
Yardley terus-terusan menjadi buah bibir. Banyak sekali kejadian dan peristiwa baik itu kecil, sedang sampai besar. Terus saja Yardley menyuguhkan berita menarik pada seluruh dunia. Kali ini terlampau besar karena skalanya diperkirakan seperti serangan nuklir tapi anehnya tidak ada radiasi dan juga ledakannya hanya tepat disatu kota saja.
Hanya saja serangan besar Cairo mengakibatkan hal lainnya yang diluar rencana. Bahkan perisai Cain juga bisa ditembus sehingga mengenai sedikit bagian Kota Shirley dan memakan korban juga.
Militer Yardley bersiaga dan menyatakan dalam status siaga 1. Mengira bahwa sedang ada negara lain yang menyerangnya. Walau memang dengan kata lain terlihat seperti itu, hanya saja bukan negara lain melainkan dari dunia lain.
Yardley benar-benar dalam keadaan heboh saat ini dan Mertie yang menjadi saksi mata hanya tetap sibuk di depan laptopnya menyebar rumor palsu dengan akun yang berbeda-beda diberbagai platform internet. Membuat netizen sibuk memilah mana yang sebenarnya benar dan mana yang palsu. Tapi karena hal itu juga membuat pemerintah terbantu karena masyarakat hanya sibuk menggosipkan rumor yang tidak benar.
"Sepertinya aku harus mengirimkan bunga pada anak itu ...." kata Kayle dalam hati sudah menebak siapa yang melakukan hal itu.
Sementara itu di Rumah Banks, Cain mencabuti satu per satu rambut Felix dan disusun di dekat tempat tidur Felix. Karena bosan, Felix tidak bangun-bangun makanya Cain melakukan itu.
"Sepertinya kau harus membuatkan satu ramuan lagi untuk Felix, dia bisa botak saat bangun nanti." kata Verlin pada Banks yang sibuk meramu ramuan.
Zeki sudah bangun, tapi hanya diam saja. Diajak berbicara oleh siapapun juga tidak mau merespon. Aktivitasnya hanya bangun berjalan-jalan sebentar di luar Rumah Banks kemudian kembali tidur di kamar.
"BELUM!" teriak Cain, Verlin, Banks saat mendengar suara hempasan angin dari luar. Sudah menjadi kebiasaan mereka melakukan itu.
Itu adalah Alex yang bolak-balik mengecek keadaan Felix. Terus mengatakan kalau Felix katanya sudah baik-baik saja karena bisa merasakannya tapi nyatanya Felix belum bangun juga.
"Mau kau apakan rambut Felix itu?!" tanya Verlin benar-benar penasaran.
"Mau kubuat sapu untuk Banks, kapan ulangtahunmu Banks?!" kata Cain.
"Tidak, terimakasih. Lebih baik saya tidak pernah bersih-bersih sama sekali kalau harus menggunakan rambut Yang Mulia sebagai sapu." kata Banks panik hampir menjatuhkan botol ramuan besar persediaannya.
Di Bemfapirav tidak jelas apa sudah pagi atau malam karena hanya terus malam atau kalau cerah pun hanya seperti langit mendung seperti akan hujan deras sekali.
Cain meninggalkan tempat duduknya dan berjalan ke ruangan lain yang ada di Rumah Banks. Kamar yang terdiri dari tiga tempat tidur.
"Kau yakin mereka benar hidup?! tangan mereka dingin sekali ...." Cain cepat-cepat menyiapkan air hangat.
"Sudah tidak bisa dikatakan hidup lagi memang ... kau harus bisa menerima itu!" tapi Banks tetap menambah selimut untuk mereka bertiga.
"Jangan katakan hal seperti itu ...." kata Cain menatap Banks dengan cemberut, "Apalagi jika mereka sudah bangun nanti, tetap perlakukan mereka seperti biasa saja."
"Walau begitu, kita harus membiasakan mereka. Mereka juga akan tahu siapa identitas mereka setelah terbangun nanti. Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk menutupinya." kata Banks.
"Bukankah lebih baik kalau salah satu dari kita yang menjelaskan daripada mendengarnya dari Quiris lain." kata Banks.
"Tidak, setidaknya ... aku sendiri tidak bisa melakukan itu." kata Cain tidak tega.
"Mereka bukannya menjadi monster atau apapun itu ... tidaklah terlalu buruk ... rasanya mereka pasti akan mengerti juga. Lebih baik hidup begini daripada menjadi Zewhit, kan?!" kata Banks mencoba meyakinkan dan juga menghibur. Tapi keduanya sama sekali tidak ada yang berhasil, "Menjadi Zewhit ... salah sedikit kebencian dan dendam yang terpendam bisa mengubah Zewhit menjadi hal yang buruk dan tidak kita inginkan. Apalagi menjadi Zewhit manusia ... banyak sekali resikonya." Banks menegaskan keputusan mereka sudahlah benar.
