
"Kau sekarang benar berbicara seperti seorang Vitiumed ...." kata Felix.
"Aku memang Vitiumed!" kata Tan dengan balasan nada tinggi membuat telinga Felix sakit.
"Kau sudah tahu aku ini sensitif terhadap suara ... bahkan jika kau hanya berbisik aku bisa mendengarmu dari beberapa kilometer jauhnya tahu!" kata Felix.
"Kau tahu apa yang dirasa kurang bagi Caelvita-47 saat pemerintahannya?! Caelvita-47 tidak punya Alvauden yang memiliki Tellopper. Beruntunglah kau memiliki aku!" kata Tan dengan bangganya menyombongkan dirinya sendiri.
"Darimana lagi kau tahu hal seperti itu?! tidak ada informasi yang memuat soal itu terlebih lagi untuk Caelvita-47 yang sangat dirahasiakan." kata Felix mendorong kepala Tan dengan jari telunjuknya.
"Ada deh, pokoknya! kau tidak perlu tahu!" kata Tan mengalihkan pandangannya.
"Ayo kita pulang! aku tidak bisa berlama-lama dengan seseorang yang suka main rahasia-rahasiaan ...." kata Felix.
"Tidak cukup apa dengan semua orang yang bisa kau baca pikirannya ... hanya karena tidak bisa membaca pikiran kami berempat kau jadi lupa kalau bisa mendengar milyaran pikiran manusia lainnya ...." kata Tan tertawa disambut senyuman pasrah dari Felix.
Baru kali ini rasanya mencabut batu permata iblis begitu mudah. Felix dan Tan tidak terlalu membuang-buang tenaga tapi bisa menyelesaikan misi dan pulang tanpa harus memundurkan waktu banyak, tanpa harus dipenuhi luka-luka seperti sebelum-sebelumnya.
"Jarang-jarang ada hari seperti ini untuk kita yang tidak beruntung ...." kata Felix.
"Aku sedang berusaha menikmati setiap detiknya ...." kata Tan menghirup udara tanpa harus terburu-buru seperti kehabisan napas, berjalan dengan santai tanpa harus mengeluhkan sakit jika kaki luka saat berarung. Tapi tetap saja punggungnya masih terasa ngilu, bahkan setelah meminum ramuan.
***
Teo dan Tom yang bertugas jaga di sekolah hanya terus mengawasi dari atas atap gedung tingkat SMP saja. Teo yang merasa dirinya belum siap terus mengikuti aktivitas kedua Zewhit itu sangat menyukai ide Tom dan Tan itu. Tom sendiri juga sudah muak dengan kedua Zewhit itu.
Teo terus memeriksa jam tangannya, "Apa hanya aku yang merasakan kalau waktu seperti berjalan begitu lambat?! bahkan satu detik jadi seperti 1 menit ...."
"Ucapanmu sangat tidak masuk akal! mana ada yang seperti itu ... kalau terus menerus melihat waktu memang akan terasa lama. Jadi, alihkan perhatianmu pada hal lain!" kata Tom yang berbaring di atas kursi panjang sementara Teo duduk diatas pembatas pengaman yang ada di atap.
"Aku hanya berharap waktu berlalu cepat, berharap pagi cepat tiba dan tidak ada yang terjadi ... tidak ada iblis yang datang. Kalaupun ada yang datang di siang hari pasti hanya Zewhit Iblis." kata Teo.
"Mau dibilang kau tidak percaya diri tapi kau merasa hebat bisa melawan Zewhit Iblis ... jangan mimpi! kalau Ditte yang datang kita berdua bisa mati! " kata Tom tertawa kecil, "Tapi setidaknya ada Verlin dan Zeki yang akan membantu kita! pasti saat ini mereka pasti ada disuatu tempat disekitar sini sedang mengawasi juga ....."
"Semoga saja mereka sudah kehilangan minat untuk menangkap kedua Zewhit yang ada di sekolah saat ini ...." kata Teo dengan lesuh tapi penuh harapan.
"Menurutku memang pasti akan butuh waktu yang lama untuk mereka datang kembali ... mengingat Verlin dan Zeki yang berada di pihak kita." kata Tom.
"Tapi ... waktu iblis dan kita berbeda. Bisa saja mereka mengira sudah lama tapi kita baru sebentar. Bisa jadi juga mereka mengira baru sebentar tapi kita sudah lama ...." kata Teo.
Tom menghela napas sambil memainkan suara aneh dengan mulutnya seperti bunyi mesin motor karena Teo mulai lagi mengatakan sesuatu yang aneh.
