UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.109 - Alvauden Iriana vs Alvauden Felix



Felix yang kesusahan menahan rasa sakit yang ada dikepalanya tidak punya pilihan lain selain membantu Cain membawa Gina yang sedang tidak sadarkan diri dengan tubuh yang sudah sangat pucat dan bibir membiru serta denyut nadinya sangat lemah. Secepatnya harus segera dibawa ke rumah sakit untuk ditangani tapi masih di tempat persembunyian musuh dan anehnya disana tidak bisa langsung pindah masuk ke Bemfapirav dan Cain tidak bisa memanggil gerbang untuk kembali ke Mundclariss.


"Mungkin di luar kastil baru kita bisa ke Bemfapirav!" kata Cain.


"Walau begitu, tetap berbahaya di Bemfapirav ... kita tidak tahu apa yang menunggu kita disana. Belum bisa dipastikan tapi jika pemilik kastil ini dan perkumpulan Sanguiber bekerjasama, kita akan dalam bahaya ... satu-satunya cara teraman adalah kembali ke Mundclariss! begitu kau bisa memanggil gerbang kita harus cepat-cepat pergi darisini ...." kata Felix sudah mulai baikan setelah keluar dari ruangan itu.


Cain terus menerus mencoba memanggil gerbangnya tapi tidak kunjung datang juga. Felix ingin memanggil gerbangnya tapi akan sangat mencolok dengan gerbang Caelvita yang sangat besar. Bisa jadi banyak iblis yang akan berkumpul mengerumuni sesaat setelah gerbang dipanggil dan kekuatan iblis belum diketahui seperti apa. Felix tidak berani untuk gegabah dalam mengambil keputusan yang bisa menimbulkan resiko.


Sampai di luar kastil, gerbang Cain akhirnya muncul tapi garis pelindungnya menghilang. Sebuah angin kencang muncul dari tubuh Felix menyebarkan begitu banyak Viriaer sekaligus. Cain terlihat sangat panik dan membuat gerbangnya menghilang karena tidak bisa fokus. Perhatiannya kini teralihkan oleh banyak iblis yang mengelilingi mereka.


"Berani-beraninya kalian mengacungkan senjata padaku?!" Felix dengan berdiri melindungi Cain dan Gina yang ada dibelakangnya dengan Iblis yang menodongkan senjata bermacam-macam bentuknya itu.


"Hormat kami pada Caelvita ke-119!" kata semua Iblis yang mengelilingi itu dengan kompak tapi ekspresi tidak ada hormat sama sekali pada Felix.


Felix menarik pedang yang ada dibelakang punggungnya. Pedang yang sangat besar sehingga ia sendiri kesulitan untuk mengangkatnya.


Para Iblis tertawa melihat itu, "Apa yang akan Yang Mulia lakukan dengan pedang yang bahkan lebih besar dari Yang Mulia sendiri itu?!" kata Iblis berwajah kucing itu.


Felix menyeringai dan mulai mengayunkan pedang langsung membuat para Iblis tersayat, "Aku tidak perlu bersusah payah menebas kalian ... hanya perlu kuayunkan dan udara sekitar yang akan membantuku. Kalian lupa ya?! kalau aku ini adalah Caelvita! aku adalah pemilik udara yang ada di Mundebris!"


Cain terlihat bisa bernapas lega karena semua iblis kini tergeletak kesakitan dan mulai memanggil gerbang lagi. Saat mereka bertiga hampir masuk ke dalam gerbang tiba-tiba muncul iblis yang begitu besar yang baru pertama kali ditemui. Iblis berkepala kambing itu lebih tinggi dari iblis yang ada disana yang hanya setinggi lima meter. Iblis itu tingginya sekitar tujuh meter dan sedang memegang pedangnya berdiri tepat menghalangi gerbang.


"Caelvita baru?!" kata iblis kambing itu dengan menyeret pedangnya membuat percikan api.


Felix tersungkur ke tanah dan memegang kepalanya dengan kedua tangan.


"Felix?!" teriak Cain meletakkan Gina dan datang disamping Felix.


"Alvauden baru?!" kata iblis kambing itu lagi.


Karena Felix tak kunjung baikan juga, akhirnya Cain yang berdiri melindungi Felix dan Gina.


"Haha ... apa yang akan kau lakukan dengan hanya gagang pedang itu?!" kata iblis buaya yang tiba-tiba datang disamping iblis kambing.


Berbeda dengan iblis kambing itu yang terus menatap pedang Cain, "Pedang itu? Leaure?"


"Ya! Leaure!" Goldwin tiba-tiba datang dengan membawa sebuah kotak kecil yang kemudian menyebar dan membuat semua iblis tidak bisa bergerak.


Cain ingin sekali memeluk Goldwin saking senangnya tapi langsung bergerak cepat untuk memanggil gerbang dan membawa Gina tapi merasa ragu apa harus membawa Felix terlebih dahulu, "Aku bisa sendiri!" kata Felix.


