
Hari libur Felix dan Tiga Kembar sudah sepenuhnya menghilang. Terlebih lagi Cain yang sangat suka bersosialisasi kini harus membuat dirinya sendiri menghilang seperti hukuman paling berat untuk Cain rasakan.
Disaat anak-anak seumuran mereka hanya stres memikirkan bagaimana untuk lulus tingkat SD dengan nilai yang bagus dan memikirkan harus lanjut ke sekolah mana setelah lulus. Bagi Felix dan Tiga Kembar itu hanyalah masalah sepele yang bahkan tidak perlu dipikirkan. Ketika sudah terbiasa dengan masalah besar, masalah kecil menjadi sangat mudah untuk dilewati.
Felix telah sampai di bandara bagian selatan Provinsi Eartha. Dilihatnya garis lurus yang melintas berasal dari batu permata emerald yang ada di bawah kakinya yang merupakan emerald yang ditanam oleh Tan di Mundebris.
Felix keluar dari bandara dan secara resmi memasuki Provinsi Eartha Selatan. Felix hanya terus berdiri tanpa meninggalkan tempatnya dan terus mengamati orang-orang yang lewat.
"Tidak ada pohon sama sekali disini!" kata Felix.
"Padahal saat terakhir aku kesini waktu masih hidup seingatku masih ada." kata Iriana.
"Tanaman, bunga ...." Felix mengertakkan giginya menahan emosi, "Bahkan semuanya palsu di bandara ini ... semuanya hanya hiasan saja! padahal lihatlah orang-orang yang lewat ini ... bahkan mereka tidak perduli! jadi kenapa memasang hiasan kalau tidak ada yang melihat dan memperhatikan. Lebih baik pohon asli, tidak perlu diperhatikan tapi sangat bermanfaat dengan membersihkan polusi udara yang ada di sekitar bandara ini."
Felix mulai berjalan keluar jalan raya tapi Felix hanya bisa terus saja kecewa. Di jalanan juga tidak ada pohon, semuanya hanyalah aspal, beton, semen bahkan tidak ada tanah sama sekali lagi yang terlihat. Sinar matahari begitu panas dan tidak ada pohon untuk berlindung, "Padahal jika ada pohon, bisa lebih sejuk. Ini masih April tapi sudah sepanas ini, bagaimana saat musim panas nanti ...." Felix tidak bisa berhenti mengomel.
"Kau sendiri Caelvita, pohon Mundebris seharusnya ada di Mundebris tapi berkeliaran di Mundclariss ...." kata Iriana mencoba bercanda.
"Tidak bisa dibiarkan, malam ini aku akan memenuhi tempat ini dengan pohon!" Felix memeriksa kukunya yang sudah sengaja dipanjangkan untuk moment seperti saat ini.
"Percuma, pasti akan ditebang lagi! aku tahu karena pernah mengalaminya." kata Iriana.
"Itu pasti kau melemparnya kesembarang arah kan? tentu saja akan dihilangkan kalau memunculkannya di tempat yang tidak seharusnya ... aku akan memilih tempat yang cocok, tidak menggangu aktivitas umum dan tidak merusak fasilitas." kata Felix membuat Iriana terdiam.
Sambil menunggu malam tiba untuk Felix menumbuhkan pohon, ia mencari keberadan Iblis yang menyeberang kebagian selatan Provinsi Eartha. Mustahil untuk tidak melakukan sesuatu dengan 8 Iblis itu dan baru 1 yang kembali dari deteksi Felix. Itu berarti masih ada 7 Iblis yang berkeliaran entah sedang melakukan apa. Tentunya bukan sebagai turis dari Mundebris yang sedang berjalan-jalan untuk membeli oleh-oleh.
Provinsi Eartha Selatan memang sangat banyak dikunjungi oleh turis wisatawan dari luar negeri. Selain karena bersih tapi juga banyaknya tempat yang menjadi destinasi wajib bagi wisatawan dunia untuk kunjungi.
"Percuma bersih, kalau tidak ada pohon. Hanya kelihatan bersih dari luar saja tapi udara dipenuhi debu halus yang berbahaya." Felix masih mengomel sambil memakan sandwichnya di taman yang tidak ada tanaman sama sekali. Beberapa kali Felix tertawa tidak habis pikir sambil makan sampai-sampai menjadi pusat perhatian oleh orang lain yang ada disana. Bagaimana tidak, disebut taman bahkan dengan papan tanda tapi tidak ada tanaman sama sekali.
