UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.466 - Showtime Part 3



Bagian ketiga dimulai dengan Tan, Teo dan Tom memakai papan nama besar dengan memakai seragam sekolah. Tanda nama yang bahkan lebih besar dari baju mereka itu membuat para penonton tertawa.


Seperti itulah Tiga Kembar memulai kehidupan di sekolah Gallagher sebagai siswa baru yang memiliki tiga wajah yang sama. Normalnya mereka memakai hoodie dengan nama dicetak besar dibagian belakang. Tapi karena ini pertunjukan, jadi dilebih-lebihkan. Intinya mereka ingin menunjukkan bagaimana mereka berusaha untuk dikenali dan bisa dibedakan tanpa harus salah memanggil nama.


Bagi anak-anak yang lain salah mengenali atau salah memanggil nama merupakan hal biasa. Tapi bagi Tan, Teo dan Tom itu sangatlah menyebalkan. Jelas-jelas mereka punya tubuh yang berbeda, punya nama yang berbeda. Bagaimana mungkin mereka seperti dianggap hanya satu orang dengan dipanggil Si Kembar Tiga. Julukan itu sangatlah dibenci oleh mereka.


Anak-anak yang tidak mau ambil pusing hanya memanggil seperti itu pada awalnya tapi lama kelamaan Tan, Teo dan Tom menggunakan cara beragam untuk mudah dibedakan dengan yang lainnya.


Sementara itu Osvald datang dengan memainkan bola, Osvald terkenal dari awal sebagai anak yang suka bermain sepak bola. Memang sudah terlihat mahir untuk anak 8 tahun saat dilihat dari kesan pertama saat itu. Itulah juga alasan bagaimana Cain sangat tertarik mendekati Osvald saat hari pertama sekolah. Karena minat mereka yang sama yakni bermain sepak bola.


Sedangkan Demelza tampak mencolok karena memakai kacamata yang unik. Anak-anak sempat berpikir kalau itu hanyalah kacamata untuk bergaya tapi sebenarnya itu adalah kacamata minus. Hanya saja Demelza mencoba untuk tetap terlihat modis walau memakai kacamata. Seseorang yang memakai kacamata terlihat cupu dipatahkan oleh Demelza saat itu. Tapi seiring berjalannya waktu, kacamata Demelza juga mulai normal tidak berlebihan lagi.


Setelah bagian ketiga selesai, mereka bergegas mengganti baju atau mengambil properti lain lagi di belakang panggung. Felix masih ditempat yang sama saat mereka datang dan pergi.


"Kau bosan kan, Felix ... tunggu sebentar lagi!" kata Tan merasa bersalah melihat Felix terus sendirian seperti itu. Biasanya Felix bukanlah tipe yang suka menurut untuk menunggu di satu tempat yang sama dalam waktu yang lama. Felix biasanya lebih suka melakukan semuanya sendirian sehingga tidak perlu menunggu ataupun ditunggu karena hal itu sangatlah menyebalkan bagi Felix.


Bagian keempat dimulai, disini diceritakan kalau mereka sudah menginjak kelas dua SD. Saat itu Cain lagi terkenalnya karena kenal dengan semua anak dari kelas satu sampai enam bahkan guru-guru yang kesulitan mengingat nama siswanya yang banyak, pasti tahu siapa Cain.


"Akan sempurna kalau ada Cain ...." gumam Teo.


"Jangan mengharapkan kedatangan seseorang yang tidak mungkin datang." kata Tom.


Kelas satu adalah masa awal bagaimana mereka diberi dasar pengetahuan pelajaran dan dibiasakan oleh jadwal yang padat tidak seperti sekolah lainnya. Tapi naik kelas dua adalah tahap yang seperti neraka bagi semua murid.


Sketsa digambarkan bagaimana wajah Tiga Kembar, Osvald dan Demelza diberi pewarna hitam dibawah mata dan bibir diberi bedak putih untuk terlihat pucat. Pakain seragam acak-acakan, dasi baru dipakai saat akan memasuki gerbang sekolah, rambut yang berminyak karena tidak punya waktu untuk keramas karena setelah pulang sekolah sudah malam dan kelelahan setelah berjalan pulang ke panti.


Kelas satu sampai dua mereka baru mulai belajar beradaptasi, semua yang pertama kali sangatlah sulit. Tapi setelah naik kelas tiga semuanya sudah mulai terbiasa. Kelas dua juga adalah waktu dimana anak-anak berlomba-lomba untuk belajar keras karena mereka semua baru sadar kalau ternyata semua yang diterima disana bukanlah anak biasa, semuanya memiliki kecerdasan diatas rata-rata.


