UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.103 - Istana Sanguiber



"Yang jelas mau itu disengaja atau memang kebetulan, hal ini menguntungkan kita ...." kata Felix.


"Untuk mengetahui ini kebetulan atau disengaja, kita perlu tahu kapan kantor ini didirikan ...." kata Cain.


"Mulai lagi deh!" Felix menghela napas mengetahui rasa penasaran Cain mulai datang.


Angin kencang tiba-tiba datang membuat benda-benda kecil dan yang ringan beterbangan. Angin itu berhenti ketika kelelawar merah besar sudah mendarat langsung mengulurkan kepalanya pada Felix minta dielus.


"Bukannya minta darah?" tanya Cain.


"Kalau di Mundebris tidak perlu ...." kata Felix mengelus-elus kepala Duarte.


"Bagaimana kau tahu kami ada disini?" tanya Cain pada Duarte.


"Akhir-akhir ini saya tinggal disini karena permintaan Tuan Muda!" jawab Duarte.


"Em?" Cain bingung.


"Unimaris Sanguiber sangat peka dengan aura kejahatan, jadi kusuruh berjaga disini ... kalau-kalau terjadi sesuatu dengan panti, dia bisa mengabariku ...." sahut Felix.


"Sanguiber Murni ternyata sangatlah berguna begini tapi Setengah Sanguiber malah pembuat aura kejahatan itu sendiri ...." kata Cain menyayangkan.


"Semua Setengah Viviandem begitu Tuan Muda, tapi lebih kasihan Setengah Leaure sih karena kebanyakan mereka meninggal karena energi kehidupannya dihisap habis."


"Bagaimana ya cara mencegah tragedi Setengah Viviandem ini?" Cain menundukkan kepala.


"Tidak perlu dicegah! jika sesuatu memang tidak bisa dicegah ... hanya perlu seseorang untuk menghentikannya!" kata Felix tegas.


Duarte mengecilkan dirinya agar bisa dinaiki oleh Felix dan Cain, kemudian kembali membesar setelah mereka berdua sudah duduk diatas punggung Duarte.


"Aku merasa bersalah dengan Verlin ... katanya kau menyuruhnya untuk berlatih mengemudi untuk bisa mengantarmu tapi kita malah menggunakan bantuan Duarte ..." kata Cain, Si Pecinta Ketinggian santai berbicara saat terbang.


"Tidak ada ruginya juga kalau dia berhasil atau tidak berhasil ...." kata Felix yang duduk di depan Cain.


"Apa Istana Sanguiber masih jauh?" tanya Cain.


"Kenapa? jangan bilang kau mabuk udara?" kata Felix tertawa.


"Tidak! bukan begitu! hanya saja ... kalau kita terlalu lama di Mundebris, aku khawatir tidak bisa memutar waktu untuk bisa kembali sebelum libur musim dingin berakhir ...."


"Jangan khawatir! aku mengenal seseorang yang belum pernah gagal sebelumnya dalam melakukan sesuatu dan sangat bisa diandalkan ...." kata Felix sambil tersenyum.


"Siapa?" tanya Cain.


"Kau!" jawab Felix membuat Cain menarik rambut Felix dari belakang.


"Haha ... aw! kau kira aku ini kuda?!" Felix berusaha melepaskan tarikan rambutnya dari Cain.


"Belum lagi, kita harus kembali ke sekolah di hari sabtu karena akan ada pelatihan osis gelombang kedua ...." kata Cain.


Tiba-tiba Duarte bersinar terang, perpaduan serbuk bercahaya warna merah dan kuning dan tak lama Duarte langsung melesat begitu cepat membuat Felix dan Cain panik tapi efek pada mereka saat Duarte terbang begitu cepat tidak dirasakan.


"Kenapa bukan daritadi kau melakukan ini?" tanya Felix kesal.


"Perjalanan terbang pertama Tuan Muda seharusnya tidak boleh buru-buru seperti ini ... harusnya Tuan Muda menikmati perjalanan pertama ini!" keluh Duarte.


"Haha, kau tidak perlu melakukan itu untuk membuatku menikmati perjalanan ini ... ini untuk kau ingat tapi aku lebih suka untuk bisa melakukan sesuatu dengan cepat daripada lama berbasa-basi ...." kata Felix.


Cain hanya bisa tersenyum miring mendengar itu, "Padahal dia tidak tahu saja dia adalah Raja Basa-Basi suka berputar-putar kalau mengatakan sesuatu!" maki Cain dalam hati.


Untung saja sekarang Felix tidak bisa membaca pikiran Cain dan hanya bisa sekedar berkomunikasi lewat pikiran saja.


Tadi sebelum Duarte merubah kecepatan terlihat pemandangan dari atas, Mundebris sangat gelap dan sepi. Hanya sebagian rumah saja yang menyala lampunya, mungkin itu adalah iblis atau Zhewit. Tapi sekarang tidak bisa dilihat apa-apa, karena kecepatan Duarte begitu cepat.


