UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.119 - Isi Hati Felix



"Cain akan di Mundebris selama 49 jam dan tidak bisa menggunakan kekuatan untuk memutar waktu karena masa merenung bagi Leaure adalah hal yang sangat suci! Tuan Muda bisa kembali ke Mundclariss duluan dan membuat alasan agar Cain bisa izin tidak masuk sekolah ...." kata Goldwin.


"Siapa yang membuat peraturan seperti itu?!" tanya Felix.


"Raja Leaure!" sahut Goldwin.


"Dan dimana sekarang Raja Leaure itu?" Felix bertanya lagi.


"Tuan Muda ...." Goldwin menghela napas.


"Raja sedang tidak ada dan yang akan membangkitkan adalah aku ... aku menghargai kesetiaanmu pada peraturan Raja yang bahkan tidak ada itu tapi aku tidak bisa membiarkan Cain melewatkan kehidupan normalnya ... aku membiarkannya tetap menjalankan masa merenungnya tapi kau tidak boleh melarangnya memutar waktu untuk kembali!"


"Tapi ...." Goldwin jadi tidak bisa melawan, "Tapi, bagaimanapun Cain belum bisa memundurkan waktu untuk kembali dengan jumlah 49 hari!"


"Jangan meremehkan Cain! dia itu paling tidak suka dengan sebuah batasan ...." kata Felix.


"Saya tidak tahu apa benar bisa melakukan ini ...." kata Goldwin ragu-ragu melanggar peraturan.


"Apa yang kau takutkan? aku ini Caelvita! aku yakin Raja Leaure juga tidak akan mempermasalahkan ... lagipula ini pertama kalinya kan Setengah Leaure melakukan misi. Dan peraturan itu hanya berlaku bagi Leaure Murni!" kata Felix.


"Baiklah ... Tuan Muda! tapi pastikan Cain tidak mendapat masalah apapun nantinya karena melanggar peraturan ini ...." kata Goldwin pasrah.


"Kau memang Unimaris nya dan akan selalu memihak Cain tapi aku lebih dulu mengenalnya dibanding denganmu dan akan selalu menjadi yang pertama melawan siapapun yang berani menghukum dan menghalangi Cain menjalani kehidupannya seperti manusia normal pada umumnya ...." kata Felix sangat percaya diri.


***


Keesokan harinya Felix pergi sekolah pagi-pagi sekali sambil menunggu kedatangan Cain, "Dia pasti bisa! hanya 49 hari ... masa dia tidak bisa ... apa aku terlalu mempercayai Cain ya?!" Felix menyesali perbuatannya karena membiarkan Cain tinggal untuk merenungi kesalahan, "Tapi bagaimanapun juga itu adalah ritual mutlak bagi Leaure. Cain harus mengetahui dan melakukan semua hal wajib sebagai Leaure ... hahh ... entahlah apa yang aku lakukan ini benar." Felix yang sebenarnya percaya pada Cain tapi Felix tidak bisa berbohong kalau ada keraguan kecil di dalam hatinya.


"Felix!!!" teriak tiga kembar bersamaan saat masuk ke dalam kelas yang hanya ada Felix.


"Dimana Cain?" tanya Tan.


"Kau tidak apa-apa? kau tidak terluka kan?" tanya Tom sambil meraba-raba tubuh Felix.


"Uwaaaah! Pahlawan Cilik! cie ... cie!" Teo memuji.


"Kau darimana saja semalaman?" tanya Tan lagi.


"Aku dari menemui Dokter Mari ... kau tahu kan aku trauma dengan kebakaran. Cain menemaniku tapi aku meninggalkannya karena dia tidur sepertinya masih kelelahan ...." jawab Felix yang sudah menghubungi Dokter Mari untuk menyesuaikan cerita agar sama.


"Kalau begitu sepulang sekolah kita langsung temui Cain ke klinik Dokter Mari!" kata Tan.


"Tidak!" teriak Felix secara tidak sadar, "Tidak usah! lagipula dia akan datang kok ... iya ... dia pasti datang!" Felix meyakinkan dirinya sendiri.


"Felix!" teriak Dea membawa bingkisan bunga yang bahkan lebih tinggi darinya itu, "Selamat! kau hebat sekali!" Dea memberikan bunga itu.


"Itu bukan aku!" kata Felix mengembalikan bunga itu.


"Tapi itu benar kau dengan Cain, ada saksi yang membenarkan karena sempat membaca papan namamu!" Kata Dea.


