UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.50 - Rahasia Cain



Duarte setia menunggu di luar toko dengan menyapu daun dengan sayapnya.


"Ibuku?" Cain yang belum tahu apapun tentang dirinya yang keturunan Viviandem hanya bisa terbengong.


"Saat kita pertama bertemu dan bersalaman, saat itulah aku melihat siapa kedua orangtuamu."


"Cukup!" Felix menghentikan Verlin menjawab rasa penasaran Cain.


"Aku berhak tahu! katakan!" Cain kini merasa pijakan kakinya mulai menghilang dan mundur ke dinding agar bisa mencari bantuan untuk berdiri.


"Maaf Felix, sekeras apapun kau ingin menyembunyikannya ... takdirnya memang adalah bersamamu, sebagai Alvauden ... mau tidak mau dia akan selalu terikat denganmu ... dan sepertinya kau belum mengerti apa arti Alvauden di Mundebris, mereka adalah pembuat peraturan di Mundebris, Wakil Penguasa di Mundebris."


"Aku tidak peduli! ayo kita kembali Cain!" Felix hendak menarik lengan Cain.


Cain menepis tangan Felix, "Aku tidak akan pergi sebelum aku tahu yang sebenarnya!"


"Tentu saja, itu sudah tertanam dalam dirimu ... apa kau pernah bertanya pada dirimu sendiri Cain? kenapa kau begitu dipenuhi rasa penasaran, keingintahuan yang sangat besar, ingin dengan cepat membuktikan sebuah kebenaran ... itu adalah dasar dari sifat yang kau turuni dari orangtuamu."


Rasa penasarannya terhadap dunia, Cain mulai salurkan lewat membaca buku dan dia mulai ingat saat ingin membuktikan kekuatan Felix dengan melompat ke depan truk besar dengan berani tanpa rasa takut sedikitpun.


"Dan, bukan hanya itu ... hati yang hangat selalu ingin berbuat kebaikan, rasa simpati yang berlebihan ... awalnya kupikir kau hanyalah setengah Viviandem tapi ternyata ibumu yang setengah Viviandem menikah dengan ayahmu yang Viviandem Murni membuatmu menjadi Viviandem Murni juga ... kelak ... jadi memang tempatmu adalah disini ... di Mundebris!" lanjut Verlin lagi.


"Apa maksudmu?" tanya Felix.


"Kau pasti juga berpikir dia hanyalah setengah Viviandem dan setengah manusia kan? tidak! dia adalah penduduk Mundebris!"


"Leaure?"


Verlin memotong kalimat Felix, "Ibu Cain adalah Keturunan Kerajaan Leaure yang sering disimbolkan oleh Singa Emas itu dan ayahnya ...."


"Sudah Cukup! hentikan!" bentak Felix yang sebenarnya untuk menghentikan dirinya sendiri.


"Apa kau tidak penasaran Cain, kenapa hantu banyak yang mengerumunimu? itu karena Leaure bersumpah akan menolong seluruh penduduk Mundebris siapapun yang membutuhkan, makanya seluruh keturunan Leaure bersedia untuk memberikan energi kehidupan secara cuma-cuma bagi Zewhit bahkan sampai hampir merenggut nyawa seorang Leaure pun tidak akan goyah keingininannya untuk menolong, sebaik itulah seorang Leaure."


"Kau sudah tahu kan! sekarang ayo kita kembali!" Felix menarik paksa Cain yang hanya diam membatu mendengar penjelasan.


Tapi saat hendak keluar dari toko ada masing-masing dua peri kecil membawa boks yang terbang dan menghadang pintu keluar, "Selamat datang Tuan Muda Caelvita, Tuan Muda Alvauden, kami sudah membungkus sepatu yang sudah Tuan beli!"


Felix mengambil dua boks sepatu itu, "Terimakasih karena sudah membayar, kebanyakan yang datang hanya mengambil barang dan tidak membayar ...." kata peri kecil dengan sayap bersinar itu dengan wajah sedih.


"Apa kalian tidak punya kekuatan untuk melawan para pencuri itu?" tanya Felix yang kini emosinya mulai reda.


"Dibanding penduduk Mundebris lain kami lah yang paling lemah ... tapi kalau boleh, apa kami bisa minta setetes darah Tuan Alvauden?" tanya peri kecil yang lain.


"Boleh ...." kata Cain langsung.


"Kau lihat kan? bagaimana baiknya dia?!" Verlin mulai merusak suasana hati Felix lagi.


"Tunggu, untuk apa?" Felix menghentikan Cain mengulurkan tangannya.


"Kalau keturunan Leaure pasti punya kekuatan melindungi dari kejahatan, bisa ditaruh di atas pintu masuk ... jadi jika ada yang berniat jahat tidak akan bisa masuk toko!"


"Dia masih manusia!" kata Verlin, "Saat berumur 17 tahun barulah dia akan menjadi Viviandem, kekuatannya yang sekarang masih lemah ... tapi bisa kau coba!" sambungnya.


