
Beberapa hari berlalu setelah penyerahan piagam penghargaan yang membuat Felix kesal itu, tapi kini piagam itu malah terpajang di dinding kamar Felix dan Cain. Felix seakan sudah terbiasa dan tidak mempermasalahkannya lagi padahal sebelumnya Felix ingin segera membuangnya sesaat setelah menerimanya. Tapi Cain malah memberikan komentar menggelikan, "Kau tidak kasihan dengan kertas ini yang berasal dari pohon ... setidaknya hargai pengorbanan pohon yang sudah menjadi kertas ini, mana lagi tinta dan bingkainya ... wah itu namanya pemborosan dan sangat tidak menghargai alam!" Felix jadi tidak bisa berkata-kata saking berlebihannya ekspresi Cain saat mengatakan itu.
Akhir pekan, FCT3 pulang ke panti karena sudah lama tidak ikut membantu pekerjaan di panti. Bahkan pagi-pagi sekali mereka bergerak membersihkan padahal anak yang lain belum bangun.
Cain memperhatikan Felix yang sedang membuat gelang lagi dengan diisi oleh helaian rambutnya, "Lama-lama kau akan botak!" sindir Cain saat melihat Felix mencabuti rambutnya, "Kau sedang tidak berpikir membuat gelang untuk semua orang yang hidup di dunia ini kan?!" Cain melihat Felix yang sudah lihai membuat gelang saking sudah terbiasanya dan sudah sangat banyak yang ia buat. Tapi Cain juga tidak bisa menghentikan itu karena memang terbukti berguna. Saat kerja bakti tadi pagi, Felix banyak mencegah anak lain terluka. Bahkan mengetahui sebelum kejadian itu tejadi dengan sudah menyiapkan matras yang awalnya dimarahi Ibu Corliss karena mengeluarkan matras yang sudah bersih itu ternyata itu dipakai untuk menolong Zan yang terjatuh saat menaiki tangga untuk mengecat.
"Apa ada tanda, begitu? maksudku saat yang memakai gelang pemberianmu itu dalam bahaya?" Cain penasaran dengan cara kerjanya.
Felix hanya mengangguk dan serius membuat gelang. Cain menyadari diamnya Felix itu, "Kau melihat masa depan mereka? melihat saat mereka terluka? bukankah itu sangat mengganggu ... melihat masa depan seseorang terluka yang walau bisa dicegah. Tapi apa itu bisa membantumu melupakan masa depan mengerikan seseorang yang kau tolong itu?! mereka yang ditolong memang tidak akan tahu apa-apa tapi kau akan tetap mengingatnya ...." Cain merasa Felix bisa saja tertekan dengan masa depan yang belum terjadi dengan melihat kejadian buruk. Mungkin saja bisa dicegah tapi bukankah itu akan selamanya menjadi bagian dari ingatan Felix.
Felix menjatuhkan gelang yang dibuatnya dan mulai berlari keluar kamar, "Ada apa?" teriak Cain.
Cain mengejarnya dan menemukan Felix sedang berada dibelakang panti sedang membongkar tempat sampah yang ada korek gas. Setelah menemukan itu Felix terlihat lega melihat Kiana datang mencari jepitan rambutnya di tempat sampah. Bisa disimpulkan bahwa Felix melihat Kiana terluka saat mencari jepitan rambutnya di tempat sampah karena korek gas yang dibuang sembarangan itu.
Tengah malam Felix bangun dengan panik sampai-sampai terbentur sana-sini tapi tanpa mengeluh kesakitan sama sekali. Cain terbangun mendengar suara benturan itu dan melihat Felix membuka pintu kamar dan berlari. Ternyata ada kompor di dapur yang lupa dimatikan. Petugas dapur baru datang saat Felix sudah mematikan kompor, "Terimakasih Felix, maaf tadi ibu lupa matikan!" kata petugas dapur.
"Aku tidak sanggup melihatmu terus begini Felix!" kata Cain dalam hati melihat Felix bercucuran keringat di tengah malam yang dingin, "Bisa tidak kau abaikan saja! semuanya pasti akan baik-baik saja!" kata Cain memberikan segelas air.
"Kau tidak tahu saja apa yang kulihat ... walau tidak sampai membuat panti kebakaran tapi dapur hancur karena itu!" kata Felix meneguk habis langsung semua air itu.
"Dari yang kudengar jika menghalangi takdir manusia walau itu yang kecil pasti akan tetap terjadi suatu saat! walau kau mencegahnya pasti akan terjadi juga suatu saat nanti ... begitulah takdir manusia!" kata Cain.
