UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.208 - Mencegah Kebakaran



Jujur saja Cain masih sangat lelah, andaikan saja hal sepele yang memungkinkan untuk bisa bolos tapi nyatanya bukan. Karena tidak ada kata istirahat untuk menyelamatkan seseorang. Tidak ada hari dimana tidak ada yang membutuhkan pertolongan.


Walau saat ini misi untuk Cain dan Goldwin tidak datang tiap hari karena istana Leaure juga masih tahap penstabilan. Tapi tetap saja Cain sangat kewalahan melakukan misi, padahal misi yang datang tidak tiap hari, "Saat nanti Viviandem sudah dibangkitkan, semuanya akan stabil kembali dan misi bisa dibagi rata tiap Leaure. Bukan hanya Cain yang bekerja keras sendirian seperti saat ini." kata Goldwin.


Sebenarnya ada Leaure yang melakukan misi pada masa Viviandem belum dibangkitkan adalah hal yang mustahil terjadi. Tapi kenyataan bahwa Cain yang Setengah Leaure mendapat Unimaris dan mendapat misi tidaklah bisa disangkal.


"Turun, tidak!" teriak Cain, "Kau habis makan apa? bau napasmu ...." Cain mengipas-ngipaskan tangannya untuk membuat aroma dari bau mulut Goldwin menghilang.


"Buah darah dicampur susu!" kata Goldwin menjilati mulutnya.


Cain mendorong Goldwin menjauh setelah mendengar itu karena bukan hanya sesak napas tapi ia seperti ingin muntah sekarang.


Mereka berpura-pura kembali ke kamar untuk tidur tapi sebenarnya mereka bersiap untuk berangkat.


"Mereka masih ada di luar!" kata Tom membuka jendela kamar melihat para iblis seperti tidak ada lelahnya memukul-mukul perisai.


"Kita juga harus kembali sebelum pagi ... bagaimana ini?" kata Teo.


Jika menginap di Rumah Daisy mereka tidak perlu khawatir untuk pulang jam berapa. Tapi jika di panti mereka harus kembali tepat waktu sebelum ada yang curiga dan datang ke kamar untuk mengecek keberadaan mereka.


"Tapi kebakaran terjadi pagi hari!" kata Cain, "Makanya ... biar aku saja yang pergi sendiri!" sambungnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri!" kata Felix.


"Maaf mengatakan ini, tapi Felix ... dengan keadaanmu yang sekarang kau itu tidak akan membantu sama sekali!" kata Cain memasang wajah datar.


Felix hanya bisa tersenyum kecut, tidak bisa juga terluka karena memang benar adanya yang dikatakan Cain.


"Kenapa tidak membuat catatan saja!" kata Alger.


"Em?!" Teo ingin penjelasan lebih lanjut.


"Buat catatan bahwa kakak berangkat pagi-pagi sekali!" kata Alger.


"Ow iya, ya ada cara itu!" kata Tom tertawa.


"Itu tandanya kita akan tidur di luar malam ini!" keluh Teo.


"Tenang saja, kita tidak akan tidur ...." kata Tan menepuk-nepuk bahu Teo.


"Kalian ingat kan apa yang terjadi di bank? waktunya tidak sesuai dengan catatan Tom ... bisa saja nanti juga tidak sesuai!" kata Felix mempersiapkan mereka untuk selalu bersiaga makanya mereka ingin berangkat lebih cepat.


"Diri kita masih ada di taman sekarang kan?" tanya Teo sambil mengingat-ingat.


"Tidak masalah, garis pelindung yang akan aku buat level dua. Tidak ada yang akan melihat kita! bahkan diri kita sendiri ...." kata Cain.


"Katanya menggunakan garis pelindung level dua membutuhkan energi dua kali lipat dari pelindung biasa yang hanya tidak kelihatan manusia. Kau tidak apa-apa Cain, terus melakukan itu?" kata Tan.


Semua mata kini tertuju pada Goldwin karena Cain tidak kunjung menjawab pertanyaan.


"Aku duluan!" kata Goldwin menghilang, merasa terbebani dengan pertanyaan itu.


"Jadi kita lewat mana perginya?" tanya Teo.


"Kita melewati mereka saja!" jawab Felix.


"Iya, kita tidak bisa mengambil resiko dan menggunakan Bemfapirav sehingga bisa membuang banyak waktu ...." kata Tan.


"Kau bisa kan, Cain?" tanya Tom.


"Kau ini menganggapku apa? tentu saja aku bisa!" jawab Cain kesal karena tidak dipercayai.


