
Sudah lewat tengah malam tapi dunia Zewhit tidak juga terlihat muncul. Biasanya jam tidur Osvald dan Demelza antara pukul 10 malam atau 11 atau paling lambat 12 malam. Tapi karena libur, akhir-akhir ini bahkan tidur lebih cepat dari itu.
Tiga Kembar tidak bisa membantu apa-apa dan hanya bisa terus menjadi penonton saja. Walau kasihan tapi apa boleh buat, mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apa tidak jadi?! apa Felix memberitahu mereka?!" tanya Teo sedang berbaring di atas kursi panjang di dekat mesin minuman.
"Mana mungkin! kau dengar sendiri tadi ...." kata Tom yang agak kesal karena Teo pun juga ada disana saat Felix mengatakan itu tapi masih mempertanyakannya saja.
"Apa Zewhit itu mengundur waktu supaya mereka bisa lebih lama istirahat?!" kata Tan tertawa kecil.
"Begitukah?! aku tidak tahu kalau mereka sebaik itu ...." kata Teo.
"Oh, sudah mulai ...." kata Tom melihat perubahan dekorasi ruangan yang bergerak sendiri.
Tan menghabiskan minumannya dan Tom memasang maskernya dan memasang masker pada Teo juga yang sedang malas bergerak.
"Aaaaaaa!" teriak Teo saat tiba-tiba ditarik oleh Zewhit Badut turun dari kursi.
Zewhit Kurcaci mendendang kaki Tom dan menampar pipi Tan sekaligus dengan cara kaki dan tangan dipanjangkan.
"Apa-apaan?!" Tom emosi.
"Kenapa setiap mau masuk mereka selalu saja terlihat sengaja menyentuh kita?!" kata Tan mulai menyadari itu adalah sebuah pola yang berulang.
"Bersiaplah!" kata Tom mengabaikan perkataan Tan karena melihat Memoriasepirav perlahan sudah mau mendekati kaki mereka.
Osvald dan Demelza terbangun di kamar yang ada di gedung kesehatan sekolah. Akhirnya mereka bisa mengingat kembali apa yang sudah terjadi kemarin malam dan malam-malam sebelumnya. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak bisa kembali ke dalam tubuhnya yang sedang tertidur dengan infus terpasang.
"Aku tidak akan keluar darisini!" kata Demelza hanya duduk saja di dekat tubuhnya berada, tidak ingin jauh-jauh karena sudah tahu apa yang akan terjadi. Begitupun Osvald yang sepertinya sudah tidak punya semangat lagi.
Osvald yang sedang duduk termenung di pojok kamarnya terlihat tidak punya energi sama sekali. Teo dan Tom sangat maklum dengan Osvald yang seperti itu setelah apa yang telah dilalui, mana mungkin punya energi untuk melakukan hal yang sama berulang-ulang.
"Aw!" Osvald baru menyadari kalau tangannya saat ini sedang terikat selang infus yang berasal dari luar kamar. Ada darah mengalir di dalam selang infus itu membuat Osvald panik. Osvald berusaha membuka ikatan itu tapi semakin disentuh semakin erat mengikat tangannya. Hingga akhirnya Osvald tertarik paksa keluar dari kamar itu, "Aku sudah muak! apa yang sebenarnya terjadi?! kenapa hal ini terus terjadi padaku?!" teriak Osvald sangat frustasi.
Sedangkan di kamar Demelza tiba-tiba muncul banyak balon berwarna hitam dan dibawah balon terus menetes cairan hitam juga hampir memenuhi ruangan. Memaksa Demelza untuk harus keluar dari kamar itu.
Akhirnya mereka berdua tiba di ruangan utama tapi tidak bergerak sama sekali. Bahkan tidak merasa penasaran lagi untuk memeriksa ruangan misterius itu.
"Oh ... apa hanya aku yang merasa pusing?!" tanya Teo.
"Bukan pusing, tapi lantai memang sedang miring!" jawab Tom melihat lantai ruangan itu perlahan mulai miring. Osvald dan Demelza juga merasakan itu mulai mencari pegangan agar tidak terjatuh.
Awalnya mereka semua lega karena ruangan berhenti bergerak setelah berputar 90° tapi tak lama kemudian berputar lagi sampai 180° dan mereka semua terjatuh masuk ke dalam dunia masing-masing dengan pintu yang sudah terbuka lebar di tempat mereka terjatuh.
Osvald, Teo dan Tom terjatuh di sungai yang dingin dengan es membeku disekitar mereka. Sedangkan Demelza dan Tan terjatuh di atas wahana permainan kapal viking.
