
Cain sudah benar-benar berperan sebagai pewaris papan permainan tukar kematian. Kelihatannya tidak ada yang istimewa, tidak ada yang berubah dari dirinya tapi ternyata dia merencanakan hal ini dari awal. Sesaat, Cain seperti seorang bos yang mengawasi anak buahnya sedang bekerja.
Untuk pertama kalinya mereka memasuki studio rekaman acara televisi. Begitu banyak kamera, staff dan lampu panggung yang begitu cerah membuat Teo dan Tom bertanya-tanya apa yang ada di panggung itu bisa melihat dengan jelas.
Dengan menggunakan garis pelindung dari Cain dan Felix menggunakan Idibalte, agar tidak terlihat walau sedang berada di belakang kamera yang gelap tapi tetap saja digunakan untuk cari aman.
Felix melangkah maju ke atas panggung dengan mengubah wujudnya menjadi malaikat kematian. Para peserta tamu berusia 90 - 100 tahun sedang melakukan lompat tali kelompok. Felix menoleh melihat sahabatnya yang sedang berada di antara kamera. Cain, Tan, Teo dan Tom mengangguk tanda mengiyakan pada Felix untuk menukar kematian sekarang juga.
Sejenak Felix terdiam melihat tawa dari Lander yang begitu bersemangat melompat. Selama ini Felix hanya langsung menukar kematian tanpa melihat sosok pemain. Menukar kematian dengan jarak 10 meter saja tanpa harus melihat bagaimana penampakan terakhir dari pemain terasa berat apalagi melihatnya langsung.
Felix mengeluarkan sabit panjangnya kemudian datanglah jam kehidupan Lander, Felix mengiris jari untuk kesekian kalinya menuliskan nama Lander di atas pisau dan menutup matanya menebas jam kehidupan Lander yang suaranya tidak berhenti berdetak dan begitu keras terdengar masuk ke telinga Felix. Jam kehidupan Lander terbelah dua dan Lander terjatuh saat tertawa mendengar lelucon dari tamu lainnya. Tengkorak yang muncul langsung mengunyah jam kehidupan Lander dan keluarlah Roh Lander dari tubuhnya.
"Aku sudah mati? hahh! siapa kau?! malaikat kematian kah?!" tanya Roh Lander melihat sosok Felix yang tadinya tidak terlihat ada disana.
Haera datang ke hadapan Lander tapi Lander mulai berlari ketakutan menjauh, "Berhenti!" seketika Lander ikut berhenti juga mengikuti perintah Haera, "Ikut denganku!" Lander yang tidak ingin mengikuti Haera kini berjalan dengan sendirinya mengikuti Haera dengan terpaksa.
"Bagaimana bisa tubuhku bergerak sendiri begini?!" kata Lander menangis melihat tubuhnya yang sedang tergeletak di atas panggung sambil terus berjalan.
Keadaan di panggung itu yang tadinya dipenuhi tawa menjadi suram. Acara langsung dihentikan dengan menayangkan iklan, pertolongan pertama terus dilakukan oleh pembawa acara sambil menunggu ambulance datang tapi Lander sudah tidak bernapas lagi dan denyut nadi Lander juga sudah tidak ada.
Felix, Cain, Tan, Teo dan Tom keluar dari gedung penyiaran itu. Tan mengobati luka pada tangan Felix dengan menggunakan ramuan pemberian Banks dan membaluti luka Felix itu dengan plester berwarna hitam sesuai yang diajarkan Banks. Luka dari sabit malaikat kematian sangatlah perih dan tidak mudah sembuh maka dari itu Banks mengajarkan Tan cara merawat luka ala Mundebris yang bisa mengurangi rasa sakit. Luka pada tangan Felix sudah ada empat yang dibalut dengan plester perban hitam Mundebris, "Lama-lama tanganmu akan dipenuhi luka karena menukar kematian!" kata Tan.
"Anggap saja ini sebagai hukumanku ...." kata Felix tersenyum.
"Apa tidak apa-apa kau memiliki luka sebanyak itu? kau baik-baik saja kan?" tanya Teo.
"Kau mau diberi transfusi darah?" tanya Cain.
Felix menggeleng tapi Tan mengangguk, "Akan aku carikan golongan darah A di rumah sakit yang ada disana!" kata Cain mulai berlari.
"Tunggu!" teriak Teo mengikuti Cain.
"Dengan luka seperti itu akan mengundang kecurigaan ...." kata Tom.
