UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.279 - Kemungkinan Yang Dikhawatirkan



Tom berjalan sendirian di desa yang jauh dari kota itu. Desa Kimber yang baru saja ditemukan korban yang meninggal dengan luka yang sama dengan korban lain iblis saat ditemukan.


Sebelumnya, Iblis akan menetap di sebuah desa dan mendapatkan lima korban, setelah itu barulah berpindah lagi ke desa lain. Desa Kimber barulah satu korban, jadi masih akan ada empat kejadian mengerikan lagi yang akan terjadi.


Wajar, jika Tom merasa dihina oleh Iblis secara terang-terangan. Setelah Felix membunuh 21 Iblis, itu seharusnya menjadi peringatan dan ancaman tapi ternyata tidak membuat Iblis menghentikan apa yang tengah dilakukannya.


Kali ini polanya bukan lagi metode hipnotis, belum diketahui secara jelas pola apa yang digunakannya kali ini. Fakta yang didapatkan saat ini adalah Iblis memilih pelaku dan korban yang pulang larut malam. Begitulah penyelidikan polisi yang baru saja dibagikan di berita. Pelaku dan korban masih menggunakan baju kantor dengan tas kantor dan pelajar yang pulang larut malam, semuanya diketahui baru saja tiba dari kota.


Felix, Tiga Kembar dan Mertie berusaha menjaga dan mencari disekitar stasiun atau terminal transportasi dari kota ke desa tapi karena sepertinya iblis sudah menebak akan ada mereka disana, tidak ada hal aneh yang terjadi. Bahkan aura Iblis atau aura kejahatan tidak ditemukan walau tentunya ada aura buruk tapi biasanya itu hanyalah aura yang sudah lama menempel di suatu tempat.


Hanya satu kemungkinan, yakni perjalanan kembali ke rumah. Maka dari itu Tom menyusuri jalanan ke desa. Tapi setelah polisi memberitakan fakta penyelidikan, Kementrian Ketenagakerjaan dan Kementrian Pendidikan Yardley mengumumkan bahwa jam pulang kantor dan jam pulang sekolah untuk dua minggu kedepan adalah pukul 17.00 pm. Untuk pemanjangan pembatasan jam pulang itu masih belum bisa dipastikan apa akan diperpanjang atau hanya sampai dua minggu saja. Saat ini masih dalam tahap pemantauan apakah hal itu berguna atau tidak.


Felix mengira itu akan membuat mereka bisa tenang belajar untuk persiapan final tapi ternyata tidak. Tom tetap bersikeras pergi untuk menyelidiki fakta lainnya karena selama ini hanya pekerja kantor dan pelajar yang jadi pelaku atau korban di desa terpencil.


"Nenek, kenapa pulang larut malam begini?" tanya Tom kaget melihat seorang Nenek datang berjalan di kegelapan dan akhirnya kini berada di bawah lampu jalan yang sama dengan Tom.


"Baru juga jam 9 malam, kenapa dibilang larut?!" kata Nenek itu.


"Inilah yang aku takutkan. Tidak semua yang pulang malam itu pekerja kantor atau pelajar tapi bisa jadi Nenek ini juga ...." kata Tom dalam hati begitu kesal.


"Anak muda?" Nenek itu bingung kenapa Tom hanya diam saja.


"Iy ... ya?" Tom lama baru menjawab.


"Kau bukan orang disini kan? Nenek tidak pernah melihatmu ...." kata Nenek itu.


"Saya ... saya ... saya sedang kabur dari rumah!" kata Tom lama mencari alasan.


"Hem ... ini pertama kalinya?" tanya Nenek itu.


Tom hanya menjawab dengan anggukan.


"Berarti masih ada sisa empat kali kalau begitu." kata Nenek.


"Maksudnya?" tanya Tom.


"Putraku, lima kali kabur dari rumah. Setelah itu barulah tumbuh dewasa ... semua anak-anak pasti akan melewati masa itu sebelum menjadi orang dewasa." jawab Nenek.


"Memangnya begitu ya? mungkin tidak berlaku bagi kami yang anak panti asuhan ya? aku tidak pernah terpikirkan sama sekali untuk kabur dari rumah ... sekalipun terpikirkan aku mau kemana?" kata Tom dalam hati tertawa.


"Nama mu siapa anak muda?" tanya Nenek.


"Tom."