"Kalau begitu cepat!" Cain jadi tidak sabaran melihat Felix berjalan begitu lambat.


"Wah waktu yang tepat sekali!" kata Goldwin memuji dirinya sendiri.


"Apa?! daritadi aku memanggilmu ... kau tidak tahu tadi aku serasa hampir gila rasanya!" balas Cain jengkel.


"Kau pikir mudah membawa benda ini?!" kata Goldwin.


"Memangnya itu apa?" tanya Cain.


"Kotak Penjara Waktu!" jawab Goldwin.


"Kenapa Felix lama sekali? kau tunggu disini dan jaga Gina!" kata Cain mulai keluar dari lorong gerbangnya. Tapi pemandangan diluar membuat Cain terkejut, "Felix apa yang kau lakukan?" Cain melihat api besar mulai membakar kastil itu.


"Siap!" jawaban kompak dari banyak suara.


"Darimana asal suara itu?" tanya Cain.


"Yang aku semprotkan tadi bukanlah cairan peledak melainkan hewan berukuran sangat kecil yang bisa meledakkan diri sendiri sesuai perintah, Banks yang memberikannya padaku ...." kata Felix.


"Baiklah, penjelasannya nanti ... ayo kita cepat pergi darisini!" Cain buru-buru menarik Felix.


Suara ledakan mengehentikan langkah Cain, "Kalian pikir bisa membunuhku hanya dengan cara seperti ini?!" kata iblis kambing itu.


"Goldwin!" teriak Cain panik karena penjara waktu sudah tidak berfungsi lagi.


"Hentikan!" teriak Iriana.


Iblis Kambing itu berhenti mengayunkan pedangnya yang hampir menyentuh leher Felix. Untuk pertama kalinya juga Cain mendengar suara Iriana.


"Iriana?!" kata Efrain menjatuhkan pedangnya.


Cain langsung menarik Felix untuk menjauh darisana. Saat melihat pedang hampir mengenai Felix tadi, rasanya jantung Cain hampir copot.


"Baiklah! akan aku lepaskan dia! tapi ingat ini Iriana! saat bertemu untuk kedua kalinya akan aku bunuh dia!" ancam Efrain.


"Sebelum kau membunuh Felix aku akan membunuhmu terlebih dahulu!" tiba-tiba rasa takut Cain hilang dan dengan berani mengatakan hal itu.


"Saat kita bertemu lagi nanti, kita akan bertarung antara kau yang Alvauden baru dan aku yang Mantan Alvauden!" kata Efrain menyeringai.


"Ini adalah masa pemerintahan Felix dan dia akan menjadi Caelvita terbaik sepenjang masa!" balas Cain.


"Iriana adalah Caelvita terhebat sepanjang masa!" teriak Efrain begitu marah.


"Kalau begitu kenapa kau menjadi penjahat seperti ini? kau bilang Iriana adalah Caelvita terhebat tapi Alvaudennya menjadi penjahat seperti ini?! jangan bercanda!" kata Cain membuat Efrain sangat marah.


Felix kaget mendengar Cain menyebut nama Iriana tapi baik-baik saja. Itu tandanya, Alvaudennya bisa memanggil nama Iriana dan juga terbebas dengan peraturan Alvauden sebelumnya. Walau mungkin Cain sendiri tidak sadar mengatakan itu.


"Jangan berani-berani kau menghina Iriana!" Efrain mengambil pedangnya dan langsung menyerang Cain tapi sebuah pedang langsung muncul di tangan Cain dan menghalau pedang Efrain.


"Orogla?!" kata Efrain kaget melihat pedang yang berpermatakan emerald yang merupakan pedangnya dahulu itu.


Semua iblis yang hendak membantu langsung mundur melihat pedang itu, "Pedang Alvauden No.1 sudah muncul kembali!" kata iblis berwajah buaya.


Felix datang mendorong Efrain dengan tangannya sampai Efrain terlempar dan langsung menarik Cain masuk gerbang.


"Leaure menjadi Alvauden? akan jadi sangat menarik ... tapi saat bertemu lagi nanti kau akan kubunuh! kau bahkan tidak akan sempat menggunakan gelar Alvaudenmu itu!" teriak Efrain begitu menggelegar menggema sampai ke dalam lorong gerbang Cain.


"Mantan Alvauden! aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri karena sudah mencoreng nama baik Alvauden!" kata Cain dari dalam gerbang.


Felix bersusah payah menarik Cain karena daritadi masih ingin terus menanantang Efrain dan tidak mau kalah sama sekali.


"Hahh ...." Felix menghela napas lega, "Akan aku pastikan kalian berdua tidak bertemu! tidak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi kalau dua keras kepala seperti kalian bertemu ...."


...-BERSAMBUNG-...