UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.453 - Teman Yang Tidak Terlihat



"Tuan Muda pulang saja ...." teriak Tanaman Leaure.


"Harusnya aku yang bilang begitu!" balas Felix.


"Hehe ... iya juga ya?!" Tanaman Leaure itu baru sadar kalau dirinyalah yang masuk ke dunia lain saat ini.


"Kau masih tidak mau memberitahuku siapa yang membawamu kesini?!" Felix bertanya seakan tidak terlalu peduli kalau pertanyaannya dijawab tapi sebenarnya sebaliknya. Felix berharap kalau kali ini Tanaman Leaure itu jujur padanya.


"Seperti yang sudah saya bilang, kalau pemilik perkemahan ini yang membawa kami." kata Tanaman Leaure penuh penekanan.


"Pemilik Perkemahan ini bukan keturunan Viviandem, dia tidak punya aura Viviandem. Ada yang punya aura tapi sangat sedikit, untuk Setengah Viviandem saja tidak termasuk ...." Felix berhenti berbicara setelah mengingat apa yang pernah didengarnya dari Cain baru-baru ini, "Apa dia juga merekayasa auranya?!" Felix ingat bagaimana saat bertemu Cain di sisi lain Mundclariss. Cain terlihat hanya memiliki aura manusia biasa, itulah juga kenapa Felix sempat tertipu, "Sepertinya dia tidak perlu lagi menjaga jarak aman agar aku bisa rasakan keberadaannya. Bahkan saat di dekatku, aku sudah tidak bisa mengenalinya jika tidak melihat wajahnya. Padahal selama ini hanya dengan auranya saja, aku bisa menebak walau tanpa harus benar-benar melihat wajahnya."


Felix berjalan cepat menuju rumah pengelola perkemahan yang ada di depan tepat berhadapan dengan gerbang masuk dan keluar perkemahan. Karena rumah itu menggunakan dinding kaca maka tanpa harus Felix masuk, bisa dilihat jelas dari luar kalau pegawai sedang makan siang bersama.


"Kalau begini, bisa saja kalau semua yang ada di dalam sini adalah Setengah Viviandem ...." Felix menghela napas tidak habis pikir kini mata Caelvitanya bisa ditipu, "Tapi, tidak ada yang terlihat mencurigakan ...."


"Setengah Viviandem yang sudah hidup lama ... sudah tahu bagaimana caranya beradaptasi dan hidup seperti manusia normal pada umumnya." kata Iriana.


Akhirnya Felix terus berjaga di depan rumah pengelola perkemahan itu dengan berpangku tangan dan duduk layaknya bos di kursi panjang dekat kolam ikan, "Hahaha ...." suara tawa dari beberapa pegawai membuat Felix bergerak untuk mendekat tapi kembali mundur, "Pasti hanya hal biasa saja ...." Felix sudah sering mendengar lelucon yang sudah ketinggalan zaman dari beberapa pegawai.


"Felix?!" Tan sambil menggunakan teropongnya.


"Em?!" Felix menjawab sehematnya.


"Kau tidak berjaga di pohon?! kau sendiri yang memilih pohon sebagai tempat pengawasan tapi kau sendiri tidak melakukannya?!" Tan dengan nada menyindir.


"Aku tadi mau ke pelabuhan lagi rencananya atau mencari keberadaan putra Lander ... tapi tidak jadi!" kata Felix.


"Kau masih penasaran dengan itu?!" tanya Tan.


"Tentu saja!" sahut Felix.


"Kenapa tidak jadi?!" tanya Tom.


"Ada hal baru yang membuatku lebih penasaran lagi." jawab Felix.


"Hahh ... aku bahkan tidak penasaran lagi." kata Tom merasa tidak perlu lagi bertanya karena tahu kalau Felix ujung-ujungnya juga malas menjawab.


"Yang dilakukan Lucy pasti bukanlah hal seburuk itu, jadi tidak perlu khawatir!" kata Tan.


"Lalu kenapa dia harus merasuki putra Lander?! kenapa dia harus menggunakan jasa Carlton Group?! hal baik apa yang bisa dilakukan oleh kedua hal itu?! atau level buruk yang kau maksud itu bagaimana sih?!" kata Teo.


"Uuuh, Yang Mulia Trayvon!" seru Tom dengan tawa geli.


"Entahlah ... aku hanya sangat percaya saja dengannya. Dari sejak pertama kali bertemu ...." kata Tan juga merasa ada yang aneh dengan dirinya tapi tetap menganggap itu adalah hal normal karena kekaguman saja.


