UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.472 - Acara Inti Perkemahan Sekolah



"Aku sudah kenyang." kata Felix berdiri mengangkat nampan makanannya yang bahkan setengah saja belum habis. Tapi karena kedatangan Dea, Felix tahu kalau pasti akan ada kehebohan lagi seperti saat makan malam kemarin.


"Boleh aku berfoto berdua denganmu, Felix?!" tanya Seorang Anak Perempuan yang tidak dikenal Felix.


"Berani-beraninya kau meminta itu! kau dulunya juga sering menceritakan kejelekan Felix." kata Dea datang menghadang anak perempuan itu mendekati Felix.


"Memangnya kau siapanya Felix?! teman dekatnya?! Felix saja kelihatan enggan bersamamu lama-lama." kata Anak Perempuan itu berani melawan Dea.


"Anak gubernur dan anak calon gubernur, siapa yang akan menang?!" bisik Anak-anak disana yang menonton.


"Hanya dia yang bisa berani melawan Dea seperti itu selain ... Mertie." kata Teo menoleh ke arah Mertia yang sedang makan tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi disana.


"Ayahmu tidak akan berpengaruh lagi kalau sudah turun jabatan. Kau bukan siapa-siapa lagi tahun depan! bukan anak gubernur lagi." kata Clara, Anak dari calon gubernur saingan ayah Dea.


"Ayahmu tidak ada apa-apanya dibandingkan ayahku yang sudah menjabat satu periode. Kupastikan ayahmu akan kalah dalam pemilihan tahun depan. Dan kau akan kubuat berlutut!" balas Dea.


"Karena sudah menjabat selama satu periode, pasti masyarakat sudah tahu kebusukan ayahmu ...." belum selesai perkataan Clara, Dea sudah menjambak rambut Clara.


Pertengkaran antara Dea dan Clara berlangsung sengit. Guru sedang tidak ada di dalam tenda dan anak-anak yang melihat merasa ngeri untuk menghentikan pertengkaran itu.


"Apa anak perempuan memang selalu bertengkar dengan cara seperti ini?! bisa-bisa mereka botak." kata Osvald ngeri sendiri melihat pemandangan itu.


"Mendingan kita kalau bertengkar pakai tinju, bisa dihindari. Kalau mereka ... bagaimana bisa?! rambut mereka sudah tertarik masing-masing. Mana bisa lepas lagi ...." kata Teo memikirkan perbedaan pertengkaran anak laki-laki dan perempuan.


Felix yang merupakan pemicu pertengkaran sudah lama menghilang dari sana. Sementara di dalam tenda masih riuh oleh suara berisik Dea dan Clara serta anak-anak lainnya. Tan, Teo dan Tom hanya menikmati makanannya sambil menonton pertunjukan gratis itu.


"Wah, makanku lahap sekali. Sepertinya kita harus membayar mereka untuk pertunjukan yang menyenangkan ini." kata Teo kembali ke meja setelah menambah makanannya.


Bahkan setelah guru datang, mereka sulit dilerai. Bu Latoya sempat terjatuh karena didorong oleh Dea sedangkan tangan Bu Janet digigit Clara agar dilepaskan.


"Pertunjukan semakin seru saja ...." kata Tom.


Teo sudah tiga kali tambah, itu mungkin merupakan sarapan terbanyak dalam hidupnya.


Meski telah bertengkar hebat dan bahkan melukai guru, Dea dan Clara tidak mendapat hukuman. Karena bagaimanapun saat ini sedang acara perkemahan sekolah. Guru juga tidak tega membuat mereka pulang padahal ini merupakan perkemahan terakhir mereka sebagai murid SD. Bu Latoya baik-baik saja tapi Bu Janet komplain karena kedua anak itu tidak diberi hukuman yang setimpal. Tapi Pak Egan berhasil membujuk Bu Janet juga.


Dea dan Clara hanya mendapatkan hukuman untuk tidak diperbolehkan berdekatan dengan jarak lima meter. Jika dilanggar mereka akan segera dipulangkan. Baik itu Dea maupun Clara mematuhi peraturan dari Pak Egan. Karena Dea dan Clara masih ingin tinggal disana juga.


***


"Perbedaan perkemahan kali ini adalah tidak adanya tiket pinjam. Ada baiknya juga sepertinya kalau glamping seperti ini, kita tidak perlu membuat api unggun di dekat tenda untuk menghangatkan diri." kata Teo.


