
"Siapa kau?" teriak Antonia.
Teriakan Antonia itu bersamaan dengan peluru dari polisi ditembakkan pada kaki Antonia karena serangan tiba-tibanya itu.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak Antonia kesakitan dan melupakan suara Felix tadi, "Kalian tidak tahu apa yang baru saja kalian lakukan!"
Tangan anak laki-laki itu gemetaran karena terus ditahan oleh Felix. Tapi anak laki-laki itu hanya tersenyum miring menatap Felix, "Yang Mulia ...." Ditte menyapa.
Polisi laki-laki mendekati Antonia untuk diborgol dan polisi perempuan mendekati anak laki-laki itu. Tapi keduanya terpental jauh hanya dengan tatapan anak laki-laki itu. Bahkan Felix hampir tidak bisa bertahan. Antonia sendiri juga pasti tidak bisa bertahan jika tidak ditahan oleh Felix.
Tom datang dan menyiramkan bubuk berwarna biru pada kepala anak itu yang merupakan sisa garam Ruleorum yang sengaja disimpan di depan rumah Nenek Hylmi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Antonia mulai berdiri mengambil pedangnya kembali disaat kedua polisi itu masih berusaha berdiri karena kesakitan.
"Tom, apa yang kau lakukan?" teriak Nek Hylmi.
Tom hanya langsung menggendong anak laki-laki itu dan pergi menjauh dari ibunya. Felix akhirnya bisa bernapas lega meski kini Ditte berpindah ke tubuh Ibu yang sedang terluka itu.
Felix dan Tom tidak punya pilihan lain selain tujuan utamanya untuk mengeluarkan Ditte dari tubuh anak laki-laki itu. Karena Antonia pasti tidak akan segan-segan bahkan untuk membunuh anak kecil sekalipun.
Anak kecil itu sudah pingsan saat dibawa oleh Tom karena Ditte sudah keluar dan tidak punya pilihan lain selain memasuki tubuh Sang Ibu yang sedang terluka, kesakitan dan pusing karena darah dari lukanya terus keluar. Otomatis sasaran empuk hanyalah Ibu dari anak laki-laki itu yang sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja dan pikirannya sedang dilanda stres seketika.
"Kau berani sekali, Tom!" Nek Hylmi memuji.
Para warga kemudian mulai mengelilingi anak laki-laki itu dan membawanya jauh dari situ. Tapi sebelumnya dia memeriksa dulu apakah anak itu benar sedang pingsan karena takut akan diserang kemudian.
Kedua polisi itu bergerak ke arah Ibu yang terluka itu, Tom menatap Felix penuh kekhawatiran.
"Mereka itu polisi! pasti tahu bela diri ...." kata Felix santai.
Tapi keduanya dengan mudah dikalahkan oleh ibu itu. Tom menatap Felix dengan sebal.
"Apa polisi sekarang kurang dalam ilmu bela diri?" kata Felix menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku hanya membiarkannya untuk merasakan bagaimana kekuatan dari seseorang yang dirasuki oleh Iblis. Bukankah selama ini mereka tidak percaya ...." Felix membela dirinya sendiri.
"Tidak lucu, Felix! mereka bisa saja terbunuh ...." kata Tom.
Felix sudah melempar jauh pisau tadi jauh-jauh. Walau warga desa bingung karena pisau terbang sendiri. Tapi itu dilakukan untuk mencegah Ditte memiliki senjata tajam untuk digunakan.
Felix sengaja membuat kedua polisi itu maju menghentikan ibu itu untuk memberi mereka kesadaran bagaimana kekuatan dari seorang manusia bisa berubah menjadi sangat kuat dalam seketika. Apalagi kekuatan hebat dari seorang ibu rumah tangga dan baru saja terluka dan kehilangan banyak darah itu.
"Bagaimana bisa dia sekuat ini? apa benar yang dikatakan bahwa ada Iblis yang merasukinya?" tanya Lian, Polisi laki-laki.
"Mustahil ... itu tidak mungkin! tidak ada yang namanya Iblis atau semacamnya!" kata Kayle, Polisi perempuan.
"Bahkan setelah semua yang terjadi, kalian masih tidak percaya?!" teriak Antonia.
Hanya karena Felix dan Tom mengeluarkan Ditte dari dalam tubuh anak laki-laki itu bukan berarti dia menyetujui bahwa Antonia bisa membunuh ibu itu. Felix dan Tom hanya mengurangi kemungkinan anak laki-laki itu menjadi korban atau menjadi pelaku.