"Wajar saja, karena perlahan kau akan menjadi ...." Felix menghela napas tidak menyelesaikan kalimatnya padahal itu juga dikatakan dalam hati saja tidak didengar oleh yang lainnya. Bahkan bagi Felix yang merencanakan semuanya masih saja terus khawatir dan merasa menyesal, "Maaf ... harus jalan ini yang kuambil, aku tidak bisa melepaskan kalian ... sehingga harus egois melakukan semuanya tanpa persetujuan kalian ... em?!" Felix yang sedang melankolis sendirian terganggu karena datangnya satu pegawai perkemahan duduk di dekatnya, "Dia lagi ...." Felix melihat tanda nama Ed kemudian kembali bersandar untuk mengembalikan perasaannya yang tertunda tadi.


"Ternyata, duduk bersama seseorang memang lebih menyenangkan daripada sendirian. Walaupun dia tidak melihatku ...." kata Felix agak sedikit terkejut melihat Ed hari ini bisa terlihat tenang. Tidak seperti biasanya yang terus saja aktif bekerja sana-sini, "Aku jadi sempat berpikir kalau dia bisa melihatku ... dan sengaja menemaniku duduk disini." Felix mulai tertawa karena membayangkan hal yang lucu itu.


***


Malam tiba, Mertie mulai terlihat panik. Daritadi terus bolak-balik memeriksa monitor cctv yang ada di pengelola perkemahan dan monitor kameranya sendiri juga. Wajar jika Mertie merasa gugup, dia sudah menjadi saksi berbagai peristiwa bersama Felix dan kawan-kawan. Terlebih lagi skala saat malam berdarah di Desa Quinlan, kejadian itu terus menjadi mimpi buruk bagi Mertie.


Apalagi akhir-akhir ini karena menjadi ketua Tim Pelatihan Persiapan Memasuki Osis. Mimpi buruk Mertie semakin menjadi-jadi dan semakin kreatif saja menurutnya. Semakin banyak tambahan bumbu-bumbu yang membuat mimpinya menjadi lebih menyeramkan. Bukan hanya karena tidak ingin menjadi ketua yang terkenal karena kejadian besar tapi karena takut semua yang ada disana menjadi korban disaat dirinya yang menjadi ketua.


"Kau itu ternyata punya sisi yang begini juga ya?!" kata Teo.


"Coba periksa lagi!" kata Mertie lewat obrolan grup.


Baru beberapa menit yang lalu Tan, Teo dan Tom diminta untuk berkeliling area perkemahan mencari sesuatu yang mencurigakan, lagi-lagi mereka harus melakukannya lagi. Mereka bisa saja berpura-pura telah melakukannya karena tidak terlihat juga tapi tetap saja dilakukan. Mungkin sebenarnya mereka juga masih menyimpan kekhawatiran yang sama dengan Mertie saat ini.


Felix hanya terus berada di dalam rumah pengelola perkemahan. Duduk di lobby sambil mengamati setiap pegawai, "Sama saja rasanya dengan duduk diluar kalau begini ...." Felix merasa kedinginan karena jendela yang disampingnya terbuka. Ada cctv disana, jadi Felix tidak bisa menutupnya.


"Terlalu dingin, sepertinya aku tidak bisa tinggal diluar terus!" Teo sudah mengaku menyerah duluan.


"Bahkan baru musim gugur sudah sedingin ini, bagaimana kalau musim dingin ya disini?!" kata Tan.


Felix merasa bersalah baru saja mengeluh padahal berada di dalam ruangan sedangkan ketiga sahabatnya sedang ada di luar sana, "Kalian ke tenda Pak Egan saja dulu istirahat!" Felix memandang keluar melihat bagaimana jelasnya batu permata emeraldnya bersinar terang di malam hari yang sedang ada kabut tipis.


"Sebentar, setelah ini ... Mertie terus mengganggu kami untuk berpatroli." kata Teo.


"Katakan saja yang sebenarnya kalau disini aman ...." kata Felix yang bertolak belakang dengan isi hatinya, "Aku harap begitu sih ...." sambungnya dalam hati.


Felix berbalik dan kembali duduk di tempatnya yang semula tapi menemukan secangkir coklat hangat di atas meja, "Siapa yang meninggalkannya?!" Felix menunggu siapa yang menaruh itu disana tapi uapnya sudah mau hilang belum ada yang datang juga, "Apa maksudnya? kemana orang yang membuat ini sampai lupa kalau minumannya disini ...." sampai minuman itu dingin pun tidak ada yang datang mengambil, "Andaikan aku minum saja tadi selagi hangat ...." Felix menyesal sendiri.


...-BERSAMBUNG-...