UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.274 - Jam Pulang



Sebenarnya tugas Mertie sudah selesai, kini tinggal Felix dan Tiga Kembar untuk beraksi. Tapi Mertie bersikeras tetap membantu. Dari dulu Mertie memang selalu menyiapkan dan membantu mereka dalam keahliannya dibidang teknologi untuk melakukan misi, tapi kali ini sepertinya tidak bisa dilakukan karena untuk membuktikan adanya Iblis merasuki manusia tidak bisa dibuktikan dengan menggunakan teknologi. Sains dan fantasi adalah hal yang bertolak belakang, "Apa aku bisa menyatukan kedua hal itu?" tanya Mertie.


"Hah?" Teo yang mendengar Mertie berbicara sendiri di earpiece.


"Menyatukan apa?" tanya Tan.


"Sains dan fantasi!" jawab Mertie yang sedang berada di kamar asramanya mengawasi lewat laptopnya disaat Felix dan Tiga Kembar sedang ada di lapangan.


"Bagaikan minyak dan air, tidak bisa disatukan. Selamanya akan terpisah dan menempati tempatnya masing-masing ...." kata Tom.


"Tapi, bagaimana kalau aku bisa? bahkan di dunia farmasi saja bisa membuat kedua cairan ini bersatu ... kenapa kau berpikir aku tidak bisa? aku hanya perlu melakukan penelitian dan eksperimen yang banyak!" kata Mertie.


"Air yang tidak sengaja terciprat masuk ke dalam minyak panas saja langsung menunjukkan reaksi berlebihan dan melukai orang disekitarnya ... bagaimana kau mau menyatukan kedua hal itu yang bisa saja dalam prosesnya akan merugikan." kata Teo.


"Haha, terimakasih atas perumpamaannya yang sangat cerdas Teo!" kata Mertie sebal.


"Serius, mustahil!" kata Teo.


"Iya, aku tahu! berhentilah mengatakannya ...." kata Mertie.


"Mertie?!" seru Felix.


"Ya?!" Mertie tahu jika Felix mulai berbicara pasti itu adalah hal penting.


"Kau pasti sudah menyelidiki kesembilan pelaku itu kan?" tanya Felix.


"Tentu saja!" jawab Mertie.


"Apa kau menyimpan catatan psikiater tentang kepribadian masing-masing pelaku?" tanya Felix.


"Ada! kau mau aku membacakannya?" tanya Mertie.


"Ya, coba bacakan!" kata Felix.


"Untuk apa?" tanya Teo.


"Memang tidak ada persamaan khusus diantara korban dari luar tapi bagaimana kalau persamaannya ada di kepribadian mereka? Manusia terkadang menilai dari luar saja tapi Iblis menilai dari hati manusia ...." kata Felix.


"Tapi kita tidak punya pembanding, yang melakukan hipnotis dan yang menjadi korban hipnotis bisa saja dipilih dengan alasan berbeda ...." kata Tom.


"Tan?!" Felix memanggil.


"Ya?!" sahut Tan.


"Kau tahu informasi kartu identitas dari orang kemarin yang kita tangkap kan?" tanya Felix.


"Ya, aku sempat memotretnya." jawab Tan.


"Kalau begitu sudah cukup." kata Felix, "Sekarang tinggal Hantu Merah Muda yang beraksi mencarikan informasi lebih lanjut ...."


"Hahh ... ok! Tan ... kirimkan fotonya!" kata Mertie sambil menghela napas, "Mungkin butuh waktu dan informasi kepribadiannya bisa saja meleset karena aku hanya bisa bertanya ke orang dekatnya saja bukan dari ahli."


"Terkadang orang dekat lebih baik daripada seorang ahli psikologi." kata Tan.


"Seorang ahli yang memang mempelajari dan mendapatkan pendidikan secara formal berbeda." kata Tom menentang Tan.


"Tidak semuanya bisa dijelaskan secara teori, kau tahu itu?!" kata Teo.


"Kau pikir menempuh pendidikan untuk menjadi psikolog itu hanya berdasarkan teori semata? mereka juga praktek terjun langsung ke lapangan." kata Tom tidak mau kalah.


"Diam! dengarkan baik-baik aku tidak akan mengulanginya ...." kata Mertie.


"Kalau begitu katakan yang jelas! jelaskan secara teori bahasa Yardley dengan cara pengucapan yang jelas!" kata Teo.


"Kau sedang meledekku?!" tanya Tom.


"Hahh ... aku tidak peduli lagi, kalian mendengarkan atau tidak! aku akan mulai membaca! pelaku pertama yakni Apuila, catatan kesimpulan psikiater mengatakan bahwa dia memiliki kepribadian yang perfeksionis dan gila kerja tapi tidak ada tanda-tanda gangguan emosi berlebihan yang tidak bisa dikontrol yang mengarah pada psikopat. Terakhir dibagian paling bawah tertulis bahwa Apuila memiliki stres dari tempat dan rekan kerjanya." kata Mertie mulai menjelaskan.


