UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.412 - Selamat Bergabung



Teo menatap Tom, "Sepertinya saatnya untuk lari!" dengan senyuman canggung.


Tom tahu betul apa yang sedang dipikirkan oleh Teo hanya dengan melihat mata dan ekspresi Teo itu. Tom mulai tertawa, "Tidak ... kita lawan saja!"


"Kau tahu kan, kalau aku membencimu?!" kata Teo juga memunculkan Moshas nya.


"Tahu lah ...." balas Tom sudah maju disamping Teo dan memegang bahu Teo.


"Osvald ...." Teo menoleh pada Osvald untuk diberitahu agar mundur darisana tapi setelah melihat wajah Osvald, Teo terdiam, "Kau mau ikut juga?!" tanya Teo tertawa.


"Aku akan membalas apa yang pernah mereka perbuat padaku ...." kata Osvald menyeringai.


Teo ingin memberikan senjatanya tadi pada Osvald tapi Osvald menolak bahkan sebelum Teo mengeluarkan senjata itu kembali, "Aku akan melawannya dengan ini!" Osvald menunjuk kepalanya.


"Baiklah ... pemain dunia pikiran, kita lihat bagaiamana kemampuanmu!" kata Tom sudah berlari maju duluan menyerang.


"Dasar tidak sabaran!" kata Teo juga mulai maju.


Teo dan Tom dan warga desa terlihat hanya terpisah jarak sedikit lagi. Saat senjata mereka akan bertabrakan, senjata para warga desa tertarik ke tempat lain dan menghilang dari tangan para warga.


"Oooooh ...." kata Teo melihat rumah yang ada disana berubah menjadi magnet dan menarik senjata para warga dan mengecualikan senjata Teo dan Tom, "Kerja bagus, kawan!" teriak Teo bangga pada Osvald.


Melihat itu Tom menghilangkan Sesemax dan melawan para warga dengan tangan kosong. Tapi kemampuan warga disana juga tidak bisa dianggap remeh. Padahal saat memukuli Osvald hanya memukul sembarangan. Pakaian mereka juga sangat tidak sesuai dengan kemampuan mereka sekarang.


Teo menggunakan ujung Moshas nya yang tumpul untuk menyerang warga desa. Winn terdengar sangat senang saat dirinya berhasil memukul mundur lawan.


"Kenapa dia yang heboh sendiri?!" kata Teo heran di dalam hati mendengar Winn seperti itu.


"Oooow awas!" teriak Osvald.


"Apa?!" tanya Teo dan Tom bersamaan berbalik tapi saat itu mereka juga langsung ditendang dan terjatuh di dekat kaki Osvald berada. Bahkan Osvald juga ikut-ikutan jatuh karena itu.


"Hahh ... dasar kau ini lemah sekali!" kata Tom.


"Demelza dimana?!" tanya Osvald.


"Jangan berani-berani kau tidak fokus lagi!" kata Teo memperingatkan.


"Bukan aku, semua magnet yang kubuat tadi langsung berubah saja padahal perasaanku masih jelas membayangkannya." kata Osvald.


"Kalau begitu, sepertinya ... hanya sebentar bisa bekerja. Bagaimanapun saat ini ada iblis masuk kesini, banyak perubahan yang bisa terjadi ... itu tidak bisa dipungkiri." kata Tom.


"Dan, jangan khawatirkan Demelza ... dia bersembunyi di balik pohon itu!" kata Teo menunjuk pohon besar di ujung desa.


"Baiklah ... aku akan bermain dengan sungguh-sungguh sekarang!" kata Osvald mulai berdiri dan membersihkan salju pada pakaian tebal hangatnya yang berharga.


Para warga desa melemparkan senjata mereka sekaligus membuat Teo dan Tom langsung bangun untuk menepisnya tapi tanpa berbuat apapun semua senjata itu membelok tajam naik ke langit semua dan beberapa saat kemudian senjata itu kembali ke arah para warga. Memang tidak semua tapi kebanyakan warga desa terkena senjata mereka sendiri yang datang dari langit itu.


"Waw!" kata Teo heboh sendiri.


"Kalau tinggal segitu, sudah mudah!" kata Tom melirik Teo.


Teo menghilangkan Moshas dan berlari menuju warga desa yang tersisa.