"Harusnya aku yang bilang begitu. Nenek ternyata tahu itu tapi tetap keluar malam-malam begini?!" kata Tom emosi.


"Nenek baru saja dari kota mengantarkan lauk pauk untuk ...."


"Untuk putra nenek yang sudah dewasa itu? kenapa tidak menyuruhnya mengantar nenek pulang kalau begitu? lagipula ... untuk apa membawakannya lauk pauk? di kota banyak lauk pauk yang bisa dibeli, nenek tidak perlu repot-repot." kata Tom menyela.


"Dia sedang sibuk bekerja, nenek tidak bisa mengganggunya untuk repot-repot mengantar segala, lagipula nenek bukan anak kecil! bisa pulang sendiri ...." kata Nenek itu yang mulai berjalan menuju pintu gerbang desa, "Yang dibeli dan buatan ibu itu beda." sambungnya setelah mendengar langkah kaki Tom mengikutinya dari belakang, "Apa saja yang kau bawa di kotak itu? biasanya anak-anak yang kabur tidak akan membawa barang dan hanya langsung kabur saja ...."


Kotak itu baru saja disinggung oleh Nenek itu dan langsung juga terbuka memunculkan wajah Iblis yang menyerupai ular, berwarna hitam dengan mata merah. Tom melemparkan kotak itu karena kaget tapi langsung kembali memungutnya sebelum nenek itu berbalik.


"Ada apa?" tanya Nenek.


"Saya tersandung batu." jawab Tom membersihkan celananya, "Apa rumah nenek masih jauh?" Tom menenangkan dirinya disaat melihat ada sosok bertubuh besar dengan wajah yang sama yang muncul dari kotak tadi sedang berada di tengah sawah yang gelap tepat disamping orang-orangan sawah.


"Tidak jauh lagi ... sabar!" kata Nenek itu berjalan sangat santai membuat Tom keringatan dingin.


"Kenapa nenek tiba-tiba berhenti?" tanya Tom kaget.


"Ini rumah korban dan yang itu rumah pelaku, kejadian yang baru saja terjadi itu seperti mimpi saja ... mereka adalah sahabat dari kecil tapi bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi ... pasti ini karena ada hantu atau semacamnya ...." kata Nenek menunjuk kedua rumah yang saling berhadapan.


"Ayo, cepat pulang Nek!" kata Tom tidak tertarik mendengar cetita disaat ada iblis di dekat sana.


"Bagaimana mungkin anak penakut sepertimu kabur dari rumah?!" Nenek itu meledek Tom.


Tom terus berada di dekat nenek itu dan bersiap-siap untuk mengeluarkan senjatanya kapanpun kalau Iblis itu mendekat. Hanya saja Tom tidak yakin bisa melawan Iblis itu karena matanya yang merah. Banks mengatakan kalau kekuatan Iblis itu diperingkatkan dari warna matanya. Jingga artinya Iblis tingkat tertinggi seperti Efrain, Merah artinya Iblis tingkat menengah, Kuning artinya tingkat bawah.


Untuk mengalahkan Iblis tingkat bawah saja harus dengan main keroyokan yakni Tan, Teo dan Tom bekerjasama melawan satu Iblis, itupun butuh waktu yang lama, menguras tenaga dan tentunya akan mendapat luka. Kekuatan Iblis tingkat bawah saja sudah 100x lipat dari kekuatan manusia biasa. Apalagi untuk Iblis tingkat menengah, Tom tentu saja tidak yakin bisa menang tapi nenek itu santai sekali berjalan membuat Tom frustasi.


"Nenek tinggal sendirian?" tanya Tom setelah melihat Nenek itu membuka pintu rumah yang lampunya mati.


"Putraku yang sudah menikah tidak mungkin tinggal disini kan ...." kata Nenek menyalakan lampu setelah masuk ke dalam rumah.


"Berapa kali nenek ke kota?" tanya Tom.


"Dua kali dalam sebulan. Membeli keperluan bulanan dan membawakan lauk pauk." jawab Nenek.


"Nenek berani sekali membawaku ke rumah nenek ini yang identitasku saja tidak diketahui. Bagaimana kalau aku ini orang jahat? apa nenek tidak takut sama sekali?" kata Tom.


"Anak sepertimu, nenek bisa kalahkan dalam sekali serangan. Jangan meremehkan orangtua ya!" kata Nenek itu.


...-BERSAMBUNG-...