
Ted bebas pergi seperti itu menandakan CEO Carlton Group atau Ayah Ted tidak tahu menahu perbuatan Ted. Jika Ayah Ted tahu sesuatu pasti sekarang Ted sudah di bawa ke luar negeri untuk membuat alibi.
"Aku tidak menyalahkan, karena siapa coba yang bisa mengira jika dia adalah Pembunuh Berantai?!" Mertie mulai mengalungkan teropongnya dan membuka laptopnya.
"Dia memang bisa disebut Pembunuh Berantai tapi Ted lebih tepatnya adalah Pembunuh Liar ...." jawab Cain mulai ikut menatap apa yang sedang dilakukan Mertie, "Tapi sebenarnya kau belajar soal komputer darimana?"
Mertie berhenti mengetik, "Memang apa bedanya Pembunuhan Berantai dengan Pembunuhan Liar?"
"Kau jago main komputer tapi tidak tahu?" Cain mulai nyengir sendiri.
"Tidak semua orang punya pengetahuan yang sama ... dan pengetahuanmu yang lebih banyak tidak menunjukkan bahwa pengetahuanmu lebih baik dariku!" balas Mertie.
"Kalau ngomong bisa tidak ... gak pakai teka-teki?! hahh ...." Cain menghela napas kesal, "Jadi ... kenapa aku bilang pembunuhan liar karena Ted hanya membunuh orang secara acak dan dengan jangka waktu pendek dengan korban berikutnya, sedangkan pembunuhan berantai biasanya memiliki kesamaan pada masing-masing korban sesuai kriteria pembunuh dan biasanya jangka waktu membunuhnya dengan korban selanjutnya agak lama ...."
"Aku tidak mengerti kenapa ada yang menggolongkannya seperti itu tapi bagiku mau itu pembunuhan liar atau pembunuhan berantai tidak lebih dari hanya seorang pembunuh dan tidak harus dikategorikan macam-macam seakan kita memang belajar untuk memahami pikiran seorang pembunuh ... mereka tidak perlu dimengerti dan tidak perlu dipelajari!" kata Mertie ketus.
"Mereka juga hanya manusia biasa yang menjadi korban dari jahatnya lingkungan ...." balas Cain.
"Jadi kau pikir mereka adalah manusia biasa yang tersakiti?! tidak ... mereka dari awal memang tercipta menjadi seorang monster!" kata Mertie.
"Kau ini tidak punya rasa kasihan sama sekali ya?!" Cain menutup laptop Mertie.
"Kenapa aku harus mengasihani seorang pembunuh?! dengan kau mengatakan bahwa dia hanya manusia biasa yang mengalami hal tidak beruntung dan akhirnya menjadi monster pembunuh, seakan kau menyiratkan aku juga akan menjadi seperti dia!!!" suara Mertie mulai berubah seperti akan menangis.
"A ... ku tidak ...." Cain tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Aku yang hidup dilingkungan yang buruk, dibully oleh teman sekolah, harus hidup terpisah oleh kedua orangtua ... tanpa sengaja kau sedang menyiratkan aku juga salah satu orang tidak beruntung dan akan menjadi monster seperti dia!!!" Mertie memasukkan barang-barangnya dalam tas dan mulai meninggalkan Cain.
"Mertie!" teriak Cain.
Mertie tidak berbalik sedikitpun dan hanya terus berjalan ditengah hutan dekat mansion keluarga Carlton yang jauh dari pemukiman penduduk.
"Mungkin kau lupa ... tapi aku juga salah satu yang tidak beruntung itu! tapi aku pastikan ... baik itu kau atau aku tidak akan tumbuh menjadi Ted yang lain ...." Cain berlari menghadang Mertie untuk menjelaskan.
Mertie mulai tenang dan mulai menarik napas dalam, "Tentu saja ... kita akan hidup normal diantara orang beruntung
.. aku pastikan itu!"
"Pasti katamu?!" kata seseorang dari belakang Mertie.
Cain segera menarik Mertie dan melindungi dari tongkat bisbol yang dipegang oleh Ted.
"Aku juga dulu orang baik seperti kalian tapi disakiti dan hanya melakukan hal yang sama dengan menyakiti orang lain ... bukankah itu bisa dikatakan impas?!" kata Ted ingin memukul Mertie juga tapi Cain yang kepalanya sudah terluka dan berdarah mencoba melindungi Mertie sebisa mungkin.
"Jangan! pukul saja aku! kau bisa memukulku sepuas hatimu!" kata Cain memohon dikaki Ted.
"Jangan khawatir kau akan puas merasakannya juga nanti!" kata Ted mulai menarik rambut Mertie.
