UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.36 - Masa Depan Pertama yang Dilihat Felix



Disaat Felix melihat mereka berempat tertidur pulas dan mulai memasang gelang pemberian Nenek Alviani tadi untuk mengecek apa mereka benar tidur dengan membaca pikiran mereka satu-satu. Tapi yang didengar hanya racauan tidak jelas, "Apa itu mimpi mereka?"


Dibukanya pintu kamar pelan-pelan, "Kau mau kemana?" tanya Cain dengan suara serak.


Sayangnya Felix tidak bisa membaca pikiran Cain, "Aku lupa ada anak satu itu hahh ...." Felix memukul kepalanya.


Felix dan Cain menuruni tangga pelan-pelan dan memeriksa Dokter Mari apa benar sudah tidur, "Nyenyak sekali tidurnya ... bahkan aku tidak mendengar suara mimpinya ...." Felix berbalik dan Cain menghilang entah kemana, "Cain?" bisik Felix.


"Di dapur ...." jawabnya dengan suara keras.


"Sssst!" Felix cepat-cepat menyuruh Cain diam.


Lia yang datang menembus kulkas dan hendak menembus Cain yang sedang minum langsung terbentur lagi, "Aw!"


Kali ini Felix tidak bisa menahan tawanya dan tertawa sambil menutup mulutnya untuk meredam suara, "Kau kenapa? memangnya lucu yah melihatku minum air?" Cain hampir meneguk habis satu botol air putih.


"Apa anda yang memberikan perlindungan kepada mereka berempat? jadi saya tidak bisa berjalan menembus mereka?" tanya Lia sopan meski kesakitan.


"Bukan, itu karena gelang yang ia pakai ...."


"Gelang?" Lia menyentuh gelang yang dipakai Cain, "Aaaaaaaaaa!" tangan Lia seperti terkena api.


Felix ingin menolong tapi tidak tau harus bagaimana hanya langsung memegang tangan Lia, "Hahh ... leganya ...." kata Lia melihat tangannya yang luka tadi langsung sembuh.


"Ehh?" Felix bingung sendiri, "Aku menyembuhkan luka?"


"Terimakasih banyak ...." Lia menunduk 90 derajat.


Cain yang hendak minum lagi tapi melihat Lia muncul langsung menyemprotkan air yang ada dimulutnya, "Huuuuh bikin kaget saja ...." memegang jantungnya yang berdegup kencang.


"Ada apa ini?" tanya Cain melihat Lia yang menunduk pada Felix.


"Tadi tangannya terluka karena memegang gelang itu jadi aku pegang dan lukanya langsung sembuh juga ...."


"Jadi gelang ini bisa membuat hantu menjauh dari kita?" tanya Cain mencium gelangnya.


"Saya juga tidak bisa berjalan menembus anda ...." kata Lia.


"Ohya? masa? coba berjalan menembus Felix, kak?!" Cain jadi bersemangat.


"Kalau dengan beliau memang dari awal tidak bisa ...."


"Beliau segala?" Cain tertawa, "Oh iya, kan Felix bisa menyentuh hantu ...." kata Cain baru paham.


"Kalau begini saya tidak bisa mencuri-curi energi kehidupan ...." kata Lia dalam hati tapi didengar Felix.


"Kan bisa berjalan menghindar supaya tidak harus berjalan menembus manusia ...." kata Felix memancing.


"Iy ... ya!" jawab Lia dengan senyum dipaksakan, "Padahal dengan mendapat energi kehidupan sedikit-sedikit dari mereka bisa membuatku untuk menjadi hantu yang hanya cangkang saja akan lebih lama lagi ...." katanya dalam hati dengan memasang wajah murung.


"Cangkang?" tanya Felix dalam hati.


Cain menatap mereka bergantian yang hanya diam saja membuatnya bingung.


"Boleh tinggalkan kami sebentar?" pinta Felix kepada Lia.


Lia segera pergi dengan ingin berjalan menembus Cain lagi tapi langsung dihindari setelah ingat akan terbentur lagi.


"Apa selama kau tinggal disini sering merasakan ada yang aneh? pusing atau apalah?" tanya Felix.


"Emmm ... pernah sih, waktu pindahan ... naik tangga hampir jatuh karena pusing kalau tidak ada Teo dibelakangku tapi Teo juga hampir jatuh karena tiba-tiba pusing juga, untung dia masih memegang bajuku dari belakang dan aku sudah memegang pegangan tangga." jawab Cain.


"Sepertinya hantu jika berjalan menembus manusia akan mendapatkan energi kehidupan ... tadi aku mendengar pikiran Lia."


"Apa? jadi kak Lia itu jahat? tunggu ... kau bisa mendengar pikiran?" Cain jadi tersenyum.


"Kau bisa pelankan suaramu tidak?!" Felix kesal dengan Cain yang tiba-tiba bersemangat.


"Ow ... ah, sorry ...."


"Sepertinya dia juga punya alasan sendiri, mungkin semakin tua hantu akan mengalami hal yang sama saat manusia juga menua ...." kata Felix sedang berpikir.


