
Iblis diketahui merupakan kaum yang takut pada air. Berada di dalam air bisa membuat kekuatan iblis melemah. Tapi seiring dengan perubahan zaman, sudah banyak iblis yang mengatasi rasa takut itu. Tidak semua iblis sekarang takut dengan air, walau memang tetap iblis akan sangat dirugikan jika bertarung di dalam air. Tapi sudah banyak iblis yang pintar berenang tidak seperti zaman dulu yang iblis memang tidak ada yang akan mendekat kalau ada air.
Zeki sendiri yang mengambil inisiatif mengajari Banks untuk berenang. Karena selalu menghambat kalau ada misi yang menyangkut air.
"Sampai kapan kau akan takut dengan air?! apa kau kucing?! kucing saja zaman sekarang pintar berenang!" teriak Zeki diseberang sungai.
"Aku ini kambing!" kata Efrain hanya terus mengepak kesulitan untuk mengambang dan sudah menelan banyak air.
"Kambing di Mundclariss pintar berenang, tahu!" teriak Zeki.
"Zeki, tolong dia!" kata Iriana khawatir.
"Jangan memanjakannya Iriana!" teriak Zeki.
"Iya, dia harus dilatih ... terakhir kali, kita gagal menangkap penjahat karena dia tidak mau mendekati air." kata Dave.
Suara gemercik air tidak terdengar lagi, Efrain menghilang.
"Oh tidak, dia tenggelam ...." kata Iriana langsung terjun masuk ke dalam air mencari keberadaan Efrain.
"Hahh ... dia tidak akan pernah pintar berenang!" kata Dave sambil menghela napas.
Efrain muncul bersama dengan Iriana. Dave mengeluarkan sebuah tali memanjang mengikat leher Efrain dan langsung menariknya mendekat ke pinggir sungai. Iriana memegang erat Efrain agar bisa menghemat energi juga untuk tidak harus berenang.
"Lepaskan! aku tidak bisa bernapas." keluh Efrain pada tali dilehernya.
Dave menarik lepas tali itu hingga memendek dengan ukuran hanya 1 cm saja kemudian dimasukkan kembali ke dalam sakunya.
Mereka berempat hanya diam, Zeki yang sedang kesal, Dave yang tidak bisa ditebak ekspresinya, Efrain yang sesak napas, Iriana yang sedang kedinginan. Tanpa sengaja mata mereka berempat bertemu dan mereka mulai tertawa bersama.
Zeki yang sedang menunggu diatas permukaan air terbuai oleh kenangan masa lalunya, "Semua kenangan manis pada masanya dan akan pahit saat tiba masanya." kata Zeki dalam hati.
Bisa dibilang, saat ini Zeki sedang unggul. Mengambil alih dunia pikiran dan mengetahui kelemahan lawan, "Sepertinya inilah akhirnya Efrain ... ka ... kau ...." Zeki yang sedang merayakan kemenangannya melihat pedang berwarna jingga menembus dari belakang hingga kedepan dadanya. Zeki berbalik dan melihat Efrain, "Kau berhasil naik ...." Zeki terududuk lemas tapi masih bisa mempertahankan dirinya diatas permukaan air walau sebagian kakinya sudah ada di dalam air.
"Kau mengajariku berenang, kau lupa?!" kata Efrain.
"Aku tidak tahu kau sudah bisa ...." kata Zeki kesulitan berbicara.
"Kau memang guru yang buruk tapi karena itu juga aku selalu berlatih sendirian dan akhirnya aku bisa juga berenang." kata Efrain.
"Iriana dan Dave pasti akan senang mendengar kau bisa berenang ...." kata Zeki memegang pedang Efrain dan mendorongnya kebelakang kemudian menarik dibelakang punggungnya hingga lepas dengan menggunakan dahan pohon yang dipanjangkan. Efrain hanya mengamati bagaiamana menderitanya Zeki melepas pedangnya itu.
"Dilihat dari bagaimana dia tidak memenggal kepalaku menandakan dia masih ragu ...." kata Zeki dalam hati.
Air disana berubah warna menjadi merah karena darah Zeki yang terus mengalir. Bulan purnama palsu yang bersinar begitu terang di dunia pikiran itu membuat jelas bagaimana darah Zeki kini mulai kelihatan menyebar.
Efrain kelihatan mulai menyalakan api ditangannya dan menarik pedangnya yang tenggelam di dalam air seperti menggunakan magnet. Zeki mengambil kesempatan itu dengan melemparkan botol ke arah Efrain.
