
Masih dengan semangat yang sama, Tiga Kembar tetap disana untuk membujuk tanaman yang keras kepala. Cain juga sudah pergi bersama dengan Goldwin untuk kembali ke istana walau dengan misi gagal karena pena di bahu sebelah kirinya terlihat sibuk mencatat.
Tan, Teo dan Tom terpaksa harus berhenti di tengah jalan karena mendapat tanaman yang susah untuk diajak melakukan kontrak. Padahal selama ini lancar-lancar saja tanpa harus tinggal lama untuk membujuk.
"Sepertinya kita akan bermalam disini!" kata Tom.
"Ayo kita dirikan tenda!" kata Tan mulai mengambil ranselnya.
"Apa hanya aku yang merasa kurang enak badan?" tanya Teo terlihat bercucuran keringat.
"Bukan kau saja! aku juga ... sepertinya Tan juga begitu!" sahut Tom yang melihat Tan pucat.
"Apa kita bawa obat untuk demam ya?" tanya Teo mulai membongkar isi tasnya.
"Sini! petik daunku! aku obat demam!" teriak pohon berukuran pendek.
"Ohya? aku minta sedikit ya kalau begitu ...." Teo mulai memetik daun dari pohon kecil itu, "Caranya pengobatannya bagaimana?"
"Tumbuk sampai halus lalu tempelkan di dahi!" kata pohon obat demam itu.
"Disini!" teriak seseorang, "Aku batu yang bagus dipakai untuk menumbuk obat!"
Tom segera ke arah suara itu dan mengangkat dua batu. Teo yang datang dengan daun obat demam itu langsung segera membaringkan dirinya karena pusing. Akhirnya Tan datang untuk menumbuk daun obat itu dan langsung menempelkannya pada Teo dan Tom.
"Berbaringlah! biar aku yang tempelkan!" kata hewan seperti tupai, "Tikus kah?" tanya Teo dalam hati tidak jelas hewan apa yang menawarkan akan membantunya itu karena warna bulunya yang aneh yakni hijau.
"Mereka sepertinya kelelahan!" kata tanaman sekitar melihat tiga anak manusia itu berbaring di atas rumput.
"Huh? padahal dia sendiri yang menolak melakukan kontrak tadi!" sindir pohon bunga tulip.
"Kau pun begitu!" tanaman itu balik menyindir.
"Walau mereka kasar begitu, tapi saat kita butuh untuk obat ... langsung mengajukan diri!" kata Teo tertawa.
"Jadi ingat ada seseorang yang mirip!" kata Tom.
"Ya! sedang apa ya dia?" tanya Tan.
Sementara itu Felix sedang bersama Verlin dan Zeki yang sedang bersiap ke suatu tempat dengan Curis Verlin. Agak aneh rasanya karena Zeki yang mengemudi. Padahal ada Felix dan Verlin yang lebih besar dari Zeki.
"Aku ini lebih tua darimu!" kata Zeki yang melihat ekspresi Felix seperti tidak nyaman.
"Memangnya aku bilang sesuatu?" tanya Felix.
"Walau aku terlihat seperti anak TK tapi aku bahkan lebih tua dari Iriana! tubuhku saja yang tetap seperti ini tapi jiwaku sudah tua!" sahut Zeki.
Felix berdehem untuk mengalihkan pembicaraan, "Di Mundclariss, iblis dikenal sebagai makhluk yang kejam dan tercela tapi disini sepertinya berbeda ...." Felix sudah tahu tapi hanya membuat topik pembicaraan baru.
"Aku tahu apa maksudmu karena aku ini juga manusia dulunya ... di Mundclariss Iblis sangat dibenci tapi di Mundebris berbeda. Disini, Iblis hanyalah salah satu penduduk Mundebris yang menjalani hidup biasa seperti manusia pada umumnya. Hanya saja kaum Iblis memang terkenal akan kekuatannya yang besar, mungkin karena itulah ditakuti. Tapi di Mundebris itu dimanfaatkan untuk merekrutnya sebagai prajurit!" kata Zeki.
Verlin hanya diam saja, walau sudah menjadi Alexavier selama 10 tahun lebih di Mundclariss tapi masih belum terlalu paham dengan dunia manusia.
"Berhenti!" tiba-tiba Verlin berteriak dan langsung keluar dari Curis.
"Ada apa?" Felix ikut keluar, begitupun Zeki setelah memarkir Curis.
"Kau harus kembali ke Mundclariss sekarang!" kata Verlin terlihat panik.
"Memangnya ada apa?!" Felix bingung.
"Aku mencium aura yang kukenal!" kata Verlin.