Felix mengehela napas, "Kau pikir aku melakukan itu untuk mendapatkan pujian?! atau mendapatkan bunga seperti ini?! aku paling benci dengan hal yang kau lakukan saat ini!" Felix merebut bunga itu dan melemparkannya ke lantai dan langsung keluar dari kelas.


"Aku tahu! aku lebih dulu mengenalnya daripada kalian tahu!" kata Dea tidak mau kalah dan langsung keluar kelas juga.


"Kalau dipikir-pikir mereka berdua itu sangat mirip ya?! kata Tom.


***


"Kau disini rupanya! bapak cari kemana-mana ...." kata Pak Egan menemukan Felix yang tidur di tempat duduk penonton lapangan basket.


"Ada apa Pak?" tanya Felix.


"Dimana Cain?" tanya Pak Egan, "Kalian berdua akan mendapat piagam penghargaan dari gubernur!"


"Ayah Dea?!" kata Felix sesuai perkiraan.


"Bukan karena Dea tapi kau memang berhak mendapatkannya!" kata Pak Egan.


"Berhak?" Felix tersenyum tidak habis pikir.


"Gubernur ... maksudku bahkan pemimpin negara yang lainnya itu bukannya suka memberikan hal seperti itu. Tapi itu hanyalah hal yang wajar terjadi!" kata Pak Egan.


Felix jadi memandang Pak Egan lama sambil ingin membaca pikirannya tapi yang bisa didengar hanyalah hal yang sama dengan yang dikatakannya.


"Hal yang wajar kah? mendapat penghargaan setelah melakukan penyelamatan apa itu hal yang normal? bukankah seharusnya sekarang pemimpin malah melakukan hal yang lebih penting dengan memberi keamanan khusus untuk semua panti asuhan dan menghimbau orang-orang untuk memberikan sumbangan pada korban yang sudah dari awal tidak memiliki rumah tapi malah rumah yang menampungnya, rumah yang menerimanya disaat mereka tidak diterima oleh orangtua yang malah membuang mereka ... mereka benar-benar tidak beruntung ...." akhirnya Felix mengeluarkan isi hatinya.


"Bapak mengerti apa yang kau rasakan ...." kata Pak Egan.


"Mengerti? benarkah? bapak tidak tahu saja kalau dengan memberi penghargaan seperti itu sama saja dengan memberi penghargaan sebuah bencana telah terjadi?!" kata Felix menyela.


"Penghargaan itu hanya simbolis rasa terimakasih dan agar kedepannya lebih banyak lagi yang melakukan hal yang sama sepertimu!" kata Pak Egan.


"Dengan bapak mengatakan itu ... secara tidak langsung bapak ingin lebih banyak lagi kejadian buruk terjadi agar lebih banyak lagi yang menjadi pahlawan dadakan. Apa bapak tidak memikirkan bisa saja yang menjadi pahlawan adalah orang yang telah melakukan kejahatan itu sendiri sehingga bisa menolong dan menjadi pahlawan ...." Felix berdiri mulai meninggalkan Pak Egan sendiri.


"Bapak mengerti kamu sedang menyalahkan diri sendiri saat ini kan? karena saat kebakaran panti asuhanmu dulu kamu tidak bisa melakukan apa-apa tapi malah menjadi pahlawan di panti asuhan orang lain ...." kata Pak Egan yang daritadi ditahannya akhirnya dikatakan juga, "Bapak kira selama ini kamu adalah anak yang kuat karena tidak memperdulikan dengan perkataan anak-anak lain yang selalu mengatakan bahwa kamu itu pembawa sial atau sebagai pelaku pembakaran ... tapi ternyata kamu menjalani hidup dengan terus membawa rasa bersalah itu ... maafkan bapak!"


Felix yang masih berdiri membelakangi Pak Egan menitikkan air mata dan langsung menghapusnya kemudian pergi tanpa sepatah katapun. Tan, Teo dan Tom yang berdiri di depan pintu masuk lapangan basket mendengar perkataan Pak Egan membuat mereka akhirnya sadar ternyata begitu yang dirasakan Felix.


"Jadi karena itu ... aku bahkan tidak tahu dan malah memujinya ...." kata Teo menangis.


Tan menepuk-nepuk punggung Teo sementara Felix lewat.


"Felix?" Tom memanggil.


"Em?" Felix berbalik.


Tiga kembar langsung berlari memeluk Felix, "Maafkan kebodohan kami!"


...-BERSAMBUNG-...