Teo dan Tom tidak basah tapi tetap bisa merasakan dingin yang luar biasa apalagi Osvald yang merupakan target dengan pakaiannya yang sudah basah semua. Bahkan bibir Osvald sudah menjadi ungu dan wajah seputih salju dalam sekejap. Untuk keluar sendiri dari air sepertinya kesusahan karena terus tergelincir jatuh kembali ke dalam air.
"Apa kita bantu saja?!" Teo sudah ingin mengulurkan tangannya menarik Osvald.
Osvald pun berhasil keluar dari dalam air setelah berjuang keras. Bahkan air disekitarnya tadi perlahan mulai membeku. Terlambat sedikit saja, dia bisa saja terperangkap disana.
"Aku harus lebih cepat lagi keluar di malam berikutnya." kata Osvald membuat Teo dan Tom malu sendiri karena Osvald begitu kuat sedangkan mereka yang hanya menonton saja terus mengeluh. Bahkan Osvald sudah membuat rencana agar malam selanjutnya bisa lebih cepat lagi keluar dari air itu.
"Bertahanlah! setelah ini, besok adalah malam terakhir kau merasakan siksaan ini." kata Teo memberi semangat pada orang yang tidak bisa mendengarkan.
"Itu juga, kalau dia bisa melalui malam ini ...." kata Tom.
Osvald gemetaran karena terlalu dingin, terlebih lagi pakaiannya yang basah membuatnya semakin dingin.
"Dia tidak akan mati kedinginan kan?!" Teo khawatir melihat keadaan Osvald yang memprihatinkan.
"Harusnya dia membuka bajunya untuk dikeringkan, kalau terus-terusan memakai baju basah akan bahaya ...." kata Tom.
"Tunggu ... itu!" kata Teo saat mengikuti Osvald yang berjalan menuju sebuah ujung tebing.
"Desa! ada pemukiman warga!" kata Tom heran melihat perubahan suasana baru di dunia Zewhit Kurcaci.
Osvald langsung berlari mencari jalan untuk turun kesana. Mengganti baju dan menghangatkan diri adalah tujuan utamanya saat ini.
"Hati-hati!" teriak Teo melihat Osvald berlari di jalan yang licin dengan terburu-buru.
"Kau pikir dia memikirkan soal itu sekarang?! mustahil untuk bisa berpikir jernih dengan keadaan seperti itu!" kata Tom.
Sementara Demelza dan Tan yang langsung duduk di atas wahana permainan kapal viking ingin segera turun tapi kapal itu tiba-tiba bergerak.
"Oh ... ow!" Tan mulai panik begitupun Demelza yang langsung duduk memasang palang pengaman.
Kapal viking itu bergerak semakin cepat dan semakin tinggi.
"Ini tidak akan terbang sampai ke langit kan?!" Tan mulai meracau karena panik.
Demelza menutup matanya tapi sensasi pusing tetap terasa, "Sepertinya ini tidak akan berakhir ... aku harus mencari jalan untuk turun dari wahana ini!"
"Memangnya kau terpikirkan sesuatu?! bagaimana caranya turun darisini?!" teriak Tan semakin heboh karena wahana itu semakin cepat saja.
Demelza membuka palang pengaman dan mulai terantuk sana-sini. Bahkan mengherankan karena Demelza bisa tidak jatuh darisana. Demelza berusaha untuk mendekati pintu tapi akhirnya terlempar dan wahana itu juga berhenti bergerak.
"Hahh?!" Tan kaget, "Apa dia jatuh?!" Tan melihat ke arah samping kapal mencari Demelza, "Untunglah ...." Demelza berhasil meraih sesuatu di samping kapal itu untuk bergelantungan. Tapi saat ini Demelza berada paling ujung kapal dan area yang paling tinggi, "Dia tidak bisa melompat saja untuk turun, terlalu tinggi ...."
Tapi perlahan kapal itu mulai bergerak sedikit, Tan berlari ke arah Demelza untuk cepat ditolong agar bisa naik kembali karena jika tidak pasti akan celaka kalau kapal itu bergerak lagi.
Tan mengulurkan tangannya tapi kembali menarik tangannya lagi dan duduk, "Tidak ... apa aku harus melakukan ini?! tapi kalau tidak, dia bisa ...." kapal itu kembali bergerak sedikit lagi, "Harus kutolong!" Tan memantapkan dirinya untuk menolong Demelza.
...-BERSAMBUNG-...