
"Rasanya mau kemanapun, kita tetap akan berada dalam kawasannya." kata Tom.
"Maka dari itu, Mertie berhati-hati dalam memilih lokasi." kata Felix.
"Entahlah, rasanya ... perkemahan kali ini sebaiknya dibatalkan saja." kata Tan dengan nada khawatir.
"Aku sependapat! untuk cari aman!" kata Teo.
"Perkemahan sekolah kita hanya bisa dilakukan dengan bergiliran tiap kelas karena jumlah murid yang banyak. Artinya kita harus berkali-kali mengikuti perkemahan sekolah." kata Tom sudah membayangkan bagaimana lelahnya jika perkemahan sekolah berlangsung.
"Terlebih lagi Mertie mau mengadakan pelatihan persiapan memasuki osis disana juga. Bayangkan bagaimana besar perkemahan kali ini. Serasa kita sengaja membuat api unggun besar atau mengibarkan bendera besar menunjukkan keberadaan kita pada Efrain ... 'Kami disini! ayo datang bunuha kami hahahaha' begitu kelihatannya ...." kata Teo dengan aktingnya.
Tan, Tom melihat ekspresi Teo itu sudah sering tapi selalu saja terkejut.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?!" tanya Teo.
"Tapi perkemahan sekolah sudah menjadi tradisi tiap tahun, pernah ditunda karena badai tapi tidak pernah dibatalkan hanya dimundurkan saja. Menurut kalian ada cara menghapuskan perkemahan sekolah? setidaknya untuk tahun ini?" kata Tom mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, biarkan saja terjadi." kata Felix.
"Menjaga ribuan murid di area terbuka adalah hal yang gila Felix! Satu orang saja mau gila rasanya." kata Tan menatap Teo.
"Kenapa kau menatapku?!" kata Teo.
"Kalian pikir sekolah bukan area terbuka?! sama saja! semua tempat di Yardley saat ini kemungkinan besar sudah menjadi wilayah kekuasaan Efrain tanpa kita sadari. Dia sudah memulai semuanya 13 tahun yang lalu sejak kita masih belum lahir. Saat Iriana baru saja meninggal ... menurutmu dengan belasan tahun itu, Efrain hanya tinggal diam saja?!" kata Felix.
"Setidaknya sekolah berada di area perkotaan, area perkemahan ada di luar kota dan berada di tengah hutan jauh dari pemukiman warga. Membayangkannya saja sudah membuat merinding ...." kata Teo.
"Itu bisa saja menjadi kekuatan kita sih ...." kata Tom mulai terbujuk oleh Felix.
"Apa maksudnya itu?! dia bicara apa sih?!" kata Teo pada Tan meledek Tom, "Kalau bicara pakai bahasa Yardley yang jelas!"
"Memang area perkemahan adalah lokasi yang ideal untuk para iblis beraksi. Tapi juga lokasi ideal untuk kita bergerak." kata Tom.
"Area perkotaan sekarang juga bukanlah lokasi yang dihindari, lihat saja bagaimana kejadian akhir-akhir ini." kata Felix.
"Rasanya ada dua Felix dan dua Tom." kata Teo melongo.
"Beruntung karena kita kenal dengan Ketua Pelatihan Persiapan Osis, kita bisa memilih lokasi yang kita inginkan dan membuat persiapan sebelumnya." kata Tan mulai pasrah.
"Lagipula Teo ... kau sadar sekarang apa yang kau pikirkan?!" tanya Felix.
"Apa?!" Teo berbalik bertanya.
"Kau sedang mengkhawatirkan anak-anak dari sekolah kita saja, kau tidak memikirkan kalau diluar sana ada sekolah lain yang melakukan hal yang sama dan berada dalam bahaya yang sama tapi untuk sekolah kita setidaknya beruntung karena ada kita. Sedangkan sekolah lain?!" kata Felix membuat Teo terdiam.
Diskusi selesai, Felix merasa sudah menang dan membuka pintu hendak ke kamarnya sendiri.
"Tapi keberadaan kita bukan sepenuhnya sebuah keberuntungan. Sejak kapan keberadaan kita membawa keberuntungan Felix?! malah keberadaan kita membawa sial. Teman-teman kita bisa saja berada dalam bahaya karena keberadaan kita. Anak buah Efrain bisa datang karena aura Caelvita dan Alvauden. Memang egois aku tidak memikirkan sekolah lain, tapi mereka beruntung karena tidak ada kita disana. Keberadaan kita adalah berita buruk, Felix." kata Teo membuat Felix lama mematung di depan pintu.
"Teo ...." Tan merasa kalau Teo melukai hati Felix.
"Benar ... kita memang bukanlah keberuntungan bagi orang lain maupun untuk diri sendiri. Kita juga pembawa sial ... tapi itu tidak menandakan kalau kita ini tidak berguna." kata Felix yang keluar kemudian menutup pintu kamar.
"Maaf, aku terbawa suasana ...." kata Teo baru menyesal setelah Felix pergi.
"Sebaiknya kau menemui Felix dan meminta maaf!" kata Tan.
"Dia sudah mendengar kita juga pasti sekarang." kata Tom.
"Kalian tidak kenal Felix?! tidak perlu mendapat permintaan maaf hanya karena perkataan barusan." kata Tom.
***
"Pemilik Moshas sepertinya memang punya kerpibadian yang sama persis." kata Iriana.
"Aku sedang tidak mood untuk mengobrol denganmu." kata Felix.
"Jangan bilang kau terluka karena perkataan Teo barusan?! seorang Felix terluka karena hal itu rasanya tidak cocok untukmu." kata Iriana meledek.