"Bagaimana kau bisa tahu kami ada disini?" tanya Mertie gemetaran yang merasakan sakit luar biasa saat rambutnya ditarik.
"Tidak!!!" teriak Cain tapi langsung dipukul oleh Ted lagi dan akhirnya Cain pingsan juga.
Ted menyeret Cain dan Mertie dengan cara ditarik oleh masing-masing tangannya dan memasukkannya kedalam bagasi mobil, "Memang lebih mudah menangkap anak kecil ... lemah, kecil dan bisa muat dimana saja ...." Ted dengan senyum puas.
Cain merasakan matanya begitu dingin, "Kau tidak apa-apa?" tanya Goldwin mengusap-usapkan hidungnya pada mata Cain.
"Kau darimana saja?!" kata Cain kesal, "Eh ... Mertie?!"
"Dia tidak apa-apa ...." Goldwin mulai menyingkir dari depan wajah Cain agar Cain bisa melihat Mertie, "Sekarang ayo kita ke Bemfapirav!" kata Goldwin.
"Tidak ... ini semua sudah sesuai rencana, aku dan Mertie tahu betul kalau seluruh mansion dan sekitarnya penuh dengan cctv. Rencana ini bertujuan ... sengaja membuat Ted menculik kami!"
"Apa?! itu tindakan yang sangat ... sangat ceroboh! darimana kau belajar strategi bodoh seperti itu?" teriak Goldwin.
"Terkesan ceroboh tapi ini rencana yang sempurna tahu!" Cain mulai memasang senyuman, "Jangan khawatir ... aku dengan mudahnya bisa membawa Mertie pergi Bemfapirav tapi sengaja mendapatkan pukulan, menurutmu kenapa?"
"Kukira kau bisa menjaga diri sendiri makanya aku tinggal saat ada alarm peringatan tadi saat kau dalam bahaya ... tapi nyatanya kau hanyalah anak ingusan yang sangat ceroboh!" kata Goldwin serius marah.
"Kalau benar-benar dalam masalah aku hanya perlu membawa Mertie ke Bemfapirav dengan cepat ... jangan khawatir!" Cain mulai menyadari untuk pertama kalinya Goldwin betul-betul marah.
"Jadi karena itu Tuan Muda tidak datang menolongmu?!" kata Goldwin menurunkan nada suaranya.
"Aku sebisa mungkin tadi ... tidak memasang perasaan sedang dalam bahaya, seperti katamu ... Felix hanya datang saat aku merasa disudutkan dan meminta tolong ... sulit sekali mengendalikan perasaanku tadi ... berapa kali selalu kuulang-ulang terus dalam pikiranku bahwa aku saat ini sedang baik-baik saja ...."
"Itu hanya perkiraanku saja dari buku yang pernah aku baca tapi tidak ada yang bisa dengan jelas mendeskripsikan ikatan yang terhubung antara Caelvita dan Alvauden!" kata Goldwin mulai membangunkan Mertie.
Setelah Mertie bangun ia hanya langsung tertawa melihat Cain, "Sudah kuduga rencanamu ini akan berhasil tapi tidak kusangka benar terjadi ... hahh ... sakitnya ...." Mertie mulai tertawa lagi, "Kau memang hebat Cain!"
"Aku minta maaf soal yang tadi ...." kata Cain.
"Kukira itu adalah bagian dari aktingmu juga? hahaha!"
Mobil yang dibawa Ted pun berhenti dan mereka berdua langsung pura-pura pingsan lagi saat Ted membuka bagasi.
Cain membuka matanya sedikit, "Di perusahaan ... sesuai perkiraan!"
Mertie sudah membuat rencana agar Ted membawa Mertie dan Cain ke perusahaan bukannya ke peternakan atau pabrik. Dengan memberi wartawan informasi palsu untuk datang ke peternakan dan pabrik sehingga Ted tidak punya pilihan lain selain membawanya ke ruang rahasia yang ada di perusahaan.
"Memang ini tindakan nekat mengingat bisa jadi Ted punya tempat rahasia lain ...." Mertie membuka mata sedikit untuk melihat Cain yang sedang dipotong rambutnya oleh Ted.
"Kau lihat kan ... mempelajari pikirian seorang pembunuh bukanlah hal yang buruk ...." kata Cain dalam hati mulai tersenyum karena sadar Mertie sedang melihat untuk menunjukkan dia baik-baik saja.
"Sekarang aku bisa melihat lukamu dengan jelas!" kata Ted puas memandangi luka pada kepala Cain.
...-BERSAMBUNG-...