
Felix yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya dengan memakai seragam sekolah lengkap. Belum pernah tidur karena barusan datang dari Mundebris dan langsung bersiap-siap untuk berangkat sekolah lagi. Tapi melihat masih ada waktu sebentar, Felix membaringkan dirinya dulu. Semalaman punggungnya tidak pernah dibaringkan dengan benar karena terus mondar-mandir di Mundebris.
Mengelilingi kota yang sepi, hanya ada peri kecil yang sepertinya sudah disewa oleh Viviandem pemilik toko sehingga menjaga toko tetap bersih dan juga ada yang mengawasi selama Viviandem belum dibangkitkan. Para peri itu sibuk mengelap kaca toko, ada juga toko yang tidak ada peri untuk membersihkan. Felix berjalan mengelilingi Mundebris, tapi dunia gelap itu tetap saja terlalu luas untuk bisa dikelilingi.
Bahkan Tan, Teo dan Tom yang sudah mulai berjalan jauh untuk melakukan kontrak harus mengatur waktu lebih cermat lagi saat berada di Mundebris karena saat kembali ke Mundclariss, tak terasa sudah berada jauh dari pusat kota. Jika tanpa YTE pasti mereka sudah terlambat untuk kembali ke sekolah.
Suara ketukan pintu dari luar kamar Felix terdengar, Felix enggan bangun karena masih ingin berbaring. Tapi akhirnya memaksakan dirinya untuk berdiri membuka pintu karena yang mengetuk bisa dirasakan auranya, "Em?" kata Felix membuka pintu dan menyapa dengan malas.
"Kau sudah lihat ini?" tanya Teo memperlihatkan smartphonenya.
"Apa itu?" Felix mengambil smartphone dari tangan Teo.
Felix tidak punya Handphone lagi karena handphone bersamanya dengan Cain, Cain lah yang membawa. Cain membawanya pergi untuk ikut dihukum juga. Entah bagaimana nasib handphone bersamanya itu sekarang. Bahkan Tan, Teo dan Tom sudah menukar tambah handphonenya dengan model baru.
"Bulan ini saja sudah ada dua kebakaran panti asuhan ... bukankah sebaiknya kita menyelidikinya!" kata Tan.
"Aku mau memberitahumu tapi menunggu ada yang mencurigakan dulu ... dua panti asuhan terbakar dalam sebulan, bukankah sudah menjadi bukti ...." kata Tom.
"Tapi tidak ada korban jiwa kan?" tanya Felix.
"Tidak ada sih ... tunggu! kau berkata seperti itu seakan sudah tahu hal ini terjadi?" kata Tan.
"Aku belum pernah bilang ya ...." kata Felix menyisir rambut hitam palsu dengan tangannya.
"Bilang apa? ada yang sengaja belum kau katakan pada kami?" tanya Teo.
"Bukannya sengaja tapi aku lupa ...." jawab Felix.
"Kalau begitu katakan!" kata Tom.
"Semenjak mengetahui identitasku yang sebenarnya ... yang pertama aku lakukan adalah menyelidiki kebakaran panti asuhanku yang dulu. Dari situlah aku menemukan fakta dari beberapa panti asuhan kalau memang ada yang sengaja membantai Alexavier panti asuhan sehingga akhirnya kebakaran bisa terjadi ...." kata Felix.
"Apa Cain juga tahu hal ini?" tanya Tan.
"Kalian ingat saat hampir terkena lemparan mobil di tengah jalan waktu itu?" tanya Felix.
"Tentu saja ingat!" jawab Tan.
"Yang kau jadi pahlawan cilik bersama Cain itu kan?!" kata Teo tertawa walau sudah tahu Felix tidak suka membicarakan hal itu lagi.
"Jadi, maksudmu ... panti asuhan yang kau tolong itu disebabkan oleh seseorang dari Mundebris?" tanya Tom.
"Iblis juga ...." sahut Felix, "Saat itu adalah misi pertama Cain sebagai Leaure!" Felix melihat jam tangannya dan kembali ke dalam kamar untuk mengambil tas untuk berangkat ke kelas.
"Jadi ...." Teo menuntut penjelasan lebih lanjut.
"Sebelum itu terjadi ... aku sudah mulai memperingati sebagian besar panti asuhan untuk waspada terhadap kebakaran. Makanya jika ada kebakaran dan aku tidak kesana, menandakan itu adalah panti asuhan yang sudah aku peringatkan sebelumnya." kata Felix.
