UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.84 - Ketua Pelatihan Osis



Dallas segera dibawa dengan menggunakan tandu ke gedung kesehatan sekolah. Mata kaki Dallas terkena pemukul bisbol saat ingin mencetak poin. Belum diketahui siapa karena yang ingin mencegah Dallas bukan hanya satu dua orang tapi banyak yang berkerumun mengelilingi Dallas. Parish dan Vilvred pun juga adalah salah satu tersangka.


Felix yang terus menatap Parish membuat Tan jadi tidak nyaman dan mulai menceritakan bahwa Parish bukanlah orang yang akan menjadi Peniru Hantu Merah Muda.


"Sudah kuduga kau akan bilang begitu!" kata Felix membuat Tan diam, "Memang dengan kau yang mengawasi tidak akan membuahkan hasil karena terbawa perasaan!"


"Kau juga mengenalnya kan, dia bukan anak yang akan melukai seseorang ...." kata Tan.


"Sama halnya dengan kau yang juga mengenalku ... tidak selamanya kau sudah benar-benar mengenalku seutuhnya kan?!" balas Felix.


"Memangnya kau jelas melihatnya tadi?" tanya Cain sambil menikmati minumannya yang daritadi hanya asyik menonton Felix dan Tan membicarakan Parish.


"Saat semua yang mengelilingi Dallas meninggikan pemukul bisbolnya hanya Parish yang memegang pemukul bisbol dengan menyentuh lantai." jawab Felix mengambil minuman Cain.


"Beli yang lain! ini punyaku!" Cain kesal minumannya direbut.


"Tapi dengan sikap yang seperti itu tidak menunjukkan Parish adalah Peniru Hantu Merah Muda!" Tan masih keras kepala.


"Benar! bukan dia!" jawab Mertie yang tiba-tiba datang membuat Felix tersedak minuman.


"Kau pantas mendapatkannya!" Cain menyumpahi Felix.


Felix menatap Cain kesal, "Nanti aku belikan minuman yang baru ... hahh ... dasar pelit!"


"Pelit? biar saja, kita lihat nanti hasil dari pelitku ini akan membuatku jadi orang kaya!" kata Cain.


Tan tidak memperdulikan Felix dan Cain yang bertengkar hanya karena satu kaleng minuman. Tan hanya menatap Mertie menunggu untuk mendapatkan jawaban.


Mertie yang mengambil minuman dari mesin otomatis ingin pergi tapi melihat Tan yang tidak berhenti menatapnya akhirnya menjelaskan, "Dulu aku bingung ingin memilih Parish atau kau Tan tapi setelah kuamati, kau itu cerdas hanya saja tidak punya ambisi sama sekali sedangkan Parish memiliki yang tidak kau miliki itu ... dia adalah seseorang yang sangat berambisi ... bahkan terkadang menghalalkan segala cara agar tidak kalah ... maka dari itu dia melakukan hal tadi ke Dallas." kata Mertie dan mulai membuka minuman kalengnya dan pergi darisana.


"Kau dengar itu?" tanya Tan.


"Em?" Felix menoleh, "Ah iya ... iya ... tapi orang yang memiliki ambisi tinggi adalah seseorang yang biasanya tidak memperdulikan perasaan seseorang dan egois hanya mementingkan kesuksesannya sendiri!"


"Itu tidak menandakan dia orang jahat!" balas Tan.


"Haha ... kita memang tidak mencari orang jahat! hanya mencari peniru hantu merah muda ...." sahut Cain.


"Bukankah kita akan mengaitkannya dengan kejadian saat Magdalene menghilang?" tanya Tan.


"Kita hanya berharap bisa menemukan petunjuk darisitu ... haha ... jangan menatap Felix begitu, walau terlihat seakan dia terobsesi mencari pelaku dibalik menghilangnya Magdalene ... semata-mata dia hanya ingin cepat menemukan Magdalene ...." kata Cain saat Tan menatap Felix dengan tatapan kesal.


Tan mulai menenangkan dirinya dan Felix mulai mengeluarkan koinnya untuk membeli minuman di mesin otomatis dan memberikannya pada Cain.


"Heh?" kata Cain saat menerima minuman.


"Bukankah karena ini kau memuji-mujiku?" kata Felix membuat Cain tertawa.


"Siapa yang memuji? aku hanya bilang yang sebenarnya! kalau ada unsur memuji dari perkataanku itu hanyalah bumbu semata yang tidak sengaja aku taburkan ...." kata Cain membuat Felix kesal dan merebut minuman ditangannya, "Eh bukankah ini untukku?" teriak Cain saat Felix mulai berjalan pergi.


"Siapa bilang? kalau terlihat ada unsur aku seperti ingin memberikan ... itu hanyalah imajinasimu saja, aku hanya meminta untuk kau pegang sebentar!" kata Felix membuat Cain kesal sekaligus tertawa.


"Ayo kita pergi juga!" ajak Cain pada Tan.


"Kau sudah sangat mengenal Felix ya?" tanya Tan.