Felix tidak meladeni lagi Iriana berbicara tapi Iriana sudah terbiasa terus berbicara sendirian. Iriana hanya terus mengomel dan mengatakan semua yang ada dipikirannya tanpa difilter terlebih dahulu.
"Zeki juga punya kekuatan yang sama dengan Teo saat ini. Kekuatan menggoyahkan perasaan ... dulu aku tidak terlalu memperhatikannya tapi sekarang aku baru ingat dengan jelas kalau ternyata banyak hal yang membuatku berubah pikiran dengan perkataan Zeki. Dari mereka bertiga, kau juga paling peduli dengannya kan?!" kata Iriana.
"Aku tidak menggolongkan mereka seperti itu ...." kata Felix tidak bisa diam saja dengan perkataan Iriana barusan.
"Bukannya menggolongkan apalagi membeda-bedakan yang kumaksud. Alvauden memiliki posisi yang sama, kecuali Cain karena dia yang pertama kali kau anggap sahabat makanya dia menjadi pemilik Orogla dan Pemimpin Alvauden. Tapi terlepas dari itu, semuanya sama ... hanya saja memang dalamnya perasaan berbeda-beda. Karena hati itu bagai lautan luas, kedalamannya berbeda-beda." kata Iriana.
Felix kembali memilih diam tidak meladeni lagi Iriana yang terus mengoceh.
***
"Hatcchiiim ...." Zeki sudah bersin berkali-kali, "Apa ada yang barusaja membicarakanku?!"
"Kebiasaan manusia, ck! darimana kalian mendapat keyakinan seperti itu?! kalau bersin ada yang membicarakan. Di Mundebris saja hanya Hyacifla yang bisa mengetahui hal seperti itu." kata Verlin.
"Tapi, ada apa kau mengajakku ke tempat kotor ini?! kau tidak ingat, terakhir kali aku kesini?! aku menangkap semua yang ada disini tanpa terkecuali." kata Zeki menendang pintu masuk agar terbuka karena malas membukanya dengan sopan menggunakan tangan.
"Setelah sekian lama aku melihat sesuatu ...." kata Verlin mencari tempat duduk yang kosong.
"Kau mendapat penglihatan?! apa?!" Zeki mulai merasa ada yang menarik.
Verlin memakaikan kembali tudung jubah Zeki karena semua yang ada disana adalah musuh Zeki. Bisa dibilang semua penjahat yang ada di Mundebris pasti pernah merasakan bagaimana diperlakukan buruk oleh Zeki saat menjadi Alvauden dulunya.
"Aku melihat seseorang ...." kata Verlin juga menyembunyikan wajahnya agar tidak dikenali. Keberadaan Seqrevanques disuatu tempat adalah sebuah ancaman. Walau bukan lagi masa Verlin tapi tetap saja banyak yang menyimpan dendam pada Verlin juga.
"Siapa yang kau lihat?! awas saja kalau kau hanya mau mengajakku kesini karena bosan ...." kata Zeki yang kemudian dikagetkan oleh seseorang yang langsung bergabung duduk, "Cain?!"
"Tidak kusangka kau benar datang, kukira kau hanya Hyacifla gadungan ...." kata Cain menuangkan minuman berwarna merah muda yang terkenal di Mundebris bisa membuat mengantuk dan menghilangkan kesadaran itu. Meski begitu, banyak yang menyukai minuman itu karena bisa membuat tenang dan bisa beristirahat tanpa memikirkan apapun.
"Kau tahu bagaimana memicu kekuatanku?! tunggu ... bukan ini yang terpenting sekarang! sudah berapa lama kau bebas?! seharusnya kau menemui Caelvitamu dulu atau anggota Alvaudenmu!" kata Verlin.
"Keberadaanku harus terus dirahasiakan sebelum tahun baru tiba. Tapi aku mengambil resiko menemui kalian. Setelah melihat bagaimana kalian ikut bertarung membantu Felix rasanya keraguanku pada kalian sudah hilang." kata Cain.
"Apa?! aku tidak salah dengar?! kau meragukan kami?!" kata Zeki tidak habis pikir.
"Kau adalah Alvauden 118 dan kau adalah Secrevanques 118, lebih aneh lagi kalau aku tidak meragukan kalian." kata Cain.
"Kami hanyalah mantan saja, masa kami sudah lewat." kata Verlin.
"Tidak ada yang seperti itu. Sekali Alvauden selamanya Alvauden, kau akan terus tercatat sebagai Alvauden 118. Begitupun kau yang seorang Seqrevanques, selamanya rahasia Caelvita 118 kau bawa hingga tiba waktunya kau menyebrangi Jembatan Ruleorum. Bahkan sampai kau terlahir kembali, rahasia yang kau bawa itu masih membekas diingatan." kata Cain.
"Kau lupa ya, aku yang mengungkap identitas Felix .Verlin yang mengungkap identitasmu yang sebenarnya. Apa kau pikir kami ini ancaman?! setelah semua yang kami lakukan untuk kalian?!" Zeki emosi.
"Aku bukan lagi seseorang yang polos kau temui dulu. Bukan lagi Alvauden pemula yang tidak tahu apa-apa. Aku tahu betul sekarang bagaimana sistem kehidupan di Mundebris. Jangan salah sangka kalau kalian mengira aku masih sepolos yang dulu. Aku tahu kalian masih melaksanakan tugas Caelvita kalian. Caelvita tahu kapan dirinya akan meninggal sehingga membuat misi jauh-jauh hari untuk kalian Alvauden dan Seqrevanques lakukan. Bagaimana aku bisa mempercayai kalian yang menyembunyikan fakta itu?! bagaimana aku tahu kalau itu bukan misi yang membuat Felix dalam bahaya?!" kata Cain.
...-BERSAMBUNG-...