Efrain mematikan api ditangannya dan menghancurkan botol itu hingga cairan di dalamnya jatuh ke dalam air menimbulkan busa yang banyak. Efrain terbang tinggi kemudian memuntahkan api dari mulutnya ke bawah. Api dibawah Efrain menjadi lebih besar dari yang dimulai Efrain sebelumnya.
Saat api menghilang, Zeki sudah tergeletak diatas tanah dengan luka dimana-mana. Zeki menghilangkan air yang ada disana tapi tergolong terlambat.
Efrain mendarat di dekat kepala Zeki, "Kau pikir aku tidak mengenalmu?! aku mengenalmu dengan sangat baik Zeki." kata Efrain.
"Kita pernah berjuang bersama-sama dalam satu tim, sudah sewajarnya jika aku tahu bagaimana membaca gerakan dan pikiranmu tanpa kau beritahu." kata Efrain.
"Aku tersanjung ... tidak kusangka kau masih tahu cara kerjaku." kata Zeki masih dengan keadaan berbaring, "Sepertinya ... ini akhirnya! bunuh aku Efrain! kali ini sungguhan ...."
"Selamat tinggal Zeki ...." kata Efrain menyiapkan pedangnya.
"Selamat tinggal ... Efrain!" kata Zeki menutup matanya.
Sementara itu di dunia pikiran lain yang ada Felix, "Tidak ... Zeki ...." kata Iriana.
"Ada apa?!" tanya Felix.
Tidak ada jawaban dari Iriana, jadi Felix hanya menebak jawabannya sendiri. Felix terbang tinggi ke atas kemudian dengan cepat menjatuhkan pukulannya saat mendarat dengan api hijau melahap seluruh dunia pikiran yang mengurungnya.
"Ow, sudah waktunya!" kata Banks melihat dunia pikiran disebelah Teo semuanya hanya dipenuhi sinar hijau terang.
"Hahh ... aku masih belum selesai." keluh Verlin.
Banks dan Verlin mendapatkan kode sinyal dari Felix dan mulai melakukan semuanya sesuai strategi yang telah direncanakan.
Pertarungan di dalam dunia pikiran sudah jelas tidak terhindarkan, maka dari itu Felix tidak diam saja. Sudah menyusun rencana dari lama.
"Jadi, kapan kita melakukannya?" tanya Verlin.
"Saat aku beri tanda." sahut Felix.
"Tanda?! seperti apa?!" tanya Verlin.
"Kau akan tahu saat melihatnya nanti." jawab Felix.
"Jadi, itu tandanya?!" kata Verlin tertawa saat mengingat bagaimana saat masih menyusun rencana.
Banks dan Verlin memegang tanah dan mereka berdua didorong naik oleh peti mati yang muncul dari dalam tanah. Peti mati itu terbuka dan muncul tengkorak.
"Waw, begini rupa tubuhku yang sekarang?!" Verlin jijik sendiri dengan tubuh aslinya yang tinggal tulang belulang itu. Verlin memegang tengkorak kepala tubuhnya yang berada di dalam peti kemudian kerangka tubuhnya itu berubah menjadi sangat besar begitupun Banks.
Verlin dan Banks naik keatas tengkorak kepala kerangkanya sendiri dan menancapkan pedang disana. Kerangka mereka berdua kelihatan memanjangkan tulang pada bagian lengan memegang kedua sisi dunia pikiran kemudian Verlin dan Banks memutar pedangnya searah jarum jam seperti memutar kunci di pintu.
Efrain menutup matanya saat akan mengayunkan pedangnya, "Maaf ...." Efrain meneteskan air mata tapi merasa ada yang aneh dan membuka matanya. Karena pedangnya terasa ringan mengayun, tidak ada tanda hambatan sama sekali. Ternyata Zeki sudah tidak ada dihadapannya, "Dimana ...."
"Disini!" kata Tom.
"Bagaimana bisa kau ada disini?!" tanya Efrain.
"Dunia pikiran ini sudah tergabung satu sama lain. Tidak ada lagi penghalang!" kata Tan yang muncul dibelakang Efrain.
"Kau pikir kami datang tanpa rencana?! kami bukan hewan ternak yang pasrah menerima takdir untuk disembelih. Kami mempersiapkan diri untuk hari ini!" kata Tom menyeringai.
Efrain menghapus air matanya, "Hahh ...." sambil mendengus tertawa tidak habis pikir. Kemudian berlari dengan cepat ke arah Tom yang sedang memangku Zeki, "Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi!"
...-BERSAMBUNG-...