
Disaat Goldwin menjemput dan mengantar Cain untuk ke Istana Leaure. Felix sendiri memanggil Duarte untuk diantar ke Istana Emerald. Bukannya untuk ke rumah melainkan untuk menemui Banks yang ada disisi lain di Mundclariss, Desa Navaeh.
Felix juga tidak segan lagi dengan Duarte untuk disuruh-suruh karena sudah mengetahui kalau Duarte adalah Unimaris ibunya. Duarte juga tidak kelihatan seperti terganggu karena harus menempuh perjalanan panjang dan menggunakan kekuatan untuk bisa cepat sampai, malah kelihatan terus tersenyum walau jelas terlihat kelelahan.
"Ow! Yang Mulia!" sapa Banks bahkan sebelum Felix keluar dari gerbang dan Felix juga belum melihat Banks.
Felix terlihat puas dengan pemandangan yang dilihatnya. Dulunya pohon Banks hanya berdiri sendiri di lahan yang kosong dengan banyak bekas pohon habis ditebang dan bekas pembakaran. Sekarang, pohon yang dulu ditanamnya kini tumbuh subur dan mulai kelihatan seperti hutan lagi.
"Ah, ini!" Felix menyerahkan botol semprot kecil, "Sangat membantuku ...."
"Habis? hehe ...." kata Banks yang terdengar seperti kaget karena dihabiskan tapi ekspresinya malah terlihat sangat senang, "Kalau, Yang Mulia butuh sesuatu ... tinggal bilang, akan saya buatkan!"
"Kata Goldwin kau terkenal sekali dulunya sebagai dokter paling hebat dan dengan tingkat kesuksesan 100% tidak pernah gagal menyembuhkan pasien."
"Ah, itu ... Goldwin terlalu berlebihan Yang Mulia!" Banks dengan malu-malu.
"Andaikan saja kau belum menjadi Zewhit ...." Felix menyayangkan orang berbakat seperti Banks malah menjadi penjaga pohon.
"Andaikan adalah kata yang paling menyedihkan Yang Mulia. Hanya bagi yang menyesali pilihan yang telah diambil dan menyesali kehidupan yang telah dijalani yang mengatakan hal itu ...." Banks tidak ingin dikasihani.
"Tunggu saja sebentar lagi ... setelah aku menjadi Caelvita resmi, kau tidak perlu terlalu lama manjadi Nucusno. Aku akan menambah poinmu jadi berlipat ganda agar secepatnya bisa menjalani kehidupan normal seperti saat masih hidup dulu."
"Menjadi Nucusno adalah hal yang mulia, Yang Mulia. Menjaga pohon, sumber kehidupan manusia dan menjaga bumi tetap hijau ... saya tidak menyesal dan merasa rugi dengan pekerjaan ini ...." Banks dengan senyuman.
"Bagaimana kau bisa berakhir menjadi Nucusno? kau bisa menjalani kehidupan seperti biasa kan walau menjadi Zewhit ...." Felix mulai duduk bersandar di pohon sebelah Banks.
"Mungkin terkesan saya melakukan hal yang tidak sesuai dengan pekerjaan saya ... tapi ini perintah dari Sang Caldway, untuk bisa segera mendapatkan banyak poin dan bisa dibangkitkan menjadi Amantasia ...."
"Kau sudah melakukan hal besar, Iriana sudah melakukan hal yang tepat agar kau bisa cepat menjadi Amantasia ... tapi aku tidak menyalahkannya juga karena menjadi Zewhit kau tidak bisa bekerja di pemerintahan Mundebris. Padahal kau berbakat sekali ...." kata Felix.
"Baik itu Yang Mulia, Sang Caldway ... terlalu melebih-lebihkan bakat saya ... Yang Mulia hanya belum bertemu Viviandem atau Iblis lainnya yang lebih ... jauh lebih berbakat dari saya, bahkan Setengah Viviandem banyak yang lebih berbakat juga."
"Begitukah?" kata Felix yang membuat Banks tertawa keras.
Dibalik tawa itu, Felix tahu betul apa yang telah dilakukan Banks sangatlah menjadi penentu kemenangan saat Perang dengan Setengah Sanguiber dulu. Hal itu diketahui saat Felix membaca buku ingatan ibunya yang dengan menjelaskan secara terperinci pemain kunci keberhasilan memenangkan perang dengan Setengah Sanguiber dulu.
"Banks ...."
"Iya, Yang Mulia?"
"Maukah kau menjadi guru pedangku?" tanya Felix.
