UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.266 - Sebuah Pilihan Yang Dapat Merubah Masa Depan



Tom merasa kecewa Felix tidak memihaknya, "Felix ... seharusnya kau mengerti apa yang aku pikirkan!"


"Kalau kalah tidak usah banyak bicara!" kata Mertie.


"Jangan senang dulu! aku bukannya memihakmu ... tapi dari awal memang suara sudah bulat walau tanpa aku memilih!" kata Felix pada Mertie.


"Lalu kenapa kau memilih? dan sejak kapan kau peduli dengan pemilihan suara?!" tanya Tom kesal.


"Aku mengerti apa yang kau khawatirkan Tom ...." kata Felix.


"Ohya?!" kata Tom sudah terlihat sangat kesal.


"Ternyata aku salah selama ini ... kau itu tidaklah seburuk itu, Felix!" kata Mertie tidak berhenti memasang senyum yang berkebalikan dengan Tom saat ini, "Baiklah ... aku akan siapkan keperluan penyelidikan kasus ini!" Mertie berlari pergi dengan begitu bersemangat.


"Tidak semua orang di Mundclariss peduli untuk menolong seseorang ... tapi Mertie yang bahkan bukan orang dewasa dan hanya anak biasa yang tidak seperti kita memiliki kekuatan spesial ... hanyalah seorang anak manusia biasa, tapi sangat peduli atau bisa dikatakan tertarik dengan hal seperti ini. Entah itu karena bakatnya tapi jika memang karena itu ... sia-sia saja bakatnya itu jika tidak digunakan ...." kata Felix mencoba meyakinkan Tom.


"Kau mungkin juga lupa Felix tapi kami juga manusia biasa ... umur kami terbatas! untuk melakukan kontrak lengkap, bisa jadi sampai matipun kami belum selesai-selesai ... aku maklumi untuk mencari Balduino karena memang jelas apa yang terjadi dengannya, tapi ini ... hanya spekulasi semata ... bukannya aku tidak mau membantu, bukannya aku tidak setuju ... tapi waktu kami terbatas!" kata Tom.


"Aku akui memang sangat membutuhkan seseorang sepertimu yang berperan sebagai rem dalam tim. Menghentikan kami melakukan sesuatu yang percuma atau mencegah kami dari bahaya ... kau itu orang yang seperti itu." kata Felix.


"Sayangnya kau mendapat dua orang yang berperan sebagai pedal gas." kata Teo tertawa.


"Tidak lucu!" kata Tom.


"Jadi tidak ada pilihan lain selain maju terus ...." kata Tan ikut dalam lelucon Teo.


"Ya, memang terbatas ... sangat terbatas!" kata Felix dalam hati, "Tapi kita juga harus menghargai kerja keras Mertie ...."


"Sejak kapan kau memihak dengannya?!" tanya Tom.


"Aku tidak memihaknya ... daripada itu, selamanya aku ini dpihak kalian. Hanya saja ... jika kita menolak, Mertie tidak akan membantu kita lagi di masa depan, akan sulit jika ada misi yang membutuhkan dia dan sulit menemukan seseorang yang tahu sedikit tentang identitas kita yang bukan manusia pada umumnya ...." kata Felix.


"Berharaplah kalau kasus ini berhubungan dengan dunia lain ...." kata Tom mulai pergi.


"Kau ini!" teriak Teo.


"Maaf Tom ...." gumam Tan.


***


Pencarian Balduino ditunda karena project darurat Mertie yang dipenuhi semangat sudah harus dilaksanakan. Asrama anak laki-laki dan perempuan berjauhan. Tidak bisa juga anak laki-laki masuk ke asrama perempuan begitupun sebaliknya. Jadi mereka mengadakan rapat di tempat biasa mereka berkumpul saat Permainan Tukar Kematian berlangsung yakni Rumah Pohon Mertie yang dekat panti asuhan. Hari libur mereka berkumpul untuk membicarakan fakta tentang kasus yang akan mereka selidiki kedepannya.


"Apa Balduino bisa menunggu?" tanya Teo membuka percakapan setelah mereka dari Rumah Pohon dan sampai di gerbang panti.


"Atau seperti dulu saja, Felix bisa terus mencari disaat kita masih mengumpulkan data." kata Tan.


"Sulit melakukannya sendirian ...." kata Tom.


"Kau mengkhawatirkanku?!" tanya Felix menyeringai.


"Mana mungkin ...." Tom mengeles, "Hanya saja aku tidak mempercayai kau bisa melakukannya sendiri."


"Kali ini baru benar-benar terasa ...." kata Teo.


"Hem?" Tan tidak mengerti.


"Cain. Ketidakhadirannya sekarang sangat terasa ... disaat Felix sibuk mencari informasi di Mundebris, setidaknya ada Cain yang membantu kita di Mundclariss dengan para pemain permainan tukar kematian." kata Teo.