Peri kecil itu mulai menusuk jari Cain dengan jarum dan darah Cain tidak langsung menetes tapi diterbangkan oleh peri itu ke atas pintu dan darah Cain menjadi berbentuk gantungan perisai kecil dengan lambang singa.


"Tidak kusangka dia sudah sehebat itu bahkan sebelum menginjak usia 17 tahun!" kata Verlin dalam hati.


"Jadi itu sebabnya rambutnya berubah menjadi putih saat berumur 17 tahun?" tanya Felix dalam hati.


Akhirnya Felix dan Cain membeli satu sepatu lagi untuk tiga kembar, kini menggunakan uang Felix karena Cain merasa bersalah memakai uang ibunya yang bahkan tidak ia kenal itu walaupun secara tidak sengaja dan hanya bermodalkan iseng.


***


Jalanan yang penuh dedaunan menjadi bersih berkat Duarte.


"Jadi apa ibuku masih hidup?" Cain mengeluarkan pertanyaan yang dari tadi ingin sekali ditanyakan.


"Sepertinya?"


"Biasanya melahirkan keturunan dari Viviandem Murni itu resikonya adalah nyawa ...." ingin Verlin mengatakan itu tapi Felix melarangnya.


"Kini kau sudah bisa fokus berbicara melalui pikiran seseorang?" tanya Verlin lewat pikiran.


Felix tidak memperdulikannya dan setelah hendak mengambil tongkatnya ia berbalik melihat Duarte yang tidak berhenti memasang senyum lebar.


"Duarte?"


"Iya Tuan Muda!"


"Apa bisa kau mengantarku ke Kerajaan Ruleorum?"


"Tentu saja Tuan Muda, dengan senang hati!"


"Apa untuk mencarikanku gelang safir baru?" tanya Cain, "Kau tidak perlu melakukan itu Felix!" sambungnya.


"Akan aku lakukan segala hal agar kau bisa tetap menjadi manusia normal!" tegas Felix.


"Saat dia berusia 17 tahun kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi, bagaimanapun takdirnya adalah sebagai Viviandem!" kata Verlin.


"Setidaknya sampai saat itu tiba, tapi jika ada cara agar kau tetap menjadi manusia akan aku cari!" Felix membenturkan tongkatnya.


"Jadi kapan saya mengantar Tuan Muda ke Kerajaan Ruleorum?" tanya Duarte sudah tidak sabar.


"Akan aku hubungi lewat dia ...." Felix menatap tajam Verlin, "Kau juga bisa ke rumahnya ...." Felix sepertinya akan sering ke rumah Verlin.


"Hem, disana banyak rumput Tuan Muda ...." keluh Duarte.


"Memangnya kenapa?"


"Nanti aku beli ramuan untuk rumput bisa menahan beban lebih dari 500kg ...." kata Verlin.


Rumput yang tidak diberi ramuan lewat siraman air yang dicampur hanya bisa menahan berat beban tidak sampai 500kg tapi bila diberi ramuan akan bisa menahan lebih dari itu.


"Baiklah, tiap jam saya akan kesana!" sahut Duarte.


Felix, Cain dan Verlin berjalan melalui lorong hijau itu hingga sampai ke gerbang yang ada di Mundclariss, Felix masih kesal dengan Verlin dan tidak saling bicara.


Cain kaget melihat tanggal pada berita yang ia lihat dari luar toko tv, "Apa maksudnya sudah tanggal 2 desember?"


"Tidak terasa kita dua jam di Mundebris jadi setara dengan 2 hari di Munclariss!" Felix menghela napas.


"Apa?!" teriak Cain.


Felix yang baru mengerti akhirnya langsung berlari cepat bersama Cain.


Mereka sibuk membeli kado tapi karena kelamaan di Mundebris jadi lupa kalau ulangtahun tiga kembar 2 desember dan itu hari ini.


"Gawat, padahal aku berniat membuatkan dekorasi!" Cain membenturkan boks sepatu ke kepalanya.


Sementara itu Tan, Teo dan Tom menunggu kedatangan Felix dan Cain serta selama dua hari ini sibuk mencari dimana keberadaan mereka. Berapa kali nomor mereka di telepon tapi tidak aktif dan bolak-balik ke rumah Bu Daisy dan Panti.


"Apa kita laporkan ke polisi saja? sudah dua hari mereka menghilang!" kata Teo menunggu di depan gerbang panti.


"Apa mereka sedang mengerjai kita?" tanya Tom.


"Baiklah, ayo kita telepon polisi!" kata Tan, walau sebenarnya Tan tahu betul mereka berdua pasti baik-baik saja makanya merahasiakan hilangnya mereka berdua.


Ditekannya nomor polisi dan mulai berdering, "HEI!!! SELAMAT ULANG TAHUN!!!" teriak Cain dan Felix dari kejauhan.


"Sudah kubilang jika mereka berdua bersama tidak ada yang perlu dikhawatirkan ...." kata Tan dalam hati dan mematikan telepon yang sudah terhubung dengan polisi.


...-BERSAMBUNG-...