UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.186 - Berhasil Menyembuhkan Dallas



Felix dan Banks melewati rombongan hantu cangkang yang sedang mematung di jalanan, "Andai saja ada cara untuk membuat mereka bisa berjalan di jembatan Ruleorum dan terlahir kembali ...." kata Felix menyesalkan banyaknya arwah yang dipenuhi dendam hanya terus bergentayangan tapi tidak bisa dikatakan hidup juga.


"Itu sudah menjadi hukuman bagi mereka untuk hidup sebagai Zewhit selamanya ... yang dipenuhi dendam akan berakhir seperti mereka!" kata Edelhard.


"Kita sudah sampai!" kata Banks mulai turun dari kudanya Garwyn dan mengambil peralatannya yang tergantung di pelana kuda.


"Rumah juga? berarti ada Zewhit yang tinggal di rumah Dallas karena bisa terbentuk rumah juga di Bemfapirav ... tapi bagaimana kau bisa tahu rumah Dallas?" kata Felix juga mulai turun dari Edelhard.


"Saya mengikutinya ... bagaimanapun juga Veneormi tidak bisa ditebak kapan akan merusak secara total tubuh manusia!" kata Banks.


"Kau ini rajin sekali kalau diberi pekerjaan untuk dilakukan ...." kata Felix yakin jika mengandalkan Banks pasti bisa dilakukan dengan baik tanpa kesalahan sedikitpun.


Mereka memasuki rumah Dallas yang ada di Bemfapirav, Banks memimpin jalan menuju kamar Dallas. Terlihat ada seorang Zewhit pria sedang menembak mati seseorang di kamar lain.


"Zewhit cangkang disini cukup menyeramkan juga ...." kata Felix kaget mendengar suara tembakan, "Dan rasanya aneh saja ... kau lebih tahu kamar Dallas daripada aku yang temannya!"


Setelah menutup pintu kamar, Banks memakai kacamata, "Ada apa tiba-tiba kau sok keren begitu?" tanya Felix.


"Ini kacamata untuk melihat dunia lain Yang Mulia dan saat ini diatur untuk melihat Mundclariss, akan runyam urusan kalau saat ini dikamar ada orang lain selain Dallas ...." jawab Banks.


"Ooooh ... ada alat seperti itu! aku bisa minta satu?!" kata Felix yang benar-benar membutuhkan kacamata itu karena sering bolak-balik antar dunia.


Banks langsung menyerahkan kacamata itu pada Felix, "Tidak ada yang baru? yang masih ada plastiknya begitu?" tanya Felix, "Aku juga butuh lima!" tanpa segan atau malu Felix meminta membuat Banks tertawa kecil.


"Kacamata itu terbuat dari batu permata emerald yang langka Yang Mulia ...." jawab Banks.


"Langka apa maksudmu? aku bisa memberimu sebanyak apapun yang kau minta!" kata Felix.


"Baiklah ... nanti akan saya buatkan lima Yang Mulia!" kata Banks tersenyum.


"Dan kalau bisa lusa harus selesai!" kata Felix membuat Banks panik, "Haha ... lusa ulangtahun Teo, Tan dan Tom! mereka akan sangat senang mendapat kacamata seperti ini yang bisa memeriksa dunia lain sebelum dimasuki ...."


"Kalau begitu, Yang Mulia ... kita harus cepat menyelesaikan hal ini!" kata Banks menghilang memasuki Mundclariss.


"Aku juga akan langsung membawakanmu nanti sekarung batu permata emerald!" kata Felix yang tiba juga di samping Banks di Mundclariss.


Dallas terbaring di atas ranjangnya dengan cairan infus dan kantong darah. Sepertinya Dallas sudah kurang napsu makan dan kekurangan darah juga.


"Kenapa dia tidak dibawa ke rumah sakit saja?!" kata Felix melihat Dallas dipenuhi keringat dingin dan tidak ada satupun yang menjaganya di kamarnya itu.


Banks menyuntikkan beberapa ramuan obat di dalam kantong cairan infus Dallas. Kemudian Banks menyemprotkan cairan di seluruh tubuh Dallas dan memakai kacamata.


