UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.141 - Mencari Franklin



Goldwin sudah pernah melakukan perjalanan waktu kembali ke satu tahun yang lalu walau hanya sekedar latihan dan iseng saja karena bosan. Tapi Cain belum pernah melakukannya sama sekali. Selama ini Cain hanya bisa kembali ke waktu saat memasuki Mundebris agar kesehariannya di Mundclariss tidak terganggu.


Entah apa Cain juga bisa tapi tetap dicobanya saja. Harga dirinya sebagai seseorang yang seharusnya tidak takut mencoba akan ternodai jika tidak melakukan hal itu makanya walau tidak percaya diri tetap ia lakukan. Lagipula ada Goldwin bersamanya jika ada hal tidak terduga yang terjadi, Goldwin ada bersamanya.


"Kami berangkat!" kata Cain.


"Hati-hati! kalau kalian menemukannya, sebisa mungkin hanya cegah saja ... tidak usah bertarung!" kata Felix.


"Jangan khawatir, walau berbahaya tapi Franklin bukanlah tipe petarung!" kata Verlin.


"Hanya saja tetaplah berhati-hati karena dia itu sangat licik!" kata Zeki.


Felix menghela napas, "Apa kalian bisa membawaku?" Felix merasa khawatir melepas Cain pergi tanpanya.


"Tidak perlu khawatir! ada saya, Tuan Muda! kalau terjadi sesuatu yang berbahaya akan langsung saya bawa kembali!" kata Goldwin.


"Aku mengandalkanmu Goldwin! jaga dia baik-baik!" kata Felix lewat pikiran tidak ingin itu didengar oleh Cain.


Cain dan Goldwin mulai perlahan menghilang bersamaan dengan bunyi detakan jam saku Goldwin. Cain tidak menggunakan Jam Junghansnya dan hanya mengandalkan kekuatan Goldwin.


"Jadi kita mulai dimana?" tanya Teo.


Verlin mulai berjalan diikuti oleh yang lainnya dibelakang tapi tak lama kemudian Tom sadar, "Arah ini kan toko kacamata!"


"Setidaknya aku harus mengecek tempat kerjaku dulu!" kata Verlin tidak tahu malu.


"Kau sudah mengetahui ini kan?" tanya Tan pada Felix.


"Dia sudah meluangkan banyak waktu untuk kita, setidaknya kita juga harus maklum dengannya yang seorang Alexavier ...." kata Felix.


"Tidak sepertimu saja! kau ini terlihat tidak perduli dengan hal-hal seperti itu ...." kata Zeki melihat sisi baru Felix hari itu.


"Baiklah ... ayo kita berangkat!" kata Verlin yang keluar menembus dinding kaca depan toko kacamata.


"Ada untungnya juga kau berubah menjadi Zewhit!" kata Zeki.


"Walau tidak menjadi Zewhit aku juga bisa menembus dinding dengan kekuatanku tahu!" kata Verlin sebal.


"Iya! tapi tidak sebebas seperti sekarang kan?!" kata Zeki.


Verlin tidak membalas lagi perkataan Zeki yang sebenarnya sedang menghiburnya tapi tetap saja dengan kesan yang tidak menyenangkan.


"Franklin tidak bisa ditemukan jejak kakinya karena ia tahu bagaimana menghapus jejaknya itu ... tapi baunya tidak bisa ia hapus. Maka dari itu, Franklin adalah musuh alamiah kaum Ruleorum!" kata Verlin dengan senyuman.


"Beruntungnya ada Ruleorum gadungan bersama kita!" kata Zeki.


"Apa hanya perasaanku saja? atau Zeki memang seperti gabungan antara Felix dan Cain?!" bisik Teo pada Tom dan langsung disetujui oleh Tom.


"Bagaimana dengan auranya? bukankah akan lebih mudah mencari dengan melihat auranya ...." kata Tan.


"Akan susah ditemukan karena sudah hari kedua dia di sini ... pasti sekarang sudah menemukan tempat persembunyian yang bagus ... mungkin Cain dan Goldwin yang sedang berada di hari kemarin bisa mencari dengan melihat auranya ...." jawab Verlin.


"Saat tiba mungkin masih bisa dilacak auranya tapi setelah memulai permainan ia akan bersembunyi. Mustahil untuk melacak auranya setelah permainan dimulai. Hanya bisa melacak jejak tapi dia pintar menghapus jejaknya sendiri. Jadi yang tersisa adalah baunya!" sambung Verlin terus berbicara sendiri.


"Jadi intinya melacak jejak itu lebih bagus dibanding aura. Karena aura bisa saja menghilang atau disembunyikan, tapi jejak bisa dilacak sampai mana ... kalau berhenti disuatu tempat berarti masuk ke Bemfapirav atau Mundebris. Jadi kita bisa memasuki dunia itu untuk melihat apa ada jejak yang kita cari ...." Felix menjelaskan agar mereka bisa lebih mengerti.


"Tapi sayangnya yang kita cari ini tahu bagaimana menghapus jejak, begitu kan?" tanya Tom.


"Apa banyak yang bisa melakukan hal itu?" tanya Tan.


