UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.169 - Sosok Penyelamat Sesungguhnya Saat Kebakaran Di Rumah Daisy



Jujur Felix kesal dengan Haera yang tidak berhenti membuat kepalanya sakit dan pandangannya berputar-putar. Tapi jika memandang wajah Haera, seketika kekesalan itu langsung hilang.


"Beruntung kau ini imut begini! kalau tidak pasti aku sudah beberapa kali memukulmu ...." kata Felix mencubit pipi Haera.


Haera melepas tangan Felix yang mencubit pipinya karena ingin berbicara melalui pikiran lagi. Takut jika Felix akan mencubitnya dengan keras, "Tidak sembarangan juga yang bisa melihat Haera ... hanya beberapa Quiris seperti Caelvita, Alvauden dan beberapa Quiris spesial lainnya."


Felix menutup matanya karena yang dilihatnya membuat mual. Semua yang dilihat berputar-putar, bahkan serasa Felix akan jatuh padahal sedang duduk di atas tanah yang datar.


"Tapi Ruleorum menjadi pengecualian karena kaum mereka memang terkhusus dalam spesialis melihat hal yang tidak bisa dilihat Quiris lain ...." Haera berbicara lagi membuat Felix tertawa keras.


"Kau ingin membunuhku secara perlahan kan?!" tanya Felix menarik rambut Haera. Tapi Haera memukul tangan Felix dengan sisir kecilnya, "Aw!" teriak Felix tidak mengira hewan kecil itu punya kekuatan yang tidak terduga.


"Tidak lama lagi ... tahan!" kata Haera.


"Apa maksudmu?!" tanya Felix.


"Anna perlu pingsan hingga puluhan kali baru bisa masuk fase yang kau alami saat ini yakni hanya pusing saja. Setelah ini kau akan terbiasa dan tidak akan merasa pusing lagi ...." jawab Haera.


"Jadi kau sengaja terus berbicara denganku lewat pikiran agar aku bisa terbiasa dengan cepat?!" kata Felix menjentik dahi Haera tapi Haera tidak merasa kesakitan karena bulunya yang tebal.


"Dulu dengan Anna aku hanya bisa berbicara sekali dalam sehari dan itu membuat waktu terbuang percuma. Aku sudah hampir mati, barulah Anna terbiasa mendengarku ... jadi kali ini kita selesaikan dalam sehari saja. Lagipula kapan lagi aku bertemu dengan Caelvita yang pikirannya kuat sepertimu!" kata Haera membuat Felix yang hendak berdiri langsung jatuh karena pusing lagi.


"Wajah dan sifatmu sangat bertolak belakang. Dibalik wajahmu yang imut ini, sifatmu seperti iblis!" kata Felix.


"Iblis? terimakasih ...." kata Haera.


"Aku tidak memuji tapi memaki tahu!" kata Felix.


"Iblis adalah Quiris Mundebris yang terkenal akan kekuatannya yang kuat dan punya sifat paling baik yakni suka menolong!" kata Haera.


"Ah, begitu ... maksudku iblis dari sudut pandang manusia. Di Mundclariss, manusia menyebut iblis sebagai makhluk paling jahat, kejam, pokoknya yang terburuk dari segala yang terburuk ...." kata Felix.


"Tapi itu bisa saja terjadi ... karena Iblis itu punya perasaan yang terlalu baik dan terlalu terikat dengan sesuatu. Seperti Efrain yang sangat menyayangi Anna, sekarang pasti dia benar menjadi sosok iblis yang dikatakan oleh manusia ...." kata Haera.


Matahari sudah muncul, Felix membuang terlalu banyak waktu karena harus menghadapi serangan pusing dari Haera. Felix memaksakan dirinya untuk berdiri walau masih dengan keadaan tidak stabil. Tanah yang dilihatnya terus bergoyang seakan sedang gempa. Perlahan Felix mulai melangkahkan kakinya dengan berjalan hingga saat sudah dirasa membaik, Felix langsung berlari.


Sampai di depan Rumah Daisy ada kakak dari tersangka tabrak lari yang sedang populer di berita sedang membunyikan bel. Felix langsung menyembunyikan dirinya, "Tunggu ... aku kan sedang memakai idibalte ... hahh ... karena terlalu pusing pikiranku jadi tidak karuan!" Felix mulai keluar dari persembunyiannya dan berdiri disamping orang itu. Haera entah kemana tidak kelihatan lagi.


