UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.219 - Pengubah Suasana



Sekolah Gallagher dengan keras menentang bahwa potongan jari kelingking yang ditemukan itu bukanlah asli melainkan hanyalah mainan. Jelas-jelas Goldwin telah memastikan bahwa itu jari asli dan darah asli. Entah bagaimana bagian forensik ikut dalam sandiwara yang dibuat oleh sekolah. Walau begitu rumor sudah beredar dan kebanyakan orang-orang mempercayai apa yang ingin dipercayai saja. Sekuat apapun dari pihak sekolah menutupi, tetap saja gosip terus beredar.


Mati-matian sekolah mempromosikan sekolah lebih besar lagi dari biasanya. Fasilitas sekolah juga semakin ditingkatkan dan bangunan sekolah mulai diperluas dan ditambah lagi. Rumor buruk beredar tidak mempengaruhi kepopuleran Sekolah Gallagher yang menarik anak baru untuk mendaftar.


"Entah aku harus bersyukur atau bagaimana?" kata Teo tidak habis pikir melihat antusias anak baru yang mulai mengambil formulir pendaftaran. Biasanya formulir pendaftaran baru bisa diambil saat bulan januari tapi dari sekolah mempercepat. Jumlah batas murid yang diterima juga lebih banyak dari sebelumnya.


Haera datang langsung menyandarkan kepalanya di atas kepala Cain sebagai rutinitasnya setiap pagi untuk datang melapor dan memeriksa keadaan Cain.


"Apa hanya perasaanku atau kau memang bertambah berat?!" kata Cain berjalan menunduk.


Haera menyisir rambut Cain dengan rapi kemudian pamit untuk pergi.


"Haera sebenarnya kemana kalau tidak bersamamu?" tanya Tom penasaran.


"Masalah perusahaan, orang luar dilarang ikut campur!" kata Cain.


"Perusahaan darimananya?!" Tom sebal.


"Perusahaan PTK!" kata Cain.


"Permainan Tukar Kematian maksudmu?!" kata Teo tertawa.


Balduino lewat disamping mereka saat hendak memasuki sekolah. Dengan menyapa sopan membuat mereka merasa tidak nyaman.


"Kita seumuran, bagaimana bisa dia membungkuk lebih dari 90° begitu?" kata Tom.


"Karena Viviandem belum bangkit kita bisa saja merasa tidak enak tapi setelah Viviandem bangkit nantinya kita akan mendapat perlakuan yang sama juga, biasakan dirimu! bagaimanapun juga dia adalah Setengah Ruleorum!" kata Cain.


"Kau ini ... kalau sama manusia baik sekali, semuanya dijadikan teman tapi kalau seseorang yang berhubungan dengan Mundebris semuanya di kasari." kata Tan menohok.


"Padahal kau baik sekali sebelum tahu identitas Balduino ...." kata Teo.


"Jangan lengah sedikitpun! situasi sekarang sama saja kita sedang seatap dengan musuh ...." kata Cain.


"Tidak ada yang ingin kau katakan?!" kata Tom menatap Felix meminta agar Felix juga ikut mengomentari Cain yang sangat sensitif.


"Tidak ada salahnya mengikuti saran Cain! tapi kita juga tidak boleh terlalu berlebihan dalam menyikapi sesuatu yang mencurigakan, bisa saja itu menghalangi kita dalam menilai sesuatu dengan benar ...." kata Felix sebisa mungkin tidak berpihak pada siapapun untuk menjernihkan dirinya dalam berpikir.


"Aku lupa! kalau yang paling menyebalkan itu dirimu!" kata Teo jengkel.


"Memangnya apa yang aku harapkan ...." kata Tom kecewa.


Di dalam kelas suasana begitu suram dan sepi. Semuanya terlihat ketakutan dan tidak berani membuka mulut sedikitpun. Padahal biasanya kelas sudah berisik karena candaan anak-anak yang tiada habisnya. Bagi Cain dan Tiga Kembar memang sepi tidak ada suara, tapi lain bagi Felix yang bisa mendengar semua ketakutan dan keluhan dari pikiran mereka.


"Ini sih kuburan, bukan kelas!" teriakan Teo yang menggelegar karena kelas tidak ada suara sama sekali.


"Kau ini pakai microphone atau apa? kenapa suaramu keras sekali?!" sebuah tongkat mengenai kepala Teo.


"Aw!" Teo berbalik melihat siapa yang melakukan itu, "Pak Egan?"


"Pak Egan? sudah sembuh?" tanya anak-anak mulai membuka mulut.


