
Teo memeluk Kiana begitu erat sampai-sampai Kiana mengeluh karena sesak napas, "Kakak kenapa menangis? memangnya Kiana cubit?" tanya Kiana membuat Teo yang masih menangis jadi tertawa keras, "Oooh nanti pantat kakak belbulu loh! kalau menangis dan teltawa belsamaan ...." Teo tambah tertawa.
"Ahahaha Kiana, kakak hampir mati karena tertawa!" kata Teo masih menstatbilkan napasnya.
"Kakak jangan mati!" seru Kiana.
"Hampir ...." kata Teo memeluk Kiana lagi, "Kiana harus berumur panjang, mimpi dan cita-cita Kiana harus terwujud semua, tumbuh jadi perempuan yang cantik, nanti kalau punya pacar kenalin sama kakak ya?!"
"Kalau begitu kakak juga halus belumul panjang, supaya bisa bantu Kiana menggapai mimpi dan cita-cita Kiana!"
"Pastinya! kakak akan berumur panjang sampai jadi kakek-kakek, tidak apa-apa kan?" kata Teo.
"Um! nanti biar Kiana yang potong janggut kakak ...."
"Kak Felix!" teriak Alger mulai berlari.
"Em?!" Teo mencari keberadaan Felix tapi tidak ditemukan dimanapun.
Sementara itu Tan sibuk mencatat lokasi dimana dia gagal melakukan kontrak, daripada berhenti lebih baik terus saja meneruskan perjalanan. Nanti setelah selesai baru kembali lagi melakukan kontrak dan jika beruntung bisa menemukan jenis yang sama di tempat lain yang ternyata kepribadiannya lebih baik daripada yang tidak mau melakukan kontrak, maka akan lebih bagus lagi. Begitulah strategi baru Tan.
"Kau sedang memata-mataiku atau hanya tidak punya pekerjaan lain makanya mengikutiku?!" kata Tan.
"Blak-blakan sekali!" Heather tertawa.
"Aku sedang tidak punya banyak waktu untuk mengobrol santai!" kata Tan.
"Kalau begitu ayo lakukan kontrak denganku?!" kata Heather membuat Tan melotot.
"Apa? aku tidak salah dengar kan?! kau itu Unimaris!" kata Tan.
"Bagaimanapun juga Unimaris adalah hewan Mundebris! tentu saja bisa melakukan kontrak juga!" kata Heather.
"Tapi Verlin pernah bilang, jangan sekali-kali melakukan kontrak dengan Unimaris. Beruntung jika Unimaris itu belum punya Tuan tapi kalau sudah punya Tuan, yang menjadi Tuan Unimaris itu tidak punya pilihan lain selain membunuh yang melakukan kontrak dengan Unimarisnya ...." kata Tan.
"Memang Unimaris tidak termasuk dalam peraturan kontrak dan Unimaris tidak boleh menjalin kontrak, sementara sudah atau akan memiliki Tuan. Itu akan membuat koneksi antar Unimaris dengan Tuan terganggu tapi sistem Unimaris di Ruleorum berbeda dengan yang lain. Di kerajaan lain, Viviandem akan memanggil Unimaris yang memang ditakdirkan untuknya. Tapi di Ruleorum Unimarislah yang memilih Viviandem yang pantas dijadikan Tuan ...." kata Heather.
"Jadi, yang ingin kau katakan adalah ...." Tan mulai tersenyum.
"Aku hanya tidak perlu memilih Viviandem. Mudah kan?!" kata Heather ikut tersenyum.
"Kenapa kau baik begini padaku? apa karena aku Alvauden?" tanya Tan tidak menyangka Unimaris mengajukan diri untuk melakukan kontrak dengannya. Padahal buku yang pernah dibawa Cain untuk dibaca mengatakan bahwa Unimaris walau bisa, tidak akan mau melakukan kontrak dengan siapapun.
"Bisa dibilang hanya iseng saja!" kata Heather mulai tertawa.
"Apa-apaan?!" kata Tan.
Heather langsung menggambar lingkaran sihir mengelilingi Tan dan kemudian menggambar lingkaran sihir untuknya juga yang saling terhubung, "Dengan ini aku Heather Corvus Sapphire mengabdikan hidup dan matiku untuk ketiga anak manusia ...." Heather melirik Tan meminta nama.
"Thane Zerach, Trayvon Zerach, Thomas Zerach!" Tan menyebutkan.
