UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.491 - Patah Semangat



Sepertinya Banks menyia-nyiakan kekuatannya untuk hal yang bukan pertarungan. Dalam sekejap mata, Banks sudah tiba di dekat Felix dan langsung merasuki salah satu dokter disana. Banks dengan merasuki tubuh dokter itu memerintahkan petugas medis yang lainnya untuk merawat pasien lainnya sehingga dia bisa merawat Felix sendiri dengan leluasa.


"Yang Mulia ...." sapa Banks setelah menutup tirai.


Felix yang perasaannya sudah lega karena melihat kedatangan Banks langsung tertidur nyenyak karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Banks adalah guru sekaligus Quiris yang sangat dipercayainya. Felix mempercayakan hidup dan matinya pada Banks.


Semalaman berita hanya terus menyiarkan berita yang sama terus-menerus. Berita tentang kecelakaan bus dari sekolah Gallagher yang memakan banyak korban luka juga meninggalnya 10 murid dan 1 guru sekolah.


"Murid yang tidak pernah pulang dari perkemahan sekolah."


"Guru yang bersama muridnya hingga akhir."


"Untukmu, yang pergi setelah melakukan perkemahan terakhir."


"Selamanya piknik."


"Sekali murid Gallagher, selamanya murid Gallagher.


"Yang tidak sempat lulus."


Banyak sekali artikel dengan judul yang membuat kontroversi, "Jika tidak berniat menghibur, setidaknya lakukan pekerjaan sebagai jurnalis untuk memberitakan apa yang sebenarnya saja tidak usah ditambahkan drama segala." kata Teo menendang mesin minuman otomatis membuat pasien lainnya heran karena Teo masih punya tenaga dengan luka sebanyak itu.


"Dia anak yang kuat." kata Nenek yang sedang memegang remote tv.


"Aku juga seusianya, punya banyak stamina bahkan walau tangan dan kakiku patah hari ini. Besok tetap pergi main sepak bola sore harinya." kata Kakek disamping Nenek itu menyombongkan diri.


Teo memakai tongkatnya untuk kembali berjalan ke kamarnya setelah membeli minuman untuknya dan yang lainnya di kamar yang diisi oleh empat pasien.


"Kalian belum boleh minum minuman bersoda!" kata Bu Corliss merebut minuman ditangan Teo.


Teo yang sudah susah payah berjalan menggunakan tongkat kruk nya dengan kaki dan lengan yang sakit dilakukan hanya untuk menikmati minuman berkarbonasi dingin menyegarkan tapi perjuangannya itu sia-sia saja. Teo langsung melempar kedua tongkat kruk nya untuk melampiaskan amarah. Tapi berakhir dipukul oleh Daisy dibagian punggung dengan keras.


"Kenapa ibu memukulku?!" teriak Teo.


"Memangnya apa yang membuatmu begitu bangga meninggikan suara begitu pada Bu Corliss?! kau dipukul karena memang pantas dipukul." kata Daisy.


"Aku hanya ingin minum minuman dingin!" kali ini Teo dengan merengek.


"Berisik!" kata Tan dan Tom bersamaan masih dengan keadaan menutup mata diatas tempat tidur masing-masing.


"Kau bisa minum itu kalau sudah sembuh, kalau minum bersama obat tidak baik." kata Dokter Mari yang baru datang.


"Kalau begitu, aku tidak usah minum obat. Minum soda bisa menyembuhkan lebih cepaaaaAaaaaat!" kata Teo yang diakhiri teriakan karena Daisy menekan lukanya.


"Memangnya soda bisa menyembuhkan rasa sakit ini? huh?!" tanya Daisy.


"Ibu kuno sekali!" kata Teo mau memaki tapi tidak tahu mau memaki dengan kalimat apa, jadi itu keluar begitu saja.


Selagi Teo dan Daisy bertengkar, Dokter Mari hanya melihat Felix yang terus tertidur meski suara Teo yang keras didalam kamar itu.


"Dia bukannya sedang koma memulihkan tenaga, tapi dari semalam belum membuka mata sama sekali. Kecelakaan bus yang tiba-tiba itu pasti bukan kebetulan, dengan jumlah korban dan lokasi yang dekat dengannya pasti bisa mudah untuk bisa diprediksi. Tapi tetap saja mereka terluka dan tidak bisa mencegahnya terjadi." kata Dokter Mari.