Teo dan Tom yang tadinya berisik juga sudah diam setelah Mertie mulai menjelaskan.


"Pelaku kedua yakni Gentala, tertulis bahwa dia sensitif terhadap bau dan cenderung mengatur kepribadiannya untuk terlihat baik padahal sebenarnya dia malas melakukan sosialisai dengan orang lain. Catatan pentingnya, Sedang pusing memikirkan pernikahan karena usianya."


"Rasanya sudah mulai jelas ...." kata Tom.


"Coba kita dengarkan pelaku ketiga!" kata Felix masih tidak ingin menyimpulkan hanya dengan dua orang saja.


"Pelaku ketiga Darpa seorang mahasiswa pasca sarjana di Universitas Yardley ...."


"Wah, pasti dia pintar sekali bisa masuk ke universitas impian semua orang itu ...." kata Teo menyela Mertie.


"Jurusan Kimia dan saat ini bekerja sebagai asisten dosen dan juga sebagai guru les privat. Catatan kesimpulan hasil konselingnya tertulis bahwa Darpa ini kurang tidur dan gampang emosi. Catatan khususnya, anak yatim piatu."


"Apa-apaan catatan khsususnya itu?! memangnya kalau yatim piatu kenapa?!" Teo sewot.


"Jadi, bagaimana? mau aku lanjutkan lagi?" tanya Mertie.


"Tidak, sudah jelas bagaimana Iblis memilih targetnya. Seseorang yang memiliki banyak pikiran akibat pekerjaan, seseorang yang teliti, seseorang yang inderanya sensitif, seseorang yang kelelahan sehingga bisa dengan mudah dimasuki tubuhnya ... kekurangan tidur dapat menyebabkan kantuk yang berlebihan dan konstentrasi menurun. Semua itu dapat membuat celah untuk Iblis." jawab Felix.


"Aku akan mulai mencari dan memperhatikan seseorang yang terlihat mengantuk atau kelelahan!" kata Teo.


"Semua yang pulang dari bekerja akan mempunyai rupa yang sama!" kata Tom.


"Bagaimana kita bisa tahu orang yang sedang mengalami stres?" tanya Teo.


"Apa tadi katamu Tom?" tanya Felix.


"Em? yang mana?" Tom bingung.


"Yang barusan kau katakan! coba katakan lagi! ulangi sama seperti kau mengatakannya tadi!" kata Felix.


"Yang pulang bekerja akan memiliki penampilan yang sama? itukah?" Tom mengingat-ingat perkataannya.


"Itu dia! pulang!" kata Felix.


"Ah!" Tom juga mulai mengerti.


"Apa? katakan! jangan hanya bersenang-senang sendiri!" kata Teo sebal.


"Benar yang kalian pikirkan!" kata Mertie.


"Ow, kau juga jangan mulai ikut-ikutan!" kata Teo.


"Pelaku pertama melakukan pembunuhannya setelah dari makan malam dengan rekan kerjanya di restoran. Pelaku kedua di akuarium. Pelaku ketiga di mall. Semuanya ada di tempat ramai itu setelah pulang dari kantor atau kampus. Pulang, inti dari semua ini adalah seseorang yang baru saja pulang!" kata Mertie bergitu bersemangat.


"Kalau begitu, kita hanya perlu memperhatikan penampilan seseorang yang terlihat lusuh setelah melakukan aktivitas seharian penuh." kata Tan.


"Makanya, perempuan tidak menjadi target dari Iblis. Biasanya perempuan tetap akan berpenampilan sama saat mulai datang bekerja dan pulang bekerja karena memperbaiki make up dan penampilan sebelum pulang." kata Mertie.


"Apa-apaan kesimpulan itu?! kau pikir laki-laki tidak memperdulikan penampilannya?!" kata Tom.


"Aku hanya berkata begitu ...." kata Mertie.


"Tan? kau dekat dari kereta bawah tanah kan?" tanya Felix.


"Ya? kau mau aku kesana?" tanya Tan.


"Bisa saja Iblis mulai memilih targetnya dari sana dan mengikutinya. Setelah membaca pikiran manusia yang menjadi target, jika sudah sesuai dengan kriterianya barulah dia memilih target." jawab Felix.


"Baiklah aku kesana!" kata Tan.


"Semua yang pulang dengan waktu saat ini pasti jam kerjanya sudah lama lewat atau dengan kata lain lembur ... tentu saja semua orang yang pulang itu akan dengan mudah dirasuki oleh Iblis." kata Tom.


...-BERSAMBUNG-...