Banks jadi terheran-heran dengan pertanyaan tiba-tiba Felix itu, "Saya ahli menyembuhkan, Yang Mulia ... bukan ahli pedang ...." Banks dengan senyuman canggung.
"Aku tahu kau berbakat ... hanya karena semua orang terlalu fokus denganmu yang ahli menyembuhkan, tidak memperhatikan bakatmu yang lain ...." kata Felix membuat Banks jadi tidak bisa berkata-kata, "Dan yang paling penting adalah ... yang ahli menyembuhkan akan lebih tahu cara melukai agar tidak bisa disembuhkan kan, ya kan?" kata Felix yang membuat Banks terdiam dan kemudian mulai tertawa.
"Haha ... Yang Mulia berbeda sekali dengan Sang Caldway!"
"Iriana dan aku, pada dasarnya memang orang yang berbeda ... aku tahu kalau semua Quiris mempercayai bahwa Caelvita yang sebenarnya hanya satu orang yang terus terlahir kembali ... tapi aku adalah anak dari ayah dan ibuku!" kata Felix.
"Di depan Istana Emerald! kalau disini, takutnya akan melukai pohon dan tanaman lainnya ... di Mundebris, tanaman dapat melindungi dirinya sendiri!" Felix mulai memanggil gerbangnya.
***
Setibanya disisi lain Desa Navaeh, yakni Istana Besar Emerald. Walau tidak bisa dilihat Banks tapi bisa dirasakan aura kedamaian yang begitu besar. Felix mulai menarik pedangnya dan Banks mengambil posisi siap diserang.
"Kau tidak menggunakan pedang?" tanya Felix.
"Hanya karena saya tidak memiliki, bukan berarti saya tidak bisa melindungi diri ...." jawab Banks begitu percaya diri.
"Jadi kau sedang menyiratkan bahwa aku lawan yang mudah?" Felix merasa agak tersinggung.
"Bagaimana mungkin saya berani Yang Mulia ...." Banks sambil tersenyum.
"Aku tidak akan menahan diri ... bersiaplah!" Felix mulai menyerang.
"Saya malah akan marah kalau Yang Mulia menahan diri ...." Banks dengan santainya menunggu Felix berlari ke arahnya.
Felix mengayunkan pedang tanpa menahan diri sama sekali seperti yang dikatakannya. Felix sama sekali tidak takut jika Banks terluka dan hanya terus menyerang dengan membabi buta.
Banks mendorong Felix menjauh hanya dengan satu tangan, "Yang Mulia terlalu terobsesi mengenai saya, akhirnya banyak gerakan yang tidak perlu. Hal itu sangat membuang-buang tenaga ... Yang Mulia hanya perlu sebisa mungkin mengenai titik vital lawan!"
"Ti ... tik vi ... tal? hahh ... hahh!" Felix seperti kehabisan napas. Kelelahan melakukan gerakan tidak penting seperti yang dikatakan Banks.
"Titik vital Viviandem, Iblis, Setengah Viviandem berbeda ... perlu Yang Mulia ketahui itu ... Viviandem sama dengan manusia, titik vitalnya berupa mata, hidung, tenggorokan, dada, ******** dan lutut ...."
"Aku hanya perlu mengenai kepala kan? tidak perlu memilih lagi antara mata, hidung, tenggorokan ... hanya perlu memotong leher, selesai kan?" kata Felix.
Banks hanya bisa tertawa canggung sekaligus terkejut dengan perkataan yang tidak disangka akan diucapkan oleh Felix itu, "Selanjutnya, titik vital iblis adalah tanduk, telinga, tenggorokan, dada, ekor, mata kaki ...."
"Sama juga, tinggal memotong kepala saja kan ... beres?" kata Felix yang tidak ada keraguan sama sekali.
"Yang Mulia benar-benar berbeda ya ...." kata Banks.
"Kau kecewa aku adalah orang yang seperti ini?" tanya Felix.
"Saya kenal dengan Sang Caldway, tapi beliau lebih memilih melukai agar lawan tidak bisa bergerak untuk melawan lagi tapi Yang Mulia lebih memilih untuk membunuh ...." jawab Banks.
"Jadi, ada apa dengan itu? kau kecewa aku adalah orang yang kasar tanpa belas kasih sama sekali?" tanya Felix serius.
"Caelvita adalah simbol pemimpin bagi Mundebris, dan pemimpin adalah yang mengayomi bawahannya. Sebisa mungkin untuk tidak melukai walaupun yang membencinya sekalipun ... tapi ...."
"Tapi?" tanya Felix.
"Ada satu Caelvita yang saya kenal seperti sifat Yang Mulia ... Caelvita ke-47!"
...-BERSAMBUNG-...