UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.216 - Anak Baru Yang Mencurigakan



"Kalau tidak ada yang hilang ... berarti bukan seperti Magdalene dong!" kata Teo protes.


"Tapi, kan sama-sama meninggalkan jari kelingking! aku yakin ... ini sebuah peringatan!" kata anak-anak dari kelas itu heboh.


"Bisa jadi itu hanya akal-akalan dari seseorang yang kurang kerjaan! pasti itu hanyalah mainan ...." kata Tom.


Tan menatap Felix dan Cain untuk mengetahui itu hanyalah hasil dari candaan semata anak-anak di kelas itu. Tapi wajah Felix dan Cain serta Haera menjawab semuanya. Itu bukanlah kebohongan, memang ada sesuatu yang tidak beres.


"Di meja siapa jari kelingking itu ditemukan?" tanya Dallas.


"Di meja anak baru, pindahan dari sekolah luar negeri!"


"Berarti itu hanyalah untuk mengerjai anak baru!" kata Tom.


"Memangnya ada anak baru ya?" tanya Teo.


"Ada! namanya Balduino, kelas 4-5, suka buah Apel, tidak suka minuman bersoda!" sahut Cain.


"Apa-apaan kau?!" kata Teo geli karena Cain bisa tahu sampai situ.


"Dia bukan Setengah Viviandem kan?" tanya Felix.


"Aku hanya bisa melihat aura manusia darinya!" jawab Cain.


Sementara Bu Janet memeriksa apa yang terjadi di kelas lain, anak kelas 4-7 dikurung di dalam kelas dilarang keluar dan dikuncikan pintu dari luar oleh Bu Janet. Jadi mereka hanya bisa mencari informasi lewat jendela kelas.


Felix mundur sedikit dari kerumunan teman sekelasnya yang berebutan untuk melihat ke luar jendela karena ingin menggunakan Idibalte. Teo dan Tom yang kepalanya berada di tengah jendela melihat Felix keluar menembus pintu.


"Kau mau kemana?" teriak Teo.


"Kau meneriaki siapa?" tanya Dallas.


Felix berbalik menunjuk Idibaltenya membuat Teo tertawa untuk mengalihkan pembicaraan. Tak lama Cain juga menyusulnya menggunakan garis pelindung.


Guru-guru berkumpul di kelas itu memasang wajah panik karena melihat jari kelingking di atas meja sambil menunggu kedatangan polisi dan bagian forensik.


"Kalau begini, bisa-bisa sekolah ditutup!" kata Bu Latoya masih berbicara dengan mencampur bahasa lain.


"Itu tidak akan terjadi, lagipula mungkin ini hanyalah mainan! tidak ada anak yang menghilang juga ...." kata Bu Farrin.


Felix dan Cain mendekat melihat jari kelingking itu, "Bagaimana menurutmu? apa ini asli?" tanya Felix.


"Ada satu cara untuk memastikannya!" jawab Cain memanggil Goldwin.


Goldwin datang dan langsung menutup hidungnya, "Ini asli! Leaure paling benci dengan bau darah ...." kata Cain.


"Tapi, kau baik-baik saja?" tanya Felix.


"Mungkin karena hanya Setengah Leaure jadi tidak terlalu berpengaruh denganku!" jawab Cain.


"Kau memanggilku hanya untuk memeriksa bau?!" Goldwin menggigit kaki Cain marah dan menghilang.


"Aw!" Cain merintih kesakitan ingin membalas Goldwin tapi Goldwin sudah menghilang.


Felix dan Cain kembali ke kelas sebelum ada yang curiga mereka tidak ada.


"Apa lagi ini yang sebenarnya terjadi?!" Tan merasakan ada yang tidak beres.


Polisi dan bagian forensik datang memeriksa kelas 4-5. Waktu makan siang anak-anak di arahkan untuk tidak melewati kelas itu menuju kantin.


Felix berjalan dengan membawa nampan makanan menuju meja yang ada orang lain disana. Cain dan Tiga Kembar mengikut saja walau heran karena biasanya Felix tidak akan duduk dengan orang yang tidak dikenal.


"Siapa kau?" tanya Felix pada anak itu.


"Dia anak baru yang aku ceritakan itu!" sahut Cain ikut duduk.


"Kau benar tidak melihatnya?" tanya Felix.


"Melihat apa?" tanya Cain.


"Hah?!" Cain dan Tiga Kembar panik dan langsung berdiri, masing-masing dari mereka bersiap untuk mengeluarkan senjata.


"Apa yang dilakukan Setengah Viviandem di sekolah ini? kau anak buah Efrain?!" kata Tom sebisa mungkin memelankan suaranya agar tidak membuat keributan di kantin itu.


