
(Beberapa saat sebelumnya)
Saat Cain menyentuh bahu Cairo dan Cairo menjawab dengan terbata-bata. Bukan karena gugup atau sesuatu yang membuat tidak nyaman dari pertanyaan Cain itu. Tapi sebenarnya apa yang dilihat Cairo berbeda atau lebih tepatnya tidak bisa dikatakan normal.
Sosok Cain yang bertemu dalam mimpinya sebelumnya kini terlihat ada didepannya. Sedangkan Cain yang masih usia 13 tahun memegang bahunya. Tentu saja Cairo menjadi bingung dengan pemandangan itu, "Iyakan saja!" kata Cain yang terlihat sudah seumuran dengannya dihadapannya. Cairo mau tidak mau mengiyakan juga tapi dengan terbata-bata.
"Kau sudah memberitahunya apa yang tertulis di pedang itu?!" tanya Cain dihadapannya.
"Sudah." sahut Cairo.
"Semoga kali ini, masa depan akan menjadi lebih baik." kata Cain.
"Apa maksudnya?!" tanya Cairo.
"Kau tidak perlu tahu ... lakukan saja sesuai dengan apa yang tertulis di pedang itu." jawab Cain.
"Aku tidak tahu apa maksudnya dan kau sendiripun kelihatannya sama." kata Cairo mengalihkan pandangannya pada Cain yang lebih muda.
"Tidak, aku pasti tahu." kata Cain begitu yakin melihat dirinya sendiri membantu Felix berjalan, "Sekarang beri aku izin!"
"Izin?!" tanya Cairo.
"Izin untuk merasuki tubuhmu." jawab Cain.
"Ap ... apa?!" Cairo ragu dengan itu.
"Kau tidak kehilangan kendali atas dirimu, hanya saja Sang Penghukum Aluias tidak bisa menghukum yang bukan Aluias. Tapi ... kau tahu kan Aluias itu seperti apa?! harus melakukan apapun untuk menghentikan kejahatan dan karena itulah aku disini. Menggunakan segala cara untuk menghentikan Efrain dan mengakhiri perang ini dan itu hanya ada satu cara. Hanya kau satu-satunya manusia disini dan juga Aluias. Maka kau sangat pantas untuk mengemban tugas ini." kata Cain.
"Aku tidak tahu apa aku mengerti dengan ucapanmu tapi jika bisa kusimpulkan, sepertinya akulah satu-satunya yang bisa mengalahkannya ya ...." kata Cairo.
"Benar sekali." kata Cain.
"Apapun itu, aku izinkan!" kata Cairo.
Cain tersenyum dan mengulurkan tangannya hingga menarik api putih yang ada dibelakang Cairo untuk masuk kedalam tubuh Cairo.
"Apapun yang terjadi, turuti ucapanku yang ada disana." kata Cain menunjuk dirinya sendiri.
Cairo melihat ke arah Cain yang ada disamping Felix dan kembali ingin melihat Cain yang ada didepannya tapi sudah menghilang.
Cairo seperti mendapatkan informasi yang tidak pernah diketahuinya langsung masuk kedalam kepalanya dalam sekejap. Dirinya menjadi seperti komputer yang diberi file baru. Cairo juga merasakan kalau tubuhnya tidaklah dikendalikan, sepenuhnya dia yang memegang kendali atas tubuhnya sendiri.
Efrain datang langsung menyerang leher Cairo. Tapi pedang Efrain patah dan leher Cairo baik-baik saja terkena pedang itu, "Hahh?!" Efrain terkejut melihat pedang yang lahir bersamaan dengan dirinya lahir itu, hancur seketika dihadapannya.
Cairo mengambil kesempatan itu, melihat Efrain yang sepertinya masih terkejut dan keheranan. Cairo terlihat terbang dan naik meninju dagu Efrain kemudian menendang bahu Efrain hingga Efrain yang sedang dalam mode raksasa berlutut ditanah.
"Kau membuat kepalaku sakit terus mendongak!" kata Cairo sudah daritadi ingin mengucapkan kalimat itu tapi rasanya baru sekarang punya nyali untuk mengatakan itu. Tangan dan kaki Cairo yang dipakai untuk memukul Efrain itu kelihatan terlapisi berlian.
"Kau tahu sesuatu soal ini?!" tanya Felix.
"Ah, aku bertemu diriku yang lebih tua katanya seseorang akan menemuiku saat perang nanti dan dialah yang akan menjadi pahlawan." kata Cain.
"Hanya itu?!" tanya Felix.
"Hanya itu ... jujur saja, akupun membenci diriku sendiri!" kata Cain.
"Harusnya kau lebih memberi informasi lebih banyak." kata Felix.
"Kau tahu kan, satu kata ... tindakan kecil dapat merubah masa depan." kata Cain.
"Aku membencimu." kata Felix.
"Jangan khawatir, aku tahu itu ... dan sepertinya aku lebih membenci diriku dibanding kau membenciku ...." kata Cain.
Cairo membayangkan sesuatu saat melihat tangannya, "Bukankah Aluias di Mundebris ibaratkan polisi ...." Cairo membentuk tangannya seakan menjadi pistol. Cairo sendiri agak ragu untuk melakukan itu tapi informasi yang dimilikinya mengatakan kalau bisa melakukan itu.
Sebuah peluru kecil keluar dari ujung jari telunjuk Cairo yang menargetkan Efrain, "Benar bisa ...." Cairo tidak percaya apa yang dibayangkannya benar terjadi, "Kalau begitu ... kita tambah kekuatannya."