"Mereka tidak akan membenci aku dan Felix setelah bangun kan?!" tanya Cain benar-benar penuh kekhawatiran terdengar dari nada bicaranya, "Melakukan ini tanpa meminta izin dan menerima persetujuan mereka. Bahkan tidak mengikutkan mereka dalam perencanaan ini."
"Tan pasti akan mengerti apapun itu, Tom tidak terlalu peduli dengan hal seperti itu, apalagi Teo tidak usah diragukan lagi. Dia pasti hanya langsung tertawa lega karena bisa tetap hidup." kata Banks.
"Kau seperti mengenal mereka dengan baik dibanding aku sendiri ...." kata Cain.
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja." kata Banks tersenyum memegang bahu Cain dan keluar dari kamar itu.
Daisy sendiri yang juga dibawa ke Rumah Banks untuk dirawat lukanya sudah sembuh. Hanya terus dibuat tidak sadarkan diri agar tidak melihat apapun disana dan menambah ingatan baru lagi. Setelah itu Daisy diberi ramuan lupa dan diberi ramuan untuk menghilangkan kemampuan matanya karena sudah masuk Mundebris dan juga memberikan ramuan penawar untuk mata Bemfapirav. Sebisa mungkin, Cain meminta pada Banks agar Daisy bisa kembali ke kehidupan normalnya.
"Kita sudah tega memanfaatkan ibu seperti ini ... maaf bu, tapi ini satu-satunya cara agar mereka punya alasan untuk menerima kematian dengan mudah. Maaf sudah menjadikan ibu sebagai pembunuh, tapi itu bukanlah ibu ... maaf, jika nanti aku akan sering bermimpi buruk dan ibu menjadi trauma didalam pikiranku untuk beberapa saat kedepan. Itu karena tidak bisa melupakan wajah yang melukai mereka bertiga. Tapi sama sekali, tidak menganggap itu salah ibu. Hanya saja, mungkin akhir-akhir ini aku akan sulit untuk menemui ibu dulu." kata Cain mengantar Daisy ke rumah sakit. Berbohong pada perawat kalau Daisy ditemukan pingsan di jalan saat bekerja. Cain menggunakan ramuan tipuan mata sehingga wajah dan tubuhnya sama sekali tidak bisa dikenali siapa bahkan akan langsung dilupakan oleh yang melihat.
Saat diperjalanan akan kembali ke Rumah Banks. Cain merindukan satu tempat, itu adalah Panti Asuhan Arbor. Sudah lama, Cain ingin sekali kembali ke panti dan menyapa semua orang panti. Tapi selama ini hanya terus datang diam-diam karena takut ketahuan.
Setelah mendapat pesan dari Dokter Mari kalau sedang ada di panti yang menyuruhnya datang untuk berkunjung karena sudah lama. Cain benar-benar tertarik untuk kesana juga, melupakan kalau itu adalah ajakan dari Dokter Mari yang masih dibencinya.
Cain tiba di depan panti menggunakan cara normal seperti manusia yakni dengan taksi. Tentunya dengan biaya yang sangat mahal tapi Cain punya banyak uang sekarang. Dibanding semua batu permata, Berlian adalah yang paling berharga dan mahal di Mundclariss. Begitupun emas juga, Cain benar-benar beruntung bisa terlahir dari dua keturunan itu, Aluias dan Leaure.
"Aku benar-benar orang tidak beruntung yang paling beruntung di dunia ini." kata Cain menutup pintu taksi setelah membayar tapi didalam dompetnya masih banyak tersisa uang. Cain kemudian masuk melewati pagar, "Tunggu, aura ini ... apakah dia ...." Cain melihat dan merasakan aura Aluias yang samar-samar dan melihat seseorang yang memunggunginya kemudian berbalik. Cain dapat melihat dengan jelas wajah laki-laki yang pernah dilihatnya di foto yang bersama dengan yang dikiranya adalah Ayah Felix tapi ternyata bukan.
"Cain?!" Laki-laki berambut putih dan wajah yang memiliki ciri khas sama dengan Cain itu terlihat sangat bahagia dan mulai berjalan mendekati Cain, "Aku sedang ada di perjalanan kesini saat menghilang sehingga saat dibangkitkan lagi tetap masih disini, jadi lebih baik tetap menunggu kedatanganmu saja disini."
"Sepertinya aku harus menghukum karena tidak datang menyambut dan memberi penghormatan pada Caelvita ... Ayah." kata Cain lama baru menyebut kata terakhirnya itu.
"Aku tidak tahu kalau kau akan menjadi Alvauden ...." kata Ayah Cain mengacak-acak rambut Cain. Cain memandangi wajah yang sangat mirip dengannya saat tertawa. Cain serasa sedang bercermin berhadapan dengan ayahnya secara langsung.
...-BERSAMBUNG-...