"Aku adalah Pemburu Iblis, di dalam tubuh perempuan itu sedang ada Iblis tingkat tinggi yang harus dibunuh!" jawab Antonia.
"Aku tidak peduli kau itu Pemburu Iblis atau Pemburu Hantu! yang jelas kalau semua ini selesai kau juga akan kubawa ke kantor polisi, jadi mundur dan jangan ikut campur!" kata Kayle memperingatkan dengan nada bicaranya yang dingin.
"Kalian berdua saja yang mundur! kalian bukanlah tandingannya, jika bukan senjata khusus ... Iblis itu tidak akan mati. Peluru tidaklah mempan untuknya!" kata Antonia tidak kalah dingin.
"Kenapa aku harus terjebak dengan kedua perempuan gila ini?! senior Kayle saja sudah cukup merepotkan apalagi ditambah dia! ditambah lagi perempuan yang bisa saja memang sedang dirasuki oleh Iblis ini!" kata Lian dalam hati yang didengar oleh Felix tapi tidak membuat Felix memberikan respon apapun.
Tom tidak bisa membantu karena warga desa masih saja disana menonton, "Apa yang harus kulakuakan untuk membuat mereka kembali ke rumah masing-masing?!"
Ditte membuat tubuh ibu itu melayang, yang menonton berteriak histeris dan mulai berlarian pergi.
"Ow, thankyou!" kata Tom pada Ditte dalam hati, karena yang tinggal hanya beberapa orang kini. Hanya keluarga dari ibu itu dan Nek Hylmi yang merasa bersalah karena itu terjadi saat dirinya mengadakan pesta ulang tahun.
"Kalau segini, Tan dengan mudah membuatkan mereka ramuan pelupa dan melupakan apa yang baru saja dilihat." Tom mulai berdiri dan mengeluarkan kapaknya berdiri di depan kedua polisi tadi dan juga Antonia.
"Alvauden! kau mau melawanku? dengan tubuh dari seorang manusia yang sedang terluka ini?" kata Ditte dengan suara yang menyeramkan dan masih saja dalam keadaan melayang-layang.
"Tidak tahu diri!" kata Tom dalam hati memaki.
"Kenapa kau diam? kau tidak ingin identitasmu sebagai Alvauden terungkap? kau tidak ingin dunia Mun ...." Ditte yang langsung terlempar jatuh.
Felix tidak ingin Ditte menyelesaikan kalimatnya dan menyebutkan nama Mundebris seenaknya. Tom yang melihat Felix mulai menyerang juga untuk maju membantu. Antonia juga maju ikut menyerang dan bisa dikatakan bahwa dia benar ahli dalam ilmu bela diri dan ahli dalam menggunakan pedangnya. Bahkan dapat menyeimbangi Felix dan Tom yang berlatih dengan Banks.
"Ini tidak akan berhasil, saat kita berhasil ... bisa saja ibu itu kehabisan darah." kata Tom mundur karena khawatir dan berhenti menyerang.
Kedua polisi itu hanya bisa menonton dan terus menodongkan senjatanya, entah kini akan ditujukan pada siapa karena ketiganya sungguh mencurigakan.
"Tom ... anak itu ...." Nek Hylmi tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya, "Dia bukan anak biasa rupanya ... dia bukanlah kabur dari rumah melainkan datang kesini untuk melindungi desa."
"Aku mohon selamatkan istriku!" Suami dari perempuan yang dirasuki oleh Ditte itu berlutut memohon.
Darah terus mengalir keluar dari luka ibu itu, "Tolong bunuh aku saja! aku bersyukur bahwa makhluk ini keluar dari putraku jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi ...." suara putus asa dari Ibu itu terdengar masuk ke telinga Felix.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Tom melihat Felix gelisah.
Antonia mengambil kesempatan itu untuk menyerang ibu itu. Karena daritadi Felix kebanyakan menahan serangan Antonia untuk melindungi ibu yang sedang kerasukan itu.
Lian yang melihat itu menjatuhkan pistolnya dan berlari melindungi ibu itu. Kayle menarik pelatuk pistolnya dan peluru masuk ke lengan Antonia. Tapi sudah terlambat karena pedang Antonia sudah bersarang di dalam jantung Lian menembus ibu yang dirasuki oleh Ditte.
"Tidak!" teriak Kayle.
Ditte menyeringai melihat pemandangan itu dan mulai keluar dari tubuh ibu itu karena merasakan bahwa tidak lama lagi dia akan mati dan bersiap pindah ke manusia lainnya.
...-BERSAMBUNG-...