"Kalau kacamata itu gunanya apa?" tanya Felix.


"Untuk melihat organ dalam secara langsung, Yang Mulia!" jawab Banks.


"Wah, di Mundclariss mesin Rontgen dan MRI tidak akan laku kalau ada kacamata super begitu ...." kata Felix.


Perlahan Banks meraih tangan Felix, "Ah, tangan ...." Felix langsung menaruh tangannya disamping sayatan yang ada di tubuh Dallas tadi.


"Ampuni saya Yang Mulia!" kata Banks mulai menyayat lengan bagian dalam Felix. Setelah itu menggunakan tangannya untuk mengeluarkan Veneormi dengan Isvintria Banks yang memunculkan warna jingga. Luka Dallas mulai tertutup kembali dan Veneormi dengan jelas sedang berjalan di nadi Felix seperti bola kecil.


Warna wajah Dallas yang pucat mulai berubah cerah, tidak berkeringat dingin lagi, tidak susah bernapas lagi dan bibirnya yang pecah-pecah dan pucat kini berubah menjadi merah seperti biasanya Dallas yang terkenal memiliki bibir merah.


Banks menyuntikkan banyak ramuannya pada kantong cairan infus yang belum terpakai di samping tempat tidur Dallas serta mengganti isi obat Dallas dengan obat Banks. Tentunya Banks merubah bentuknya menyerupai obat yang ada di dalam botol obat Dallas agar tidak menimbulkan kecurigaan karena obat asli dari Banks berwarna-warni.


Felix dan Banks mulai kembali ke Mundebris dan menuju kuda mereka yang ada di luar sedang asyik mengobrol.


"Yang Mulia tidak merasakan ada yang aneh dengan tubuh Yang Mulia?" tanya Banks yang langsung dijawab Felix dengan terjatuh.


"Ya, sepertinya ada yang aneh!" kata Felix tertawa, "Jangan katakan!" Felix menghentikan Banks yang menyiapkan diri untuk marah-marah.


"Memangnya Yang Mulia tahu saya mau mengatakan apa?!" tanya Banks sebal.


"Kau mau bilang kan, 'Kan sudah kubilang!' jangan katakan hal menyebalkan itu ...." kata Felix.


Banks menghela napas panjang, "Apa Yang Mulia bisa menunggang kuda? atau perlu saya carikan Curis?" tanya Banks.


"Bisa! asalkan pelan-pelan saja ya Edelhard!" kata Felix yang membuat Edelhard menyadari bahwa tadi terlalu cepat.


Felix kembali ke rumah Daisy pada jam 3 dini hari, "Kau sudah datang!" kata Cain yang tidur di sofa.


"Sana, tidur di kamar!" kata Felix yang sebal melihat Cain menunggunya dan tidur disana.


Felix menuju dapur dan membuka kulkas untuk meminum air, tenggorokannya serasa kering padahal tadi sudah meminum banyak air di perjalanan. Saat membuka kulkas, isi yang ada di dalam berjatuhan membuat Cain bangun menyalakan lampu, "Makanya nyalakan lampu!" omel Cain.


"Kan ada lampu di dalam kulkas!" kata Felix mulai memungut dan mengembalikan isi kulkas yang berjatuhan tadi.


"Apa itu?" mata Cain membelalak melihat ada sesuatu yang berjalan di dalam kulit pada leher belakang Felix.


"Bukan apa-apa!" kata Felix.


"Bukan apa-apa? apanya?! kau terlihat pucat begini ...." kata Cain melihat wajah Felix yang tidak ada darahnya sama sekali seperti patung putih.


Akhirnya Felix menceritakan kejadian sebenarnya membuat Cain menendang pintu kulkas yang terbuka dan dari suara yang terdengar bisa saja pintu kulkas itu akan tertutup selamanya kemudian menendang kursi meja makan sampai terlempar ke arah tembok hingga patah.


"Cain!" teriak Felix melihat Cain menaiki tangga," Aku tidak akan mati bodoh!"


"Mati saja sana!" balas Cain membuat Tiga Kembar yang tertidur lelap bangun karena kaget mendengar suara Cain dari luar yang sangat keras.


...-BERSAMBUNG-...