"Kau sudah tahu kalau tidak akan ada korban jiwa disana makanya tidak datang? bagaimana bisa kau memperingati mereka dan mereka juga percaya begitu mudahnya?" kata Tom.
"Tidak ada pilihan lain selain percaya, karena aku sudah membuat kebakaran besar di panti asuhan yang kosong untuk membuat mereka percaya ...." kata Felix.
"Jangan bilang ...." kata Tan.
"Ya, kebakaran besar panti asuhan hampir dua tahun lalu saat aku dan Cain pulang larut malam itu aku yang melakukannya! jadi semenjak itu juga semua panti menjadi waspada sehingga jika terjadi kebakaran tidak ada korban jiwa lagi ...." kata Felix.
"Mereka tidak percaya, tapi karena itu juga makanya Cain mendapatkan misi disana ...." jawab Felix.
"Jadi maksudmu adalah ... Efrain ternyata tidak hanya ikut campur dalam permainan atau menjadikan siswa/siswi Gallagher menjadi calon korban seperti Magdalene dan Gina tapi juga melakukan pembantaian di panti asuhan?!" tanya Tom.
"Apa kebakaran di panti asuhanmu yang dulu itu juga karena ...." kata Teo hati-hati memilih kata agar Felix tidak terluka.
"Aku juga tidak tahu ... tapi saat aku ke panti asuhanku yang dulu tidak terasa ada aura akibat kejahatan iblis ...." kata Felix.
"Mungkin karena sudah lama!" kata Teo.
"Kau ini! sudah kubilang banyak-banyak membaca ...." kata Tom.
"Memangnya kenapa?" tanya Teo.
"Jika ketempat kejadian yang iblis menjadi penjahat akan mudah diketahui oleh Caelvita. Jejaknya mungkin sudah hilang tapi aura kejahatannya akan tetap tinggal. Itulah mengapa Alexavier tidak akan tinggal di tempat yang pernah terjadi kejahatan sebelumnya!" kata Tan menjelaskan.
"Tidak heran kau peringkat 10!" kata Tom mencela.
"Apa hubungannya peringkatku di Mundclariss dengan pengetahuan Mundebris?! lagipula ... kalianlah yang tidak normal, bagaimana bisa kalian mendapat peringkat teratas setelah kejadian itu ...." kata Teo keceplosan mengingatkan mereka lagi tentang Cain, suasana menjadi canggung setelah perkataan Teo itu, "Maaf ...."
"Kalau bersungguh-sungguh aku pasti akan mengalahkan Felix ...." kata Tom ingin menghilangkan kecanggungan.
"Padahal aku tidak belajar sama sekali!" kata Felix sombong.
"Hahh?!" Tom tidak habis pikir dan mulai memiting kepala Felix. Suasana canggung itu mulai hilang seiring suara tawa kecil mereka. Untuk pertama kalinya lagi mereka bisa tertawa bersama.
"Jadi kita tidak perlu mengkhawatirkan panti asuhan lain? apa perlu kita minta Mertie melakukan sesuatu?" tanya Tan.
"Tidak perlu! jika terjadi seperti kejadian panti asuhan dekat sekolah lagi ... baru kita kesana." jawab Felix.
"Ada apa? kenapa kita harus pasif begini dengan masalah ini?" tanya Tom.
Felix tidak menjawab pertanyaan Tom itu dan mulai berjalan ke arah kelasnya tanpa menoleh kebelakang.
"Kalau sudah begini ... kita butuh Cain untuk menerjemahkan apa arti perilaku Felix itu!" kata Teo.
"Ya ... Cain pasti tahu kenapa Felix memilih mendiami ini ...." kata Tom.
"Rasanya aku sudah tahu ...." kata Tan.
"Kau tahu?" tanya Teo dan Tom bersamaan.
"Felix ... saat ini hanya tenang mendengar tidak adanya korban jiwa akibat kebakaran panti asuhan. Tapi tidak tertarik menyelidiki lebih dalam ... takut dia menemukan sesuatu tentang kebakaran panti asuhannya yang dulu." jawab Tan.
"Begitukah? menurutmu Felix masih belum siap mengetahui penyebab sesungguhnya?" tanya Teo.
"Rasanya tidak mungkin ... bukankah Felix yang kita kenal tidak suka menyelidiki sesuatu setengah-setengah ...." kata Tom.
"Felix adalah seseorang yang mempunyai hati yang lembut tidak seperti kelihatannya ... begitulah yang selalu Cain ingatkan." kata Tan.
"Aku merindukannya ...." kata Teo diikuti Tom dan Tan, "Cain ...."
...-BERSAMBUNG-...