
"Ada apa ini?!" tanya Teo heboh saat masuk ke dalam kamar Felix tapi dikejutkan karena Felix terlihat membanting barang dan merobek-robek kertas.
"Astaga ... kau ini kenapa?! tidak seperti kau saja melampiaskan amarah begini ...." kata Teo memungut kalender atau apa yang tersisa dari itu.
Bahkan Felix juga melemparkan jam tangannya dan menginjaknya hingga rusak.
"Felix! kau tahu jam ini sangat mahal ...." Teo tidak habis pikir Felix menghancurkan jam tiga dunia yang tidak pernah dilepaskan atau lupa dipakainya itu.
"Aku muak melihat tanggal!" kata Felix keluar dari kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
"Kenapa anak itu?! sedang pubertas ya?!" Teo mengomel sendiri sambil membereskan kamar Felix yang berantakan, "Bahkan aku sendiri malas membereskan kamarku ...." Teo terus mengeluh tapi tetap dilakukan juga. Teo baru meninggalkan kamar Felix setelah semuanya rapi. Menurutnya, suasana hati Felix akan menjadi buruk lagi kalau kembali dengan keadaan kamar masih berantakan.
"Memangnya kenapa dengan perang?! seperti kita tidak pernah melakukannya saja." Teo masih mengomel menuruni anak tangga.
Felix semakin gelisah dan stres jika melihat kalender, "Bagaimana jika aku gagal?!"
"Kau sudah menyiapkannya dengan baik." kata Iriana.
"Masa depan dapat berubah tergantung dari keputusan yang diambil. Kau sendiri melihat masa depan itu sudah lama, bisa saja itu berubah kini, karena pilihan kecil yang kubuat." kata Felix.
"Kau bisa meremehkanku soal kekuatan, tapi jangan remehkan kemampuanku dalam melihat masa depan. Tidak akan ada yang salah dan tidak akan ada yang berubah." kata Iriana.
"Aku tidak bisa tanpa mereka, Iriana!" Felix menyeret punggungnya di dinding kemudian duduk di lantai.
"Semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang berubah." kata Iriana.
"Tidak, apa yang akan terjadi ... membuat semuanya berubah. Mereka akan mati Iriana! apanya yang baik-baik saja dan apanya yang tidak berubah, huh?!" Felix semakin larut dalam emosinya.
"Perubahan hanya dua, bisa menjadi buruk atau sebaliknya akan menjadi lebih baik. Bukankah kau terus khawatir dengan mereka yang manusia, kalaupun gagal mereka akan menjadi Zewhit dan itu tidak masalah. Kau lihat bagaimana Zeki baik-baik saja kan?! Alvauden manusia tidak pernah ada, Felix. Sudah sewajarnya mereka menerima takdir itu karena memang nasib dari kehidupan sebelumnya dan karena mereka menjadi Alvauden. Sekarang, ayo bangun! kau harus menaikkan level dunia pikiran lebih tinggi lagi!" kata Iriana tidak memberi Felix waktu untuk tenggelam dalam kekhawatiran.
"Jangan jadi pengecut Felix! ayo bangun! dan jadi Caelvita seperti apa yang seharusnya!" Iriana kembali meneriaki Felix.
"Lebih tepatnya kau hanya ingin menjadikanku Caelvita seperti yang kau inginkan." kata Felix.
"Terserah kau mau bilang apa. Tapi ingat baik-baik, kau lahir ... itu karena aku yang mengorbankan hidupku. Jangan buat aku menyesali pilihanku memilihmu Felix!" kata Iriana.
"Jangan tuntut aku menjadi apa yang kau mau! aku akan menjalani hidupku sendiri!" Felix mulai berdiri dan berjalan dengan langkah yang semakin dipercepat.
"Aku pembimbingmu, selamanya aku akan ada dikepalamu. Kau tidak bisa meninggalkanku atau lari dariku, Felix." kata Iriana.
Tapi Felix terus saja berlari, suara Iriana tidak terdengar menjauh bahkan setelah berlari membuat Felix frustasi. Semakin hari, Felix merasa kalau Iriana terus mengaturnya. Felix juga tidak bisa, tidak menurut karena Iriana akan terus mengganggunya dengan berbicara tiada henti. Jadi, Felix terpaksa harus menurut daripada harus sakit kepala terus mendengar omelan Iriana yang tidak kunjung habis.
Biasanya Felix bisa bebas kalau Iriana sedang mengisi ulang kembali jiwanya. Tapi akhir-akhir ini Iriana hanya butuh waktu sebentar kemudian kembali lagi mengganggu Felix.
"Kau terlalu lemah dan manja akhir-akhir ini!" kata Iriana.
"Hentikan!" teriak Felix.
"Kau yang hentikan!" balas Iriana lebih keras lagi.
Felix memasuki Bemfapirav dan langsung berlari menuju sebuah danau tenang dan memasukkan kepalanya ke dalam air.
