ... bagaimana caranya membunuh?" tanya Cairo kembali.


"Jadi korban meninggal tanpa tahu apa yang terjadi ...." kata Cairo.


"Tidak ada pembunuhan yang bisa dibenarkan, bagaimanapun caranya dan apapun alasannya." kata Tom.


"Aku tahu, tapi benar yang dikatakan Tan kalau iblis ini benar berbeda. Selama ini yang kulihat hanya iblis kejam dan suka melihat korbannya menderita dan secara perlahan mati dengan cara tersiksa. Terlebih lagi iblis yang suka memamerkan apa yang dilakukannya seperti mengadakan sebuah pertunjukan." kata Cairo.


"Tidak semua iblis memang jahat. Guru kami adalah iblis ...." kata Teo.


Cairo sangat terkejut mendengar itu dilihat dari ekspresinya.


"Namanya Banks, dia guru yang hebat. Bukan hanya mengajarkan bela diri dan memakai senjata tapi juga mengisi otak kami dengan pengetahuan yang berharga." sambung Teo.


Suara air sungai yang mengalir membuat suasana hati tenang. Tapi kotak mainan yang memunculkan wajah iblis itu terbuka. Seketika semuanya dalam mode waspada walau belum melihat wajah yang dimunculkan dari kotak. Teo yang kakinya keseleo saat latihan kemarin hampir jatuh tercebur ke dalam air jika tidak ditahan oleh Tom.


"Huuuuuf ... hampir saja." kata Teo.


"Jangan loyo, Teo!" kata Tom memukul punggung Teo.


"Hahh ... dua kali hari ini punggungku dipukuli." kata Teo sebal.


"Wajah iblis ini bukan hanya wajah Lucy." kata Cairo memperhatikan dengan seksama karena gelap.


"Dia, mirip seseorang ...." kata Teo.


"Iblis yang kita bunuh saat ada paman pemburu iblis itu." kata Tom.


Felix tiba-tiba muncul dan berjalan di atas air sungai dengan pedang yang sudah siap sedia. Dua iblis kemudian muncul dari seberang sungai yakni Lucy dan Iblis Ular.


"Aku pendosa, biarkan aku membalas dendamku dan menjadi pahlawan!" kata Iblis Ular yang kemudian mengiris tangannya begitupun Lucy. Keduanya kemudian saling berjabat tangan.


"Gawat! dia bertukar misi, itu mengakibatkan jumlah korban harus 10 kali lipat dari jumlah korban yang sekarang yakni 40 orang dan sudah tidak harus sesuai kriteria korban. Akan terjadi pembantaian jika dia tidak dihentikan ...." kata Tan panik.


"Aneh ... jelas dia manusia tapi aura yang kurasakan ini Ruleorum ...." kata Lucy memandangi Tan.


"Oh, tidak! sepertinya dia mencari bunganya. Sudah kubilang kan untuk kau siapkan!" kata Teo sempat-sempatnya usil.


"Memangnya ini waktunya bercanda?!" Tom menginjak kaki Teo yang sakit.


Lucy kemudian berbalik dan mulai menghilang. Kini hanya ada Iblis Ular dengan mata jingga. Berbeda dengan iblis ular yang pernah ditemui terakhir kali hanya bermata merah yang merupakan tingkat menengah. Kali ini tingkat tinggi dan setara dengan Efrain, Ditte dan Lucy.


"Kalian para pembunuh adikku! mari kita lihat, apa kalian bisa menghentikanku malam ini." kata Iblis Ular menyeringai dan mulai berlari dengan secepat kilat menuju pemukiman warga.


Felix dengan cepat menghadang, pedang mereka berdua beradu dan menimbulkan bunyi keras dan angin kencang serta air sungai yang tenang itu membuat gelombang besar.


"Cepat sekali!" kata Cairo tidak bisa mengikuti dengan mata bagaimana jalannya pertarungan mereka berdua.


Tan, Teo dan Tom saling pandang dan mulai berlari untuk ke pemukiman warga berada, disaat Felix masih bisa menahan iblis itu. Meski lambat, Cairo juga ikut menyesuaikan diri.


"Tunggu, yang menggali sumur ...." kata Cairo menghentikan langkah kaki mereka dan mulai panik.


"Ada 11 orang disana." kata Tan menoleh dengan dipenuhi keringat dan napasnya tidak beraturan.


...-BERSAMBUNG-...