"Bernama ... Thane Zerach Emerald, Trayvon Zerach Emerald, Thomas Zerach Emerald!" Heather melanjutkan dan lingkaran sihir tadi mulai bersinar biru menyilaukan mata Tan.
"Kenapa ditambahkan Emerald dibelakang nama?" tanya Tan setelah sinar biru dan lingkaran sihir itu menghilang.
"Heather?!"
"Ah, iya! maaf ... nama Emerald sudah seharusnya ditambahkan untuk Alvauden dan ya! kita sudah melakukan kontrak!" jawab Heather setelah lama terlihat murung.
"Apa kau menyesali melakukan kontrak?" tanya Tan.
"Tidak! hanya saja ... hahh ... sudahlah, abaikan saja hahaha!" sahut Heather seperti menyembunyikan sesuatu tapi Tan tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran sangat berharga itu.
"Tanda kita sudah melakukan kontrak berupa apa? aku tidak melihat ada tambahan cincin?" tanya Tan memeriksa tangan dan kakinya.
"Tidak akan terlihat tapi ada di suatu tempat!" sahut Heather.
Tan mulai melanjutkan lagi perjalanannya, kali ini ditemani Heather walau dari kejauhan karena Heather lebih suka terbang diantara pepohonan.
"Yang Mulia berhutang budi padaku!" kata Heather dalam hati.
***
Felix yang sedang membaca buku di perpustakaan Ruleorum mencari informasi tentang Pusaka Papan Permainan Tukar Kematian sedangkan Duarte tidak berhenti memukul-mukul dinding pelindung di luar gerbang istana karena tidak bisa masuk.
"Tunggu sebentar!" kata Felix lewat pikiran pada Duarte karena jadi tidak bisa fokus dengan bunyi dari dinding pelindung yang tidak berhenti bersinar karena terus dipukuli.
"Hahh ...." Duarte menghela napas cemberut karena ingin masuk ke dalam istana juga. Tak lama Duarte kembali memukul-mukul dinding pelindung membuat Felix hilang kesabaran dan mendatangi Duarte untuk dimarahi.
"Kau pikir hanya ada 10 buku saja untuk diperiksa! bisa tidak kau duduk diam saja ... ada apa denganmu?! tidak biasanya kan kau begini!!!" kata Felix.
"Saya tidak tahan mendengar suara mereka Tuan Muda!" tunjuk Duarte pada katak yang sedang berjejer rapi dan terus mengeluarkan suara seperti sedang paduan suara.
Istana Ruleorum memang dikelilingi oleh danau yang luas. Hampir tidak ada rumput di halaman, hanya ada jalan setapak menuju pintu masuk istana saja. Selebihnya adalah air yang berwarna biru.
"Baiklah, kau bisa ketempat lain dulu ... tidak usah menungguku!" kata Felix.
"Tapi tanggal di Mundclariss sudah hampir berubah ke tanggal baru!" kata Duarte.
"Tidak apa-apa, nanti aku panggil Cain untuk bisa kembali sebelum hari berganti di Mundclariss!" kata Felix.
Duarte langsung terbang menjauh secepatnya darisana setelah mendapat izin dari Felix.
"Kalian sengaja kan melakukan itu?!" kata Felix pada katak yang tiba-tiba berhenti bersuara setelah Duarte pergi.
Tapi katak hanya langsung bernyanyi lagi untuk mengeles, "Uhhuk!" salah satu katak batuk.
"Tahu rasa!" kata Felix kesal.
Para katak itu mulai melompat ke dalam air dan mulai berenang tapi terus bernyanyi seakan mengejek Felix.
Felix hanya bisa tertawa tidak habis pikir dan mulai masuk ke dalam istana lagi. Felix memandangi dasar danau yang banyak permata safir dan istana yang berhiaskan permata safir juga, "Padahal sudah lama aku ingin kesini, baru kesampaian setelah Cain sudah terlanjur memasuki dunia ini ... terlebih lagi Teo, Tan dan Tom tapi entah bagaimana ini memang sudah ditakdirkan!" Kiana yang menjadi salah satu pemain mungkin saja bisa tertolong berkat keberadaan Cain dan Tiga Kembar.
"Aku juga tidak terlalu percaya diri bisa menyelamatkan Kiana dengan kekuatanku sendiri!" Felix meremas rambutnya tidak percaya dirinya yang sangat mandiri dan tidak ketergantungan dengan orang lain sekarang malah sangat bersyukur ada keempat sahabat disisinya.
...-BERSAMBUNG-...