Digambarkan Bagaimana Osvald dan Demelza membawa banyak buku sampai melampaui kepala mereka dan menghalangi pandangan hingga saling menabrak dan buku semua terjatuh.


Penonton tertawa, bukan karena adegan lucu tapi karena mengingat kenangan masa itu. Semuanya pasti melalui masa itu dulunya. Masa yang membuat bersemangat untuk belajar dan masa dimana ingin menyerah karena yang lainnya sangatlah pintar.


"Dulu sangatlah sulit, tapi ternyata sekarang semuanya menjadi kenangan indah yang bisa diingat begini." kata Penonton.


"Sekarang, kemanapun kalian lanjut sekolah. Walau bukan di Gallagher ... tapi di sekolah lain, pasti kalian akan tetap membawa kebiasaan ini saat bersekolah disana. Belajar dengan jadwal padat sudah menjadi hal biasa bagi kalian. Dimanapun kalian lanjut, pasti akan unggul dibanding yang bukan dari Gallagher. Sampai ke jenjang yang lebih tinggipun kalian akan berterimakasih dengan Sekolah Dasar yang kalian ambil di Gallagher. Mengajarkan bagaimana kalian disiplin dan terbiasa belajar keras. Semuanya akan menjadi mudah bagi kalian sekarang karena dasar yang kalian punya sangatlah kuat. Sejauh manapun kalian pergi, ingatlah selalu Gallagher ...." kata Pak Egan seperti sudah diakhir pertunjukan saja.


"Bagaimana bisa tidak ingat pak, rasanya seperti neraka." kata Penonton.


"Rasa yang seperti neraka itu akan membawa kalian ke surga kehidupan yang sukses. Tidak ada alumni dari Gallgher yang tidak menjadi orang sukes." balas Pak Egan.


Bagian kelima, kali ini Felix akan ikut bergabung sebagai anak pindahan baru di kelas tiga. Sangat jarang ada yang bisa lulus dan masuk sebagai murid pindahan di Gallagher karena ujiannya yang lebih sulit daripada ujian masuk. Tapi Felix berhasil masuk menjadi satu-satunya murid pindahan saat itu di Gallagher.


"Oh, bagaimana akan diceritakan ya?! aku juga ada disana saat dia pertama masuk sekolah pindahan barunya ini ...." kata Orang yang terus mengawasi Felix daritadi.


"Jadi bagaimana nih kesan pertama Felix sebagai murid pindahan ...." bahkan Pak Egan juga penasaran karena hanya ingat bagaimana memperkenalkan Felix pada teman sekelasnya, selanjutnya guru tidaklah ikut campur lagi dalam masalah pertemanan atau ikut campur untuk mengakrabkan anak pindahan dengan anak lainnya. Karena itu sudah menjadi beban bagi murid pindahan bagaimana beradaptasi dengan sekolah baru. Sedangkan murid yang lainnya sudah saling kenal dari awal masuk sekolah.


Felix hanya berdiri saja ditengah panggung kemudian Demelza lewat berjalan dengan berbisik pada Osvald. Sementara Tan, Teo dan Tom berjalan sambil menghindari tatapan atau bersentuhan dengan Felix. Sedikit dilebih-lebihkan bagaimana mereka menghindari Felix itu agar lebih mendramatisir.


Pak Egan terdiam, sangat jelas terdengar bagaimana suara dari pikirannya sampai terdengar ketelinga Felix, "Jadi kau diperlakukan seperti ini Felix ...." antara rasa bersalah dan juga kasihan dari Pak Egan yang merupakan wali kelas waktu itu.


Anak-anak juga hanya tertunduk diam melihat bagian itu karena mereka semua memang melakukan hal itu. Menggosipkan Felix dan menghindari Felix.


Awalnya, Tan tidak ingin menunjukkan bagian itu tapi begitulah kesan pertama Felix saat menjadi anak pindahan.


"Kau tidak apa-apa dengan ini, Felix?!" Tan meyakinkan sekali lagi saat akan merampungkan naskah.


"Toh, begitulah yang sebebarnya ... tidak masalah." kata Felix santai.


"Maaf, kau harus melewati hal seperti ini Felix." kata Orang yang menonton dari jauh.


"Lihat, bagaiamana wajah mereka! lucu sekali seperti merasa bersalah padahal mereka selalu mencap Felix sebagai pembawa sial." Teo terus mengomel saat ke belakang panggung.


...-BERSAMBUNG-...