Tan, Teo dan Tom memanjat pagar panti untuk keluar karena tidak bisa berjalan menembus pagar seperti Felix dan Cain. Sementara itu Felix dan Cain berjalan menembus iblis yang sedang berdiri tepat di depan pintu pagar.


Terlihat Kramer dan Linn menggigil memegang kamera untuk menyiapkan bukti.


"Mereka bisa saja mati kedinginan!" kata Teo.


"Khawatirkan dirimu sendiri!" kata Cain.


Tan dan Tom sudah memesan taksi untuk datang menjemput mereka, tapi agak jauh dari halte bus karena bisa saja mereka tertangkap kamera yang ada di mobil Kramer dan Linn. Jadi mereka harus berjalan sebentar dan membuka garis pelindung setelah melihat taksi sudah dekat. Tapi Felix masih tetap memakai Idibalte karena bisa saja para iblis yang sekarang ada di depan gerbang panti langsung muncul menghadang taksi setelah merasakan keberadaan Felix.


"Kenapa tidak ada yang duduk di depan?" tanya sopir taksi.


"Kami tidak suka duduk di depan, pak!" jawab mereka padahal ada Felix yang duduk di depan. Cain dan Tiga Kembar tampak konyol mengatakan itu padahal sedang tersiksa karena harus duduk saling berhimpitan.


Walau Felix mengatur Idibaltenya, seperti Cain yang membuat garis pelindung level dua yang tidak bisa dilihat oleh manusia, Zewhit dan Iblis. Tapi Alvauden tetap bisa melihat mereka, padahal tidak seperti Cain yang memang meminjamkan kekuatan, "Idibalte sepertinya tidak berpengaruh untuk para Alvauden! sepertinya aku tidak bisa bersembunyi dari mereka ...." kata Felix dalam hati.


Sampai di tempat tujuan mereka membayar menggunakan kartu Daisy lagi, "Bagaimana kalau notif masuk ke handphone Bu Sissy?!" kata Tom khawatir karena sudah malam, pasti akan menimbulkan kecurigaan kalau notif biaya pengeluaran menggunakan taksi masuk.


"Kita bilang saja kalau ada keperluan jadi harus kembali ke rumahnya!" kata Teo.


"Kalian pikir Bu Sissy itu bodoh?! dia itu bisa mengungkap kejahatan sebesar apapun, lebih jago bahkan dari detektif!" kata Tan.


"Jangan khawatir, nomor Bu Sissy tidak terhubung dengan kartu ATMnya!" kata Cain.


"Bagaimana bisa?" tanya Tom.


"Aku sudah menyuruh Mertie mengurusnya! bagaimanapun juga kegiatan kita banyak pada malam hari ...." jawab Felix.


"Bu Sissy akan kaget kalau melihat saldonya ternyata berkurang!" kata Teo tertawa.


"Dia juga tidak tahu bagaimana menghabiskan uangnya! jadi lebih baik kita yang habiskan ...." kata Tom.


Mereka melihat diri mereka sendiri yang lain sedang duduk di taman, "Sepertinya tidak lama lagi mereka akan berangkat!" kata Tan.


"Mereka? mereka itu kita!" kata Teo memperbaiki penggunaan kata Tan.


"Ayo cepat kita masuk!" kata Felix.


Goldwin sudah ada di dalam sangat mencolok karena bulu emasnya yang bersinar terang saat lampu dimatikan.


"Jadi bagaimana putra Lander itu membakar gedung perusahaanya sendiri?!" Tom mulai berpikir.


"Kebakarannya mulai saat subuh, itu tandanya setelah Lander dibawa ke rumah sakit ... mungkin saat pulang dari rumah sakit mendengar kabar bahwa Lander sudah tidak ada barulah putra Lander itu memicu kebakaran!" kata Felix.


Goldwin tiba-tiba membuatkan dirinya sendiri juga garis pelindung, "Ada apa Goldwin?" tanya Cain.


"Ada iblis mendekat!" sahut Goldwin.


"Itu, Efrain!" kata Felix sangat yakin.


"Apa kita menghampirinya?" tanya Teo.


"Tidak! kita tidak perlu peduli apa yang dikatakan Efrain untuk membujuk ... yang harus kita lakukan adalah mencegah kebakaran terjadi!" Felix masih sama, tidak tertarik mengetahuo metode apa yang digunakan Efrain.


Mereka mulai berpencar untuk memeriksa keadaan di dalam gedung, tapi anehnya memang tidak ada fire sprinkler terpasang. Padahal seharusnya semua gedung yang ada di pusat kota memiliki itu. Tidak heran jika kebakaran yang terjadi begitu besar.


...-BERSAMBUNG-...