"Untuk acara api unggun nanti malam juga kita hanya mencari kayu sendiri di dalam hutan. Jadi, tidak perlu meminta kayu dari pengelola perkemahan." kata Tom sudah mengumpulkan banyak kayu ditangannya.


"Aman juga ...." kata Felix tiba-tiba ikut dalam obrolan membuat Tiga Kembar tertawa.


"Dulu saat kelas tiga ... mencari kayu bakar begini, akan ada petunjuk soal harta karun." kata Tom.


Pencarian harta karun memang selalu ada di setiap tahun acara perkemahan angkatan mereka. Tapi waktunya berbeda-beda, saat kelas satu setelah sampai langsung disuruh mencari. Saat kelas dua, sudah mau pulang tapi pencarian harta karun baru dimulai. Kelas tiga, mulai lebih kreatif lagi karena ada petunjuk yang ternyata tersembunyi dari awal perkemahan dan jalan menuju harta karun ada rintangan serta ada juga tantangan dari Pak Egan yang ternyata merupakan ujian persahabatan. Kelas empat, acara malam tepatnya pada malam pertama di lokasi perkemahan berubah menjadi perburuan harta karun. Kelas lima, Felix dan Tiga Kembar tidak ikut acara perkemahan. Sehingga saat kelas enam saat sekarang ini, mereka merasa menyesal tidak ikut perkemahan tahun lalu.


Memang sudah diceritakan oleh Osvald, Parish dan Dallas tapi tetap saja kalau tidak mengalaminya langsung tetap akan ada kekurangan. Terlebih lagi sebuah cerita dari orang lain terkadang dikurangi atau dilebih-lebihkan.


"Tahun lalu saat acara api unggun ... hampir sama seperti kita waktu kelas tiga." kata Tom.


"Apa mungkin sudah ada yang mendapat petunjuk tapi kita tidak tahu ... sama seperti kita dulunya." kata Teo cemas.


"Tapi, kalau memang ada yang disembunyikan pasti Felix akan tahu karena selalu berkeliling." kata Tan, sehingga Teo dan Tom juga menatap Felix sekarang.


Felix memasukkan tangannya ke dalam saku jaket dan mengeluarkan tangannya yang kini telah penuh banyak kertas.


"Kau ... kau menemukan petunjuk!" Teo berteriak tapi dengan suara tertahan.


"Seharusnya kau bilang daritadi." kata Tom.


"Kalian mau mendapatkan beasiswa lagi?! kan kita sudah mendapat dua beasiswa. Kali ini biarkan anak lainnya yang mendapatkan harta karun." kata Felix.


"Kita sudah mengalah waktu kelas empat dan kelas lima. Kali ini tidak akan!" kata Teo.


"Lagipula, kita tetap akan lanjut di Gallagher. Tidak ada salahnya untuk mendapatkan beasiswa tambahan." kata Tan.


"Kita juga butuh uang jajan tambahan karena sering bepergian." kata Tom.


Felix memasang tatapan kosong saat Tiga Kembar merebut kertas petunjuk dari tangannya. Felix mengira kalau mereka akan setuju saja karena ketiga sahabatnya itu sangat baik dan peduli pada orang lain. Tapi semuanya berkebalikan dari yang dibayangkan Felix, ketiga sahabatnya itu malah mengomelinya karena terlambat mengeluarkan petunjuk. Felix masih berdiri di tempat yang sama sementara Tan, Teo dan Tom sudah pergi. Iriana terus menertawai Felix yang masih belum percaya apa yang baru saja terjadi.


"Mereka tidaklah sepolos seperti yang kau bayangkan ...." kata Iriana masih saja tertawa.


Akhirnya Felix mengumpulkan kayu sendirian dan membawanya ke tengah lapangan untuk dikeringkan agar bisa dipakai nanti malam. Tan, Teo dan Tom sudah ada di dalam tenda memeriksa petunjuk. Petunjuk yang ditemukan Felix adalah potongan kertas yang sepertinya mempunyai pola gambar seperti puzzle yang harus dikumpulkan semuanya dan dicocokkan agar bisa ditebak.


"Ini lebih sulit lagi daripada petunjuk waktu kelas tiga. Dulu hanya petunjuk dengan permainan kata ... sekarang puzzle ... hahh ...." Teo mengehela napas melihat banyaknya puzzle tidak jelas apakah gambar, kata atau angka.


"Puzzle seperti ini ibaratkan teka-teki tanpa kunci, hanya mudah diselesaikan kalau ada contoh gambarnya. Kalau tidak ada ...." Tom juga menghela napas.


...-BERSAMBUNG-...