"Bisa tidak kalau berbicara jangan berputar-putar?! langsung ke intinya saja!" Zeki kesal.
"Banyak tahanan dari Neraka yang lepas! dan salah satunya ada yang sangat berbahaya ...." kata Verlin.
Tujuan mereka bertiga memang untuk ke Neraka karena mendengar rumor banyak tahanan yang masih dalam hukuman berkeliaran. Tapi masih jauh dari Neraka, Verlin mencium bau familiar yang berbahaya.
"Lebih baik kau minum dulu!" sahut rumput yang melihat Verlin seperti akan keluar matanya karena panik, "Dia membuka gerbang disini untuk pergi ke Mundclariss, makanya kau pasti mencium banyak auranya disini ...."
"Seharusnya kau mengirimiku pesan!" teriak Verlin sebal.
"Kau mau terbunuh? dia itu bukan lawanmu!" teriak rumput.
"Memangnya aku yang mau melawannya? ada Caelvita! Zeki juga ada! mereka semua ada di rumahku ...." kata Verlin menyesalkan tidak diberitahu dengan cepat.
"Biarkan saja!" kata pohon terdekat.
"Apa?!" Verlin marah.
"Lagipula sekali dia memulai, tidak akan bisa dihentikan ... kau tahu betul itu!" kata pohon berdaun hitam itu.
"Memangnya siapa yang kalian bicarakan?" tanya Zeki.
"Zeki, kau ingat kan! Franklin!" jawab Verlin.
"Pembuat Permainan Tukar Kematian!" Zeki akhirnya mengerti kekhawatiran Verlin.
"Tukar Kematian? Permainan? apa maksudnya?" tanya Felix.
"Akan aku jelaskan di perjalanan! sekarang coba panggil Cain dulu supaya bisa membawa kita dengan teleportasi Unimaris nya!" kata Zeki terlihat terburu-buru.
Felix mulai berkonsentrasi untuk mendeteksi keberadaan Cain. Serasa Felix akan pingsan karena menggunakan kekuatan itu tapi tetap dilakukannya, "Cain!" setelah bisa mengetahui keberadaan Cain barulah bisa berkomunikasi dengannya.
"Iya!" jawab Cain, "Ada apa? kukira kau sedang sibuk ingin ke Neraka ...."
"Sekarang kau datang kesini! kita harus ke Mundclariss sekarang!" kata Felix.
"Baiklah, katakan dimana tempatnya ... biar aku beritahu Goldwin untuk kesana secepatnya!" kata Cain.
Tapi Goldwin langsung memegang kepala Cain dan segera berteleportasi ketempat Felix dengan koneksi antara Cain dan Felix yang sedang terhubung.
"Ada apa?" tanya Cain setelah tiba di depan Felix.
"Langsung datang?" Verlin melirik Felix yang bahkan masih menutup matanya tapi Cain dan Goldwin sudah datang.
"Entah kenapa perasaanku tidak enak!" kata Goldwin.
"Leaure memang paling hebat kalau soal pendeteksian bahaya!" kata Zeki memuji.
"Bukan saatnya untuk ini, ayo kalian cepat ke Mundclariss!" kata Verlin.
"Kita jemput Tan, Teo dan Tom dulu!" kata Cain.
"Kalian bisa meninggalkannya disini dulu! selesaikan masalah yang ada di Mundclariss dulu! tidak ... harus dicegah sebelum terjadi!" kata Verlin.
"Aku tidak akan pergi tanpa mereka!" kata Cain keras kepala.
"Tapi sepertinya Felix sudah tidak bisa mencari keberadaan mereka! bahkan mencari keberadaanmu saja dia sudah pucat begitu ...." kata Zeki.
"Tidak apa-apa! aku tahu dimana mereka berada ... kita bisa langsung menjemputnya dan ke Mundclariss secepatnya!" kata Cain.
Goldwin tanpa harus diberitahu langsung memunculkan jam sakunya dan rantai teleportasi langsung mengitari mereka, "Apa harus kembali ke tanggal khusus?" tanya Goldwin.
"Nanti kuberitahu setelah menjemput Tiga Kembar itu! biar aku memikirkannya dulu!" kata Verlin.
Sampai ditempat Tan, Teo dan Tom yang dekat dengan Kerajaan Ruleorum. Verlin berpura-pura tidak tahu dan tidak menoleh ke arah kerajaan sama sekali.
"Kalian kenapa?" tanya Felix melihat Tiga Kembar berbaring dengan sesuatu tertempel di dahi mereka masing-masing.
...-BERSAMBUNG-...