
Tidak ada kabar dari Banks, bagi Felix itu adalah pertanda kalau tidak ada hal besar yang perlu dikhawatirkan. Tan, Teo dan Tom sudah terlelap di dalam kamar mereka bahkan belum sempat melaporkan kedatangan mereka pada penjaga asrama. Felix memastikan Tiga Kembar istirahat dengan benar tanpa tidur di lantai barulah dia juga ke kamarnya.
Mertie sudah bisa tersenyum dengan perasaan lega karena bebannya sudah terangkat. Pelatihan dari Timnya sukses besar, bahkan para guru yang menjadi pemateri memuji ide dari Mertie yang baru itu. Pelatihan di acara perkemahan, belum pernah dilakukan oleh Tim sebelum-sebelumnya.
Padahal karena itu juga Mertie membenci dirinya sendiri. Karena ide gegabah yang tidak dipikirkan matang-matang sebelumnya itu menjadi bumerang untuknya. Untungnya semua berjalan normal dan Mertie juga akan mendapat penghargaan sebagai Ketua Tim Pelatihan Persiapan Osis Terbaik beserta anggota timnya juga.
Mertie yang dulunya selalu dikucilkan dan dirundung oleh Geng Halle, kini menjadi primadona sekolah. Bahkan sudah melebihi prestasi dari Cornelia sebelumnya. Cornelia sendiri senang karena tidaklah salah pilih orang untuk menjadi penerusnya. Semua murid sangat mengandalkan Mertie sekarang, bahkan anggota Geng Halle yang tersisa juga sudah mulai merubah sikapnya pada Mertie.
"Walau sebenarnya dia hanya berpura-pura dibully tapi pasti Mertie juga menyimpan dendam ...." kata Tom melihat Mertie mengabaikan Geng Halle.
"Bukan main bagaimana dia dibully, akan mengherankan kalau tidak ...." kata Teo.
"Tapi, Mertie sangat baik menurutku ... kalau aku, pasti sudah membalas mereka dengan cara yang sama. Kalau hanya dengan cara diabaikan seperti itu ... bukan balas dendam namanya." kata Tom.
"Bagaimanapun juga, dia hanya berpura-pura ... Mertie memang pasti sakit hati dan menyimpan rasa benci yang dalam bagi mereka tapi bagi Mertie, mereka sangatlah membantu dalam misi penyusupan di Perusahaan Carlton Group. Setidaknya ... mereka telah berkontribusi besar pada kesuksesan Mertie sebagai Hantu Merah Muda." kata Tan.
***
Mertie yang telah mengetahui bahwa memang sangatlah aman lokasi perkemahan yang dipilih oleh Felix itu tetap mengawasi monitornya. Tidak mengundurkan pengawasan sedikitpun. Sampai waktu tiba untuk kelasnya dan kelas 6 lainnya untuk berangkat ke lokasi perkemahan. Mertie tetap memeriksa keamanan lokasi dengan semua kamera pengawasnya yang masih terpasang.
"Perkemahan sekolah tanpa Cain ...." Teo dengan nada lesuh dan setengah hati menyiapkan barang-barangnya.
"Akhirnya, kita bisa kesana dengan terlihat ...." kata Tom ceria menutupi Teo yang muram.
"Ow, harusnya aku yang mengatakan hal seperti begitu ...." kata Tan merasa tugasnya terdahului sebagai seseorang yang suka berpikiran positif.
"Felix sudah datang!" seru Teo merasakan kehadiran Felix memasuki sekolah.
Sementara jeda istirahat oleh perkemahan kelas 4 dan 5. Felix dan Tiga Kembar memeriksa titik gerbang neraka. Tapi masih belum ada pergerakan, bahkan tidak ada tanda-tanda kemunculan Iblis di area yang pernah didatangi itu.
"Seakan Efrain ingin membuang saja titik yang gagal itu ...." kata Felix terus berpikir sambil berjalan menaiki tangga asrama.
"Memang tidak ada gunanya mempertahankan titik yang gagal itu. Lagipula karena Desa Quinlan ditutup titik juga jadi kacau." kata Iriana.