"Tidak semuanya juga ...." jawab Verlin yang sibuk memimpin jalan.


"Ayo kita tangkap orang yang suka bosan itu!" kata Zeki.


"Jangan bilang kalian berdua yang menangkapnya dulu?" tanya Teo.


"Sama seperti sekarang, dulu Verlin yang mencari keberadaan Franklin dan mengabari Iriana. Tapi Iriana malah mengutusku yang pergi ...." jawab Zeki.


"Katanya sih begitu, makanya dia dikenal sebagai penjahat yang kebosanan!" kata Zeki.


"Tidak mungkin!" kata Tom.


"Tidak ada yang tidak mungkin sih ... kalau memang terlahir seperti itu maka melakukan kejahatan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari!" kata Tan.


"Jika bukan Iriana yang menangkapnya dulu berarti bisa jadi Franklin ini belum diketahui niat sebenarnya melakukan itu ... apa benar hanya karena bosan atau ada maksud lain, setelah bertemu baru aku cari tahu sendiri!" kata Felix dalam hati.


***


Sementara itu Cain yang berada terpisah dengan mereka terus menutup matanya, "Kau berhasil ikut!" kata Goldwin.


"Ma ... sa?!" Cain mulai membuka sedikit matanya.


Dan benar, mereka berdua sudah tiba di pukul 9 pagi yang tadinya masih malam kini disambut oleh sinar matahari.


"Apa tidak terjadi apa-apa denganku?" tanya Cain.


"Badanmu masih utuh!" sahut Goldwin.


"Jawabanmu juga!" Cain kesal dengan jawaban tidak tidak tulus Goldwin.


"Ayo kita berangkat!" kata Goldwin tidak menghiraukan Cain yang sedang kesal, "Dasar! padahal aku sudah lama bersabar dengan sifat pemarahnya selama setengah tahun ini tapi dia tidak bisa diam saja kalau diperlakukan begitu ...." Goldwin marah-marah dalam hati.


"Bagaimana kita menemukannya? jangan bilang kita hanya berkeliling tidak jelas dan memeriksa aura jahat?" kata Cain.


"Kita hanya bisa melakukan itu! akan lebih mudah menemukannya jika permainannya sudah dimulai tapi saat ini hanya ini yang bisa kita lakukan!" kata Goldwin.


"Memangnya bagaimana jika permainannya sudah dimulai?" tanya Cain.


"Akan ada benang berwarna merah saling terhubung ... korban yang satu dengan korban lainnya!" kata Goldwin.


"Berarti hanya para korban yang bisa ditemukan, bukan pembuatnya!" kata Cain berhenti berjalan.


"Tidak ada gunanya memang menemukan Franklin kalau permainannya sudah dimulai. Membunuh pembuatnya tidak akan membuat permainan berhenti!" kata Goldwin.


"Jadi bagaimana jika permainan sudah dimulai hari ini? apa kita harus kembali ke hari sebelumnya lagi?" tanya Cain.


"Tidak! tidak boleh! kau hanya boleh melakukan ini satu kali ... kita belum tahu apa ada efek samping perjalanan waktu ini padamu dan juga aku tidak ingin mengambil resiko menyelamatkan orang lain sedangkan kau bisa terkena dampaknya!" kata Goldwin.


"Maaf karena kau harus mendapat Leaure sepertiku! kalau Leaure murni pasti kau tidak akan memikirkan resiko seperi itu karena Leaure murni memang bisa melakukan perjalanan ke satu tahun yang lalu!" kata Cain.


"Tapi jika aku punya Leaure murni maka aku tidak akan disini!" kata Goldwin.


"Aku tidak tahu kau bisa berbicara seperti itu!" kata Cain terharu.


Goldwin tidak merespon tapi dalam hati Goldwin senang karena Cain sepertinya sudah mulai kembali ke dirinya yang dulu.


"Ow, ini yang dinamakan aura?!" Cain memegang sesuatu dihadapannya.


"Kau bisa melihatnya?!" Goldwin tidak percaya.


Cain menganggukkan kepalanya dan mulai takjub dengan warna aura yang dilihat disekelilingnya saat ini.


"Kalau begitu, coba sebutkan warna yang kau lihat?" Goldwin ingin mengetes Cain.


"Kebanyakan warna merah, ada sedikit warna putih, ow itu ... hitam! apa kita ikuti yang itu?!" kata Cain sambil berputar.


Yang Cain sebutkan itu benar adanya dengan yang dilihat oleh Goldwin juga saat ini, "Berarti Cain benar sudah bisa melihat aura padahal selama ini hanya bisa merasakannya saja atau jika berada di dalam garis pelindung ...."


"Eh tapi warna putih ini terlihat aneh, tidak seperti yang itu hanya warna putih saja ... ini putih bersinar!" kata Cain.


"Cepat ikuti aura itu!" kata Goldwin langsung berlari segera setelah menyadari benar ada perbedaan sama seperti yang Cain katakan. Memang sepintas warnanya sama tapi jika diperhatikan baik-baik warna putih itu memang bersinar. Mungkin di malam hari akan mudah dilihat tapi di siang hari dengan matahari yang juga terang akan sulit dibedakan.


...-BERSAMBUNG-...