Felix mengeluarkan kepalanya dari dalam air dan berteriak kencang di Bemfapirav.
"Berteriaklah semaumu! ini Bemfapirav juga ... kalaupun ada yang mendengar pasti hanya hantu saja ...." kata Iriana.
"Diam!" teriak Felix menutup telinganya.
Iriana sudah mencoba untuk menghibur Felix disaat-saat stres. Tapi Iriana sadar kalau itu bukanlah cara yang ampuh untuk Felix. Felix yang keras kepala, semakin dihibur semakin stres. Tapi sebaliknya jika dibuat marah, Felix dengan sigap melawan dan menantang stres itu.
Buktinya Felix menjadi tertantang untuk berjuang lebih giat lagi dalam berlatih. Felix mengira itu adalah siksaan dari Iriana. Tapi sebenarnya Felix sendirilah yang meminta hal itu secara tidak sadar.
Iriana tidak menyangka kalau Felix punya masalah kepribadian yang memaksa untuk keras pada diri sendiri seperti itu, "Luar biasa anak ini! bahkan melebihi ekspektasi dari yang dulu kulihat. Tidak salah aku merubah takdir ...." kata Iriana di sisi pikiran pribadinya yang tidak bisa didengar oleh Felix.
Felix yang sudah menghancurkan jam tiga dunianya bisa tahu kalau sudah melewatkan waktu berapa di Bemfapirav dan kembali ke Mundclariss sebelum absen di asrama berlangsung. Tanpa berlarut-larut dalam emosi di Bemfapirav, Felix kembali ke Mundclariss. Felix mengira itu karena dorongan dari Iriana. Padahal Felix sendirilah yang melakukan itu.
"Memang jika ada seseorang yang seperti hidup di dalam diri kita, akan memecah kepribadian. Tapi itu tidak terjadi padaku dulu, aku tahu betul kalau pembimbing bukanlah bagian dari diriku. Tapi Felix entah itu sedang mengalami pemisahan kepribadian karena aku atau dia memang orang yang seperti ini." kata Iriana dalam hati bingung sendiri, "Benar yang dikatakan Tan, Felix selalu punya sisi baru yang berbeda dan itu tidaklah biasa. Selalu saja ada kejutan ...." sambungnya.
Setelah absen malam di asrama, semua anak-anak terlihat melakukan aktivitas masing-masing kembali. Ada yang kembali ke dalam kamar, ada juga yang mengambil struk izin dari penjaga asrama untuk belajar tambahan dan belajar di perpustakaan.
"Jangan lupa kembalikan! kalau tidak, kau akan tercatat bermalam di luar." teriak Darien.
"Iya ... iya ...." sahut Parish melambaikan struk izinnya.
"Aku tidak akan menerima kalau kau bilang lupa menaruhnya dimana lagi! sudah cukup aku mentolerirmu!" teriak Darien lagi memperingatkan, "Kemarin dia bilang langsung kembali ke kamar dan lupa mengembalikan struk izin karena terlalu mengantuk dan ingin cepat ke kamar untuk tidur. Kali ini apa lagi alasannya?! pokoknya apapun itu aku tidak mau tahu lagi."
Felix dan Tiga Kembar juga bersiap memulai aktivitas malamnya.
"Siang menjadi siswa normal, malam menjadi Alvauden." kata Teo tertawa tapi tawa Teo terganggu oleh pukulan Tom, "Aw!"
"Aw!" Teo berteriak mengeluh tepat ditelinga Tom karena Tom tidak merespon atau merasa bersalah setelah memukulnya barusan.
"Kau mau membuatku tuli?!" kata Tom.
"Kau mau aku geger otak?! selalu saja memukul kepalaku. Kau pikir kepalaku ini punya anti gores?!" kata Teo.
"Hahh ... aku duluan!" kata Tan muak mendengar pertengkaran untuk memulai malamnya yang panjang dan melelahkan.
"Hati-hati." kata Felix.
Tan tertawa kata itu keluar dari mulut Felix, akhir-akhir ini Felix malas melakukan percakapan, "Sepertinya sakit tenggorokanmu sudah sembuh ...." kata Tan sarkastik.
Idibalte Felix otomatis memasang sendiri seperti dikendalikan oleh pikiran Felix, "Sepertinya, aku yang duluan!" Felix keluar dari kamar menembus dinding.
"Sepertinya ini adalah masa stres terburuk yang dialami, Felix." kata Tan menghela napas saat melihat Felix sudah tidak ada. Tapi suara pertengkaran Teo dan Tom menghancurkan lamunan Tan, "Diam! sepertinya aku stres juga! dan itu karena kalian!" teriak Tan membuat Teo dan Tom kaget karena suara keras Tan yang tiba-tiba itu.
"Maaf." kata Teo dan Tom bersamaan, yang jarang mendengarkan suara marah dari seorang Tan.
...-BERSAMBUNG-...