
Situasi masih terkendali untuk saat ini tapi Felix merasa ini hanyalah masa tenang sebelum badai. Felix juga sangat menyayangkan sesuatu dari dunia lain yakni Mundebris masuk ke Mundclariss mengacau. Sebelumnya belum memang ada, tapi tidak separah sekarang.
Efrain sepertinya sangat bersungguh-sungguh untuk mengungkap kebenaran adanya dunia lain. Dunia yang tentunya penduduknya lebih kuat dari manusia. Hal itu bisa membuat manusia merasa terintimidasi dan melakukan perlawanan.
Bahkan jika Quiris tidak melakukan penyerangan tapi manusia akan terus merasa terancam dan melakukan penyerangan terlebih dahulu karena ketakutan.
Peristiwa besar ini tentunya membuat Felix terus berpikir untuk kemungkinan buruknya. Mundebris adalah dunia yang asing baginya tapi bagi Mundebris, Felix adalah segala-galanya. Mundclariss adalah tempat Felix lahir dan tumbuh besar. Tentunya Mundclariss adalah dunia yang sangatlah dekat dengannya dan nalurinya untuk menolong manusia tidak bisa juga terhindarkan walau kelihatannya ia terlihat acuh.
Felix ingin melindungi Mundclariss tapi Mundebris juga membutuhkannya. Disaat mencoba menyelamatkan manusia, Felix jadi malu karena terus diingatkan bahwa Viviandem belum ia bangkitkan.
"Apa aku terlalu serakah? ingin melakukan yang terbaik untuk kedua dunia itu? itu? jadi dimana sebenarnya dunia untukku bisa pulang?" Felix merenung.
Teo menjaga di Mundclariss bersama Mertie. Jika terjadi sesuatu, Teo akan menghubungi Tan, Tom dan Felix yang sedang ada di Mundebris. Bagaimanapun juga kontrak dengan tanaman dan hewan Mundebris harus terus dilakukan.
"Ada apa kau menemani kami, Felix? kau bisa pergi melakukan urusanmu ... kami tidak apa-apa!" kata Tan heran melihat Felix masih terus tinggal duduk di bawah pohon padahal biasanya setelah mengantar akan langsung pergi.
"Kau mau ditemani mencari Balduino?" tanya Tom.
"Tidak, sudah ada orang lain yang melakukan itu." jawab Felix.
"Ohya? siapa? kau yakin memberinya tugas itu? tidak mau melakukannya sendiri? seperti bukan kau saja? apa kau sebegitu percayanya pada orang itu?" tanya Tan.
"Dia tidak akan pernah gagal dalam melakukan apa yang dilakukannya, jadi aku tidak perlu khawatir." jawab Felix.
"Begitukah? ternyata ada orang lain selain Cain yang bisa kau percaya ... bahkan kami tidak kau percaya, siapa orang itu?" tanya Tom.
"Seseorang!" jawab Felix malas.
"Apa belum ada tanda-tanda keberadaan Cain?" tanya Tan.
Felix menghela napas panjang dan melemparkan batu karena kesal dan mulai pergi. Batu yang dilempar hanya pasrah dan memasang wajah datar.
"Dia selalu saja marah kalau kita menyebut nama Cain ...." kata Tan.
"Teo? kau tidak tidur kan?" tanya Tom melalui Jaringan Alvauden.
"Apa maksudmu? kau meremehkanku?! aku bahkan bisa menghafal letak batu yang ada di Desa Kimber karena sudah terlalu sering menatapnya." kata Teo.
"Baguslah kalau begitu ...." kata Tom yang sebenarnya Teo mengharapkan pujian tapi Tom hanya terdengar lega saja.
"Kalian sedang apa?" tanya Pohon yang tadi disandari Felix kini ikut membungkuk melihat apa yang dilakukan Tan dan Tom.
"Awas!" Tom panik karena Pohon itu terlalu membungkuk membuat retak di batang pohonnya sendiri.
"Tidak apa-apa Tuan Muda, nanti bisa sembuh lagi!" kata Pohon itu.
"Kami sedang membuat ramuan untuk membuka buku." kata Tan.
"Jenis saya yang lain pernah melihat Viviandem melakukannya, tapi saya sendiri baru bisa melihatnya langsung. Buku ramuan tingkat menengah yang hanya bisa dibuka jika membuat ramuan yang diinginkan dari sampul buku. Jika sesuai maka buku akan terbuka ...." kata Pohon begitu bersemangat membuat daun-daunnya berguguran karena terlalu bergerak.
