
Mertie kini sangat berhati-hati jika berdekatan dengan Felix karena sudah tahu kalau Felix bisa membaca pikiran seseorang. Berusaha untuk tidak mengatakan hal buruk tentang Felix tapi semakin ditahan ternyata semakin mudah saja terpikirkan. Pernah Mertie mengutuk Felix habis-habisan dengan semua kata makian yang diketahuinya membuat Felix yang sedang makan memuntahkan seluruh makanannya karena tersedak.
"Bagaimana kalian bisa terbiasa dengan ini?" tanya Mertie.
"Terbiasa apa?" Teo balik bertanya.
"Felix bisa membaca pikiran kalian ... apa kalian merasa tidak nyaman?" tanya Mertie.
"Felix tidak bisa membaca pikiran kami." jawab Tom membuat Mertie menganga dan lama terdiam dengan ekspresi itu.
"KENAPA? KENAPA KALIAN DIKECUALIKAN?" Mertie dengan heboh.
"Kami ingin menjelaskannya tapi ini rahasia, intinya Felix tidak bisa membaca pikiran kami ...." kata Teo.
Mertie memukul meja dan mengutuk dengan tatapannya.
"Kau sedang memaki kami kan?" tanya Tan.
"Felix mana Felix? aku ingin tahu apa yang barusan dipikirkannya ...." kata Teo mencari keberadaan Felix karena penasaran apa yang barusaja dikatakan Mertie dengan tatapan seperti itu.
Mertie pergi dengan ekspresi kesal dan menendang apapun yang menghalangi jalannya.
Mertie terus-terusan menghindari untuk bertemu Felix. Untuk berkomunikasi saja, Mertie memilih melakukan panggilan suara melalui telepon saja. Cukup lama Mertie melakukan itu tapi setelah sebulan berlalu, ia mulai terbiasa juga. Kali ini dia lebih memilih mengatakan semuanya secara jujur, baik itu buruk atau baik karena Felix juga sudah mendengar semuanya pastinya.
Kepribadian Mertie perlahan berubah menjadi ceplas ceplos. Langsung mengatakan apa yang ada dipikirannya walau tahu itu akan menyakiti. Karena lebih tidak menyukai jika menjadi munafik disaat ada Felix yang tahu apa yang dipikirkannya.
Perburuan Iblis tetap diteruskan tapi setelah kejadian hari itu tidak ada lagi Iblis yang datang ke stasiun kereta atau stasiun transportasi umum lainnya. Tapi masih ada saja pelaku dan korban baru yang muncul. Pola Iblis semakin tidak bisa dibaca, kali ini bukan di tempat keramaian lagi tapi di tempat sunyi seperti di lorong kecil atau desa terpencil jauh dari kota.
Final semester tiba, disaat Felix dan kawan-kawan harus fokus belajar tapi Iblis tidak beristirahat sama sekali. Membuat mereka tidak bisa tenang dalam belajar.
"Aku tidak tahan lagi ... sekarang aku tidak peduli lagi kalau dapat peringkat terakhir." kata Tom.
"Siapa dulunya yang menentang keras misi ini dilakukan ...." Teo meledek.
"Sekarang kan berbeda, Para Iblis itu sekarang seakan mengejek kita tidak bisa berbuat apa-apa ... padahal ada Caelvita dan Tiga Alvauden. Cain akan menertawakan kita kalau dia ada disini." kata Tom.
"Jadi, kau mau berhenti belajar dan pergi ke desa itu?" tanya Tan menutup bukunya.
Saat ini mereka sedang berada di ruang belajar mandiri seluruh kelas 5 dan berbicara melalui Jaringan Alvauden tanpa harus mengganggu teman-teman lainnya yang sedang belajar.
"Jum'at dan Sabtu ini kan kita libur. Kita tunggu saja hari itu ...." kata Felix.
"Kesabaranku sudah hilang untuk menunggu ...." kata Tom.
"Tom!" suara Felix yang penuh penekanan.
"Kau sedang menakutiku atau apa? tapi masf saja aku tidak takut sama sekali denganmu, Felix! dan kau juga tidak bisa menghentikanku ... jika saja ada Cain disini ...."
"Dia tidak disini." Felix mengehentikan Tom meneruskan kalimatnya, "Cain tidak ada disini Tom!"
"Tom!" teriak Teo membuat anak-anak lainnya menatapnya penuh kemarahan. Pak Egan membiarkan Tom keluar karena memang sudah selesai menulis rangkuman hari ini.
Felix merasakan Tom memasuki Bemfapirav dan perlahan auranya muncul kembali di Mundclariss. Tandanya Tom benar-benar telah menyelinp keluar dari sekolah. Cara Mertie tidak dilakukan karena harus ada perencanaan sebelumnya. Jika akan keluar dari sekolah Mertie harus bersiap-siap jauh hari untuk mematikan sistem keamanan sekolah setelah kembali harus dikembalikan lagi menjadi normal agar tidak ada yang curiga. Tapi Tom pergi tiba-tiba tanpa perencanaan dan diskusi bersama Mertie terlebih dahulu.