"Mereka akan membuat titik baru ... hahh ...." Felix sudah menduga tapi masih belum ingin menyimpulkan karena saat ini keselamatan Tiga Kembar adalah yang utama. Menuntun mereka untuk bekerja keras menghentikan gerbang neraka pasti akan berakibat buruk. Tidak bisa dipastikan persiapan Efrain seperti apa untuk gerbang neraka yang baru akan dibuatnya, "Terkadang aku berharap kalau Efrain sadar dan menghentikan penciptaan gerbang neraka setelah gagal ini ...."
"Jangan mengharapkan sesuatu yang kemungkinan terjadinya sangat kecil." kata Iriana.
"Lama kelamaan kau benar sudah terdengar seperti pembimbing juga ...." Felix tertawa, "Hanya saja ... pembunuhan akan terjadi lagi di titik baru." lanjut Felix setelah beberapa saat.
"Banks juga tidak bisa kutemukan dimana, seperti sengaja menghindariku atau memang sedang menyelidiki sesuatu." kata Felix sudah memeriksa pohon yang dijaga Banks dan Rumah Banks tapi kosong. Tidak setiap hari juga Felix bisa kesana memeriksa karena jarak Desa Navaeh tidaklah dekat dengan sekolah, "Dia tidak mengkhianatiku atau apa kan ...." Felix menertawai pikiran buruknya.
"Banks berkhianat?! lebih mustahil daripada mendengar kalau dunia akan kiamat." kata Iriana meyakinkan Felix.
"Aku tahu ... tapi kurasa Banks memang menghindariku." Felix juga tidak bisa menutupi firasatnya, "Rasanya perjuangan kami selama ini sia-sia saja ...." Felix kembali memikirkan bagaiaman perjuangan menghentikan misi ditiap titik gerbang neraka.
"Apa maksudmu?! kau telah menyelamatkan banyak nyawa ... tidak ada yang kau lakukan sia-sia. Hanya saja semuanya menjadi tidak terduga. Terganggunya gerbang neraka adalah keajaiban untukmu sehingga bisa beristirahat sejenak tapi juga akan menjadi bencana juga di masa depan." kata Iriana.
"Tinggal bagaimana aku merespon ini dengan cepat ...." kata Felix.
"Walau kau berusaha keras, kau masih kekurangan tenaga. Anak buah Efrain banyak bisa dibagi-bagi kebanyak tempat sekaligus dan kau hanya berempat, mana bisa mengalahkan mereka. Akan sangat menguntungkan kalau kau menjadi Caelvita Resmi dan bisa mengutus Viviandem untuk mengatasi masalah ini." kata Iriana.
"Seharusnya Optimebris juga bisa kau dapatkan setelah menjadi Caelvita Resmi. Tapi karena aku yang mempunyai Alvauden Raja Neraka, maka kau harus menerima kenyataan untuk tidak mengharapkan bantuan dari Optimebris." kata Iriana setelah beberapa saat Felix hanya diam.
"Dulu kaum mana yang mengganggumu?! yang menjadi Alvauden sebelum Alvaudenmu pasti sangat mengganggumu juga ...." kata Felix.
"Setidaknya tidak separah denganmu ... sulit bagi Alvauden sebelum pemerintahanku untuk membentuk Anti Caelvita karena Viviandem kebanyakan menurut padaku. Sedangkan kau harus mendapat Anti Caelvita seorang Iblis yang tidak terlalu tergantung pada Caelvita maka ... kau sangatlah tidak beruntung!" kata Iriana.
"Hahh ... semua ini gara-gara kau!" kata Felix kesal.
***
Hari keberangkatan Tingkat SD Kelas 6 untuk ke lokasi perkemahan. Kali ini tas Teo dan Tom berukuran kecil dari yang biasanya. Bahkan Bu Corliss yang datang mengantar merasakan kalau Teo dan Tom sedang dalam keadaan suasana hati yang buruk.
"Ibu lihat siapa?!" Tan memperhatikan Daisy terus menatap ke arah lain.
"Tidak ... hanya membayangkan masa sekolah dulu." kata Daisy.
"Tidak ada masalah kan pada kedua saudaramu?!" tanya Bu Corliss.
"Tidak ada bu ...." sahut Tan ceria untuk menutupi.
Felix, Teo dan Tom sudah naik bus duluan sementara Tan masih mengobrol dengan Bu Corliss dan Daisy.
...-BERSAMBUNG-...