Setelah mengisi perutnya, Felix berjalan lagi mencari aura Iblis. Akhir-akhir ini Felix jadi benci sekali dengan warna jingga padahal biasanya dia suka dengan warna matahari terbenam itu tapi sekarang jika melihat warna itu, menandakan adanya Iblis.
***
Tan, Teo dan Tom yang masih tidak berhenti menertawakan Heather seketika diam setelah Heather kembali ke bentuk semula. Heather langsung terbang tinggi dengan mengepakkam sayapnya begitu bahagia.
"Cepat sekali efeknya hilang ...." Teo memegang pipinya yang sakit karena tertawa.
"Baiklah, sekarang waktunya untuk kita membuat ramuan penyembuh permintaan Osborn Si Albumus quamag cuthantis." kata Tan membuka buku.
"Jadi, ada di halaman berapa? eh? tidak ada penunjuk bagian halaman ...." kata Teo bingung.
"Kau tidak pernah membaca buku sama sekali?!" Tom tercengang dengan Teo yang tidak mengetahui hal dasar itu. Tapi Teo bisa menghindar dengan halus.
"Ramuan penyembuh penyakit Pesmoresnon." kata Tan dan lembaran buku mulai bergerak sendiri.
"Penyakit apa itu sebenarnya?" tanya Tom.
"Aku juga belum pernah mendengarnya sebelumnya ...." jawab Tan padahal dari mereka bertiga Tan lah yang memiliki pengetahuan banyak tentang ilmu kesehatan Mundebris.
"Kalau kau tidak tahu apalagi kami ...." kata Teo.
"Penyakit apa itu sampai kau tidak tahu ... apa penyakit langka?" tanya Tom.
Lembaran buku berhenti bergerak hampir di halaman terakhir buku.
"Untuk saat ini belum ditemukan ramuan obat untuk itu." Tan yang membaca membuat Teo dan Tom heran memasang ekspresi wajah melongo. Setelah mengingat bagaimana sulit perjuangannya membuat ramuan untuk membuka buku dan ternyata perjuangannya itu adalah perjuangan sia-sia dan membuang-buang waktu. Perjuangan yang tidak memiliki pencapaian.
"Osborn, maaf tapi di dalam buku ini tidak ada ramuan untuk penyakit itu." kata Tan yang mengenyampingkan rasa kecewanya karena merasa bersalah tidak bisa membantu.
"Sebenarnya penyakit apa itu? kupikir Mundebris sudah maju dalam segala hal ... bagaimana mungkin ada penyakit yang tidak memiliki obat?" kata Tom masih tidak habis pikir, "Mungkin tidak ada di buku ini, kita cari di buku lainnya!" Tom masih tidak menyerah.
"Jika tidak tertulis referensi buku, maka dicari di buku manapun juga tidak akan ada. Karena jika ada, semua buku Mundebris akan otomatis menuliskan harus kemana mencari." kata Osborn.
"Tidak ada, memang ...." Tan yang kemudian menyadari seuatu, "Kau tahu soal ini? kau tahu jika di dalam buku ini tidak ada ramuan untuk itu?!"
"Apa?!" Tom merasa dipermainkan.
"Jadi, kita terhenti melakukan kontrak karena harus membuat ramuan yang tidak pernah ada! sempurna!" kata Teo berlebihan.
"Apa maksudmu melakukan ini? kau berniat menunda-nunda waktu kami? jangan bilang kalau kau berpihak pada Efrain?!" kata Tom mulai curiga.
"Sudah kuduga kalian akan menganggapku begitu ... makanya dari awal tidak kukatakan. Sebenarnya aku hanya ingin mengetes kalian, jarang ada Alvauden yang tertarik dengan dunia kesehatan. Kebanyakan hanya terus mengasah pedang saja dan bertarung ... tetapi setelah mendengar rumor bahwa salah satu Alvauden yakni Thane Zerach memunculkan senjata Alvauden Tellopper membuatku berpikir bahwa memang benar bahwa penyakit datang bersama obatnya." kata Osborn.
"Apa maksudmu? jangan berputar-putar!" kata Teo sebal.
"Kalian tidak tahu apa itu penyakit Pesmoresnon? penyakit itu adalah penyakit yang hanya muncul ketika dunia akan kiamat." kata Osborn membuat Tan, Teo dan Tom seperti mendengar pertunjukan orkestra langit yakni guntur padahal langit malam cerah.
...-BERSAMBUNG-...