Teo merasakan tiap detiknya seperti penyiksaan. Bukan hanya karena mengantuk tapi juga karena takut dengan serangan mendadak oleh iblis. Suara tiap detik jam tangannya bahkan semakin menyiksanya, "Luar biasa jam tangan ini ... suaranya sangat besar! apa pakai micropohone ya atau apa?!" kata Teo yang membuat Tom tertawa terbahak-bahak.
"UaaaAahhh!" teriak Teo membuat Tom bangun dan menjadi dalam mode siaga.
"Hahh ... kukira musuh ...." kata Tom setelah melihat siapa orang yang datang ke atap.
"Kau sendiri sedang apa disini?! bukankah keamanan asrama perempuan lebih tinggi daripada asrama laki-laki ...." kata Teo.
"Masih belum ada yang bisa mengalahkanku dalam hal teknologi. Jika keamanan hanya menggunakan teknologi saja, aku bisa kabur kapanpun aku mau. Makanya keamanan dengan menggunakan manusia lebih bagus!" kata Mertie.
"Kalian sedang apa disini malas-malasan?! bukannya keluar?! Kayle pasti saat ini sangat berkerja keras, sedangkan kalian hanya disini bersembunyi seperti hantu ...." lanjut Mertie setelah Teo dan Tom tidak menggubris perkataannya.
"Malas-malasan?! aku juga ingin sekali begitu!" kata Teo.
"Kami tidak bisa memberitahu yang sebenarnya ... hanya karena kami terlihat tidak melakukan apa-apa, bukan berarti kami benar tidak melakukan apa-apa." kata Tom.
"Kalian tahu kan soal gangguan di sekolah saat ini ...." kata Mertie memancing.
Teo dan Tom hanya diam dan kembali dengan posisi awal masing-masing sebelum Mertie datang.
"Aku ingin mencari tahu, tapi sudah kuduga kalau itu ada hubungannya dengan kalian. Jadi, kali ini kutahan rasa penasaran itu ... lagipula akan sulit menjelaskannya dengan teori jika itu terkait dengan kalian." kata Mertie terus berbicara sendirian, "Jika, aku tidak mengenal kalian pasti aku sudah melakukan sesuatu untuk membersihkan nama Hantu Merah Muda yang dituduh dan dijelek-jelekkan sekarang ini."
"Maaf soal itu, tapi ... berkatmu juga tanpa kau sadari bisa membantu banyak orang." kata Tom yang tidak dimengerti Mertie apa maksudnya.
"Tapi, serius ... apa yang sebenarnya kau lakukan disini?!" tanya Teo.
"Gedung ini yang paling tinggi di sekolah jadi aku ingin memasang kamera baruku." jawab Mertie memamerkan kamera yang telah dimodifikasinya sendiri sesuai dengan apa yang diinginkannya.
"Kau mau berbaik hati memberi kami akses untuk melihat rekaman langsungnya? kami juga membutuhkannya." kata Tom.
"Enak saja! aku akan dengan senang hati ... asal kau memberitahu apa yang sedang terjadi di sekolah saat ini! apa yang membuat kalian berdua harus berjaga disini dibanding keluar menyelamatkan orang-orang yang membutuhkan ...." kata Mertie.
"Tidak usah, katakan saja jika kau melihat sesuatu yang aneh." kata Teo sebal.
Mertie bersiap membuka pintu untuk turun lewat tangga tapi berhenti ketika Tom bangun dan mengatakan sesuatu, "Apapun itu, jangan takut!" kata Tom melihat rasa takut Mertie keluar saat akan membuka pintu yang menuju tangga itu.
"Apa? siapa juga yang takut?!" Mertie mengelak dengan hebohnya.
Tapi rasa takut Mertie semakin terlihat bertambah, "Tentu saja! seharusnya kau tidak boleh takut dengan sesama jenismu sendiri!" kata Teo yang membuat Mertie kesal tapi rasa takut Mertie jadi hilang setelah dibuat kesal oleh Teo. Mertie membuka pintu dan menuruni tangga sendirian tanpa takut sama sekali berkat ejekan Teo.
"Kerja bagus, Teo!" kata Tom tertawa.
"Cara paling tepat untuknya itu adalah menjatuhkan harga dirinya ...." kata Teo.
"Kalau kau sih tidak akan malu mengatakan bahwa kau memang takut." kata Tom tertawa.
"Aku tidak peduli soal harga diri dan sebagainya. Aku bukan tipe yang suka jaga image sepertimu dan Tan." kata Teo.
"Ouch!" kata Tom.
...-BERSAMBUNG-...