Karena sudah bukan keroyokan lagi seperti tadi, Teo dan Tom merasa semuanya begitu mudah. Latihannya selama ini tidaklah sia-sia. Sangat terasa perbedaan ketika masih sangat pemula dulu dan sekarang.


"Hahh ... hahh ...." Teo dan Tom menstabilkan kembali pernapasannya dan menggosok wajahnya dengan salju yang ada di dekat Tan setelah selesai melawan semua warga di desa itu.


Osvald kelihatan gemetaran, "Kau kedinginan?!" tanya Tom.


"Mereka semua ... mati kah? gara-gara aku?!" kata Osvald baru sadar memperhatikan warga yang terkapar di atas salju yang berubah menjadi merah.


"Mereka tidaklah nyata ...." kata Teo.


"Tapi, meski begitu ...." Osvald masih dengan suara yang gemetaran, "Bagaiamana bisa kalian biasa-biasa saja?! setelah membunuh ... walau mereka tidaklah nyata tapi rasanya pasti sangatlah nyata ...." kata Osvald.


"Ternyata begini ... mata yang kita berikan saat memandang Felix dan Cain dulu." kata Teo seperti melihat bagaiamana sosok dirinya yang dulu.


"Tidak ada kata terbiasa Osvald, bahkan sampai sekarang pun rasanya sangat menyiksa ... aku bahkan kadang jijik melihat tanganku sendiri kalau mengingat sudah melukai seseorang dengan tanganku ini. Tapi ... kami hanya berusaha yang terbaik untuk bertahan dan melakukan yang terbaik karena dunia yang kami kenal sekarang adalah dunia yang keras. Saat lemah kau akan mati ... saat kau ragu kau akan mati ... saat kau kasihan kau akan mati." kata Tom memandang Tan.


"Sebenarnya apa yang telah kalian lalui sampai bisa seperti ini ...." kata Osvald seperti tidak mengenal mereka lagi.


"asdfghjkl ....." Tan berbicara sesuatu tapi tidak jelas.


Teo mendekatkan telinganya pada Tan, "Apa?!" tanya Teo, "Pelan-pelan saja, katakan!"


"Ce ... pat pergi dari sini!" kata Tan.


"Em?!" Teo heran kenapa Tan mengatakan itu. Tapi langsung mengerti setelah melihat apa yang terjadi. Semua pintu rumah kembali terbuka dengan warga desa yang sama yang tadi sudah mati.


Osvald melihat jasad dari warga desa semuanya menghilang dan semuanya terlihat bersih tanpa ada tanda dan jejak dari pertarungan tadi.


"Kau lihat, kan?! mereka tidak nyata ...." kata Tom.


"Senjata mereka ada dua sekarang!" kata Teo tersenyum pahit melihat masing-masing warga bukannya membawa satu senjata seperti tadi tapi sudah dua.


"Ini seperti ... level dua!" kata Tom.


"Bagaimana kalau membuat mereka membeku semua ... kau bisa memikirkannya?!" kata Teo meminta Osvald melakukan itu dengan pikirannya.


"Oke akan aku coba!" kata Osvald menutup matanya. Tapi belum memikirkan dengan sempurna terdengar suara ledakan dan Osvald membuka matanya.


Semua rumah tiba-tiba meledak dengan masing-masing warga yang masih ada di depan pintu juga ikut meledak. Ledakan itu sangat besar sampai-sampai seperti ada yang sengaja menaruh sebuah bom berkekuatan begitu besar. Semuanya hancur berkeping-keping dan darah berceceran dimana-mana.


"Kau yang melakukan ini?!" tanya Tom melongo disaat Teo masih melindungi Tan agar tidak terkena bagian rumah yang meledak.


"Bukan aku! aku tidak mungkin punya imajinasi sekejam ini ...." kata Osvald.


"Lalu siapa?!" tanya Tom tapi kemudian berbalik melihat seseorang berdiri di ujung desa.


"Demelza, yang melakukan ini?!" Teo tercengang.


"Siapa lagi yang bisa memiliki imajinasi kejam begini kalau bukan dia ...." kata Tom menyeringai.


"Selamat bergabung pemain baru!" teriak Teo bertepuk tangan.


...-BERSAMBUNG-...