"Katanya kalian merindukan bapak, jadi bapak juga cepat sembuh! terimakasih ...." kata Pak Egan membuat suasana kelas dipenuhi tawa.


"Untung kalian berdua saja yang menyebalkan begini ... coba bayangkan kalau Tan juga seperti kalian?! menyerah deh bapak jadi wali kelas kalian ...." kata Pak Egan bercanda mengubah suasana kelas perlahan mulai ceria lagi.


Karena insiden potongan jari kelingking itu, Balduino dijauhi oleh anak-anak lain. Takut katanya bisa kena sial juga. Di kantin Balduino makan sendirian di satu meja panjang yang biasanya puluhan anak bisa duduk disana. Sangat kentara kalau dia kini dihindari dan terlihat seperti sedang dikucilkan.


"Jangan bilang kau akan kesana ...." kata Cain menghentikan Felix.


"Kau juga akan diperlakukan sama seperti Balduino nantinya ...." kata Tom khawatir.


"Aku ikut Felix kalau begitu!" kata Teo.


"Teo ...." Tan berusaha menahan Teo.


"Memangnya apa bedanya kita dengan anak lainnya kalau ikut menghindar? sama saja kita juga ikut mengucilkannya!" kata Felix.


"Memangnya, kau pikir aku mengkhawatirkan itu sekarang?!" kata Cain.


"Kau pikir aku tidak bisa menjaga diriku sendiri? lagipula apa mungkin? baginya menyerang di tempat umum seperti ini ...." kata Felix mulai berjalan dengan Teo mengikut dibelakang.


Cain, Tan dan Tom duduk di meja seberang sambil mengawasi pergerakan Balduino. Teo terlihat dengan polosnya berbagi makanan dengan Balduino. Felix yang sedang menikmati makan siang tiba-tiba terhalang oleh Dea yang menarik tangan kirinya, "Apa-apaan kau ini?!" teriak Felix.


"Jangan duduk dengannya Felix!" teriak Dea.


"Memangnya kau siapa berani memerintahku?!" kata Felix.


"Kau tidak dengar apa yang dikatakan anak-anak lain? mereka mengatakan 'Tidak Heran katanya anak sial akur dengan anak sial lainnya' ingin kurobek mulut mereka satu per satu rasanya!" kata Dea melempar gelas hingga pecah membuat keributan di kantin.


"Kau ini sudah gila ya?!" teriak Felix.


"Kau yang sudah gila! apa yang kau pikirkan sampai-sampai duduk dan makan bersama anak pembawa sial ini!" balas Dea.


"Jaga ucapanmu! kenapa juga aku harus peduli dengan perkataan buruk orang lain?! hahh?! memangnya jika mereka mengatakan begitu apa sudah menjamin kebenarannya benar begitu? tidak kan?! itu semua hanyalah dugaan kalian! memangnya kalian pikir kalian sehebat apa sampai-sampai menghakimi sesuatu yang tidak ada buktinya?!" teriak Felix kini pada semua anak-anak yang ada di kantin. Semuanya kini mengalihkan perhatian dan berhenti berbisik-bisik.


Felix mengambil nampan makanannya dan pergi darisana. Bagaimanapun juga napsu makannya sudah hilang. Padahal saat Veneormi mulai menyembuhkannya, ia sudah mulai bisa makan sedikit tapi semuanya kacau karena kelakukan Dea.


"Maaf ... gara-gara saya, anda jadi tidak makan ...." Balduino menemui Felix yang duduk sendirian di lorong sekolah yang sepi dan gelap sambil menyerahkan roti dan susu.


"Terimakasih ...." Felix menerima pemberian Balduino, "Aku sebenarnya tidak berhak menerima ini ... yang tadi kulakukan bukannya kulakukan untukmu!"


"Tapi kedengarannya begitu ...." kata Balduino.


"Hahh ... sebenarnya kau ini orang yang seperti apa?!" tanya Felix dalam hati sambil menghela napas. Tidak mudah mengetahui Balduino jahat atau tidak hanya dari perkataan dan tingkah laku.


"Aku mencarimu kemana-mana!" teriak Cain.


"Ow, kau sudah dapat makanan ... kalau begitu biar ini aku yang makan!" kata Teo memakan makanan yang hendak diberikan pada Felix


"Saya adalah orang baik, Yang Mulia ...." kata Balduino lewat pikiran.


"Bagaimana bisa? kau bisa berbicara lewat pikiran juga?" tanya Felix lewat pikiran juga dengan ekspresi kaget.


...-BERSAMBUNG-...