Felix masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan Daisy apa sudah dalam pengaruh obat bius tapi ternyata belum. Daisy saat ini sedang berdiri di depan monitor melihat tamu yang datang. Beberapa kali tangannya ragu untuk membukakan pintu tapi Daisy duduk sebentar untuk menenangkan diri dan kemudian membukakan pintu.


Sosok Daisy yang digambarkan dalam mimpi buatan, Daisy menjadi seseorang yang tangguh dan tidak takut akan apapun, "Tentu saja ... mimpi itu tidaklah mempengaruhi ibu ...." kata Felix merasa lega.


"Akan aku bayar 10 kali lipat!" kata tamu itu.


"Sudah terlambat, buktinya sudah ada di tangan polisi sekarang!" kata Daisy.


"Kau bisa menjadi saksi bahwa bukti itu tidak benar! kalau kau menolak, aku akan menyebarkan berita bahwa kau menjadi wartawan yang suka menggunakan kekuasaanmu untuk memfitnah orang tidak bersalah!"


"Tidak bersalah?!" Daisy tidak habis pikir dengan perkataan kakak dari tersangka yang tidak tahu malu itu, "Jelas-jelas pelaku menabrak mahasiswi itu dengan sengaja dan mengatakan bahwa dia mengendara dalam keadaan mabuk ... adikmu itu melakukan percobaan pembunuhan!"


"Diam kau!" tamu itu langsung melemparkan barang yang ada di meja sehingga Daisy kaget dan tidak menyangka akan langsung diserang dengan menggunakan sebuah spoit yang sudah berisikan obat anastesi, "Gara-gara kau impian adikku menjadi seorang jaksa hilang dan aku yang banting tulang membiayai biaya sekolah hingga kuliah tidak mendapatkan apa-apa. Semua ini karena Carlton! jika saja Zamir tidak menerima tawaran itu ...."


"Carlton? kejadian ini ada hubungannya dengan Carlton Group? kukira Carlton Group sudah tidak ada lagi ... apa ini bukan perusahaan tapi hanya tindakan Ayah Era? atau ada yang masih tidak kuketahui ...." kata Felix duduk berpikir disamping Daisy yang sudah pingsan.


Kakak dari Zamir mulai mengangkat Daisy menuju lantai tiga kemudian turun ke dapur dan memutuskan selang gas dengan kompor dinyalakan. Setelah Zamir keluar, tibalah Felix, Cain dan Tiga Kembar.


"Oi' ...." sapa Haera memukul-mukul kaki Felix.


"Kau darimana saja?" tanya Felix yang kemudian menyesali kenapa bertanya.


"Katanya kau ingin aku pergi tapi ternyata mencariku juga ...." jawab Haera lewat pikiran membuat Felix pusing lagi.


"Hahaha ...." Felix menertawai kebodohannya.


Haera datang menutup selang gas yang bocor dengan kedua tangannya, "Heh? kau bisa melakukan itu?" tanya Felix.


"Em? kau juga bisa melakukannya!" sahut Haera melepas tangannya.


Felix mengambil alih dan berusaha menutup selang gas itu, "Ternyata akulah yang menyelamatkan diriku sendiri! karena menutup selang ini, itulah mengapa waktu kebakaran bisa ditunda ... makanya kami bisa mempunyai banyak waktu menolong ibu padahal bau gas sudah jelas tercium. Memang agak membingunkan tapi sekarang aku mulai mengerti ...." meski bisa menyumbat selang gas, untuk mematikan kompor tidak bisa hanya bisa dikecilkan saja.


Api menyebar dan Alexavier yang berdatangan mulai mengehentikan api. Alexavier Zewhit Viviandem berada paling depan menghentikan penyebaran api dan Haera berada tepat dibelakang Felix yang sedang menolong Daisy dan punggungnya hampir kena api tapi ternyata Haera lah yang membantu menghentikan api itu mengenainya.


"Jadi kau yang menyelamatkanku?!" tanya Felix tertawa.


Haera memasang wajah lucunya tersenyum dengan mata tertutup dan pipinya menjadi lebih tembem, "Hehe ...." memunculkan giginya dan rambutnya yang diikat bergoyang-goyang.


"Mustahil memang seorang Alexavier bisa sehebat itu ... ternyata ada bantuan Haera ...." kata Felix dalam hati.


...-BERSAMBUNG-...