"Seperti pengguna narkoba begitu?" tanya Felix tertawa.
"Jangan tertawa!" sahut Tan dan Tom.
Cain dan Teo kembali setelah mencuri persediaan darah di rumah sakit, "Bantu Felix kesana!" perintah Tan menunjuk sebuah kursi yang ada di taman.
Tan menyiapkan alat transfusi darah, "Aku tidak tahu Banks bisa melakukan transfusi darah pada manusia ... bukankah caranya berbeda dengan yang di Mundebris ...." kata Tom.
"Bukan Banks yang mengajariku! tapi aku yang belajar sendiri di internet ...." kata Tan.
Mendengar itu Felix langsung memandang Tan dengan tatapan tidak percaya, "Kau benar tahu cara melakukannya kan?" tanya Felix.
Tan tidak menjawab dan langsung menusuk nadi Felix dengan abocath dan menghubungkannya dengan selang infus set khusus untuk transfusi darah.
"Kau melakukannya seakan sudah ahli dan sudah berulang kali melakukan ini!" kata Teo melihat Tan begitu cekatan.
Tom mengeluarkan cemilan untuk mereka makan di taman itu, "Kita sudah seperti tunawisma saja!" kata Cain.
"Aku ingin ini cepat berlalu ...." kata Teo menghela napas panjang.
"Setelah permainan berakhir, tidak bisa dikatakan semuanya berakhir!" kata Cain.
"Apa kalian pernah menyesal bertemu denganku? jika tidak bertemu pasti kalian tidak akan melewati semua ini ...." kata Felix menutup matanya sambil berbaring karena sinar lampu taman begitu terang.
"Aku tidak pernah menyesal!" kata Tiga Kembar bersamaan, "Hanya saja aku bertanya-tanya saja, jika orang lain yang menjadi Alvaudenmu apakah bisa melakukan semua ini lebih baik dari kami ...." kata Tom.
"Tidak ada yang bisa sebaik kalian! kalian memang sangat cocok dan sudah ditakdirkan menjadi Alvauden ...." kata Cain.
"Bagaimana denganmu?" tanya Teo pada Cain.
"Kalau aku memang Viviandem, bagaimanapun juga pasti bertemu Felix cepat atau lambat!" jawab Cain.
"Berdasarkan apa kau mengatakan kita akan bertemu! aku ini Caelvita! mana mau bertemu Viviandem rendahan sepertimu!" kata Felix membuat mereka tertawa.
"Bertemu kalian adalah hal terbaik yang terjadi dalam hidupku!" kata Tan setelah mereka semua puas tertawa.
"Baiklah ... ayo kita berangkat!" kata Felix mulai bangkit duduk.
"Kau yakin sudah baikan?" tanya Teo.
"Ramuan Banks yang dimasukkan Tan ke dalam kantong darah ini sangat mujarab dan cepat berefek!" jawab Felix.
"Tapi, darah yang masuk masih sedikit!" kata Tom.
"Nanti dilanjut lagi ... kau punya banyak persediaan infus set kan?" tanya Felix.
"Iya ...." dengan ragu Tan menjawab karena sebenarnya ingin agar Felix masih beristirahat.
"Saat ini kita ibaratkan berjalan di atas duri. Berjalan di atas duri tidak bisa singgah lama untuk istirahat, itu hanya akan membuat rasa sakit dan luka semakin dalam. Kita harus cepat berjalan agar bisa lepas dari duri ini ...." kata Felix.
"Untung saja saat ini sedang musim dingin jadi kita tidak perlu khawatir kalau darah ini akan rusak ...." kata Tan melepas infus Felix dan menyimpan sisa darah dengan baik.
Cain meniup udara dan memunculkan jam junghans besarnya yang berkilauan keemasan itu. Cain mengaturnya untuk melompat ke waktu besok yakni hari kelima. Cain memandang satu per satu yang akan dibawanya melompati waktu dan jam junghans berhenti berdetak. Mereka menghilang di malam hari yang gelap dan tiba di siang hari yang terang.
"Apa ini?!" tanya Teo berbalik merasakan panas yang tiba-tiba dari belakang dan banyaknya orang-orang di hadapan mereka sedang melihat sesuatu. FCT3 ikut menoleh kebelakang kemudian melotot dengan pemandangan yang langsung menyambutnya di taman itu. Gedung yang kemarin dimasukinya itu kini dilahap api.
...-BERSAMBUNG-...