"Dia itu seperti buku dengan sinopsis yang sulit dimengerti membuat banyak orang malas untuk membaca dan mengenalnya tapi setelah buku itu dibuka ... kita akan menemukan bahwa Felix adalah orang paling sederhana dan mudah untuk dimengerti ... makanya ada pepatah jangan hanya melihat dari luar atau kalau buku, jangan hanya melihat dari sampul atau sinopsis tapi coba buka saja dulu ... coba kenal saja dulu, setelah itu barulah kita sadar ternyata hampir menyesal karena hampir tidak membaca buku hanya karena sinopsis yang tidak menarik padahal ceritanya luar biasa ...." jawab Cain mulai merangkul Tan.


"Eng?"


"Kau selalu saja menyangkut pautkan segala hal dengan buku!" jawab Tan membuat Cain melepaskan rangkulannya dan menyipitkan mata.


Tan kemudian berlari meninggalkan Cain.


"Sudah berlulang kali aku bilang ya ... aku bukan kutu buku!" teriak Cain.


Tan tidak berbalik dan hanya terus berlari.


***


Saat memasuki kelas Cain kaget melihat orang yang selalu diawasinya dua hari ini, "Ada apa ini?" tanya Cain mulai duduk disamping Felix.


"Ini!" kata anak perempuan itu menyerahkan selembar kertas.


Cain hanya terdiam dan terus menatap anak perempuan itu, akhirnya Felix yang mengambil kertas itu.


"Baiklah, silahkan diisi formulir pendaftaran untuk masuk organisasi pelatihan Osis ... seperti yang kita ketahui tingkat SD belum ada yang namanya Osis jadi hanya ada yang namanya pelatihan untuk mematangkan diri untuk siap saat masuk SMP nanti." kata Cornelia.


"Apa bisa memilih untuk tidak harus mendaftar?" tanya Demelza.


"Menurut kalian, kenapa kakak memberi semua kertas formulir tanpa bertanya terlebih dahulu apa kalian mau atau tidak?" tanya Cornelia.


"Mengharuskan agar kita semua harus ikut mendaftar?!" kata Dallas.


"Yup! tepat sekali! haha ... hanya untuk mendaftar saja dan ikut materi sehari, setelah itu barulah kalian punya pilihan untuk tetap ikut pelatihan atau berhenti ... intinya dicoba dulu, kalau tidak dicoba dulu kan tidak tahu bagaimana rasanya ... anggap saja kakak hanya menyediakan makanan yang kakak anggap lezat, bukankah sudah seharusnya kita berbagi hal baik ... tapi belum tentu kalian juga merasakan yang sama makanya setelah mencoba dan tidak suka, ya ... apa boleh buat kan? hahaha." kata Cornelia membuat banyak anak mengeluh.


Tapi Mertie terlihat sangat fokus dan terus tersenyum kagum melihat Cornelia dan mendengar suara lembut Cornelia dengan tutur kata Cornelia yang menunjukkan pemimpin ideal banget.


Cain tertawa kecil melihat itu, "Kalau dilihat dia itu sudah seperti fans fanatik Kak Cornelia ... makanya dulu saat mengerjai Kak Cornelia tidak keterlaluan seperti dia mengerjai kita ...."


"Kau cemburu?" tanya Felix membuat Cain memasang wajah tidak senang.


"Apa? kau sudah gila ya?!" balas Cain.


"Kau tidak tahu saja bagaimana dia mengerjaiku dulu! dan saat mengerjai Kak Cornelia ... hahh ...." Cain malas melanjutkan.


Cain berbalik karena merasa Felix terus memandanginya, "Apa? kenapa? Ah ... dasar! jangan baca ingatanku!" Cain memukul Felix dengan pulpennya.


Felix hanya tersenyum menerima pukulan itu, "Jadi bagaimana menurutmu tentang Kak Cornelia?" tanya Felix.


"Seperti yang terlihat tidak ada bedanya!" jawab Cain, "Dia terlalu sempurna dalam bertindak dan berbicara ... membuat Mertie memang pantas memilih dia." lanjut Cain.


"Tapi karena terlalu kagum, ujung-ujungnya tidak jadi juga memilih dia!" kata Felix tertawa kecil.


"Sepertinya dia hanya memilih Kak Cornelia untuk bisa dekat atau mengenal Kak Cornelia saja ...." kata Cain ikut tertawa.


"Satu-satunya perempuan yang menjadi korban Hantu Merah Muda! Cornelia kelas 6-1, ketua Pelatihan Osis untuk tingkat SD ... sepertinya tidak ada salahnya kita mendaftar ikut pelatihan ini dan mencoba mengenal lebih jauh siapa tahu saja orang sempurna sepertinya adalah orang yang kita cari!" kata Cain.


"Ya ... memang harus mendaftar kan!" kata Felix membuat Cain tersenyum kecut.


"Huhhh ...." Cain hanya menghela napas panjang untuk menenangkan diri.


...-BERSAMBUNG-...