"Aku tidak peduli! selama aku bisa menghentikannya akan aku lakukan! setidaknya kau harus memihakku untuk ini Cain!" kata Felix.
"Kau sudah tidak bisa menikmati hidupmu lagi Felix! aku tidak bisa membiarkan itu ...." kata Cain tidak terima.
"Makanya ... bantu aku Cain!" Felix terlihat sangat kelelahan.
"Aku membiarkanmu memberikan gelang pada Mertie dan Ibu Viola, semata-mata untuk bisa mengetahui jika ada Ted mendekati mereka berdua ... untuk kau tahu saja aku tidak terlalu peduli dengan apa yang akan terjadi dengan mereka berdua. Tapi dengan seisi panti yang kau berikan gelang dan terus kau bantu seperti ini ... aku tidak membiarkanmu! biarkan saja semua terjadi ...." kata Cain.
Felix tertawa mendengar perkataan Cain itu, "Jangan tertawa! aku sedang tidak bercanda ...." kata Cain.
"Hanya saja ...." Felix masih tertawa.
"Hanya saja apa? karena aku Leaure? makanya tidak meyakinkan jika yang kukatakan tadi benar keluar dari mulutku sendiri? aku memang peduli dengan orang lain ... tapi sebelum itu aku lebih mempedulikanmu!" kata Cain.
"Jika Leaure lain mendengarmu pasti akan sangat tercengang ...." kata Felix.
"Aku tidak terlalu ingin dikekang oleh sebuah hal. Hanya karena aku ini Leaure, bukan berarti aku tidak boleh egois dan harus terus mementingkan kepentingan orang banyak!" kata Cain.
"Hanya karena kau Alvauden, bukan berarti kau harus mementingkanku terus!" kata Felix.
Cain menghela napas panjang, "Aku tidak ingin terikat oleh gelar Alvauden dan Leaure. Yang kupentingkan hanyalah aku tidak bisa melihatmu menderita seperti ini ... jujur jika boleh memilih aku ingin kau meninggalkan gelar Caelvita dan menjadi manusia biasa ... yang hanya menjalani kehidupan normal!"
"Aku tahu kau memikirkan hal yang sama denganku kan? ingin agar aku menjadi manusia biasa dan menjalani kehidupan normal ...." kata Cain membuat Felix kaget mengira jika Cain membaca pikirannya.
"Aku sudah mulai melepaskan hal itu! aku tidak bisa selamanya egois! aku sudah mulai menerima bahwa kau itu Leaure dan juga Alvauden. Kita sama-sama menanggung sebuah tanggung jawab besar ... kita tidak bisa selamanya menghindar terus kan?!" kata Felix.
***
Disaat FCT3 menuju ruang makan untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah, terlihat Daisy sedang duduk sambil mengetik dilaptopnya dengan roti panjang dimulutnya perlahan masuk dan dihabiskan.
"Bu!" sapa Cain.
"Em?" Daisy menjawab malas.
"Bu!" kali ini Felix yang meninggikan suaranya.
"Bikin kaget saja! ada apa?" kata Daisy mulai memperhatikan Felix dan Cain yang datang ke mejanya.
"Bisa minta daftar nama yang mengikuti acara hari itu?" tanya Cain.
"Waktu penyerahan penghargaan kalian itu?" tanya Daisy.
"Iya!" jawab Felix.
"Untuk apa?" tanya Daisy.
"Em ... untuk lebih mengenal pemimpin negara kita ini!" kata Cain asal.
"Baiklah ... nanti ibu mintakan!" kata Daisy.
"Ibu yang terbaik!" Cain menyuapi roti.
"Tapi ibu sedang mengetik berita apa?" Cain dengan penasaran mengintip laptop Daisy sambil senyum-senyum sendiri tapi setelah membaca baik-baik isi berita itu Cain langsung berhenti tersenyum, "Ditemukan bukti penggelapan uang negara oleh beberapa pemimpin politik yang masih dalam tahap penyelidikan!"
"Apa yang dimaksud itu, datang pada saat acara itu?" tanya Felix.
Daisy mengangguk, walau begitu ia tidak mengatakan siapa nama yang dimaksud itu. Felix memang sempat mendengar mimpi seseorang yang sangat menginginkan sebuah uang yang berjumlah banyak ditujukan untuk pembangunan fasilitas umum.
"Apa itu karena mimpi yang diberikan Ted? sehingga membuat seseorang dibutakan oleh uang yang bukan miliknya itu? tapi apa itu bisa disebut karena Ted? memunculkan keinginan terpendam seseorang untuk berbuat jahat ... apa kita bisa menyalahkan Ted akan itu?" kata Felix dalam hati.
...-BERSAMBUNG-...