"Ada apa?" tanya Tan melihat Felix berhenti mengambil bukunya di dalam loker untuk dimasukkan ke dalam tas.
"Dia pergi!" sahut Felix.
"Bahkan tidak makan malam dulu ...." kata Teo.
"Bukankah ini namanya terobsesi? dia selalu saja menyebut Cain dan merendahkan dirinya sendiri ... jujur saja, apa aku pernah memaksa kalian untuk melakukan ini? dia itu kenapa sebenarnya?" kata Felix menutup pintu lokernya.
"Anggap saja Tom itu seorang pegawai di perusahaanmu yang sangat mendedikasikan dirinya untuk bekerja." kata Teo.
"Bukan begitu ... aku tahu apa yang dia rasakan." kata Tan.
"Ohya? bagaimana bisa? apa hanya kau saudaranya? bagaimana aku tidak tahu? aku juga saudaranya!" kata Teo berlebihan.
"Menurutnya kita ini tidaklah cukup ...." kata Tan tidak selesai.
"Cukup?" tanya Teo.
"Kita tidaklah cukup untuk menggantikan posisi Cain yang sedang kosong. Menurutnya jika ada Cain, pasti masalah ini sudah selesai ...." jawab Tan.
"Kenapa menggantikan? posisi Cain kenapa harus digantikan? kita tidak perlu terobsesi menjadi Cain untuk menyelesaikan masalah. Kita punya kelebihan masing-masing yang tidak dimiliki bahkan oleh Cain sekalipun ... kita punya tugas yang sama tapi fungsi yang berbeda-beda. Cain adalah Pemimpin Alvauden. Kita memang bukan pemimpin tapi tetaplah Alvauden, hal yang tidak bisa dilakukan oleh pemimpin, bisa kita lakukan. Cain tidak ada disini, kan ada kita bersama Felix. Tidak semuanya hanya dilakukan sendiri oleh Cain." kata Teo.
"Kau sangat benar dan tepat sekali. Ada angin apa?" kata Felix merangkul Teo yang sedang terlihat begitu kesal.
"Jadi kita akan membiarkannya saja? Tom?" tanya Tan.
"Tentu tidak. Ayo kita susul dan bawa dia kembali untuk ujian besok!" kata Felix.
Bukan Banks namanya jika tidak mempunya solusi untuk mereka yang tidak bisa merasakan atau melihat aura Iblis. Terakhir kali, mereka kecolongan karena tidak tahu jika Iblis tidaklah berpindah tubuh pada yang dihipnotis. Banks memberikan solusi untuk mengetahui apakah ada aura Iblis yang berada 100 meter dari benda yang diberikan itu.
Sebenarnya itu adalah mainan di Mundebris yang tidak di produksi lagi karena sudah lama dan ketinggalam jaman. Tapi Banks mencari ke segala toko untuk mendapatkan mainan yang menjadi langka itu walau pada akhirnya hanya bisa mencari di rumah Viviandem yang sedang kosong, memang tidak sopan mengambil barang disaat tidak ada pemiliknya tapi apa boleh buat.
Lagipula mainan itu ditemukan oleh Banks di gudang yang tentunya mainan itu tidaklah terpakai lagi. Mainan itu adalah sebuah kotak, hanya terbuka jika dalam 100 meter ada aura Iblis. Kotak itu akan terbuka dan memunculkan jenis Iblis yang masuk dalam jangkauan jadi bisa berubah-ubah isinya tergantung Iblis apa yang mendekat.
Di Mundebris mainan itu pernah sangat laku karena jika ada 100 Iblis yang ada dalam jangkauan deteksi mainan itu, isi kotak itu juga akan bermacam-macam. Awalnya begitu menarik tapi lama kelamaan membosankan juga. Beda dengan Tan, Teo dan Tom yang sama sekali tidak menganggapnya menarik atau menganggapnya sebagai mainan. Menurutnya itu adalah sebuah benda yang menyeramkan. Jika ada dua Iblis yang mendekat maka isi kotak itu akan keluar menunjukkan perpaduan kedua Iblis itu.
Tom yang sedang dalam perjalanan menuju sebuah desa menahan sekuat tenaga kotak itu agar tidak terbuka. Karena saat ini sedang berada di tempat gelap, setelah sampai di tempat yang ada lampunya barulah dia melepas tangannya dari kotak itu.
"Aku tidak mengerti kenapa ada mainan menyeramkan seperti ini dibuat ... aku tidak akan bisa terbiasa dan tidak akan bisa cocok dengan cara Viviandem nantinya." kata Tom menggerak-gerakkan tangannya yang kram.
...-BERSAMBUNG-...