"Tapi aku tidak melihat aura Setengah Viviandem!" kata Cain.


"Pertanyaan yang sama! aku juga tidak melihat melihat aura dari seorang Setengah Leaure darimu!" kata Balduino.


"Lalu, bagaimana kau bisa tahu aku ini Setengah Leaure?" tanya Cain.


"Sudah tersebar berita bahwa Caelvita-119 memiliki Alvauden Setengah Leaure dan Tiga Kembar manusia! tidak kusangka yang menyapaku pertama kali setelah masuk sekolah ini adalah seorang Alvauden ...." jawab Balduino.


"Kau ini teman atau lawan?" tanya Teo hampir membuat tertawa di suasana yang tegang itu.


"Kalau dikatakan teman juga tidak karena aku belum mengenal kalian dan dikatakan lawan, bukan juga ... tujuanku ke sekolah ini hanya untuk meminta perlindungan!" kata Balduino.


"Perlindungan? mencurigakan sekali ...." kata Teo terus membuat yang lainnya harus menahan tawa.


"Aku Setengah Ruleorum! mungkin sudah kalian ketahui Setengah Ruleorum didatangi oleh banyak hantu untuk dimintai tolong dan saat masa ini yang tidak ada Ruleorum murni yang bisa membawa arwah ke tempat yang seharusnya ... banyak arwah yang bergentayangan sekarang menggangguku! kudengar Caelvita sekolah disini ... jadi aku dengan cepat ingin pindah kesini, setidaknya di sekolah aku bisa menjadi anak yang normal tidak harus berlarian karena ketakutan dikejar oleh hantu!" kata Balduino.


"Hem ... aku bisa mengerti perasaanmu!" kata Teo sudah mulai tenang dan duduk karena tidak merasa terancam lagi.


"Kau ini mudah sekali percaya dengan seseorang yang mempunyai mulut! kita tidak tahu apa yang dikatakannya benar atau hanya kebohongan ...." kata Tom memukul Teo yang sudah mulai ingin menikmati makanannya.


"Tapi kenapa di mejamu ada yang menaruh jari kelingking manusia?" tanya Tan masih waspada tapi sudah mulai duduk.


"Sebelumnya aku minta maaf, ibuku manusia jadi aku tidak tahu bagaimana cara memberi penghormatan dengan Caelvita karena ayahku belum bangkit untuk mengajarkan tata cara bersopan santun dengan Caelvita ...." kata Balduino.


"Tidak apa-apa! sekarang jawab pertanyaan Tan ...." kata Felix tidak suka Balduino yang berbelit-belit.


"Aku juga tidak tahu! tapi biasanya memang kehadiranku bisa dengan mudah menarik arwah untuk datang ...." kata Balduino.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana auramu bisa tidak terlihat?" tanya Cain masih tidak mau duduk.


"Aku memakai ini!" Balduino menunjukkan kalung yang liontinnya batu permata safir.


"Kau tidak salah kan ... bukannya kau Setengah Leaure?" kata Tom karena melihat ada persamaan dengan Cain dulunya.


"Setengah Leaure didatangi hantu untuk mengambil energi kehidupan, sedangkan Setengah Ruleorum didatangi hantu untuk meminta pertolongan!" kata Balduino.


"Siapa nama ayahmu? Ruleorum murni itu?" tanya Felix.


"Caius Sapphire!" jawab Balduino.


"Sepupu dari ibu Iriana? maksudku Sang Caldway?" tanya Felix yang tidak asing dengan nama itu.


"Hanya sepupu jauh!" jawab Balduino.


"Walau sepupu jauh tapi diangkat menjadi jaksa tertinggi di pengadilan Ruleorum!" kata Felix.


"Itu karena banyak kerabat yang terdekat meninggal sebelum terjadi perang 11 tahun yang lalu!" kata Balduino.


"Kau ini ... berapa umurmu? bagaimana bisa tahu tentang ini disaat ayahmu tidak ada?" tanya Tom.


"Ibuku yang menceritakan semuanya ... bahwa ayahku seseorang yang dihormati di Mundbebris!" jawab Balduino.


"Kau! duduklah!" perintah Felix pada Cain.


"Kau memakai kalung safir tapi hantu masih tetap berdatangan menemuimu?!" Cain masih tidak mengundurkan pengawasannya.


"Padahal kemarin kau baik sekali denganku ...." kata Balduino kecewa.


"Kemarin, kau hanya seorang anak manusia biasa ... tapi sekarang berbeda!" kata Cain.


...-BERSAMBUNG-...