Duarte mulai melambat dan terlihat sebuah kubah pelindung berwarna merah bersinar. Didalamnya terdapat istana besar dengan hiasan batu peemata ruby yang mengelilingi. Mereka perlahan memasuki tudung pelindung itu tapi Cain terbentur pelindung itu dan tidak bisa masuk. Bagian tubuh Duarte yang diduduki oleh Cain juga masih berada diluar pelindung itu.


"Aw!" teriak Cain saat terbentur.


"Oiya! saya lupa ... yang tidak memiliki izin masuk kecuali Caelvita dan keturunan sanguiber tidak bisa masuk istana ...." kata Duarte.


"Kenapa tidak bilang saat aku terpental jatuh saja?!" kata Cain.


"Jadi bagaimana ini?" tanya Felix.


"Tuan Muda pegang tangan Tuan Muda Alvauden!" perintah Duarte dan segera dilakukan Felix.


Duarte kemudian mulai perlahan bergerak masuk dan Cain pun sudah tidak tersangkut lagi dan bisa ikut masuk pelindung itu.


"Ini hanya perkataanku saja, tapi kenapa tetap harus memakai embel-embel Tuan Muda melainkan memanggil nama saja kalau memang tidak enak ...." kata Cain saat Duarte mulai mendarat.


"Kukira kau begitu mengagumi Caelvita 47?!" kata Felix menyeringai, "Kenapa tiba-tiba kau mempertanyakan kebijaksanaannya?"


Cain hanya bisa diam karena malu pernah menggunakan itu sebagai bahan ejekan untuk Felix dan kini berbalik menjadi bumerang untuknya.


Duarte tertawa kecil, "Itu karena Alvauden Caelvita 47 takut jika hal itu malah menghilangkan batas untuk menghormati Caelvita ... jadi dari Yang Mulia hanya bisa diganti Tuan Muda ...."


"Mau digenerasi manapun, Alvauden selalu saja tegas!" kata seseorang.


"Kau ini pohon atau bunga?" Cain bingung melihat bunga mawar merah yang sangat tinggi dan besar.


"Pohon Bunga Mawar!" jawabnya.


"Apa ada seseorang di istana?" tanya Felix.


"Tadi ada setengah sanguiber yang datang tapi sudah pergi ..." jawab tanaman gantung yang tertempel di atap gedung sengaja melambai-lambai bukan karena ada angin.


Duarte berdehem menghentikan perkataan tanaman itu lebih lanjut.


"Kenapa? kau lupa memberitahu mereka untuk hanya mengatakan yang bisa kuketahui saja?" kata Felix menyeringai.


"Ayo kita masuk!" kata Duarte menghindar dan langsung merubah bentuknya menjadi kecil.


"Ini hanya rasa penasaranku saja ... apa tanaman di Mundebris tahan terhadap segala musim? bagaimana bisa tetap tumbuh segar begini?" kata Cain.


"Tergantung kalau ada yang merawat Tuan Muda, kalau diberi ramuan tahan musim dingin misalnya ...." jawab Duarte terlihat lucu karena berukuran sangat kecil.


"Kau tidak membawa kami masuk istana?" tanya Cain karena daritadi hanya dibuat berjalan di lorong istana luar saja.


"Aku jadi ragu kalau Tuan Muda adalah Leaure ... hahh ... rasa penasaran Tuan Muda sangat luar biasa!" kata Duarte.


"Bukannya rasa penasaranku yang luar biasa tapi kamu yang tidak bisa menjawab pertanyaan itu kan?" balas Cain menyeringai.


"Sekarang malah terdengar seperti Sanguiber, suka mengintimidasi ... hahh ...." kata Duarte menghela napas.


"Oh ... baguslah! kalau kau merasa terintimidasi ...." kata Cain.


"Kau berbicara seakan-akan sifat dibedakan berdasarkan keturunan Viviandem?!" kata Felix.


"Memang begitu Tuan Muda! kepribadian akan tertanam sejak lahir berdasarkan keturunan Viviandem mana ...." kata Duarte.


"Siapa yang bilang? Berdasarkan teori apa? mana buku yang bisa membuktikan?" tanya Cain.


"Bukankah sudah jelas ya ...." jawab Duarte.


"Tidak bisa dijawab berarti tidak ada teori dasar yang bisa menjelaskan ...." kata Cain.


"Seperti manusia yang suka menggolongkan kepribadian berdasarkan golongan darah, pasti di Mundebris caranya mirip seperti itu juga ...." kata Felix yang disetujui Cain membuat Duarte hampir terjatuh karena lupa mengepakkan sayap merasa diragukan.


"Kukira hanya ada manusia yang bodoh ...." kata Cain.


"Em?" Felix tertawa kecil karena tahu Cain dan dirinya pasti sedang memikirkan hal yang sama.


"Ada manusia yang sering lupa untuk bernapas, ternyata ada juga yang lupa cara mengepakkan sayapnya ...." kata Cain yang langsung diserang oleh Duarte, "Haha ... bercanda!" Cain mulai berlari.


...-BERSAMBUNG-...