"Bagaimana kau bisa mendengar pikiran orang?" tanya Cain.


"Jadi kau bisa mendengar pikiranku sekarang?" tanya Cain sambil senyam-senyum sendiri.


"Kenapa kau jadi bahagia begitu? harusnya kau marah karena aku bisa mendengar apa yang ada dipikiranmu ...."


"Kenapa harus marah? malah bagus aku tidak perlu lagi harus mengeluarkan suara untuk berbicara denganmu, malah kau yang repot sendiri karena harus berbicara baru bisa aku dengar ... hahaha ...."


"Pemikiranmu sederhana sekali ...." kata Felix.


"Berarti kau tidak bisa mendengar apa yang aku pikirkan sekarang?"


"Kenapa kau berpikir begitu?"


"Karena ... sekarang yang kupikirkan bukan hal yang sederhana ...." kata Cain berhenti tersenyum.


Tapi Felix malah tersenyum dan Cain yang memasang wajah datar tadi akhirnya tertawa dan ditahan karena ia tahu suara tawanya sangat keras.


"Apa kau tidak bisa mendengar apa yang aku pikirkan karena gelang ini?" tunjuk Cain.


"Iya, bisa jadi ...." Felix tidak berbohong juga karena Cain menunjuk dua gelang yang ada di pergelangan tangannya. Walau gelang safirnya tidak kelihatan.


"Tapi setelah memakai gelang ini aku juga jadi bisa leluasa melihat gelang safir Cain yang kadang bisa kulihat kadang tidak," Felix bergumam dalam hati.


***


Pagi harinya Felix bangun subuh-subuh untuk mandi karena harus menyemprot rambutnya setelah terkena air dan jika rambut hijaunya dilihat oleh tiga kembar ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana jadi sekarang ia cepat bangun untuk mengurus rambutnya yang hampir semuanya kini sudah berubah hijau.


"Maaf Felix, semoga akan datang saatnya nanti kau akan bisa berjalan dengan tanpa harus memikirkan rambut hijaumu itu ...." kata Cain mendengar Felix bangun subuh sekali.


Sementara mereka berempat bangun setelah matahari terbit mumpung karena menginap di rumah Daisy yang jaraknya dekat dari sekolah dan diantar juga oleh Dokter Mari.


"Kau sudah siap saja ...." Teo bangun mengucek-ngucek matanya melihat Felix sudah berseragam lengkap.


Sarapan yang disiapkan Dokter Mari tidak ada yang beres. Roti gosong, telur gosong, "Apa ini? kita makan batu bara?" kata Tom menggigit roti dan mulutnya dipenuhi warna hitam.


Akhirnya mereka hanya minum susu dan berangkat.


"Wah!!!" teriak Teo dan diikuti Tom juga.


"Kenapa? ada apa?" Cain kaget.


"Batu permatanya berubah jadi warna biru hijau!!!"


"Jadi warnanya berubah kalau terkena sinar matahari yah? harusnya gelang seperti ini kan mahal kenapa nenek itu memberi kita gratis yah?" kata Tan.


"Ayo cepat!" teriak Dokter Mari dari dalam mobil.


"Padahal bukan cuma itu saja, kegunaan gelang itu sangat luar biasa dan Sang Caldway yang memberikan gelang ini secara cuma-cuma padahal butuh lima tahun lamanya dia buat ... tapi dengan membuat lima pasang gelang berarti dia sudah melihatku memang ditakdirkan bertemu dengan mereka ...."


"Kalau melamun lagi, kita tinggal nih ...." teriak Cain hendak menutup pintu untuk Felix.


"Apa yang aku rasakan ini? rasanya nyaman sekali seperti kebahagiaan memenuhiku ...." Felix melihat mereka berempat didalam mobil yang sedang tertawa.


Saat Felix hendak masuk kedalam mobil, penglihatannya langsung gelap dan tiba-tiba dilihatnya Tan, Teo dan Tom yang tergeletak saling berpegangan tangan dipenuhi darah disisi lain ada Cain yang tubuhnya terpotong-potong membuatnya langsung berteriak histeris, "TIDAK! TIDAK! TIDAK MUNGKIN! INI PASTI HANYA MIMPI!!! Aaaaaaaaaaa!!! Felix menutup matanya dan saat dia buka sudah dilihatnya cahaya matahari lagi yang tadinya gelap sekali.


"Kau kenapa Felix?" Cain langsung turun dari mobil.


"Cain?"


"Em? kau kenapa?"


Felix membayangkan lagi tadi yang dilihatnya Cain yang hanya kepalanya saja yang ia pegang dan tubuhnya yang lain berceceran membuatnya langsung memeluk Cain.


"Kau ini kenapa?" Cain sesak napas dipeluk erat oleh Felix.


Kemudian muncul tiga kembar dari jendela mobil membuat Felix semakin tidak karuan dan meneteskan air mata sambil memeluk Cain lebih erat lagi.


"Apa ini masa depan? tidak! aku harus menghentikannya bagaimanapun caranya ...."


...-BERSAMBUNG-...