"Kalau berhasil membuat ramuan penyembuh itu, aku akan melakukan kontrak dengan kalian ...." kata seorang Tikus putih sebesar gajah yang sedang berbaring, yang disekitarnya ada tanaman tinggi sehingga itu menyembunyikan tubuhnya.
"Aku bahkan belum pernah membuat ramuan penyembuh tingkat menengah sama sekali. Banks juga belum mengakuiku sudah lulus tingkat dasar, buku ini juga kuambil diam-diam saat Banks sedang menjaga pohon ...." Tan merasa gugup.
Tom mengangkat buku itu dan memperlihatkan sebuah ukiran tulisan pada sampul buku yang bertuliskan, 'Buatlah Ramuan Penggemuk Hewan'. Dengan sebuah lekukan kecil pada sampul buku untuk ditetesi ramuan untuk dites keberhasilannya. Jika sesuai maka buku baru bisa terbuka.
"Penggemuk hewan? ya makan yang banyak!" kata Teo ikut-ikutan membuat kesal dari jauh.
"Diam, kau!" kata Tom.
Untungnya Tan membawa buku kecil untuk pembuatan ramuan mustahil sebagai jaga-jaga. Di dalamnya terdapat ramuan penggemuk tapi hanya yang bersifat sementara.
"Apa efekknya harus permanen?" tanya Tan mengetuk sampul buku.
"Baca baik-baik! semua petunjuknya sudah ada!" tulisan berubah untuk menjawab pertanyaan kemudian kembali ke tulisan semula.
"Ow jadi yang penting ramuan penggemuk kan ...." kata Tan tersenyum.
"Apa mudah?" tanya Tom.
Senyum Tan langsung hilang seketika setelah mendengar pertanyaan Tom itu, "Bahannya susah di dapatkan! entahlah, apa ada di sekitar sini ...." kata Tan mulai memperhatikan sekitarnya.
"Aku menunggu ...." kata Tikus Putih Besar itu yang memutar dirinya untuk tidur terlentang.
"Aku ingin sekali memukul perutnya yang buncit itu ...." kata Tom lewat pikiran membuat Tan setuju.
***
Felix yang kesal pergi ke Desa Navaeh untuk mengunjungi Banks. Banks bukan hanya seorang guru pedang Felix tapi juga sebagai guru yang mengajarkan pengetahuan Mundebris dari sudut pandang seorang Iblis. Mengingatkannya juga bahwa tidak semua Iblis itu jahat.
"Pohon disini sudah mulai tumbuh subur ...." Felix menyapa dengan berbasa-basi.
"Bagaimana keadaan pohon di Desa Navaeh menjadi bukti bahwa Caelvita sudah semakin kuat, tidak seperti dua tahun lalu yang terlihat banyak pohon ditebang, banyak pohon dibakar dan lahan kosong ... sekarang sudah mulai kembali normal seperti 12 tahun yang lalu lagi." kata Banks.
"Kau membiarkan Tan melakukan itu kan? aku tahu kau mengetahuinya tapi hanya berpura-pura tidak tahu. Aku melihatnya membawa buku ramuan tingkat menengah." Felix mulai duduk disamping Banks.
"Saya tidak bisa memberinya secara langsung karena itu merusak janji saya sebagai seorang ahli ramuan yang tidak boleh menyerahkan buku pada seseorang yang belum menjadi ahli. Jadi jika dicuri atau dipinjam, itu bukan salah saya ...." Banks tertawa.
"Apa Goldwin pernah datang menemuimu?" tanya Felix.
"Saya hanya pernah merasakan kehadirannya di dekat sini, saya kira dia akan datang menyapa tapi ternyata auranya semakin menjauh ...." jawab Banks.
"Bagaimana bisa kau bertahan tanpa Goldwin selama ini?" tanya Felix.
Banks yang tadinya langsung menjawab tanpa membuat Felix menunggu kini menjadi diam lama setelah pertanyaan Felix itu.
"Seperti yang Yang Mulia lakukan sekarang." kata Banks.
"Bahkan saat bersama Cain, aku sudah takut kehilangannya apalagi saat sekarang ... kukira aku ini kuat tapi ternyata setelah tidak ada Cain aku baru sadar kalau selama ini aku bisa melakukan apa saja karena kehadirannya." kata Felix.
"Sekali Alvauden, selamanya Alvauden. Suatu saat Yang Mulia tidak akan mengkhawatirkan hal ini lagi ...." kata Banks.
...-BERSAMBUNG-...