Felix yang hanya terus menutup matanya berpikir, "Memang benar bahwa musuh tidak boleh mengetahui kekuatan kita. Tapi apa boleh buat ... musuhku adalah Mantan Alvauden yang mengenal baik kekuatan Caelvita seperti apa. Efrain tahu betul kalau aku bisa melihat masa depan pada kecelakaan besar. Tapi semuanya diputuskan pada detik-detik terakhir, sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Karena masa depan hanya bisa terlihat kalau keputusan dari seseorang telah dibuat dan Efrain sangat tahu hal itu ...."


Kepergian 11 korban yang mendadak dan tiba-tiba itu membuat semuanya terkejut dan masih tidak percaya. Siapa yang menyangka kalau Pak Rodney yang masih terbilang guru baru dan paling muda dibanding guru lainnya harus pergi secepat itu.


Siapa yang menyangka kalau surat yang dibaca oleh Demelza saat perkemahan ternyata menjadi surat perpisahan. Demelza yang tidak terlalu disukai oleh anak-anak karena suka bergosip itupun ternyata juga ditangisi kepergiannya.


Kelsey yang masih menunggu kedatangan sahabatnya Magdalene telah kehabisan waktu untuk menunggu. Belum sempat melepas rindu dengan sahabatnya yang menghilang itu sudah menyusul Magdalene.


"Inikah yang namanya persahabatan sejati ... Kelsey menyusul Magdalene karena terlalu rindu." kata Dea menaruh bunga di meja khusus untuk korban di lobby sekolah, yang ada foto 11 orang korban, banyak lilin dan bunga serta ucapan tertempel, ada juga snack dan minuman favorite dari masing-masing korban disimpan disana.


"Jaga ucapanmu! tidak pantas kau mengatakan itu di depan seseorang yang telah pergi dengan cara menyakitkan seperti ini." kata Clara.


"Apa?! apa ada masalah atau ada yang salah dengan ucapanku?! atau kau memang sengaja mencari masalah?!" balas Dea.


"Hentikan! apa yang kalian lakukan disini?! kalau mau bertengkar ditempat lain!" kata Cornelia.


Dea dan Clara langsung meninggalkan tempat itu, bagaimanapun juga Cornelia adalah sosok yang dihormati di sekolah.


Keadaan korban lainnya yang selamat di rumah sakit juga tidak ada yang ringan. Semuanya terluka parah sehingga butuh waktu lama untuk pemulihan.


"Sempat kukira kalau Osvald akan meninggalkan kita ...." kata Tom di depan pintu kamar Osvald dan anak lainnya berada.


"Demelza belum lama sudah mengalami gangguan tapi harus mengalami hal ini. Aku tidak tahu apa dia sempat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya ...." kata Tan yang bersama Demelza terus saat di Dunia Zewhit.


"Setidaknya dia tidak menjadi tawanan Efrain, kita harus bersyukur soal itu. Bayangkan kalau kita harus melawan Demelza sebagai musuh ...." kata Teo.


"Terlebih lagi, Efrain menanam batu permata di Mundclariss bukannya di Bemfapirav ...." kata Tom, "Itu tandanya, kita tidak bisa lagi bertarung bebas ... dan Efrain mau membatasi pergerakan kita. Kalau kita melawan, itu hanya akan membuatnya senang ... karena terungkapnya Mundebris tidak bisa terelakkan lagi." sambungnya.


"Pasti akan ada cara untuk itu, masalah datang bersama dengan solusi." kata Tan ingin menceriahkan suasana.


"Efrain bukan masalah, tapi penyakit. Penyakit datang belum tentu bersama dengan obat." kata Tom mematahkan semangat.


"Selama kita berusaha pasti akan ada jalan. Mau itu solusi atau obat, pasti akan ketemu juga atau malah akan datang dengan sendirinya selama kita mencari dan terus berusaha ...." kata Iriana mencoba menghibur Felix yang sedang mendengar percakapan Tan, Teo dan Tom dari jauh.


"Tidak kusangka kalau Kelsey juga ikut menjadi korban dan akan menjadi musuh saat peperangan nanti." kata Felix yang memunculkan kembali rasa bersalah karena masih belum bisa mengembalikan tubuh Magdalene yang masih ada di Kastil Perkumpulan Anti Caelvita.


"Pasti ada alasan semua hal terjadi, jangan menganggap itu sebagai hambatan. Siapa tahu itu akan berubah menjadi bantuan dan solusi nantinya ...." kata Iriana.


...-BERSAMBUNG-...