Efrain berhasil menangkap peluru itu tapi Cairo langsung menembakkan api tepat menuju peluru itu berada yakni sekarang sudah berada ditangan Efrain. Peluru itu meledak saat terkena api yang berwarna putih.
"Bukan." kata Felix menentang karena mendengar Cairo, "Api itu lebih dari itu ... api yang sangat panas seperti yang ada di inti matahari."
"Dia tidak mendengarmu juga!" Cain menghela napas mendengar Felix.
Akhirnya Cairo sudah mengerti apa yang dia bisa lakukan dengan kekuatan itu, "Aluias, pembuat senjata kan ... maka dari itu aku bisa membuat apapun yang kuinginkan."
Efrain masih memulihkan diri dari luka bakarnya barusan. Tapi ditangan Cairo terbentuk sesuatu yang membuat semua orang harus menjauh darisana secepatnya.
"Hahh ... ada-ada saja." Cain merasa malas tapi langsung membantu Felix untuk mundur menjauh juga.
Kembali peluru diciptakan oleh Cairo tapi kali ini ukurannya lebih besar dari yang tadi dan semakin besar saja. Terus membesar dan masih tidak berhenti.
"Ini bukan peluru tapi nuklir ...." kata Cain.
Felix memegang tanah sambil menutup mata membuat tanaman bergerak sendiri. Memang sudah ada yang berlari daritadi tapi kali ini tanpa bergerak sendiripun, mereka bisa bergerak juga dan lebih cepat lagi karena digerakkan oleh Felix untuk cepat pergi darisana atau lebih tepatnya tanahlah yang membantu mereka untuk berpindah dengan cepat. Dikarenakan ada juga tanaman yang tidak peduli dan ada juga yang sedang tidur maka Felix harus bertindak untuk melindungi mereka.
"Sekalian saja pindahkan semua tanah." kata Cain.
"Mana bisa! lalu kita harus menginjak apa?!" teriak Felix.
Pada dasarnya di Mundebris memang semua hal itu hidup. Bahkan tanah sekalipun, tapi tanah walau terkena serangan dan ledakan apapun itu tidak akan terlalu berpengaruh juga karena merekalah yang paling memiliki jumlah terbesar di dunia ini. Tidak mengenal sakit dan salah satu hal yang paling berguna untuk kehidupan.
"Hei, kau tidak pergi?!" Cain menendang-nendang batu yang ada didekatnya karena tidak bergerak menyelamatkan diri.
"Aku sudah bosan hidup menjadi batu." jawab batu itu.
Cain memasang wajah datar kemudian menendang batu itu mendekat ke arah Cairo, "Kalau begitu, sana jadi tanah!"
"Memang tanah terbuat dari batu ...." tanah membuat tulisan dihadapan Cain.
Cain segera menghapus tulisan ditanah itu dengan kesal sambil terus menendang-nendang tanah, "Kau pikir aku tidak tahu?!"
"Bisa tidak kau tidak menjadi dirimu sebentar saja?!" keluh Felix.
"Apa-apaan?!" teriak Cain tidak habis pikir.
Para Pasukan Efrain kelihatan akan berlari melindungi diri juga dari serangan Cairo. Tapi Pasukan Felix, Para Viviandem dan Quiris lainnya bekerjasama untuk menahan dan menjaga mereka tetap berada di dalam batas ledakan yang hanya bisa diperkirakan itu. Karena tidak bisa diketahui daya ledaknya akan seperti apa.
Viviandem dan Quiris membagi tugas, ada yang bertugas untuk bertarung dan menahan Pasukan Efrain agar tetap berada dalam zona ledakan. Ada juga yang bertugas untuk membuat pelindung agar Pasukan Efrain tidak bisa keluar dan menjauh darisana.
Memang sangat menegangkan rasanya melihat bagaimana Pasukan Efrain berusaha mati-matian untuk menyelamatkan diri dari serangan Cairo. Tapi Pasukan Felix juga tidak kalah usahanya, seperti mempertaruhkan semuanya juga untuk terus menahan Pasukan Efrain tetap berada didalam area ledakan.
"Sepertinya kita harus lebih jauh lagi, Felix ...." kata Cain tapi terhenti saat Para Leaure maju semua dihadapan Felix dan Cain untuk membuat perisai, "Sepertinya ... mereka tidaklah semenyebalkan itu."
"Disaat keadaan mendesak, kelangsungan hidup Caelvita adalah yang utama." kata Goldwin menjelaskan.
Cairo setelah membuat satu peluru besar hanya disimpan didekatnya saja. Kemudian membuat peluru besar lainnya lagi. Setiap peluru yang terbentuk terlihat seperti mencapai langit disamping Cairo berjejer rapi.
"Wah ini ...." Verlin menganga dengan apa yang sedang dilihatnya.
Semua peluru yang dibuat oleh Cairo terlihat mulai mengambang.
"Katakan, kalau ini tidak seperti yang kubayangkan ...." Verlin tidak percaya.
Semua buatan peluru itu melesat naik keatas langit dan kembali memutar dirinya untuk kembali kebawah tepat dimana Efrain berada.
"Dia bisa menghancurkan seluruh dunia dengan itu ...." kata Winnie.
Beberapa Viviandem Aluias terlihat bergerak maju didekat Cairo.
"Walau kalian memiliki tubuh keras juga tapi tidak sekeras yang kumiliki. Kalian tidak akan bertahan!" kata Cairo tahu sekuat apa daya ledak dari yang diciptakannya itu.
"Kami juga menjalankan misi, misi untuk mati. Kami juga mendapatkan mimpi tapi berbeda denganmu, kami akan mati bukan menjadi pahlawan." kata Viviandem Aluias yang paling dekat dengan Cairo.
...-BERSAMBUNG-...