"Apa belum ada kabar darinya?" tanya Tom.


"Aku selalu menyempatkan diri ke Istana Leaure jika masuk Mundebris tapi tidak ada tanda-tanda atau bahkan sekedar kabar burung kalau Cain terlihat ...." jawab Tan.


"Dia akan baik-baik saja. Bahkan mengkhawatirkannya adalah hal yang dia benci ... kalian tahu kan, Cain tidak suka dikasihani?!" kata Felix.


Nama Cain seperti bom murung bagi mereka. Saat nama Cain disebutkan, seketika suasana berubah suram. Bahkan ketika suasana begitu ceria atau cuaca begitu cerah. Semuanya langsung berubah suram dan cuaca serasa langsung mendung.


"Anak-anak kemana?" tanya Tan karena biasanya halaman panti akan penuh jika hari libur.


"Sedang di aula besar, sekarang mungkin sudah mulai mendengarkan dongeng dari Bu Corliss." jawab Luna.


"Ah, sudah mau musim semi ya ...." gumam Teo.


Biasanya jika sudah mulai meninggalkan musim dingin dan bersiap menyambut musim semi. Di Panti asuhan Arbor akan mengadakan event kecil-kecilan. Seperti membuat event untuk hiburan sebelum melakukan ujian final semester.


"Kenapa tidak pulang kemarin sore, kan kalian jadi bisa lebih punya banyak waktu ... sekarang sudah siang begini, tidak lama lagi hari libur akan berakhir." kata Luna.


Faktanya mereka tiba pagi hari buta tapi karena lama melakukan rapat dengan Mertie di Rumah Pohon makanya mereka sampai di panti saat jam makan siang.


"Kalian makan dulu atau sekalian makan di aula saja, disana juga disiapkan makanan kok." kata Luna.


Tan, Teo, Tom dan Felix memasuki aula besar yang sedang ramai dengan suara tawa anak-anak panti dan suara Bu Corliss yang dibuat berlebihan karena sedang mendongeng. Tapi hanya Tiga Kembar yang terus berjalan masuk, Felix mundur dan memasuki Bemfapirav langsung.


"Kau ...." kata Felix.


"Kudengar kau mencari Balduino ...." kata Cain langsung to the point, "Biarkan aku membantumu."


Felix menarik Cain untuk keluar dari panti yang ada di Bemfapirav menuju halaman depan.


"Mereka sudah bisa merasakan Aura Alvauden ... gawat kalau mereka merasakan auramu dan ikut masuk kesini melihatmu." kata Felix.


"Itu kalau di dunia yang sama ... tapi sekarang kita di Bemfapirav. Untuk sekarang kekuatan mereka belum sampai situ ...." kata Cain.


Felix melepaskan tangannya dan suasana menjadi canggung. Bagaimanapun terakhir bertemu, mereka saling melukai perasaan.


"Kau tidak mau terlihat oleh mereka tapi kesini dengan sendirinya menawarkan bantuan. Ada angin apa?" kata Felix dingin.


"Aku sudah melihat masa depan dan banyak peluang yang bisa terjadi tergantung pilihan yang diambil ...." kata Cain.


"Masa depan berubah ya ...." kata Felix.


"Ya! kau memilih melakukan hal lain dibanding mencari Balduino ... mengakibatkan masa depan berubah. Makanya tidak ada pilihan lain selain aku harus kesini ... seharusnya kau menuruti perkataan Tom!" kata Cain.


"Tidak usah menyalahkan, kalau hanya itu alasanmu datang lebih baik kau pergi!" kata Felix.


"Kedatanganku kesini akan mengembalikan masa depan yang kita inginkan bersama ...." kata Cain.


"Kita? bersama? jangan membuatku bingung!" kata Felix.


"Jadi dimana Roh Balduino?" tanya Cain.


"Kau kan bisa mencarinya sendiri!" jawab Felix.


"Aku hanya terus ke masa depan yang sama berulang kali, tidak tahu Balduino dimana sebelum masa depan itu terjadi dan aku masih belum bisa memunculkan diri dengan keadaan seperti ini untuk mencari tahu sendiri ...." kata Cain.


"Dia ada di daerah Neraka." kata Felix.


"Baiklah ...." kata Cain mulai mengeluarkan jam junghans nya.


"Kau bahkan sudah tidak pernah menggunakan gerbang lagi ... baik itu gerbang Leaure ataupun Alvauden." kata Felix.


"Karena kau bisa tahu ...." kata Cain sudah bersiap pergi tanpa berbalik lagi melihat Felix atau sekedar berpamitan singkat.


"Cain!" teriak Felix.


Cain menoleh kebelakang, "Em?"


"Tidak ... aku hanya ingin memanggil namamu saja." kata Felix.


...-BERSAMBUNG-...